
"AHAHAHAH!"
Lilya menatap datar Udo yang tak henti-hentinya tertawa. Selama mendengarkan cerita Lilya, cowok itu memang serius memperhatikan. Namu ketika ceritanya selesai, ia mulai tergelak tak karuan.
Di hadapan piring-piring yang telah kosong mereka berdua nampak kontras tingkahnya.
"Napa sih do?!" Cecar Lilya pada akhirnya.
Udo memukul-mukul meja tanpa ada niatan menghentikan tawanya. "Haha! Micro apa? Si Arvin hebat banget bisa begituan! Haha!"
"Micro ekspresi... Heh! Udah dong ketawanya! Kalo engga, gue tinggal nih!" Ancam Lilya sambil hendak beranjak.
"Iye, iye! Gak sabaran banget sih jadi orang." Udo menarik nafas dari hidung dan mengeluarkannya dari mulut. Ia melakukannya secara teratur dalam upayanya menenangkan diri.
Sementara itu Lilya kembali duduk, mau tak mau ia menunggu Udo menyelesaikan kegiatan konyolnya itu. Sambil menunggu, Lilya merogoh HPnya dan mengecek jam di layar. Seperti dugaannya, sudah 15 menit lewat sejak waktu istirahat berakhir.
"Anjir lah, waktu gue abis cuman buat pantengin lo napas!" Protes Lilya.
Udo menunjukan telapak tangannya seperti sedang memberi tanda stop. "Alasan gue ikut club itu cuman satu," ujarnya tiba-tiba, "gue pengen temenan sama murid-murid tajir di sekolah ini. Karena pepatah bilang, banyak teman banyak rezeki."
"Banyak anak banyak rezeki kali!” Lilya memijat kepalanya yang mulai berdenyut menghadapi tingkah absurd Udo. "Eh, emang anak-anak english club pada berduit ya? Stereotype lo aja kali, buktinya lo miskin."
"Dih!" Udo menjauhkan diri dengan wajah nyiyir yang dibuat sedramatis mungkin. "'Masih' miskin otw kaya. Catet itu. Anyway, balik ke topik 'gue yang pengen punya banyak kenalan', nah ada satu orang yang susaahhh banget diajak komunikasi. Lo bisa tebak lah siapa..."
"Siapa?" Tanya Lilya tak sabar.
"Si Arvin!" Pekik Udo dengan nada tercengang. "Makanya gue ngakak pas denger cerita lo tadi. Disapa aja dia gak mau jawab, lah ini ngejelasin micro ekspresi panjang lebar gitu? Mustahil bet."
"Dia kek gitu ke elo aja kali," Sanggah Lilya yang langsung dibalas gelengan kepala Udo.
"Dia kek gitu juga ke semua orang. Setidaknya itu yang gue dapet selama kumpulan club," tutur Udo yang entah kenapa berubah tegas penuh keyakinan, "lo ga perlu khawatir, orang nolep kek dia mustahil ada yang suka. Kalo pun ada tuh pasti orang yang seleranya jelek, kek elo."
Lilya berdecak. "Tapi kok sama Ersya bisa deket?"
"Si Arvinnya kali yang naksir," jawab Udo santai, "kan Ersya punya Renaldi yang levelnya jauuhhh di atas si Arvin. Dari segi mana pun, mustahil dia menang.”
"Oh gitu? Terus itu essay yang menang lomba, dibikinin Arvin kan?"
Udo menyipitkan mata. "Lo ngomong apa sih? Itu hasil kerja Ersya sendiri, kalo pun diskusi dia paling minta tolong ke pak Ian."
"Kalo emang gitu, terus kenapa kemaren pas gue suruh jelasin topik tulisannya sendiri tuh anak malah gagu?" Timpal Lilya masih bersikeras.
"Ih! kan udah gue bilang Ersya emang gitu orangnya," ucap Udo gemas, "lagian ya, dia nulis essay itu waktu kelas 10, nah lo kenal Arvin yang sok-sok an ngomong micro ekspresi pas kapan? Awal semester kelas 11 kan? Lo gak kepikiran gitu bisa aja si Arvin yang ikut-ikutan suka micro ekspresi gegara baca essaynya Ersya? Nih gue perjelas lagi, dia itu cuman penyendiri yang seneng ngelihatin muka orang, emang freak aja udah."
