
"Ayo anak-anak, bikin kelompok masing-masing 2 orang ya!" Pinta guru biologi yang sedang berdiri di depan lab.
Sementara itu murid-murid yang telah mengenakkan jas putih mulai hilir mudik mencari pasangan. Tak disangka, Lilya meninggalkan kelompok teman-temannya dan bergegas mendekati Mira.
"Sekelompok yuk!" Ajak Lilya sambil tersenyum cerah.
Mira melirik Lilya yang baru tiba di sampingnya dengan curiga. Tentu saja lebih dari siapa pun ia paling tidak mau sekelompok dengan gadis itu. Terlebih lagi teman-teman yang biasa mengelilinginya sekarang sedang menatap tak suka dari sudut lain ruangan.
"Lo mau balas dendam soal waktu itu? Mau ngerjain gue?" Tuduh Mira yang langsung dijawab dengan gelengan kepala Lilya.
"Berprasangka buruk itu ga baik, loh." Lilya kemudian mengangkat tangannya. "Bu! Aku sekelompok sama Mira ya!"
Seketika perhatian semua orang tertuju padanya. Termasuk teman-teman Lilya yang nampak terkejut setengah mati.
"Iya boleh," timpal guru itu mengizinkan.
Lilya menyengir sambil melirik Mira. Sementara Mira yang pada dasarnya tidak suka berurusan dengan guru dan meribetkan hal seperti ini pun akhirnya tak punya pilihan lain selain menerima Lilya sebagai teman sekelompoknya.
Untuk beberapa saat mereka mengerjakan tugasnya tanpa hambatan. Hingga Lilya membuka pembicaraan tentang hal yang beberapa hari ini mengganggunya.
"Kenapa lo sebut gue 'badut'?"
Dengan tangan yang masih sibuk mencampur larutan zat, Mira menjawab. "Jelas, karena lo try hard banget buat disukain semua orang. Sampe-sampe lo ngebohongin diri lo sendiri cuma biar bisa temenan sama mereka."
Lilya mendengarkan sambil terdiam. Ia tidak bisa menyangkalnya tapi...
"Gitu toh?" Gumam Lilya yang tiba-tiba naik ke atas meja praktek.
Kegaduhan itu sontak membuat perhatian semua orang tertuju padanya lagi.
"Sebelumnya gue mau minta maaf, tapi..." Lilya kemudian menunjuk temannya satu persatu. "Dina, gue gak suka kebiasaan lo ngomongin kejelekan orang dibelakang! Yesa, lo bau ketek! Rina, tukang nyontek!"
Tak berhenti sampai di sana Lilya terus membicarakan pendapat jujurnya terhadap anak-anak kelas. Sementara itu Mira melohok, terkejut bukan main, ia tak menyangka kalau murid sempurna seperti Lilya akan dengan nekat mengatakan hal-hal yang sudah pasti akan menghancurkan kehidupan sekolahnya.
Tapi tentu saja hal itu tidak berlangsung lama karena bu guru langsung menarik Lilya turun dan menyeretnya ke ruang BK.
Sejak kejadian itu orang-orang mulai menjauhi Lilya. Bahkan beberapa dari mereka meminta gadis itu untuk minta maaf. Meski begitu Lilya tidak peduli, pada akhirnya hanya mereka yang benar-benar bisa menerima apa adanya lah yang akan tetap berteman. Termasuk Mira.
"Nih tiket nonton kejuaraan silat buat besok," ujar Lilya sambil menyodorkan secarik kertas berwarna merah. "Doain yak semoga gue lolos ke final."
"Kenapa kasih ke gue?" Mira menerima tiket itu sambil mengernyit. "Lagian, sejak kapan lo silat?"
"Sejak SD. Oh ya, gue tuh dah coba kasih ke beberapa orang, tapi mereka pada nolak," ungkap Lilya sambil tertawa hambar, "lo dateng ya..."
Sebenarnya Mira tidak masalah, toh yang perlu ia lakukan hanya duduk dan menonton. Tapi yang membuatnya tidak enak adalah fakta kalau orang-orang mengabaikan Lilya sejak kejadian waktu itu. Hanya demi membuktikan pada dirinya kalau Lilya bukanlah badut seperti yang dikatan Mira, ia rela kehilangan segalanya.
Mira menghela nafas panjang. "Yaudah. Besok kan? Ntar gue dateng deh."
"Asikkk!! Akhirnya ada yang mau dateng!" Sorak Lilya, meski keesokan hanrinya Mira tidak benar-benar jadi datang...
Anehnya saat pertandingan usai dan Lilya dinyatakan lolos ke babak final. Ia mendapat pesan chat dari Mira yang berisi foto WC perempuan di sekolah.
Merasa ada yang tidak beres, Lilya pun langsung datang ke sekolah sambil terus mencoba menghubungi HP Mira yang tidak aktif, dan bener saja saat tiba di WC perempuan, Mira ada di sana. Tubuhnya terbaring tak sadarkan diri di lantai dengan genangan air bercampur darah. Saat Lilya mendekat, nampak banyak luka sayat dan lebam di sekujur tubuh mira.
"Ini hanya kecelakaan. Bukan pembullyan. Lagi pula tidak ada saksi juga bukti yang kuat," tegas guru BK sementara 3 orang mantan teman dekat Lilya dulu berusaha keras menahan tawa.
