
Suasana kelas 11 farmasi A nampak riuh ketika bu Gita selaku wali kelas datang bersama seorang gadis bersurai merah kecoklatan.
"Semuanya cepat duduk di bangku masing-masing!" Titah bu Gita sembari duduk di bangku guru.
Semua mata tertuju ke gadis yang tengah berdiri di depan kelas. Rasa ingin tahu mulai terkumpul di benak semua orang, karenanya, menuruti kata-kata bu Gita, mereka pun duduk ke bangkunya masing-masing. Suasana berubah senyap.
"Baik anak-anak, hari ini kita kedatangan teman baru." Bu gita menoleh dan tersenyum ke gadis di sampingnya.
Seakan mengerti, gadis itu pun berucap. "Nama saya Lilya Lindberg..."
Semua orang nampak menunggu kalimat berikutnya dengan tatapan penuh tanda tanya. Namun sayangnya, gadis itu tetap bergeming.
"Gitu doang?" Seorang murid akhirnya berkomentar. "Umur, asal sekolah, hobi gitu, gak ada?"
Dengan sikap ogah-ogahan Lilya melanjutkan perkenalannya. "Umur kurang lebih sama dengan kalian. Asal sekolah pokoknya dari kota sebelah, dan untuk Hobi sih... gak punya ya."
Bisa terlihat orang-orang kebingungan dengan jawaban itu. Beberapa dari mereka bahkan mulai saling berbisik dan menertawakan.
Tak mau situasinya makin runyam, Gita pun memutuskan untuk mengsudahi acara perkenalannya.
"Bangku yang di depan situ kosong. Kamu boleh tempati," ujar bu Gita sambil menunjuk bangku paling depan di sudut kiri.
Tanpa berlama-lama Lilya pun berlalu dan duduk di sana.
"Sudah ya, nanti guru matpelnya bakal datang ke sini. Kalian baik-baik ya..."
"Iya buu...!"
Setelah bu Gita ke luar, baru lah suasana kelas di pagi hari yang sejuk ini kembali ramai. Terutama karena mereka diberi topik baru yaitu, murid baru.
"Wihh... keren banget lo. Anak blaseran ya?" Tanya seorang siswi yang duduk di belakangnya.
Lilya menoleh, dan hanya menatapnya datar. Hal itu sontak membuat si siswi canggung dan hanya terkekeh. Sementara itu, murid-murid lain mulai berdatangan mengerumuni bangkunya.
Lilya menghela nafas panjang, dan ketika satu persatu dari mereka mulai menanyainya pertanaan personal, dengan tenang gadis itu mengabaikan semua orang dan berlalu begitu saja ke luar kelas.
Entah apa yang sedang dipikirkannya. Ia hanya... tidak mau berinteraksi dengan orang-orang. Sejak apa yang terjadi di sekolah lamanya, Lilya jadi sangat membatasi diri untuk berinteraksi dengan orang lain. Ia takut kembali ke dirinya yang palsu, dan dikelilingi oleh orang-orang palsu juga. Ia sudah kapok, tidak mau lagi menyakiti orang hingga bernasib sama seperti teman-temannya dulu terutama Mira.
Tanpa tujuan jelas, Lilya terus berjalan menyusuri koridor yang sepi. Beberapa kali ia melewati kelas dan mengintip isinya. Sebagian sudah memulai kegiatan belajar mengajarnya, meski banyak juga kelas yang masih ribut menunggu gurunya datang. Entah di mana pun itu, situasinya selalu sama hanya orang-orangnya saja yang berbeda. Batin Lilya.
Saat sadar Lilya sudah berada di kawasan belakang gedung sekolah. Tembok tinggi yang menjadi batas antar sekolah dan dunia luar menjulan tinggi. Sementara di pinggiran jalan antara tembok penghalang dan bangunan sekolah banyak ditumbuhi rerumputan dan sampah plastik bekas makanan ringan yang berserakkan.
Meski kumuh Lilya tidak memperdulikannya dan terus berjalan, hingga akhirnya terlihat bangunan lusuh yang diduganya sebagai gudang. Di halamannya tertumpuk bangku-bangku rusak dan kursi-kursi tak layak pakai yang ditumpuk sembarang.
Lilya memilih duduk di undakkan depan pintu gudang, lalu meraih HP dari sakunya. Tentu saja tak ada apa pun di sana, karena sejak insiden di sekolah lamanya Lilya jadi banyak mendapat ancaman daring dari teman-teman, orang tua murid bahkan orang-orak tak dikenal.
