
Pada dasarnya keterbukaan membuat manusia lebih melonggarkan kecurigaan dan prasangkanya sendiri. Sama halnya dengan yang dilakukan Lilya, ia berterus terang soal perasaannya sehingga Arvin tergerak untuk mengutarakan rahasia yang selama ini ia simpan.
"Ugh..!" Lilya menggelengkan kepala, berusaha menangkis perasaan tak enak karena sudah mengatakan hal memalukan di hadapan Arvin. "Kenapa juga gue harus seterus terang itu sihh..."
Setelah memarkirkan motornya di depan satu-satunya cafe dekat sekolah, Lilya berjalan hendak menuju pintu cafe ketika sudut matanya menangkap sosok Huga sedang merokok sambil mengobrol dengan seorang pria tengah baya di meja paling ujung luar halaman cafe.
Lilya teringat Huga menyuruhnya datang nanti 30 menit lagi, apa mungkin ini alasannya?
‘Itu siapa sih… bajunya kek kenal,’ batin Lilya.
Meski nampak tak asing, posisi duduk pria itu memu ggungi Lilya sehingga ia tidak bisa memastikan identitasnya. Sementara itu Huga yang duduk menghadap ke arah Lilya hanya melirik gadis itu tanpa mengubah ekspresi santainya.
Karena penasaran, Lilya pun mengendap-endap hingga duduk di meja belakang pria misterius itu untuk menguping pembicaraannya. Sambil pura-pura melihat buku menu, ia pun memasang kuping lekat-lekat.
"Biar saya perjelas lagi pak, saya betulan tidak tahu menahu. CCTV sekolah sudah rusak dari seminggu yang lalu, penyebabnya karena emang ada orang yang merusak kabel Coaxialnya, tapi itu bukan saya! Terus kalau soal bensin dari bengkel jurusan teknik mesin, saya bisa jamin yang memegang kuncinya cuman kepala jurusan dan penjaga sekolah saja. Kalau tidak percaya tanya saja mereka!” Jelas pria itu dengan sungguh-sungguh.
Lilya menyipitkan mata karena mengenali suara pria itu sebagai pak Danu, kepala tata usaha SMK Tunas Nusa.
"Ok kalau begitu saya ubah pertanyaannya ya." Huga menanggapi. "Seminggu sebelum kejadian kebakaran, seseorang sudah merusak kabel semua CCTV dan dalam waktu seminggu itu pihak sekolah tidak ada upaya untuk membetulkan atau mencari tahu siapa pelakunya? Terus soal bensin yang dipakai pelaku untuk membakar TKP, itu jelas berasal dari bengkel teknik mesin. Lalu kenapa anda masih kukuh menyangkal ada kelalaian di antara para petugas sekolah?"
"Anda ini sebenarnya sedang melacak pelakunya apa mencari-cari kesalahan sekolah?!” Timpal Danu dengan suara meninggi.
Masih dengan sikap tenangnya, Huga tersenyum sambil mengamati abu rokok yang mulai luluh di tangannya. "Apa anda yakin kalau di hari kejadian, kunci bengkel ada di penjaga sekolah dan kepala jurusan? Apa mungkin kunci itu dititipkan ke murid? Atau mungkin anda sendiri yang pinjam?”
"Tolonglah! Kan waktu itu anda dengar sendiri, mereka gak mungkin lalai kasih kunci ke murid." Danu bersikeras.
Huga beralih menatap mata Danu. "Pertanyaan terakhir. Setelah semua 'insiden' yang terjadi, kenapa masih tidak ada penjagaan di sekolah pada malam hari?"
Danu nampak jengah. "Sejak berita soal sekolah kami tersebar ke khalayak situasinya jadi sulit. Keputusan dari pihak yayasan juga kacau, tidak ada yang memegang komando soal pengamanan, dan tetu saja itu bukan tanggung jawab saya!”
"Begitu ya." Huga mengujamkan rokok yang tinggal filternya itu ke asbak. Ia kemudian dengan sopan menjulurkan tangannya ke hadapan Danu. "Terima kasih banyak karena sudah mau menyempatkan diri untuk membantu proses penyelidikan ini."
Dengan cepat Danu menjabat tangan Huga lalu bangkit. Sayangnya saat berbalik hendak berlalu, matanya langsung menangkap sosok Lilya. Seakan melihat hantu, Danu terlonjak sebelum akhirnya memekik.
"Lilya?! Lagi ngapain kamu di sini?!" Kerut di wajah Danu kian kentara. "Oh... jangan-jangan itu ulah kamu juga?!"
Lilya mengernyit. "Hah? Apaan sih pak, orang saya lagi nunggu temen buat bahas soal-soal yang mungkin bakal keluar di ujian nanti. Bapak sendiri lagi apa? Ada pak detektif juga." Lilya melirik Huga seakan mereka tidak saling kenal.
Merasa perlu meluruskan kesalahpahaman, Huga pun angkat bicara. "Untuk yang satu ini saya yakin bukan dia pak orangnya."
Seakan mendapat flash back kejadian di ruang TU bersama Udo siang tadi, Danu jadi bergidik. Meski menolak percaya, tetapi kata-kata Huga mau tak mau perlu ia pertimbangkan.
"Semoga perkataan anda benar," ujar Danu sebelum akhirnya pergi begitu saja tanpa mengatakan apa-apa lagi.
"Dia kenapa?" Bisik Lilya dengan mata mengikuti arah perginya Danu.
Huga tersenyum dan memberi gesture agar Lilya pindah ke mejanya. "Kau ini suka sekali datang lebih awal ya? Kenapa?"
"Alesannya masih sama sih... si Arvin..." Lilya menurut dan beralih duduk di hadapan Huga. "Dah lah gak penting juga."