"Kenapa kalian gak ngaku? Mira udah ceritain semuanya kok. Kalian marah ke dia karena nyaka dia udah bikin gue berubah?" Tanya Lilya ke 3 orang itu saat mereka ke luar ruangan BK.
"Sejak kapan lo jadi nyolot kek gini?!" Tanya salah satu dari mereka sambil mendorong bahu Lilya.
"Lagian lo denger sendiri kan, itu cuman kecelakaan. Kalau pun ya... emang kita sih pelakunya," bisiknya sambil mendekat ke telinga Lilya.
"Salah lo sendiri ya, udah malu-maluin kita ke anak-anak kelas. Gini deh akibatnya, padahal selama ini kita dah baik juga sama lo..." dengan tatapan merendah gadis itu menyilang tangan di dada. "Si Mira, bocah itu bahkan sampe sujud minta ampun. Bikin ngakak aja."
"Sstttt!!! Hei udah, jangan kenceng-kenceng. Udah mending kita cabut aja," cegah yang lainnya sambil menggandeng teman-temannya dan berpaling tanpa tahu bahwa amarah Lilya sudah mendidih.
"Oi kalian mo kemana? Kok buru-buru?" Panggil Lilya dengan riang. Sayangnya, ketika mereka menoleh, tinju Lilya sudah siap dilayangkan ke wajah mereka.
Tak berhenti sampai di situ, dengan senyuman lebar terlukis di wajahnya, Lilya terus menghajar ketiganya tanpa ampun. Menendang, menonjok, memelintir, ia bahkan tidak begitu sadar dengan apa yang dilakukannya sampai guru-guru berdatangan untuk menghentikannya. Naas, ketiga orang itu sudah tidak sadarkan diri dengan banyak lebam dan darah mengucur dari tubuh dan wajahnya.
Kejadian itu benar-benar membuat satu sekolah geger, hingga beritanya benyebar cepat ke luar sekolah. Akibatnya Lilya pun diskos selama seminggu hingga keputusan antara mengeluarkannya atau tidak diputuskan oleh kepala sekolah, dan karena kejadian itu pula Lilya dikeluarkan dari paguron silatnya dan gagal ikut serta dalam babak penyisihan final.
Meski begitu, tak ada sedikit pun penyesalan di hati Lilya. Karena apa yang dilakukannya adalah apa yang dianggapnya benar. Meski begitu, orang lain tidak berpikiran serupa.
Kala itu adalah malam cerah penuh bintang. Mira mengirimkan sebuah pesan panjang yang kalau disingkat berisi permintaan maafnya atas apa yang sudah ia lakukan dulu hingga menghancurkan kehidupan Lilya dan membuatnya menanggung segala sesuatunya seorang diri. Akhir kata ia menulis,
"...gue janji gaakan nyusahin lo lagi..."
Lagi-lagi firasat buruk menggerakkan Lilya untuk segera ke rumah sakit tempat Mira di rawat. Namun, saat baru sampai gerbang, nampak kerumunan orang mengelilingi taman rumah sakit. Saat Lilya mendekat, ia melihat kolam ikan sudah berwarna merah, dengan sosok seperti Mira dibawa petugas dengan tandu.
Untuk seketika Lilya membeku, takut dengan prasangkanya sendiri. Tetapi pada akhirnya ia memberanikan diri, dan tanpa sengaja bertemu dengan ibu Mira saat ia masuk ke rumah sakit. Saat ditanya apa yang ternjadi, ibu Mira hanya menjawab dengan histeris,
"Di lompat... dia lompat...!!"
Baru diketahui setelahnya kalau Mira mencoba mengakhiri hidup. Untungnya ia terjatuh ke kolam ikan sehingga nyawanya masih bisa tertolong, meski pun kepalanya memgalami cedera hebat akibat benturan.
Dokter bilang Mira berada dalam keadaan koma, dan hanya ada hanya 10% kemungkinan gadis itu bangun tanpa mengalami cacat permanen dan hilang memori.
Lilya beberapa kali diintrogasi detektif bernama Samsul, yang menangani kasus itu karena pesan yang dikirim Mira sebelum dirinya melompat. Karena masih trauma, Lilya pun hanya bisa menjawab pertanyaan seadanya dengan perasaan hampa.
Setelah itu entah kenapa berita soal Lilya yang menghajar 3 temannya sampai kritis dan membuat seorang lagi bunuh diri menyebar ke seluruh kota.
Karena tidak tahan dengan cacian tetangga, dan berbagai sekolah yang menolak Lilya sebagai murid baru, akhirnya Lilya sekeluarga tidak punya pilihan lain selain pindah ke kota sebelah.
Kejadian itu selalu menghantuinya setiap malam, dan karena perasaan bersalah Lilya selalu datang lagi ke rumah sakit untuk menjenguk Mira yang masih tertidur. Untungnya keluarga Mira cukup pengertian. Mereka bahkan berterim kasih karena Lilya sudah mau membela Mira dan membelanya saat ia dibully di wc sekolah dulu.
Meski begitu Lilya masih tidak bisa memaafkan dirinya. Begitu pun dengan 'keadilan' yang ia junjung, ia merasa tak berdaya.
"Apa itu keadilan...?"
Lilya selalu menanyakan hal itu setiap kali mengunjungi Mira.
Namun... keheningan selalu sukses membungkamnya.