
Lilya melangkah ke luar ketika pintu lift terbuka. Dengan langkah lebar ia berjalan menyusuri lorong yang didominasi warna putih dengan bau karbol menyengat.
Dengan perasaan kesal, kata-kata suster tadi menggaung dalam benaknya, terus berulang layaknya piringan hitam yang rusak. Sudah lama sejak terakhir kali seseorang memanggilnya sebagai "pembully". Setahun terakhir ini Lilya berusaha keras menjalani kehidupan barunya menghindari bayang-bayang kelam masa lalu yang telah menghancurkannya.
Meski harus dikaui, kalau apa yang dikatakan suster tadi tidaklah salah.
Tanpa sadar Lilya telah tiba di depan pintu yang ditujunya. Tak lupa, ia mencuci tangan di wastafel terdekat sebelum menggeser pintu cream yang bertuliskan nama temannya itu hingga terbuka.
Hawa yang lebih hangat menyambut. Dengan hati-hati Lilya melangkah masuk lalu menutup kembali pintu di belakangnya. Tak seperti kamar pasien pada umunya, ruangan itu memiliki pencahayaan temaram dan suara alat medis yang konstan terdengar. Meski begitu Lilya sudah terbiasa, nyatanya ia cukup sering datang ke sini selama setahun terakhir.
Perlahan Lilya mendekat ke arah tirai yang menutupi ranjang pasien di dekat jendela. Sebuah siluet nampak di balik tirai itu dengan sebentuk tubuh yang tengah berbaring di atas ranjang. Saat sampai, Lilya pun menyibakkan tirai itu perlahan.
"Yo, Mira!" Sapanya ceria. Ia kemudian duduk di kursi dekat ranjang. "Gimana nih kabarnya?"
Hening.
Tubuh kurus yang terbaring lemah itu bergeming bagai terlelap begitu dalam.
Lilya yang sudah terbiasa pun hanya bisa mengamati berbagai kabel dan alat bantu penunjang hidup yang menempel di segala sisi tubuh itu. begitu pun monitor yang memantau fungsi jantung dan tanda fital lainnya.
"Dah lama ya, tapi sejak trakhir gue ke sini kek nya lo gada perbahan. Hehe..." kekeh Lilya hingga beberapa saat kemudian matanya menyipit menatap pilu temannya itu.
"Tau ga sihh, seminggu ini parah banget banyak kejadian aneh-aneh." Menyenderkan tubuh ke punggung kursi, Lilya melipat tangan di dada lalu mengalihkan pandangan ke langit-langit. "Pertama ada kebakaran, korban guru meninggal, orang-orang nyangkanya karena korsleting listrik padahal itu kerjaan orang sengaja. Gue baru tahu kalo guru itu bapaknya sahabat deket gue, terus ada detektif nyentrik ngajak kerja sama nyelidikin satu cewek english club yang dia curigain, dan ternyata cewek itu temenan sama sahabat gue juga, terus ada Udo..."
Lilya tiba-tiba menunduk dan tersenyum.
"Kenapa sih gue..." gumamnya.
Ia kembali melirik sosok gadis yang terbaring lemah di atas kasur. "Maaf ya, tiap dateng gue kerjanya cuma ngeluh."
Lilya menggenggam sebelah tangan temannya itu. "Bangun dong..."
Sambil menahan sesak di dada, Lilya teringat kembali dengan memori yang selama ini selalu berusaha ia kubur. Kejadian itu bermula setahun yang lalu... sebelum Lilya pindah kota dan sekolah ke SMK Tunas Nusa.
...* * *...
Sejak SD dan SMP Lilya memang terkenal mudah bergaul dengan siapa pun. Sifatnya yang friendly dan easy going membuatnya cukup populer di kalangan murid bahkan guru sekali pun.
Kerena reputasinya itu, kehidupan sekolah Lilya selalu berjalan mulus dan menyenangkan. Hingga ia bertemu Mira, gadis penyendiri yang merubah Lilya jadi dirinya yang sekarang.
Saat itu sedang pelajaran bola besar yaitu sepak bola. Lilya duduk di pinggiran lapang, mengobrol dengan teman-temannya sambil menunggu giliran bermain.
"Eh gue haus nihh... ga boleh apa beli aer ke kantin?" Keluh salah satu temannya dengan lesu.
"Engga lah, harus nunggu giliran maen dulu," jawab yang lain.
Mendengar itu Lilya pun berinisiatif. "Eh, gue bawa sih dari rumah. Ada di kelas, gua bawa dulu yak."
"Eh serius? Lo bawa bekel munum dari rumah? Wah Lilya emang penyelamatt!" Sorak temannya yang kehausan itu.
Lilya pun tersenyum cerah dan bangkit langsung berlari menuju kelas. Selama perjalanan ia merasa senang karena bisa membantu seseorang, sekali pun itu merepotkannya.
Saat sampai di kelas, perhatian Lilya teralihkan oleh Mira yang sibuk membaca novel di bangkunya di sudut kelas. Di antara bangku-bangku kosong, gadis itu nampak acuh dan tidak terganggu sedikit pun dengan kedatangan Lilya.