Huga tergelak ringan. "Yasudah, kita langsung ke hal yang pentingnya saja."
"Ok, tapi sebelum itu saya penasaran deh tadi kalian lagi ngobrolin apa?"
Huga tersenyum. Lagi-lagi gadis di hadapannya ini berusaha mendapatkan sesuatu sebelum menyerahkan tugasnya.
"Bukannya tadi kau menguping?" Tanya Huga.
"Ya kan cuman terakhirannya doang. Soal CCTV sama kunci bengkel teknik mesin?" Lilya menopang dagu. "Oh ya, kenapa juga baru ditanyain sekarang? Bukannya di awal-awal pak Danu termasuk orang yang pertama diintrogasi?"
Huga menautkan jemarinya. "Tadi malam ada orang yang mengirim email ke kantor polisi. Isinya keluhan soal penyelidikan kita yang terlalu lamban dan tidak profesional."
"Loh yang kek gitu bukannya udah biasa ya?" Lilya menatap heran.
"Wow! Terus hubungannya sama pak Danu?" Lilya mulai antusias.
"Semua itu terkirim dari akun email beliau," jawab Huga santai seolah-olah itu bukan apa-apa. Berbanding terbalik dengan Lilya yang seperti kehilangan kata-kata.
"Pak Danu?" Lilya memastikan. "Terus dia ga ngaku pernah ngirim email itu?"
Huga mengangguk.
*"Kalo gitu... Oh! Akunnya di hack*! Pantesan dia nuduh saya tadi! Dipikir saya kali yang nge-hack!” Sorak Lilya seakan berhasil menebak angka undian.
"Menurut beliau si pelaku penbunuhan yang nge-hack. Tapi ya..." Huga memggantung kalimatnya sambil mengetuk-ngetukan bungkus rokoknya ke meja dengan senyuman tertahan.
"Tapi apa? Kalau gitu kan tinggal dilacak lokasi login-nya?" Raut penuh harapan terpancar jelas di wajah Lilya.
Huga menyerah, senyumannya mengembang. "Di ruag TU."
"Hah?"
"Email itu dikirim dari salah satu komputer di ruang TU. Lebih tepatnya dari komputer yang sering dipakai pak Danu untuk bekerja." Huga mengambil sebatang rokok dan menyematkannya di bibir.
Lilya melohok. Untuk beberapa saat ia hanya terdiam sambil melihat Huga menyalakan korek dan menikmati asap dari rokok yang terbakar.
"Aneh memang... kalau benar itu si pelaku, kenapa dia coba 'memfitnah' orang yang punya alibi kuat seperti pak Danu?" Huga menghisap rokoknya dalam-dalam.
"Emang apa alibinya?" Akhirnya Lilya bisa kembali fokus.
"Jadi peminpin doa acara syukuran rumah baru di kompleks perumahannya. Saksinya ada lebih dari 20 orang." Huga terkekeh. "Terlalu personal. Seakan-akan orang itu punya dendam tersendiri ke pak Danu."
Seketika sosok Udo tergambar di pikiran Lilya. Bagaimana pun juga, gara-gara uang yang ditahan pak Danu dia jadi kesusahan kan? Apa mungkin dia pelakunya? Tapi mana mungkin orang seperti Udo mampu melakukan hal seperti itu, kan?
"Bentar-bentar, pikiran saya jadi kemana-mana. Emang malem itu gaada yang jaga sekolah? Ruang TU kan dikunci, gimana caranya dia bisa masuk?"
Huga menggeleng seakan menyesali sesuatu. "Biasanya saya suka ke sana malam-malam buat jaga-jaga siapa tahu pelakunya kembali ke TKP untuk mengambil barang yang tertinggal? Cuman sayangnya tadi malam saya dicekoki obat tidur oleh seorang dokter yang keras kepala.”
Lilya mengernyit kebingungan.
"Intinya siapa pun yang mengirim email itu, entah itu si pelaku atau bukan, dia tahu kalau malam itu saya tidak datang ke sekolah."
Lilya menepuk jidatnya sendiri. "Lagian ya, ini sekolah kenapa gaada penjaga malamnya sih?!"
"Dari pada itu, mending kita fokus ke hal yang sudah ada di genggaman." Huga mematikan rokoknya dan tersenyum.
Seakan mengerti, perlahan Lilya merogoh sakunya dan mengeluarkan serat woll yang sudah terimpan aman di dalam plastik bening untuk bungkus jajanan. "Oh ya, ini beda topik sih, tapi saya baru dapet info kalau Ersya tuh sebenernya anak angkatnya keluarga konglomerat Kusumaningrum!”
"Oh, kalau itu saya sudah tahu," jawab Huga enteng.
"Seriusan? Ah ga asik banget…” Entah kenapa Lilya jadi nampak kurang bersemangat. “Yaudah, jadi kesimpulannya kalau serat itu gak cocok sama yang ada di mobil korban, berarti kalian harus nyelidikin pengirim email itu. Tapi kalau engga... berarti Renaldi jadi tersangka? Terus sekarang saya harus ngapain?"
Huga mengambil plastik itu dan mengamati isinya dengan seksama. "Selagi ini diteliti, saya ingin kau memgawasi Ersya."
"Loh kok Ersya?" Lilya tak mengerti.
"Ya seperti yang kau bilang tadi, karena Ersya anak angkat Kusumaningrum.” Huga memasukan plastik itu kedalam saku overcoat-nya yang tertaut di punggung kursi belakangnya.
“Emang kalau dia anak angkat Kusumaningrum kenapa…?” Tanya Lilya semakin tidak mengerti.
Sementara itu Huga terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mulai menjelaskan.
”Sebenarnya…”