
Lilya melohok ketika tiba di depan rumah semi mansion yang katanya rumah Ersya itu. Gerbang hitam kokoh setinggi 2,5 meter menjulang, seakan sedang mengingatkannya akan perbedaan kelas sosial antara dirinya dan si pemilik rumah.
Sejujurnya, kalau bisa Lilya ingin sekali segera beranjak dan pulang ke rumahnya. Tapi berhubung ini demi kepentingan misi dan satu-satunya cara adalah dengan mendekati Ersya, ia jadi tidak punya pilihan lain selain datang ke acara masak-masak itu.
Masih berdiri di samping motornya yang terparkir sembarang, Lilya menatap layar HPnya beberapa kali sebelum memeriksa kawasan sekitar dan memastikan kalau dirinya tidak salah alamat. Setelah yakin, barulah ia menghampiri sebuah interkom yang terpasang di samping gerbang. Meski sedikit canggung, Lilya pun memencet tombolnya.
"Maaf dengan siapa ya?" Sebuah suara seorang wanita tua tiba-tiba terdengar dari interkom.
"Eee... dengan Lilya, teman sekolahnya Ersya," ujar Lilya tak tahu harus berkata apa lagi.
Tak lama setelah itu suara klik terdengar diikuti dengan gerbang yang perlahan bergeser secara otomatis.
Dari balik gerbang, nampak pemandangan taman luas nan terawat membentang di kedua sisi jalan menuju pintu utama rumah semi mansion di ujung sana. Dengan mata yang masih terpukau, Lilya hendak menaiki motornya lagi dan masuk ke dalam, ketika seorang pria muda dengan jas hitam rapih datang menghampirinya.
"Biar saya yang bawa motornya. Nona sudah menunggu di dalam," ujar pria itu dengan nada monoton.
"Nona? Maksudnya Ersya?" Dengan bingung Lilya melepas helm dan memberikan kunci motornya ke tangan pria itu.
“Betul,” balasnya sebelum menghidupkan motor retro itu dan mengendarai kedalam.
"Lah, begimana? Gue tinggal masuk aja nih?" Dengan perasaan tak nyaman Lilya berjalan melewati gerbang yang kembali tertutup otomatis.
Sepanjang perjalanan Lilya berusaha tetap fokus agar tak melewatkan kesempatan emas meraup informasi sebanyak-banyaknya dari tempat mencurigakan ini. Ada hal yang tidak cocok dalam pikiran Lilya, dan itu adalah fakta bahwa ia membaca dari berkas yang Huga berikan dulu, kalau Ersya adalah anak dari pasangan dengan tingkat ekonomi menengah. Sementara kediaman ini sama sekali tidak mencerminkan ‘ekonomi menengah’ itu.
Apa ada kesalahan informasi? Tapi rasanya tidak mungkin pihak kepolisian salah mendata.
Tanpa sadar Lilya sudah tiba di depan pintu utama rumah dengan ukiran kayu tradisional motif floral. Lilya hendak mengetuk ketika tiba-tiba pintu itu terbuka dan menampakkan Ersya dari baliknya.
"Lilya?" Ersya yang nampak santai dengan kemeja dan celana pendeknya pun menggenggam tangan Lilya erat. "Kamu kemana aja? Kata Arvin kamu gaada di rumah ya dari pagi?"
Lilya tersenyum simpul karena tebakannya soal Arvin yang akan menyusul ke rumahnya benar.
"Yaa... gue ada urusan lain lah di luar, tapi sekarang udah beres makanya ke sini." Dengan halus Lilya melepaskan genggaman tangan Ersya. "Yang lain di mana? Masih masak-masak?"
Ersya tertawa canggung. "M-mereka ada di dalam, acara masaknya udah selesai dari tadi, tapi makanannya masih ada banyak kok."
"Wah, kebetulan nih gue belom makan dari pagi," ucap Lilya sambil mengusap-usap perutnya.
“Kalo gitu ayok.”
Ersya pun mengajak Lilya masuk melewati ruang tamu megah dengan banyak ornamen guci tradisional terpajang di berbagai sudut.
"Keluarga lo pada kemana? Sepi amat," komentar Lilya mengamati sekitar sambil tetap berjalan mengikuti Ersya.
"Ummm… gak ada. Aku di sini sendirian. Tapi ada mbok sama mas Abi yang ngurusin rumah," jelas Ersya hingga akhirnya mereka sampai di ruang tengah tempat di mana Arvin dan Udo terlihat duduk santai di sofa sambil menonton TV.
Tak lupa di hadapan mereka juga berjejer banyak makanan yang tadi mereka masak sendiri.
"Weh! Apa-apaan nih bocah baru dateng sekarang? Tinggal makan doang dong?" Pekik Udo tatkala melihat Lilya.
"Apaan sih lo! Kek si paling masak aja," timpal Lilya kemudian duduk di bagian sofa yang masih kosong. “Btw tuh muka masih bonyok aja.”
Udo menyentuh memar di daerah mata dan pipinya dengan tersinggung. “Kalo aja lo ga jago silat, udah gue ajak duel!”
“Ha? Apaan tuh, payah banget,” timpal Lilya setengah tertawa.
Udo seperti hendak membalas Lilya, tapi langsung dihentikan Ersya.
"Udah dong Udo... bukan kepengen Lilya juga dia ada urusan tadi pagi.”
Mendengar itu, Arvin yang sedari tadi hanya diam memperhatikan pun jadi tertarik untuk nimbrung. "Sibuk ngapain lu?"
Lilya mengedikkan bahu. "Ketemu pak Huga diskusiin kasus."