Tidak mau ambil pusing, Lilya pun mengganti nomornya dan meriset ulang segala hubungannya dengan orang-orang yang pernah ia kenal. Alhasil kini, selain orang tuanya, ia tak punya siapa-siapa lagi untuk dihubungi.
Ketika sedang mengecek beberapa permainan di plays store untuk di download, tiba-tiba terdengar suara langkah mendekat. Dengan was-was Lilya menilik ke arah sumber suara, di sana nampak seorang cowok datang dan terkejut tatkala melihat Lilya.
"Ngapin di situ?" Tanya cowok dengan hoodie merah itu. Meski terkejut dan kebingungan, cowok itu kemudian dengan acuh mengambil kursi dari tumpukan dan mendudukinya agak jauh dari posisi Lilya.
"Lo sendiri...?" Dengan hati-hati Lilya balik bertanya.
Bukannya menjawab, cowok itu malah mengeluarkan 3 bungkus roti isi coklat dari dalam saku hoodienya.
"Tempat bolos gua sih ini," jawab cowok itu setelah berhasil membuka bungkus plastik salah satu rotinya.
“Masih pagi gini?”
Cowok itu terkekeh. “Sejak kapan bolos ada aturan waktunya?”
Lilya menghela nafas panjang enggan melanjutkan. Gadis itu kemudian beranjak hendak pergi.
"Eh, mo kemana? Gua kan cuman nanya, bukan ngusir. Santai aja kali," cegah cowok itu sembari mulai memakan rotinya.
Lilya sempat ragu, tapi pada akhirnya ia memilih kembali duduk ke tempatnya. Sebenarnya ia juga sudah lelah berkeliling. Lagi pula ia belum hapal denah sekolah ini, jadi mencari tempat sepi lain yang seperti ini agak merepotkan.
"Lo dari 11 farmasi A?" Lilya mengernyit. "Lo ngikutin gue ya?"
"Yehh... dibilangin gua dah biasa di sini. Buruk sangka tuh ga baik,” jelas cowok itu santai. "Tapi kelihatan sih dari awal masuk juga, lu tuh tipe orang yang kritis. Curigaan sih tepatnya."
"Maksudnya?"
"Nah kan lu tertarik." Ujar cowok itu sambil asik memakan rotinya. “Jadi gini, kan dasarnya tuh manusia punya 2 jenis ekspresi muka. Nah yang pertama tuh munculnya sementara sekitar 0,4 detikkan, dan yang ke dua ekspresi yang sengaja dipertahankan secara sadar. Menurut lu ekspresi mana yang bener-bener mencerminkan pikiran emosi sejati seseorang?"
Lilya terdiam sejenak. "Entahlah... tapi keknya karena muncul secara alami, yang pertama terkesan lebih jujur."
"Betul. Katakanlah gua punya mata yang bagus buat ngelihat ekpresi yang pertama. Jadi gua bisa dapet sedikit informasi dari si pemilik ekspresi itu. Dalam hal ini, si yang punya ekspresi itu adalah elu." Setelah menghabiskan roti pertamanya, cowok itu pun membuka bungkus roti yang ke dua.
Mendengar penjelasan itu tentu saja Lilya tergelitik karena tak percaya. Tanpa sadar ia terkekeh. "Tapi mustahil banget bisa ngelihat ekspresi yang muncul 0,4 detik doang. Mungkin aja selama ini lu halu cuman nebak-nebak doang."
"Mungkin aja sih. Tapi coba ya, lu nilai sendiri secara jujur." Cowok itu memakan beberpaa gigitan rotinya lahap sebelum menatap Lilya serius. "Dari awal masuk, lu udah nunjukin ekspresi yang kontradiktif. First impression orang-orang mungkin ngelihat lu tuh kek cewek pendiem, pemalu, misterius, untouchable lah, karena emang itu kesan yang sengaja lu tunjukin. Tapi tentu aja gua sadar kalo itu semua cuman kamuflase."
Lilya nampak tidak nyaman mendengar penjelasan penuh percaya diri cowok itu. Seakan matanya sedang menatap jauh menilik jiwa Lilya yang paling dalam.
