
Matahari telah hilang sepenuhnya ketika Huga tiba di kantor kepolisian. Di antara sibuknya orang-orang, Huga terus berjalan ke dalam bagunan hingga menemukan Ridwan yang tengah terduduk lesu di mejanya. Pada akhirnya, dia yang terkenal selalu optimis dan penuh semangat itu pun tumbang dalam keputusasaan. Namun, hal itu tidak menghentikan Huga untuk menghampirinya dengan langkah santai.
"Wah... wah... sepetinya ada yang sedang kecewa nih," goda Huga ketika sampai di hadapan juniornya itu.
"Pak Huga benar, tidak ada jejak apa pun di mobil itu." Gumam Ridwan sambil menundukkan kepala.
"Loh, bukannya tim forensik bilang di kursi kemudinya ditemukan serat wol? Dari situ kan kita bisa simpulkan kalau si pelaku memakai sweater atau jaket berbahan wol saat mengendarainya. Tapi… tidak menutup kemungkinan juga kalau petunjuk itu sengaja ditinggalkan untuk mengecoh kita,” terang Huga yang langsung disambut gelengan kepala juniornya.
"Orang yang pakai jaket atau sweater wol kan ada banyak, pak. Sama aja boong dong semuanya harus mulai dari awal lagi,” dengus Ridwan seperti tak terima.
Huga menyeringai. "Tidak juga.”
Perlahan Ridwan mengangkat kepalanya dan menatap Huga penasaran. "Maksudnya?"
"Sebelum saya jelaskan..." Huga memperhatikan sekitar sebelum akhirnya menyondongkan tubuh dan menurunkan volume suaranya. "Tolong carikan informasi soal anak angkatnya keluarga Kusumaningrum."
Mendengar permintaan yang tiba-tiba itu pun seketika Ridwan mengernyit. "Buat apa pak?"
"Sudah saya bilang, detailnya akan saya ceritakan setelah kau sudah bawakan data itu." Huga tersenyum penuh arti. Sementara Ridwan yang sudah terbiasa dengan sikap enggan berbagi sok rahasia seniornya itu hanya bisa menurut.
"Tolong ya pak, nanti ceritain semuanya secara lengkap," tekan Ridwan sebelum akhirnya bangkit dan melengos menuju ruang data.
"Baiklah..." saut Huga sambil mengeluarkan ponsel dari dalam saku overcoatnya. Ia ingat belum membalas pesan dari Lilya. Dengan segera ia pun mengetikkan sesuatu. Namun, belum sempat tombol kirim ditekan, tiba-tiba sebuah panggilan telepon masuk dengan nama ‘Samsul’ tertera di atasnya.
"Ya?" Tanya Huga dengan malas.
"Anda di mana?" Balas Samsul dengan nada tergesa-gesa. "Ada hal penting yang mau saya bahas nih. Soal murid pelaku kekerasan di kota sebelah itu."
Huga menghela nafas panjang. "Kau ini... masih saja keras kepala ya. Padahal sudah saya bilang, saya tidak tertarik dengan kasus sepele-"
"Anak itu pindah ke sini. Bahkan bersekolah di SMK Tunas Nusa, tempat kasus pembunuhan guru yang anda pegang itu!”
Untuk beberapa saat Huga terdiam. Ketertarikan mulai merasuki. Memang tak bisa dipungkiri kalau semua ini adalah kebetulan yang aneh. Saling berkaitan, seolah takdir menghendakinya untuk menarik benang merah dari banyak sisi ke satu tempat yang sama.
"Baiklah, saya di kantor." Huga menyeringai, ia mendapati dirinya jadi bersemangat karena berbagai hipotesa baru mulai menghujami pemikirannya. "Oh ya, siapa nama anak itu?"
"Namanya..."
...* * *...
Lilya tidak menyangka perjalanannya ke kota sebelah akan memakan waktu sampai malam hari. Setelah memarkirkan motornya di parkiran basement rumah sakit, gadis itu pun bergegas mencari lift menuju lobi.
Saat pulang dari kosan Udo, emosi Lilya masih belum mereda. Karenanya dari pada pulang ke rumah, ia memilih berkendara cukup lama hingga akhirnya memutuskan menjenguk teman lamanya di sini.
Sebenarnya setelah pindah setahun lalu, Lilya selalu menyempatkan waktu untuk kembali ke kota kelahirannya dan berkunjung beberapa jam ke rumah sakit.
Kegiatan ini sudah semacam ritual ketika dirinya sedang emosi karena berbagai sebab. Karena entah kenapa perasaannya jadi ringan dan lega setiap ia bertemu dengan temannya itu.
