
Segalanya menjadi hening. Entah sudah berapa menit berlalu sejak pertarungan dimulai. Dengan tubuh membeku Udo bersembunyi di balik tembok gang. Mata terpaku dan nafas tercekat, ia tak bisa melepaskan pandangannya dari gadis yang tengah berdiri kokoh di antara tubuh-tubuh yang terkapar di halaman luar bendeng.
Rambut kemerahan panjang yang menutupi sebagian wajahnya, membuat Udo menerka-nerka ekspresi macam apa yang bersemayam di baliknya.
"Lia..." panggil Udo dengan suara bergetar.
Gadis itu menoleh bersamaan dengan hembusan angin yang menyibakkan rambut, Udo menangkap segurat senyuman terlukis di wajah yang penuh lebam itu.
Pupil Udo membesar, tanpa sadar ia menelan ludah teringat akan sosok dirinya ketika berkaca. Terutama saat ia masih tinggal serumah dengan ibunya.
"Ahh.... Do, kok tangan gue jadi menjijikan gini sih?" Lilya menunduk menatap telapak tangan kanannya yang berlumuran darah.
Dengan panik Udo menghampiri, ikut mengamati luka gores yang terus mengeluarkan cairan merah kental itu. Kilasan pertarungan beberapa menit lalu pun terputar kembali dalam ingatan. Saat itu, salah satu dari mereka mengeluarkan pisau dan menghunuskannya ke arah perut Lilya. Untung refleks gadis itu lebih cepat sehingga serangannya berhasil dihentikan meski harus mengorbankan tangan.
"Lo sih, b-barbar!" Udo beralih memperhatikan dua preman yang tergeletak tak sadarkan diri. "M-mereka gak mati kan? Gimana kalo ntar gue dikroyok, jadi sasaran balas dendam temen-temennya?!"
Lilya tergelak memperhatikan Udo yang kini berjongkok sambil menjambak rambutnya sendiri frustasi.
"Ya itu kan urusan lo, gue cuman pengen tau Ersya di mana..." Seakan baru menyadari sesuatu Lilya langsung menatap Udo panik. "Mampus, saking asiknya gelut gue lupa nanyain Ersya di mana."
Udo yang sedari awal memang tidak tahu-menahu soal Ersya yang menghilang pun hanya bisa melohok.
"Ntar dah gue jelasin." Lilya mulai mengedarkan pandangan ke tanah sekitaran. Sambil menahan perih di tangan, ia mulai hilir mudik mencari.
"Do, tadi pisaunya jatoh ke mana ya?" Tanya gadis itu polos.
"B-buat apa?!" Seketika Udo terlonjak.
"Yang di dalem masih sadar, jaga-jaga kalo dia gak mau ngomong." Lilya akhirnya menemukan pisau itu di dekat pintu bendeng, dengan riang ia segera memungutnya. Namun, ketika hendak masuk ke bendeng, bahunya ditahan.
"Lo mau apain bang Fajar?" Bisik Udo penuh penekanan.
Lilya menoleh dan tersenyum. "Menurut lo?"
Udo bergeming, enggan melepaskan cengramannya. Entah kenapa perasaannya tidak enak. "Udah dong... p-pulang aja yuk."
"Penakut banget sih jadi orang!" Dengan santai Lilya mengusapkan darah di telapak tangannya ke dada Udo hingga baju cowok itu berubah merah.
Seketika Udo melepaskan genggamannya dan mundur sambil terjerit-jerit. Ia menatap bajunya panik. "N-ngapain sih lo?!"
Lilya tergelak dan dengan acuh lanjut menghampiri Fajar yang masih duduk menyender sambil menutupi bagian vitalnya. Pria itu masih sadar, menatap geram, tapi tak bisa berbuat banyak.
Ketika Lilya hendak menghunuskan pisaunya sebuah genggaman lagi-lagi menghentikannya.
"Apa lagi sih d-"
"Dah di bilangin lu butuh tidur." Potong orang yang tengah berdiri tepat di belakang Lilya. Dari suaranya yang halus sudah tertebak kalau itu bukan Udo, melainkan...
"Arvin...?" Lilya menoleh setengah kaget.
Arvin melepaskan cengramannya dan melipat tangan di dada. "Selain peningkatan hormon adrenalin, lu tahu gak kalo orang yang gak tidur lebih dari 24 jam itu setara sama orang mabok? Tepatnya 0,10% alkohol dalam darah sih, tapi tetep aja... 0,10% itu dah cukup bikin lu gak waras."
"Ah, apaan sih lo bosenin banget omongannya kek kutu buku." Senyuman Lilya mengembang. Dengan sengaja ia merubah topik pembicaraan. "Kok bisa ke sini?"
"Gua yang panggil! Abisnya lo kek orang kesurupan tadi!" Sembur Udo yang hanya mengamati dari lawang pintu, tak berani masuk.
Lilya berdecak. "Ya elo sih pengecut, bukannya bantu belain malah sembunyi."
"Pengecut? Lo sendiri berlebihan banget kek yang mau bunuh-bunuhin orang!" Tampik Udo tak terima.
"Idih, lebay!"
"Lo yang lebay!" Balas Udo jengkel.
Berada di antara dua orang binal itu, Arvin hanya bisa menghela nafas lelah. Masih mempertahankan sikap tenangnya, ia pun mengambil pisau di tangan Lilya dan melemparnya ke sudut ruangan.
