At Least I’M Free

At Least I’M Free
XXXI



Tidak seperti beberapa hari sebelumnya, saat ini kantin sekolah nampak ramai. Bangku-bangku penuh dengan siswa siswi yang asik menikmati santap siangnya. Begitu pun kios-kios yang kembali buka dan menjajahkan dagangannya. Sepertinya ketakutan dan kecemasan akan insiden itu sudah mulai mereda, meski faktanya si pelaku masih berkeliaran bebas entah di mana.


"Dah pada bosen kali yak nyari imposter," komentar Lilya tatkala sampai di kantin.


Sementara itu di sampingnya, Udo sibuk menghitung uang di dalam amplop yang ia terima dari Danu. "Lumayan nih... hehe..."


"Pasti dipake buat judi lagi, kan?," sindir Lilya seraya ikut menengok isi amplop.


"Ya enggak lah! udah tobat gue..." Udo mengelus-elus dadanya sambil menampilkan ekspresi khidmat. "Eh makasih ya udah bantuin. Lo mau makan apa? Gue traktir deh."


"Siomay enak kek nya..." mata Lilya beredar mencari kios yang menjual siomay. "Do... abis makan gue mau ngomong sesuatu ya."


"Ya ya ya. Sekarang makan dulu." Tanpa berlama-lama Udo melengos menuju kios yang dikerumuni banyak siswa yang kelaparan.


Lilya hendak mengikuti Udo, tapi matanya sontak menangkap sesuatu yang sukar untuk dipercaya. Seakan diberi kejutan menyenangkan oleh semesta, di bangku paling ujung kantin ia menangkap Renaldi sedang asik menyantap makanannya sambil mengobrol dengan teman-teman dan pacarnya, Ersya.


Tanpa sadar Lilya menyeringai, ia tahu kalau keberuntungan sedang berpihak padanya. Lihat saja, Renaldi benar-benar memakai jaket shearling meski kantin ini dipenuhi oleh sumber panas dari ramainya orang-orang.


"Oi Lia! Napa diem? Ini mau apa aja?" Panggil Udo yang telah berhasil menembus kerumunan dan bersiap untuk memesan.


Seakan ada penghalang tak kasat mata di sekeliling tubuh Lilya, bising di sekitar gadis itu seakan lenyap bersamaan dengan matanya yang tetap terfokus ke cowok targetannya.


Ia akan pastikan kalau Huga akan memberi pujian atas usaha briliannya. Dengan percaya diri, Lilya santai melangkah melewati deretan meja dan kursi yang ramai diduduki murid-murid. Tatapan masih tertuju ke depan sana, sementara tangan gadis itu santai meraih gelas bekas yang masih ada sedikit isinya dari atas meja terdekat. Sambil memasang senyum ia pun melambaikan tangan.


"Ersya! Gak bareng Arvin?" Sapa Lilya yang langsung disambut tatapan orang-orang di meja itu.


"E-eh Lilya...?" Ersya nampak terkejut, namun berusaha tetap bersikap ramah.


Lilya semakin mendekat. Dari posisinya, Renaldi duduk di pinggir sebelah Ersya yang membuat situasi itu semakin sempurna baginya untuk melancarkan aksi.


Brak!


Dengan sengaja Lilya menyandung kakinya sendiri sehingga ia tersungkur ke arah Renaldi dan menumpahkan isi gelas yang dipegangnya.


"Aw! Aduh aduh, sorry...!" Dari pangkuan Renaldi, Lilya meraih pundak cowok itu sebagai tumpuan untuk bangkit.


Kini bukan hanya orang-orang di meja itu saja yang terkejut, bisa dibilang seluruh perhatian di kantin kini jadi tertuju ke gadis yang sedang berusaha keras menahan tawanya itu.


"Heh! Cewek gila!" Renaldi bangkit seperti bersiap menerjang Lilya. "Lu ada masalah apa sih sama gue?!"


Dengan sikap polos Lilya mengedikkan bahu. "Gak ada. Orang gue mau ke Ersya, kebetulan aja gue jatoh. Sorry..."


Beberapa temen yang menyimak di belakangnya terdengar berusaha keras menahan tawa. Sementara itu Udo yang sudah siap dengan dua piring siomay hanya bisa melohok sambil mematung di seberang. Ia tak tahu Lilya sedang hilang akal atau sudah bosan hidup, tapi yang jelas mengajak ribut Renaldi di tengah keramaian seperti ini sama saja seperti menggali kuburan sendiri.


"Maaf-maaf... Lu kira jaket gue bisa dibersihin pake maaf doang?! Renaldi langsung membuka jaketnya dan menunjukan bagian yang basah.


Lilya memperhatikan jaket itu dengan seksama seakan-akan sedang menelitinya.


"Ya enggak lah…” jawab Lilya santai, "yaudah, sini gue bersihin deh.”


Lilya hendak meraih jaket itu, tapi Renaldi langsung menjauhkan tangannya. Cowok itu terlihat sangat kesal. Kalau saja di sini tak banyak orang yang menonton, pasti ia sudah puas meluapkan amarahnya.


"Dah lah, ayo cabut!" Dengan langkah lebar Renaldi berlalu ke luar kantin.