Lilya terdiam, seakan mulai ragu dengan penilaiannya sendiri.
"Mungkin selama ini lo udah ditipu sama dia biar bisa nebeng pulang pergi ke sekolah... kan lumayan tuh ngirit dari pada naik ojol," tambah Udo dengan wajah ngeri.
Lilya melipat tangan di dada dan menatap Udo dingin. "Bisa-bisanya lo ngejelekin temen kek gitu..."
Lilya menatap sebal, tapi ia akui kalau perkataan Udo masuk akal.
Dari sini Lilya jadi punya gambaran lain soal Arvin, yang sayangnya... malah mempertebal kabut misteri yang melingkupi cowok itu.
Terlepas dari alasan Lilya yang menaruh rasa pada Arvin, ia juga sedang menggali informasi soal keterkaitan cowok itu dengan kasus ini. Tentu saja Lilya tidak ingin menaruh curiga pada sahabatnya sendiri, tapi setelah melihat tinggahnya yang aneh dan mencurigakan, mau tak mau ia jadi merasa perlu menyelidikinya.
"Lo tahu gak kalo si Arvin tuh anak kandungnya pak Ian?" Tanya Lilya tiba-tiba, dan saat itu juga tangan Udo menangkap kedua bahu Lilya.
Dengan mata terbelalak Udo seperti kehilangan kata-kata. "Demi apa?!"
"Demi reaksi lo yang lebay!" Lilya segera menepis tangan Udo.
"Engga, masalahnya mereka berdua gak pernah ngobrol! Interaksi mereka juga kek murid sama guru aja!" Udo menjelaskan.
Lilya menghela nafas, itu artinya apa yang dikatakan Arvin waktu di UKS memang benar, hubungannya dengan korban tidaklah dekat. Tapi apakah itu alasan yang cukup untuk membuat seseorang bersikap acuh terhadap kematian ayahnya sendiri?
"Emang lo gak ngelihat ada hal yang mencurigakan di antara mereka berdua?"
Udo terlihat merenung seperti sedang mengingat-ingat. "Gaada sih, hmm... oh! Tapi gue inget pak Ian pernah minta si Arvin jangan dulu pulang pas abis kumpulan. Tapi itu pun cuman buat ngebahas sikap ansosnya dia."
"Emang beneran bahas itu?" Lilya mengernyit.
"Ya mana gue tahu. Gue langsung pulang waktu itu." Jawab Udo yang entah kenapa terlihat begitu tersinggung.
Lilya menautkan kedua tangan ke kening, sambil menunduk ia memejamkan mata dan berfikir. Kenapa hubungan orang-orang di sekitar Arvin terasa begitu bias? Dan bagaimana bisa Ia baru menyadarinya sekarang?
Dengan banyaknya pertanyaan yang menghujam, Lilya menyadari sesuatu.
Hubungan Arvin dengan korban jelas tidak baik. Sebaliknya, menurut keterangan semua orang termasuk Ersya sendiri, hubungan gadis itu dengan korban sangatlah akrab. Lalu kenapa Huga lebih mencurigai Ersya ketimbang Arvin? Apa karena pertimbangan alibinya?
"Emang sih... pagi itu kan dia berangkat bareng gue jadi gak mungkin..." gumam Lilya setengah berbisik sambil mengangguk-angguk.
"Heh, lo kenapa malah dugem?!" Udo menjentik-jentikkan tangannya ke hadapan Lilya.
"Udo... thanks ya." Lilya mendongkak, tersenyum lalu bangkit dan beranjak. "Jangan kasih tahu siapa-siapa ya gue ngomong beginian sama lo. Pokokya pembicaraan ini rahasia."
Kebingungan, Udo pun ikut bangkit. "Lo mau ke mana? Ini piring balikin lagi ke kantin!"
"Sama lo aja, gue ada urusan," timpal Lilya tanpa menoleh, sambil melambaikan tangan dan terus berjalan.
"Sok sibuk banget sih lo! Emang ada urusan apa sih?"
Lilya menghentikan langkah, merogoh saku lalu mengeluarkan gumpalan serat woll yang telah di dapatkannya dari jaket Renaldi. Ia menoleh menatap Udo jenaka.
"Rahasia."