"Di mata gua yang bisa ngelihat micro ekspresi, lu tuh nunjukin antusiasme. Lu ngelihat ke tiap suduk kelas, bahkan natap mata beberapa orang di sana. Gesture lu waktu berdiri juga gak defense kek nyilang tangan atau masukin tangan ke saku. Lu bener-bener dalam keadaan relax dan open sama semua hal yang mungkin akan terjadi. Mana ada kan orang pemalu ngasih sikap seterbuka itu."
Tanpa sadar Lilya terkekeh, ia tak bisa berkata karena memang itu lah yang ia rasakan saat pertama kali masuk.
"Terus pas disuruh kenalin diri... ada jeda seolah-olah lu lagi nyiapin kepribadian yang sengaja pengen ditampilin. Padahal sebenernya lu pengen banget kan ngebacot soal diri dan hal-hal yang terjadi sebelum lu pindah? Dan lu boong pas bilang 'gak punya hobi'. Gini ya, sederhananya orang cenderung ngerasa gak enak ketika harus boong makanya tanpa sadar mereka nyentuh daerah deket mulutnya, dan apa yang lu lakuin pas bilang gak punya hobi?"
Sambil mengingat, Lilya kembali menyentuh bibir bawahnya sama seperti saat di kelas. Meski enggan mengakui, tapi pada akhirnya gadis itu menyerah.
"Ok ok sekarang gue percaya-"
"Hobi lu yang sebenernya,” potong cowok itu cepat, “dari proporsi sama postur badan lu sih keknya lu tekun di bidang olah raga atau bela diri?"
"Suka silat gue, sekarang udah janga-"
"Dan untuk alasan lu pindah..."
Seketika perasaan dingin merayap dari punggung Lilya. Yang ditakutkannya terjadi. Jika cowok ini sampai tahu apa yang terjadi sebelum ia pindah...
"Ohh... gak penting juga sih, itu kan masalah pribadi, gua gak berhak ngusik." Cowok itu mengedikkan bahu acuh. "Tapi ya kalo boleh kasih saran, lu gak perlu nutupin perasaan lu yang sebenarnya. Lama-lama bakal cape sendiri."
Lilya lega karena cowok itu sepertinya 'mengerti' situasi yang dialaminya, tetapi...
"Tapi kalo gak gitu orang-orang bakal salah sangka dan jadi seenaknya... gue ga mau." Lilya menatap kedua tangannya yang mengepal di pangkuan.
"Hmmm... lu tipe orang yang gak enakkan ya? Ga bisa nolak permintaan orang?" Lagi-lagi cowok itu menebak dengan tepat. "Percaya deh, lu masih bisa jadi orang yang friendly sekaligus punya boundaries buat 'menolak'."
"Emang bisa ya..." bagi Lilya yang terbiasa melihat segala sesuatunya secara hitam putih, tentu saja hal semacam itu terasa mustahil.
"Bisa dong. Jangan ampe kek tadi, orang kan nanya baik-baik, tapi lo malah sok-sok an jutek."
Lilya terdiam. Perlahan perasaan bersalah memenuhinya. Hanya karena sebelumnya ia mengalami hal buruk, bukan berarti semua orang pantas diperlakukan tidak baik seperti itu.
"Udah gak usah dipikirin. Enjoy aja," cowok itu menyodorkan bungkus roti terakhirnya ke hadapan Lilya. "Oh ya, inget kalo sama gua lu gak bisa boong jadi dari pada malu-maluin diri sendiri, mending jujur aja dari awal."
Lilya menerima roti itu. "Kok bisa sih lo ngelakuin semua ini?"
"Ya kan gue cinta mati sama ekspresi manusia. Kalo bisa sih gua pengen jadi peneliti biar bisa pelajarin ekspresi manusia seumur hidup," Jawabnya dengan penuh percaya diri.
Tanpa sadar Lilya tergelak. Ini adalah kali pertamanya bertemu dengan seseorang sepertinya. Mereka tidak saling kenal, tapi dia berhasil membaca segalanya dengan tepat hanya dari ekspresi wajah.
Entah kenapa perasaan lega yang menenangkan mulai memenuhi hati Lilya. Sama seperti Mira, cowok itu bisa memahami dan melihat jati diri Lilya yang sesungguhnya. Mungkin tidak ada salahnya untuk hidup mengikuti kata hati dan memulai segalanya dari awal lagi.
Dengan perasaan lebih ringan, Lilya menjulurkan tangannya. "Gue Lilya, lo siapa?"
Cowok itu tersenyum, dan menjabat tangan Lilya. "Panggil aja Arvin."