At Least I’M Free

At Least I’M Free
XXII



9 tahun yang lalu di ballroom hotel yang telah diubah sedemikian rupa untuk acara seminar, nampak Anggia tenggah duduk di antara 500 orang lainnya.


Setelah diundang temannya, wanita yang baru lulus kuliah itu pun bersedia menghadiri seminar keguruan yang diadakam menteri pendidikan ini dengan senang hati. Layaknya sebuah acara seminar, setelah pembukaan dan sambutan ada beberapa materi yang disampaikan seputar pengembangan pendidikan dalam negri kurun waktu 5 tahun terakhir. Selain mengevaluasi kurikulum dan tenaga pengajar, mereka juga membahas strategi untuk memajukan kualitas pendidikan.


Meski Anggia menyimak semuanya dengan seksama, ada satu pembicara yang sangat menarik perhatiannya. Selain daya tarik fisik, pria itu juga punya karisma dan aura stoik yang kuat. Bahkan dalam menjelaskan pemikirannya pun ia menggunakan cara yang efektif sehingga mudah dipahami orang-orang. Meski begitu, caranya itu tidak mengurangi nilai intelektual yang dikandungnya.


Seakan terhipnotis, Anggia begitu fokus memperhatikan. Bahkan setelah acara selesai pun ia masih memikirkan pria bernama Ian Kurniawan itu.


"Dasar logika manusia harus dibangun kokoh sejak usia dini. Maka dari itu sekolah dasar adalah pondasi pikiran yang sangat penting dan harus dibentuk dengan sistem pendidikan berkualitas dan guru-guru terbaik di negri ini."


Kalimat itu terus begeming di kepalanya hingga beberapa hari kemudian, Anggia yang masih “pengangguran” itu pun mulai mencari info tentang pria yang menyita perhatiannya itu. Meski masih muda, Ian Kurniawan punya kualifikasi akademik yang sangat baik sehingga memungkinkannya menjadi dosen. Meski begitu, ia malah memilih bekerja di sekolah dasar. Saat itu Anggia makin terpesona, karena artinya apa yang dibicarakan pria itu di seminar bukanlah omong kosong belaka. Ia benar-benar merea realisasikan idealismenya ke kehidupan nyata.


Tidak berhenti sampai di situ, setelah mengemban banyak informasi, Anggia pun berencara melamar ke sekolah dasar tempat Ian mengajar, yaitu Sekolah Dasar 3. Beruntungnya saat itu mereka sedang membutuhkan wali kelas baru sehingga dengan mudah Anggia pun berhasil manjalankan rencananya.


"Selamat siang pak. Bapak guru bahasa inggris ya? Ah, salam kenal saya Anggia yang menggantikan wali kelas kelas 3-B," sapa Anggia ketika berpapasan dengan Ian di koridor saat pergantian jam pelajaran.


"Oh iyaiya. Saya sudah dengar dari yang lain. Salam kenal ya, panggil saya Ian," ujar Ian dengan ramah.


Anggia tersenyum lebar karena bisa bicara langsung dengan orang yang dikaguminya. Namun, ia harus sangat berhati-hati menjaga interaksinya agar tetap wajar. Bagaimana pun juga, jangan sampai Ian menyadari ketertarikannya kepada pria yang sudah beristri itu.


Karenanya setelah mereka bersalaman, Anggia pamit dan bergegas menuju kantor. Kesan awal yang cukup baik, batinnya tanpa tahu kalau beberapa bulan setelahnya sesuatu yang sangat buruk akan menimpanya.


...* * *...


"Bener loh, dia tuh lagi ada masalah sama istrinya."


Satu kalimat itu saja sudah sukses membuat Anggia bergabung dengan guru-guru wanita lain yang tengah mengobrol di sudut kantor.


"Emang engga apa-apa ya? Ngegosipin sesama guru?" Tanya Anggia dengan nada bercanda.


"Ya engga dong, lagian ini tuh bukan gosip, tapi fakta." Seseorang menimpali dengan penuh percaya diri.


"Hehe, iya deh. Jadi gimana? Pak Ian lagi ada masalah apa sama istrinya?" Pancing Anggia, sukses membuat semuanya kembali ke topik.


"Yah, emang sih, punya istri yang sibuk dan jarang di rumah itu gak enak. Apa lagi dia tenaga medis kan?"


"Iya, terus denger-denger sih istrinya terlalu emosional gitu. Labil lah pokoknya."


Anggia mengangguk-angguk menanggapi. Tentu saja semua ini tidak bisa sepenuhnya dipercaya. Meski begitu, informasi ini cukup memuaskan rasa penasarannya. Karena meski pun Ian terkenal ramah, tetapi ia punya kepribadian yang sangat tertutup apalagi jika itu menyangkut masalah pribadinya.


Tetapi karena pembicaraan ini lah ambisi baru Anggia untuk mengintip sedikit pribadi Ian yang misterius itu dimulai. Tahap awalnya adalah dengan membiasakan. Hampir setiap hari Anggia menghampiri Ian meski hanya untuk basa-basi dan menanyakan hal-hal sepele. Ia sudah tidak peduli lagi dengan kesan dirinya di mata Ian. Selama keberadaannya diakui, itu sudah cukup.


Lama-kelamaan perbincangan santai itu jadi kebiasaan dan terasa sangat wajar diantara keduanya, dan setelah itu semuanya jadi mudah.


"Pak, ini aku ada bikin kue nastar kebanyakan. Jadi aku mau berbagi buat bapak dan keluarga," terang Anggia sembari menyodorkan satu toples kue nastar.


"Wah terima kasih..." Ian menerimanya. "Kalau begini saya jadi gak enak. Gimana kalau saya traktir ke cafe sebagai gantinya?"


Tentu Anggia akan menerimanya dengan senang hati. Namun, ia menahan diri agar tidak terlalu bersemangat. "Kalau bapak memaksa sih saya mau-mau saja."


Dengan begitu mereka pun pergi ke cafe bersama sepulang pekerjaan. Lagi-lagi semuanya berjalan lancar seperti yang Anggia rencanakan.


Di hadapan secangkir kopi dan setoples nastar, Ian menunduk seperti telah kehilangan jiwanya.


"Saya sudah tidak tahan," ujarnya.


Anggia mengamati dengan seksama.


"Benar-benar menyesakan. Tapi saya tetap harus menahannya. Lagi pula tidak akan ada orang yang senang kalau saya berterus terang dengan keadaan." Ia mengambil cangkir lalu meminum isinya.


Sementara itu Anggia memproses kata-kata yang didengarnta. Ia tahu kalau pernikahan bukanlah hal yang mudah, tapi kalau tetap mempertahankan hal yang sudah tidak bisa dipertahankan apalagi sampai mengorbankan kebahagiaan sendiri, bukankah hal seperti itu juga tidak baik?


Dari pemikiran itu Anggia pun mengusulkan, "sebaiknya anda lebih memperhatikan diri anda sendiri. Kebahagiaan itu patut diperjuangkan. Aku yakin itu bukan hal yang salah. Dengarkan kata hati, jangan terlalu pedulikan apa kata orang."


Anggia tidak pernah menyangka kalau kata-katanya itu akan benar-benar didengar dan dilakukan Ian. Ada penyesalan dan rasa bersalah yang mengikuti. Terlebih yang dibicarakan Ian waktu itu bukanlah soal pernikahan, melainkan hasrat kotor yang menjadi awal dari kehancuran banyak orang.