At Least I’M Free

At Least I’M Free
XXVIII



Di persimpangan antara halaman parkiran mobil dan motor mall, Lilya dan Huga yang sudah puas mengobrol di sepanjang jalan pun menghentikan langkahnya.


"Gak mau sekalian saya antar pulang?" Tawar Huga yang langsung dibalas gelengan kepala Lilya.


"Ya kalo saya ikut naik mobil bapak, ntar motor saya gimana? Masa ditinggal di sini." Gadis itu melipat tangan di dada lalu tersenyum simpul. "Lagian... masih ada undangan yang harus saya datangi."


"Begitu ya." Huga nampak tidak mempermasalahkannya. "Yasudah kalau begitu, kalau ada informasi baru langsung hubungi saya saja ya."


Lilya mengacungkan jempol. "Okay."


Mereka pun berpisah ke arah yang berbeda. Sementara Lilya sudah menemukan motornya di jajaran awal, Huga masih berjalan menyusuri deretan mobil hingga ke belokan tempat ia memarkirkan mobilnya.


Setelah masuk dan duduk di belakang stir, Huga menangkap sebuah berkas merah tergeletak di kursi samping. Ia ingat tadi pagi Ridwan mengiriminya berkas yang berisi informasi soal keluarga konglomerat Kusumaningrum, juga kasus kekerasan antar murid yang melibatkan Lilya setahun yang lalu.


Semalaman Huga mendengarkan cerita Samsul di kantor, tapi seperti biasa opini rivalnya itu lebih kental hingga mengaburkan fakta objektif dari kasus yang ia tangani di kota sebelah itu. Karenanya mau tak mau Huga meminta Ridwan untuk mencarikannya data soal kasus itu juga.


Namun, karena sibuk mengerjakan banyak hal dan ada janji bertemu dengan Lilya tadi, Huga jadi belum sempat membaca isi berkas tersebut.


Dengan tenang Huga memutar kunci di leher stir. Niat hati ingin membaca berkas tebal itu sambil menunggu mesin mobilnya panas, Huga pun meraih berkas di sampingnya ketika tiba-tiba pandangannya berubah kabur, diikuti dengan rasa lelah yang tak tertahankan.


Huga tak punya pilihan lain selain kembali menyender ke punggung kursi dan mengatur nafas. Karena sudah sangat hapal dengan gejala tubuhnya, ia pun buru-buru meraih ponsel dan menelepon seseorang.


"Hallo-"


"Saya di parkiran timur mall xx..."


"Apa? Hallo? Huga kau kenapa?"


Tuk!


Ponsel di tangan Huga terjatuh, sementara tubuh yang melemah itu kini kehilangan seluruh kekuatannya. Dengan nyeri tak tertahankan di perut, Huga tertunduk ke samping jendela dan perlahan menutup matanya.


Untuk kesekian kalinya Huga diingatkan kembali akan alasannya harus segera berhenti dari pekerjaannya sebagai detektif.


...* * *...


Rasanya seperti sudah bertahun-tahun Huga terlelap. Meski nyatanya ia baru tidak sadarkan diri selama sejam. Saat membuka mata, ia sudah berada di ruangan serba putih dengan bau karbol yang kentara.


Dengan tubuh yang masih lemah, ia berusaha bangkit hanya untuk mendapati tangannya sudah terhubung dengan selang infus. Ia pun hanya bisa terduduk pasrah menyender ke bantal.


"Kau ini benar-benar ceroboh...." ujar seseorang yang sedari tadi memperhatikan Huga di samping ruangan dekat jendela terbuka. "Pingsan di dalam mobil tertutup dengan mesin menyala. Tidak perlu repot-repot bunuh diri, sebentar lagi juga kau akan mati. Aku sampai meminta beberapa orang untuk mengeluarkan kau dari sana. Dasar merepotkan."


Wanita berpenampilan rapih dengan jas putih panjang dan kacamata baca yang tebal itu melipat tangan di dada dengan ekspresi datar.


"Terima kasih atas perhatiannya dokter Lita, saya tahu cuman kau teman saya yang bisa diandalkan." Huga tersenyum tanpa beban, seolah yang terjadi padanya barusan bukanlah hal aneh.


Sesaat, wanita itu terdiam tidak bereaksi. Hingga akhirnya ia bertanya, "Sudah tau sakit, kenapa masih minum kopi? Espresso pula."


"Bukannya kau itu detektif? Masa gak bisa nebak." Lita barjalan mendekat lalu menunjukan struk pembayaran di cafe Hiraeth. "Tenang, selain sebagai dokter, aku gak tertarik sama teman minum kau ini."


Huga pun hanya bisa terkekeh. Sebenarnya ia tahu kalau lambungnya tidak kuat, tapi tetap saja, mungkin karena sudah kebiasaan ia jadi lupa akan kondisi kesehatannya.