Lilya tidak sadar kalau gadis itu tidak ada di lapang. Sebenarnya rumor tentang Mira yang hobi membolos sudah sering terdengar, tetapi Lilya tidak menyangka kalau gadis itu juga akan bolos di pelajaran olah raga yang menurutnya sangat menyenangkan.
"Kenapa ga ikut olahraga? Pak Irwan lagi adain penilaian, loh." Bukannya mengambil botol air minum dari tasnya, Lilya malah menghampiri Mira.
Mendengar panggilan 'badut kelas' membuat Lilya terkejut. Baru kali ini seseorang menyebutnya begitu. Meski sesuatu di dada Lilya jadi terasa tidak nyaman, ia berusaha bersikap senormal mungkin di hadapan Mira. "Gak apa-apa kok. Gue cuman ngasih tau aja."
Mira membalik halaman bukunya tanpa niatan merespon. Melihat itu Lilya pun berlalu ke mejanya dan mengambil botol minum dari tas.
"Kalo gitu gue duluan yak," ujar Lilya yang lagi-lagi tidak direspon Mira.
Sambil tetap tersenyum Lilya pun berlalu kembali ke lapang. Sepanjang perjalanan ia tak henti-hentinya mengingat apakah ia pernah berbuat kesalahan hingga Mira memperlakukannya seperti tadi?
Meski begitu Lilya tidak menemukan kesalahan apa pun. Ia selalu bersikap baik kepadanya, tapi kenapa...?
Keesokan harinya, saat bel istirahat berbunyi, Mira buru-buru menghampiri Lilya di mejanya sebelum gadis itu pergi ke kantin dengan teman-temannya.
"Ngapain lo bilang ke pak Irfan kalo gue lagi gak enak badan?" Sungut Mira tak terima.
"Eh?" Lilya nampak kebingungan. Kemarin ia memang bilang begitu ke pak Irfan dengan niatan agar Mira diberi kesempatan untuk ikut penilaian susulan. Niat dia baik, tapi kenapa respon Mira malah seperti ini?
"Apa-apa nih?" Beberapa teman Lilya berdatangan dengan sama bingungnya.
"Ngapain nih bocah nolep marah-marah ga jelas?" Sungut temannya yang lain sambil menatap Mira penuh ancaman.
Menyadari situasinya merunyam, Lilya pun berusaha menenangkan temannya. "N-ngak apa-apa kok, ini cuman salah paham doang."
Meski begitu, nampaknya Mira tidak peduli dan membantah. "Apanya yang gak apa-apa?! Gue emang suka bolos ya, tapi gue ga palsu kek lo! Apa lagi ampe boong ke guru, demi apa coba? Biar gue berterima kasih sama lo, badut?"
Sontak teman-teman Lilya ikut berteriak dan membela Lilya yang hanya bisa diam sambil menatap Mira melengos pergi ke luar kelas.
Lagi-lagi dadanya terasa berat. Mungkin Lilya marah, tapi bukan ke Mira atau perkataannya yang tajam, melainkan pada realisasi yang baru saja disadarinya.
...* * * ...
Malam yang sunyi adalah waktu favorite Mr. Lindberg untuk bersantai sambil menikmati teh di teras rumah. Pria berkebangsaan swedia itu nampak damai saat menyeruput tehnya sambil menatap langit malam.
Sementara itu putri sulungnya, Lilya, nampak kusut menunduk seperti sedang banyak pikiran.
"Kenapa ya pah, aku punya banyak temen tapi gak ngerasa punya temen?" Tanya gadis itu. "Aku baru sadar akhir-akhir ini sih. Mereka mau main sama aku karena aku asik, baik, sama bermanfaat doang. Tapi kalo semisal aku gak kek gitu, apa mereka masih mau temenan sama aku? Keknya engga sih."
"Kenapa gak coba cari tahu sendiri aja? Manusia kan emang gak bisa selamanya baik, asik, sama bermanfaat. Bakal cape lama-lama," timpal Mr. Lindberg dengan santai.
Sementara itu Lilya menghela nafas panjang. "Masalahnya aku takut... kalo mereka bener-bener pergi gimana? Aku gak mau sendirian."
"Emangnya kenapa kalo sendirian?"
"Ya-" tiba-tiba Lilya terbayang sosok Mira yang tengah membaca buku sendirian di sudut kelas dan perkataannya kala marah saat jam istirahat.
"...setidaknya gue bukan pembohong."
Kalau diperhatikan lagi, sosoknya yang penyendiri itu nampak begitu nyaman dengan dirinya sendiri. Ia tidak peduli apa kata orang dan hidup mengikuti aturan yang dibuatnya sendiri. Sementara Lilya...
"Haha! Papah bener! Emangnya kenapa kalau sendirian? Lagian aku udah cape dibabuin mereka semua.”
Percakapan itu membuat tekad Lilya jadi bulat. Kalau pun ia menginginkan teman, ia ingin seorang teman yang bisa menerimanya apa adanya, bukan hal-hal yang bagusnya saja.
"Jadi apa rencanamu selanjutnya?" Tanya Mr. Lindberg.
"Tentu saja aku akan..."