Setelah menaiki lift dan tiba di lobi, Lilya pun segera menuju meja resepsionis.
"Mbak, saya mau jenguk pasien atas nama Mira. Waktu jenguknya masih ada kan?"
"Hanya keluarganya saja yang diizinkan menjenguk," jawab suster itu ketus sambil sibuk berkutat dengan komputernya.
Dengan sinis suster itu melirik gadis yang masih memakai seragam sekolah lengkap. "Nama?"
"Lilya Lindberg."
Mendengar nama itu, kerut di kening si suster terlihat bertambah. "Maaf tapi saya tidak bisa membiarkan pembully sepertimu menjenguk korbannya sendiri.”
Sesaat mata Lilya terbelalak karena terkejut. Namun sedetik kemudian ia tertawa kencang. "Hahaha! Mbak baru ya di sini? Ngakak. Padahal kejadiannya udah setahun lebih, tapi masih aja ada orang yang kemakan rumor? Dah kayak seleb aja nih gue banyak hatersnya."
"Tolong jangan ribut! Ini rumah sakit! Atau mau saya panggilkan security?" Ancam si suster dengan tangan sudah siap di gagang telepon.
Melihat respon itu tawa Lilya malah makin menjadi. Ia bahkan sampai memukul-mukul meja saking tidak tahannya. Untungnya suasana rumah sakit kala itu sedang sepi.
Tapi tetap saja, kegaduhan adah kegaduhan. Si suster hendak menekan tombol security saat tiba-tiba seorang suster lainnya datang dan menghentikannya.
"Haduh... kalian ini kenapa sih...?" Suster yang baru datang itu pun menoleh dan tersenyum lembut ke arah Lilya yang seketika langsung berhenti tertawa.
"E-eh... suster Rifa? Hehe apa sus?" Sapa Lilya dengan kikuk.
"Kabar? Ya sekarang aku lagi mau ceramahin pengunjung yang tidak sopan nih... Lilya sendiri apa kabar? Kayaknya kurang sehat banget ya, sampai mau nyari gara-gara di rumah sakit.”
Meski ngeri, Lilya tetap memasang senyum manisnya yang kaku. Ia enggeleng-geleng layaknya bocah yang takut dimarahi. "A-aku minta maaf udah bikin gaduh... lagian, mbak suster itu yang mulai duluan."
"Loh? Kok saya?" Ujar suster yang ditunjuk Lilya, tak terima.
"Ya kan mbaknya tadi ngelawak, jadi saya ketawa deh," terang Lilya tanpa merasa bersalah sedikit pun.
"Begini ya, saya tuh cuma-"
"Udah-udah... ngapain sih ngeributin hal sepele?" Dengan tenang suster Rifa mengalungkan kartu pengunjung ke leher Lilya, lalu menyodorkan sebuah kertas berisi daftar tamu jenguk. "Sebenarnya waktu jenguk sudah lewat, tapi karena kamu itu pengecualian jadi aku kasih waktu setengah jam buat jenguk. Nanti pas mau masuk ke kamar pasien jangan lupa cuci tangan dulu ya…”
Dengan mata berkaca-kaca penuh haru, Lilya pun menanda tangani kertas itu lalu menggenggam kedua tangan suster Rifa kuat. "Terima kasih! Kalo gitu aku pergi dulu yak."
Tanpa berlama-lama Lilya pun melengos pergi. Sementara itu suster di sebelah Rifa melohok tak percaya.
"Kok malah dibiarin sih? Mbak tahu kan setahun lalu dia hampir ngebunuh 4 orang temannya sendiri! Belom lagi pasien Mira itu salah satu korbannya kan?" Protes si suster berwajah masam itu.
Rifa menanggapinya santai sambil tersenyum. "Loh, memangnya kamu tahu dari mana? Kepolisian? Berita resmi? Atau mungkin... emak-emak kompleks?"
“Yah itu…” Meski kesal, suster itu hanya bisa diam menggulum bibir.
"Pemberitaan waktu itu memang heboh. Apa lagi di internet banyak hoax, dan luar biasanya orang-orang percaya gitu aja tanpa nge-check ulang faktanya.” Rifa menepuk santai pundak rekannya itu. “Gak usah cemas, dia anaknya baik kok."
“Kenapa mbak bisa segitu percayanya sama dia?” Tanya si suster penuh keraguan.
“Kamu ini… perlu aku ceritain kah kejadian sebenarnya?”
Suster itu mengangguk.
“Ok, jadi tuh sebenernya…”