At Least I’M Free

At Least I’M Free
XXXIV



Di lorong rumah sakit yang cukup ramai, Huga berjalan cepat sambil menenteng tote bag kertas di sebelah tangan sementara tangannya yang lain tersemat di saku celana. Niat hati ingin segera pergi setelah cairan infusnya habis, pria yang masih mengenakan pakaian serupa ketika pingsan di mobil kemarin itu malah kebablasan tidur hingga baru terbangun 10 menit yang lalu.


Dengan langkah lebar, di ujung koridor Huga berbelok ketika tiba-tiba saja sebuah tangan menariknya ke pinggir koridor.


"Mau ke mana?"


Suara monoton itu berbisik. Berdiri menyender ke tembok, Lita menatap Huga dingin.


Huga terhenyak, ia hampir lupa dengan sifat keras kepala wanita yang masih mencengram pergelangan tangan kirinya itu. Dari masa sekolah dulu saja Lita memang suka menolong orang sampai ke titik di mana orang yang ditolongnya itu kelelahan sendiri akibat kegigihan berlebih yang ia berikan.


"Wah, bu dokter, sudah berapa lama kau menunggu saya di sini?" Huga tersenyum santai.


Mengabaikan pertanyaan itu, Lita mengangkat tangan Huga yang tersemat di saku dan menatap punggung tangan yang ditempeli plester dengan bercak darah merembes dari dalam. "Udah dibilangin jangan cabut infusannya sendiri... kenapa sih?"


Dengan halus Huga melepaskan genggaman wanita itu dan tersenyum. "Udah dibilangin saya ada kerjaan, kenapa malah dikasih obat penenang? Kau bisa saya tuntut loh karena sudah memberi obat tanpa persetujuan pasien."


Lita terdiam, menatap Huga datar. Memang ia telah mencampur obat itu ke dalam cairan infus tanpa sepengetahuan Huga, meski begitu tetap saja, "kau bisa collapse lagi. Kalau di rumah sakit, penanganannya bakal lebih efektif."


"Kau masih mau membantu saya, Lita?"


"Iya lah pas-"


"Kalau begitu masalah selesai." Huga tersenyum penuh arti. "Mau collapse berapa kali pun tidak masalah, toh kau akan selalu ada untuk saya, kan?"


Lita membenarkan posisi kacamatanya sambil melirik Huga yang rambutnya masih setengah basah bekas ia mencuci muka. "Harusnya semalam aku kunci aja kamar kau itu."


Huga tergelak dan hendak menimpali ketika sudut matanya menangkap siluet seseorang yang sangat ia kenali tengah berjalan mendekat.


"Ahh iya..." gumam Huga sembari memperhatikan orang itu.


Meski sudah berumur, tubuh mungil dan wajah lembut orang itu memberikan kesan segar yang alami. Dengan pakaian perawat lengkap, wanita setengah baya itu berjalan membawa kantung infus baru di kedua tangannya.


"Bu Sarah??" Sapa Huga ketika mereka berpapasan.


"E-eh? Pak Huga...?" Keterkejutan nampak jelas tergambar di wajah wanita itu. "Ah, dokter Lita juga.... Ada apa ya?"


"Selamat siang suster Sarah." Lita memberi salam lalu menatap Huga heran. "Kau kenal suster sarah? Dia suster senior di sini loh."


"Saya tahu," jawab Huga sambil menatap Sarah dan tersenyum. Bisa dibilang wanita itu termasuk orang-orang awal yang Huga datangi di hari pertama penyelidikan untuk mengorek informasi soal korban.


"Sejak kapan?" Lita menatap mereka bergiliran.


Meski merasa tidak nyaman, Sarah tetap memasang senyuman sopan. Ia tak tahu harus menjawab apa, jadi hanya memandangi Huga seperti meminta tolong.


"Ya begitu lah..." Huga menjawab tanpa ingin menjelaskan. Tentu saja Lita dan kebanyakan orang tidak tahu soal hubungan Sarah dengan korban. Toh mereka sudah 8 tahun bercerai, untuk apa juga Sarah membicarakannya ke rekan kerja?