Beberapa temannya yang masih tergelak pun mendadak jadi serius, tak memedulikan makanan yang masih tersisa banyak di meja, mereka pun langsung bangkit ikut pergi. Sementara itu Ersya menghampiri Lilya.


"Kamu... g-gak apa-apa?" Tanya gadis itu dengan ragu.


"Lo sendiri? Gak marah gitu udah gue kacauin acara makan-makannya?" Ujar Lilya santai seraya menaruh gelas yang sudah sepenuhnya kosong ke atas meja.


Ersya menggeleng lemah, dan di saat bersamaan Udo datang dengan dua piring siomay di masing-masing tangannya.


"Gak apa-apa. Eh, ini buat gue?" Tanya Lilya sambil mengambil salah satu piring di tangan Udo.


"Masih santuy aja lo ya. Noh, orang-orang jadi pada ngelihatin!" Udo menunjuk sekitar, dan benar saja apa yang di katakannya. Beberapa murid bahkan dengan terang-terangan mengacungkan HPnya untuk merekam Lilya.


"Yaudah si, kita makan di tempat lain aja yuk. Ersya kita duluan ya... bye bye!" Tanpa menunggu persetujuan Udo, ia menarik tangan cowok itu dan menjauh meninggalkan Ersya sendiri.


...* * *...


Di antara tumpukan kursi dan meja bekas, Udo nampak asik menyantap siaomaynya tanpa menghiraukan suara tawa Lilya yang tiada hentinya.


"Hahahaha! Siapa sangka bakal segampang ini?" Di halaman gudang yang sepi itu, Lilya berdiri sambil mengacungkan segumpul serat woll ke arah matahari. Tanpa disadari siapa pun, ia telah berhasil mencabut serat woll dari jaket Renaldi saat berusaha bangkit meraih pundak cowok itu.


"Apaan sih tuh?" Tanya Udo yang duduk memperhatikan dari belakang. "Segitu pentingnya kah? Nih siomay lo dah dingin."


Menghiraukan pertanyaan Udo, Lilya mengantongi serat itu dengan sangat hati-hati. Ia kemudian berbalik dan menghampiri, ikut duduk di samping Udo.


"Lo tahu ga ini tempat apa?" Tanya Lilya tiba-tiba sambil mulai menyantap siomaynya.


Sementara itu Udo mengamati sekitar. "Umm... gudang?"


Lilya tergelak. "Ini tempat pertama kali gue ngobrol sama Arvin. Dia yang nyamperin gue."


"Lah? Lo sengaja bawa gue kesini cuman buat bernolstagia?!" Udo menatap gadis itu tak percaya.


"Menurut lo...?" Goda Lilya sambil menampilkan senyuman yang mencurigakan.


Udo terdiam seperti sedang berfikir. "Tadi di kantin, lo bilang mau ngomong sesuatu kan? Itu ada hubungannya sama si Arvin?"


"Iya," jawab Lilya tanpa ragu.


"Ihh! gue kira hal penting, ternyata cuman mau curhat? Tapi sebenernya ya, dari awal ketemu lo juga gue udah curiga." Udo mengangguk-angguk seakan telah memahami sesuatu yang sangat penting. "Lo naksir Arvin ya? Makanya lo jealous lihat dia akrab sama Ersya."


"Eh?! Emang kelihatan banget?!" Lilya hampir tersedak.


Udo menatap jenaka. "Apaan sih lo jelek bet seleranya, hahaha!"


"Nah itu dia!" Tiba-tiba Lilya menunjuk Udo seakan mendapat ilham. "Kenapa lo bilang gitu? Emang si Arvin segitu jeleknya ya? Gue baru kenal dia kurang dari setahun, dan gara-gara kasus kemaren juga gue jadi sadar emang ada yang gak beres sama tuh anak."


"'Gak beres gimana?" Tanya Udo pura-pura tak mengerti.


"Dia asing. Gue gak tahu apa-apa soal dia. Rasanya kek selama ini tuh gue diboongin... gue takut kalo Arvin yang selama ini gue kenal tuh fake..." Lilya termenung. Sekilas ingatannya soal kehidupan di sekolah lamanya yang dulu penuh dengan teman-teman palsu dan kebohongan terpampang di benaknya.


Tuk!


Tepukkan ringan di pundak menyadarkan Lilya. Saat menoleh, ia melihat Udo tengah terkekeh. "Overthinking bet jadi orang... lagian ya, nyembunyiin kebenaran itu belum tentu bohong. Mungkin aja kan si Arvin punya alasannya sendiri?"


Lilya berusaha keras menerima kata-kata itu untuk menghibur diri. Meski begitu sesuatu di dadanya masih terasa sesak.


"Lo penasaran sama sifat asli si Arvin kan?" Dengan sikap seperti emak-emak kompleks yang siap bergosip Udo mendekat. "Ntar gue ceritain deh, tapi lo juga harus kasih tahu dulu Arvin versi lo kek gimana supaya gue bisa compare."


Lilya nampak menimbang-nimbang. Meski akhirnya ia mengangguk setuju.


"Ok, gue ceritain dari awal pindah aja ya.”


Udo mengangguk antusias.


“Jadi…”