"Anak jaman sekarang pada gak tahu malu..." Lirih Fajar dengan wajah memerah.
Arvin berjongkok di hadapannya sambil tersenyum prihatin. "Maafin temen-temen saya ya pak. Kalau bapak mau, saya bersedia ganti rugi biaya perawatan luka kalian."
"Loh, vin?!" Di banding si pria yang ditawari, Lilya nampak lebih terkejut dan terganggu dengan kalimat itu.
"Jangan harap...! Hei bocah songong, jangan mentang-mentang lu punya banyak duit kita-kita bakal maafin perbuatan dia." Cecar pria itu sambil memunjuk Lilya.
Arvin menghela nafas lelah. Ia merasa semua orang di tempat ini termakan ego dan lupa akan situasinya masing-masing. Kalau terus begini bisa-bisa waktu mereka habis terbuang dengan saling mengumpat.
Masih dengan sikap tenang, Arvin mengeluarkan HP dari dalam saku. "Yaudah langsung ke intinya aja. Mereka ada di pelabuhan kan? Kalo gitu saya panggilin polisi buat geledah daerah itu."
"Eh?! Bentar-bentar!" Sergah Fajar panik, begitu juga Lilya yang langsung ikut berjongkok dan menatap Arvin tak percaya.
"Lo dah tau, vin?" Tanya gadis itu.
Sudah Arvin duga cara ini akan berhasil mencuri perhatian semua orang. Sambil tersenyum ia menopang dagu menatap gadis di sampingnya itu. "Lu suruh gua nyari info ke temennya Renaldi kan?"
"Napa gak bilang dari awal. Ayo buruan ke sana!" Dengan penuh semangat Lilya bangkit.
"Tapi detailnya gua gak tahu. Pelabuhan sebelah mana, sembunyi di mana, ada berapa orang yang dikirim ke sana. Waktu kita gak cukup buat periksa satu-satu. Makanya dari pada gak dapet info, mending sekalian aja suruh polisi yang cari."
Ucapan itu membuat Lilya menghentikan langkahnya dan kembali ke posisi awal. Ia sadar kalau Arvin sedang menggertak. “Nah denger kan? Kasih tau buru!" Titahnya kepada si pria yang diliputi kecemasan itu.
Karena tersudut dan tidak punya banyak pilihan, dengan berat hati Fajar pun menurut.
Setelah beberapa saat mendengarkan penjelasannya yang cukup mendetail, Arvin dan Lilya pun memutuskan untuk segera ke sana.
"Do, lu ada luka juga?" Tanya Arvin baru menyadari noda darah di dada Udo ketika keluar dari bendeng.
"Hah? Tanya aja tuh si cewek gila!" Dengan sewot Udo langsung berjalan menuju gang.
Arvin menoleh, mendapati Lilya tengah cekikikan. Saat melihat luka di tangan gadis itu seketika ia mengerti apa yang terjadi. "Lu bener-bener punya bakat bikin orang kesel ya."
"Makasih\~"
"Itu bukan pujian..." Ujar Arvin kemudian mengikuti Udo melewati gang. "Do, lu ikut ke pelabuhan juga kan?"
Tanpa menoleh Udo menjawab. "Idih ogah! Udah cukup ya, gue dah muak sama rencana-rencana bengal kalian!"
"Terus mau ke mana? Abis kejadian tadi, jelas kita bertiga udah masuk daftar incaran mereka. Masalahnya alamat rumah gua sama Lilya masih aman, nah elu?"
Ucapan Arvin itu sukses menghentikan langkah Udo. Tentu saja pulang ke kosan bukan lah ide yang bagus, begitu juga dengan kembali ke tempat ibunya. Untuk beberapa saat ia terdiam, berfikir dan menimbang-nimbang hingga akhirnya menoleh dengan wajah panik. "Terus gue harus gimana?"
Arvin melipat tangan di dada. "Jangan mencar. Setidaknya ampe urusan ini beres. Ya kan Lia?"
"Ahh... ya..." gumam Lilya yang nampak kesulitan mempertahankan keseimbangan hingga menopang tubuhnya dengan sebelah tangan ke tembok. Sambil menunduk ia beberapa kali mengerjapkan matanya yang mulai kabur.
"Lia, lu gapapa?" Tanya Arvin menghampiri.
Lilya tidak menjawab, tubuh gadis itu terhuyung sambil melihat luka di tangan kanannya ia meringis, "Sialan..."
Untung Arvin sigap menangkap dan menahan tubuh lemah gadis itu ke pangkuannya. Mereka berdua terduduk, dengan posisi Arvin menjadikan tubuhnya sebagai sandaran. Dengan sigap ia meraih tangan Lilya yang terluka dan menempatkannya ke posiai yang lebih tinggi.
"D-dia kenapa?!" Jerit Udo.
"Lia! Lilya!" Arvin terus memanggil nama gadis itu dan menggubris tubuhnya meski tidak ada respon. Dengan pikiran berkecamuk ia mengamati luka di telapak tangan Lilya dengan teliti sambil mengutuk diri.
‘Gawat,’ tuturnya dalam hati.
Meski dilanda kalut, Arvin berusaha keras menjaga fokusnya. Ia menoleh ke arah Udo yang seperti mau pingsan dan berucap dengan nada tenang. "Udo, denger baik-baik apa yang bakal gua omongin sekarang. Jangan banyak tanya, lakuin aja."
Udo mengangguk. “Apa?”