"Apa anda punya waktu? Ada hal penting yang mau saya bicarakan," ujar Huga dengan sopan.


Sarah menatap jam tangan silver yang melingkar di pergelangannya."Ah itu... Jam istirahat saya masih sekitar setengah 20 menit lagi...."


"Ok nanti kabari saja ya kalau sudah luang." Huga mengacungkan HPnya memberi tanda.


Dengan berat hati Sarah mengangguk. "Kalau begitu, pak Huga, dokter Lita... saya permisi mau lanjut bertugas." Sambil menunjukan kantong infus di tangannya, Sarah pun berlalu.


"Kau ini sebenarnya mau ngapain sih?" Tanya Lita setengah menuntut jawaban.


"Sudahlah, dokter macam apa yang kepo soal masalah pribadi pasiennya, hm?" Ujar Huga dengan senyumnya.


...* * *...


Di negara ini, proses perkara pidana diperlakukan berbeda sesuai deliknya masing-masing. Misalnya saja delik aduan seperti pencemaran nama baik, seseorang berhak mengajukan atau menariknya kembali dalam kurun 3 bulan dari waktu pengajuan aduan. Sementara itu delik biasa seperti pembunuhan tidak bisa diganggu gugat dan akan terus diproses meski pun pihak korban menolak.


"Bu Sarah, saya dengar akhir-akhir ini lebih giat bekerja ya? Bahkan sampai mengambil banyak sift untuk membantu sesama rekan secara sukarela... Apa seorang senior seperti anda diberi kebebasan untuk melakukan hal yang bukan jobe desk-nya? Pasti melelahkan ya? Apa lagi harus mengurus rumah dan anak."


Wanita yang terduduk canggung di hadapan Huga itu tersenyum lemah. "Saya hanya senang melakukannya. Tidak ada salahnya kan?"


"Betul, tidak ada salahnya menyibukkan diri untuk lari dari pikiran yang mengganggu." Huga mengangguk-angguk seolah sudah sangat paham.


"Pikiran mengganggu...? Tidak, tidak, anda salah paham." Senyum yang menghiasi wajah Sarah perlahan hilang seiringan dengan pandangannya yang menurun. "Saya hanya..."


Kalimat itu tergantung begitu saja. Huga mengamatinya lekat, ia ingat saat pertama kali bertemu dengan Sarah untuk memberi tahukan kematian mantan suaminya sekaligus menanyai soal informasi pribadi korban. Wanita itu nampak hancur dan menangis secara histeris. Untuk ukuran orang yang telah lama berpisah dengan korban, tentu saja itu adalah reaksi yang tidak lumrah. Setidaknya itu lah yang Huga pikirkan.


Sambil melirik keadaan sekitaran kantin rumah sakit yang lumayan ramai ini, Huga merogoh berkas sampul merah dari dalam tote bag. Setelah membuka halaman yang dicari, ia pun menaruh berkas itu di meja, menunjukannya ke hadapan Sarah. "Anda kenal anak ini?"


Sarah menatap kertas yang menunjukan foto seorang gadis dengan profil lengkap di bawahnya. Reaksi pertama yang wanita itu tunjukan adalah kaget, dengan mata membelalak ia menutup mulut dengan kedua tangannya rapat-rapat. "B-bagaimana bisa...?"


"Aahh... jadi selama ini anda memang mengenalnya ya..." Dari reaksi itu saja Huga sudah bisa mengambil kesimpulan. "Saya sangat berterima kasih karena waktu pertama kali bertemu, anda menolak memberitahukan alasan bercerai dengan korban. Kalau saja waktu itu anda menjawab, meski pun berbohong, mungkin saya tidak akan pernah sampai di titik ini."


Sarah menggeleng sementara nafasnya mulai menderu. "Seharusnya yang anda cari itu si pelaku, bukan malah mengorek-ngorek kesalahan Ian!"