"Kok lu ga bilang kalo mau ketemu dia?"
"Kok lo ga bilang kalo pak Ian itu bokap lo? Kok lo ga bilang kalo lo tuh mantan anggota English club dan temenan sama Ersya? Kali-kali ngaca dong vin!”Tanpa sadar Lilya meninggikan suaranya sehingga semua orang di ruangan itu jadi terdiam.
"Wow... ada drama apakah ini??" Celetuk Udo tanpa memahami situasi, dengan wajah jenaka ia menatap Lilya dan Arvin secara bergiliran.
Sementara itu Ersya ingin menenangkan situasi tetapi tak tahu harus bilang apa.
"Lu... masih marah soal itu?" Tanya Arvin pada akhirnya.
"Gak juga." Dengan acuh Lilya mengambil kue mangkuk dari nampan. "Weh! enak banget ini, siapa yang bikin?"
Perlahan Ersya dan Udo menunjuk Arvin. Melihat itu, Lilya pun sontak mengambil tisu dan melepeh kue di mulutnya. "Gak jadi!”
"Ahahaha!" Tawa Udo pun pecah. "Kalian, haha! Ada masalah apa sih?"
Setelah membersihkan mulut dan membuang tisunya ke tempat sampah, Lilya pun kembali ke sikap normalnya. "Gak apa-apa. Oh ya, minta nomor kalian dong, biar gampang kalo butuh."
Lilya menyodorkan HPnya ke Ersya kemudian ke Udo.
"Lia, lo mau cobain seblak buatan gue ga?" Tawar Udo ketika mengembalikan HP Lilya.
"Boleh tuh. Yang pedes ya."
"Ok tapi harus gue angetin dulu. Bentar yak." Udo membawa mangkuk besar berisi seblak di atas meja, lalu dengan langkah ringan ia beranjak menuju dapur seakan ini adalah rumahnya sendiri.
Kepergian Udo membuat suasananya kembali canggung. Meski begitu, Lilya tidak ada niatan sama sekali untuk berbaikan dengan Arvin atau meminta maaf atas apa yang sudah ia perbuat barusan. Dari pada itu, masih banyak hal yang menarik untuk dikulik.
"Ersya, emang ga apa-apa ya ngajak temen cowok kek gini ke rumah? Pacar lo kan rada-rada," ujar Lilya sambil menancapkan sedotan ke air mineral gelas yang tersedia di atas meja lalu meminumnya.
"Kalau hari minggu dia suka main futsal sama temen-temennya..." jawab Ersya sambil tersenyum.
Lilya mengangguk, ternyata orang seperti Renaldi juga butuh waktu bersenang-senang tanpa terus-terusan menempel dengan pacarnya. Selanjutnya adalah tantang rumah ini. Ia harus mencari cara agar bisa berkeliling melihat-lihat ruangan lain.
Tiba-tiba Lilya mendapat ide.
"Aduhh... Ersya, gue lagi dapet nih belom ganti. Boleh minta punya lo ga?" Sambil menekan perut bagian bawahnya, Lilya menunjukan ekspresi gawat.
"Ah iya boleh, aku ambil dulu ya di kamar." Dengan penuh perhatian Ersya bangkit dan hendak berlalu menuju tangga. Namun, tentu saja Lilya langsung sigap mengikutinya.
"Gue ikut dong. Males nunggu sama orang itu," keluh Lilya sambil menunjuk Arvin dengan dagunya.
“Eh? Umm… tapi…”
"Gua ga apa-apa kok," ujar Arvin seakan tahu kalau Ersya merasa tidak enak padanya.
"Y-yaudah ayok Lia..." Ersya pun melanjutkan langkahnya, sementara Lilya mengikuti sambil menatap sebal Arvin yang terlihat kembali santai menonton TV.
Di lantai 2 mereka disambut dengan ruang duduk lain yang tak kalah megah. Sambil terkagum-kagum Lilya mengikuti Ersya sampai ke seberang ruangan tempat pintu menuju kamar Ersya berada.
"Maaf ya, kamarnya berantakan. Soalnya aku ga suka kalau mbok yang beresin." Ersya masuk ke dalam rangan bernuansa hangat dengan wallpaper dan perabotan berwarna cerah. Meski Ersya bilang kamarnya berantakan, bagi Lilya segini tidak ada apa-apanya dibanding kamarnya di rumah.
Sementara Ersya membuka-buka laci lemari mencari pembalut, Lilya mengamati dekorasi dinding dekat pintu yang didominasi piagam penghargaan mendali, dan sertifikat lomba-lomba yang telah dimenangkan Ersya dahulu.
"Aduhh... di mana sih…? Bentar ya Lilya aku lupa nyimpen."
“Iya iya, santai aja,” ujar Lilya yang masih fokus mengamati jejeran sertifikat di dalam figura kaca di hadapannya.
Semakin ditilik, Lilya semakin tak mengerti.
Sertifikat dan penghargaan itu diperoleh Ersya dalam lomba menulis essay bahasa inggris tingkat nasional. Tapi kenapa tema yang ia usung sangat identik dengan minat dan pemikiran seseorang yang sangat Lilya kenal…
"Mikro ekspresi manusia dan kebenaran di baliknya…” Tanpa sadar Lilya menyebutkan judul essay yang tertulis di sertifikat itu.
“Ah! Ketemu!” Sorak Ersya yang kemudian menghampiri Lilya dan menyodorkan pembalut ke hadapannya.
Sementara itu Lilya menatap Ersya datar. “Hubungan lo sama Arvin sebenernya apa sih?”