Lita berjalan memutari ranjang hingga sampai di tiang infusan. "Obatnya udah aku masukkin ke sini. Jadi tolong, jangan dulu pergi sebelum cairan infusnya habis."


"Baiklah. Lagi pula kapan juga saya tidak mendengarkan kata-kata bu dokter?"


Mendengar kalimat itu, Lita kemudian menatap Huga tajam. "Kalau begitu tolong, tinggalah di sini sampai sembuh."


"Sembuh?" Huga tertawa hambar. "Bukannya kau sendiri yang bilang kalau penyakit ini tidak bisa disembuhkan?"


Lita membetulkan posisi kacamatanya. "Memang, tapi setidaknya kalau tinggal di sini kau bisa lebih terawat dan hidup nyaman."


"Kau ini masih saja tidak mengerti. Saya hidup bukan untuk mencari kenyamanan. Lagi pula 'nyaman' yang kau maksud tadi sama sekali tidak masuk akal," jelas Huga dengan halus. Ia kemudian melihat ke sekitar seperti sedang mencari sesuatu.


"Oh ya, barang-barang saya di mana ya?"


Meski terlihat baik-baik saja, Lita tahu betul betapa memprihatinkannya kesehatan Huga. Sebulan yang lalu temannya itu masuk rumah sakit karena hilang kesadaran ketika bekerja. Karena teman lama, Lita pun bertanggung jawab sepenuhnya dalam pemeriksaan awal hingga diagnosa akhir. Dari situ baru diketahui kalau Huga mengidap penyakit terminal yang sudah tidak bisa diapa-apakan lagi. Bahkan kalau dari kacamata medis, merupakan sebuah keajaiban Huga masih bisa beraktifitas dengan normal hingga saat ini. Meski begitu tetap saja... umurnya sudah dipastikan tidak akan lama lagi.


"Nih," Lita menunduk dan membuka laci di bawah nakas samping ranjang. Di dalamnya terlihat berkas dengan cover merah, hp, dompet, rokok, pemantik api, kotak besi kecil dan kunci mobil Huga.


"Wah, saya kira masih ada di mobil. Terima kasih ya sudah diambilkan." Mata Huga nampak memastikan kelengkapan barang-barangnya.


"Santai aja kali, lagian kita udah temenan dari SMA." Lita memasukan kedua tangannya kedalam saku jas.


Huga tersenyum.


"Yasudah, sekarang istirahat. Kakau ada apa-apa pencet aja tombol di bawah kasur biar suster datang. Dan ingat! Jangan pergi sebelum cairan infusnya habis." Dengan tegas Lita memperingatkan Huga.


"Baik bu dokter..." timpal Huga dengan sikap seorang murid yang patuh pada gurunya.


Setelah itu Lita pun pergi ke luar. Di tengah situasi rumah sakit yang tenang, Huga pun mengeluarkan rokok dan pemantiknya dari dalam laci. Ia sama sekali tidak peduli dengan kondisi tubuh atau apa yang akan terjadi padanya nanti. Yang terpenting adalah kasus, dan nikotin untuk menenangkan pikirannya.


Dengan sebatang rokok tersemat di bibir, Huga menyalakan pemantik api sambil melirik ke arah jendela yang terbuka. Pemandangan langit di luar sana terlihat biru nan cerah. Beberapa kali menghisap dan menghembuskan asap rokoknya sambil menikmati pemandangan luar, Huga menikmati saat-saat itu dalam hening.


Setelah puas, ia pun beralih mengamati laci lalu mengeluarkan berkas dengan cover merah dari dalam sana.


Isinya cukup tebal, hingga 20 lembar. Huga membaca cepat lalu membalik tiap halamannya. Sesekali ia berhenti untuk membuang abu rokoknya ke dalam kotak besi. Kebanyakan isi berkas itu memuat data bisnis yang berlangsung kurang dari 10 tahun terakhir. Meski memakan waktu, akhirnya Huga sampai pada halaman yang memuat informasi tentang anak angkat mereka.


Meski dikatakan begitu, anak itu tidak benar-benar dimasukan kedalam kartu keluarga Kusumaningrum. Selayaknya pajangan yang akan dipamerkan ketika dibutuhkan, kebenarannya adalah anak itu dititipkan ke salah satu pelayan rumah kepercayaan mereka.


Sejak mendengar kesaksian Anggia kemarin, Huga sudah mengasumsikan banyak hal termasuk identitas anak angkat tersebut. Karena itu, ketika melihat data konkret di tangannya sekarang, Huga tak bisa menahan untuk tidak tersenyum puas. Di bawah nama lengkap anak itu ada foto wajah orang yang sangat dikenalinya.


"Dengan begini, saya bisa mengintrogasinya lagi tanpa ragu…"