Huga tersenyum santai. "Apa perlu saya ingatkan kalau yang korban lakukan itu bukanlah kesalahan melainkan kejahatan?"


"Anda ini bicara apa...?" Sarah memejamkan mata lalu memijat pelipisnya yang mendadak pening. "...ini semua omong kosong, lebih baik saya kembali bekerja."


"Itulah yang saya maksud dengan lari dari pikiran yang mengganggu." Huga menatap Sarah prihatin. "Selama ini anda cemas kan? Takut kalau wajah asli korban terbongkar? Anda enggan memberi tahukan alasan kalian bercerai, karena toh hal itu ada hubungannya dengan gadis malang di foto."


Sarah terdiam, ia menatapi tangannya yang terkepal di atas meja. "Ian meninggal dengan cara mengerikan, tuhan sudah cukup menghukumnya... biarkan dia beristirahat dengan tenang."


"Tidak," jawab Huga setengah tertawa, "pernah dengar pribahasa gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meningalkan belang? Sebagai satu-satunya peninggalan bagi manusia, saya akan pastikan nama Ian akan dikenang sebagaimana mestinya. Pedophilia, predator anak, penjahat kelami-"


Brak!


"Cukup!"


Sarah yang telah kehilangan ketenangannya itu menggebrak meja sambil menatap Huga sengit. "Anda ini kan petugas hukum, kenapa kelakuan anda tidak mencerminkannya?!"


"Bu Sarah... kita masih berada di area rumah sakit dan anda masih memakai baju dinas loh."


Seakan baru tersadar, Sarah melirik sekeliling dan mandapati orang-orang tengah memandanginya sinis. Dengan mawas diri ia pun kembali duduk.


"Tolong sudahi saja, semua itu kan sudah lama berlalu..." pinta Sarah dengan suara bergetar.


"Sudah berlalu bagi anda, tapi tidak dengan gadis ini." Huga menatap wajah di foto berkas. "Saya akan mempublikasikan segalanya setelah kasus ini terselesaikan."


Dengan cepat Sarah mencengram pergelangan tangan Huga. Wanita itu menatap lurus seakan tengah mempertaruhkan nyawanya sendiri. "Jangan."


Huga tersenyum. "Saya tahu anda sangat mencintai korban, tapi tidakkah anda lelah menyimpan rahasianya selama bertahun-tahun? Bukankah ini adalah saat yang tepat untuk mengakhiri segalanya?"


"Sebenarnya apa tujuan anda mengatakan semua ini?" Sarah malah balik bertanya, "kalau memang sudah mantap, kenapa tidak langsung ungkapkan saja semua informasi itu ke publik? Kenapa anda mendatangi saya hanya untuk memperdebatkannya?"


Huga menutup berkas di hadapannya dengan sebelah tangan. "Tadinya saya mau meminta anda menjadi saksi untuk memperkuat bukti kejahatan Korban dulu. Tentunya kalau kasus pembunuhan ini sudah selesai. Tapi setelah memgobrol tadi, saya jadi paham anda tidak mungkin mau berkerja sama. Benar kan?"


"Kenapa tidak fokus menangkap pelaku pembunuhannya saja dulu?" Decak Sarah kemudian melepas cengramannya.


"Selama 15 tahun bekerja di bidang ini, saya sudah melihat berbagai jenis kejahatan beserta motivasinya. Tapi, baru kali ini ada kasus yang menuntun saya ke kasus lainnya. Dibuka dengan kebakaran sekolah, pembunuhan seorang guru, pelecehan anak di bawah umur, skandal keluarga konglomerat, suap." Huga menyeringai. "Apa anda tahu persamaan dari semua kasus itu?"


Sarah menggeleng.


"Selain kebenarannya belum terungkap ke publik, semua kejahatan itu berputar dan saling berkaitan dengan mantan suami anda, Ian Kurniawan."


Dengan tenang Huga melanjutkan, “tidakkah anda berpikir kalau pelaku sebenarnya itu adalah dia yang di awal cerita berperan sebagai korban?”