At Least I’M Free

At Least I’M Free
XXXX



Siapa sangka di tengah kota seperti ini masih ada bedeng atau bangunan semi permanen yang dipakai preman untuk berkumpul.


Setelah melewati jalan sempit diantara bangunan ruko yang berkelok-kelok, Lilya tiba di sebuah kawasan tersembunyi dengan satu bendeng serupa rumah beralaskan tanah, atap seng, dan dinding tripleks yang ringkih. Meski sempit dan kumuh, kerahasiaannya cukup terjamin karena selain minim akses juga dihimpit oleh bangunan-bangunan besar ruko dan pertokoan di sekitarannya.


Sambil bersembunyi di balik tembok gang, Lilya mengamati Udo dan pria yang membawanya masuk ke dalam bangunan itu dan menyapa dua orang lainnya yang sedang bermain catur di atas lesehan kayu.


"Oii! Ada si Udo nih!" Ujar pria itu.


Untung pintunya dibiarkan terbuka sehingga Lilya bisa melihat jelas apa yang terjadi di dalam sana.


Meski sikap mereka tenang, tetapi penampilan garang orang-orang itu membuat suasana di dalam sana terasa tegang.


Dalam hati Lilya ingin sekali menarik tangan Udo dan membawanya pergi dari sana. Namun, ia harus bersabar sedikit lagi hingga semuanya jadi jelas.


"Segitu takutnya lu sama si Kusdi ampe harus dateng pas dia kagak ada?" Ledek salah satu pria berjaket kulit yang sedang main catur.


"Yaa suruh siapa ngelawan ampe patahin kaki si Anton waktu ditagih kemaren," ujar yang satunya sambil memindahkan bidak catur di papan.


Udo mengusap mata dengan jari telunjuk dan jempolnya, ia nampak frustasi. "I-itu bukan saya bang... yakali saya bisa patahin kaki orang..."


Mendengar itu Lilya jadi teringat momen ketika pertama kali bertemu dengan Udo, ia memang sempat menghajar preman-preman yang memukuli cowok itu. Bahkan sampai mematahkan kaki salah satu dari mereka.


'Jadi mereka satu geng?' Batin Lilya seakan tercerahkan.


Brak!


"Lu tetep salah karena gak bayar utang! Si Kusdi sama Anton cuman kerja, salah mereka apa ampe dihajar segitu parah?!" Sergah si preman jaket kulit menggebrak lesehan hingga bidak-bidak catur di hadapannya berhamburan.


Bulu kuduk Udo seketika berdiri. Lidahnya kelu meski ia ingin sekali membantah.


"Yaudahlah, kan dah pada tahu kalo yang nyerang itu bukan si Udo, tapi ceweknya." Preman yang membawa Udo berusaha menghentikan pertikaian. "Masalah itu ntar aja bahasnya, sekarang si Udo mo kasih duit nih."


Preman-preman itu menatap Udo jenaka. "Weh! Mo bayar lu?! Dah repot-repot dateng sini pasti dilunasin dong?"


"G-gak bang, ini kebetulan aja kemaren baru dapet uang sedikit." Udo mengeluarkan amplop yang berisi uang dari pak Danu tempo hari lalu. "Bang Fajar bilang hari ini bang Kusdi ikut kerja, jadi saya disuruh dateng langsung ke sini."


Tanpa sadar Lilya menghela nafas lega mengetahui kekhawatiran awalnya ternyata terbantahkan.


"Lu kan masih muda. Kerja keras dikit napa." Fajar merebut amplop di tangan Udo dan mulai menghitung isinya. "Inget ya do, kalo masalah utang dah beres, kita-kita bakal datengin lu ama cewek itu. Bukannya apa-apa, kasian tuh si Anton masih kagak bisa jalan ampe sekarang, masa kita diem aja sobatnya digituin, ya gak?"


Udo hanya bisa terdiam dengan pikiran berkecamuk. Ia sungguh tidak ingin melibatkan Lilya dalam masalahnya tapi apa daya ia terlalu lemah untuk melawan.


Di sisi lain Lilya menepuk jidat. Inilah kenapa ia benci premanisme, rasa solidaritas yang mereka anut itu benar-benar tidak berguna dan berlebihan.


"Maaf bang..." lirih Udo pada akhirnya dengan suara bergetar.


"Maaf aja gak cukup." Fajar menepuk bahu Udo. "Nih tinggal bertiga doang kan di sini, sisanya banting tulang nyari duit. Untung tadi pagi ada anak-anak orang kaya ngasih kerjaan pengawalan buat beberapa hari ke depan. Lumayan kan?"


Seketika Lilya tertegun. Anak-anak orang kaya? Pengawalan?


Bersamaan dengan pertanyaan-pertanyaan yang mulai berputar dalam benaknya, tanpa sadar tubuh Lilya bergerak sendiri menerobos pintu.


Mendapati seorang gadis tiba-tiba masuk, preman-preman itu nampak kaget dalam artian yang tidak mengancam. Terbukti dari tingkah mereka selanjutnya yang mulai saling menatap satu sama lain sebelum akhirnya tersenyum mesem.


"Eh eneng cantik... kesasar ya? Mau abang anter pulang?" Celetuk si preman jaket kulit dengan suara mendayu-dayu.


"Kalau boleh tahu, namanya siapa ya?" Tambah Fajar yang langsung disambut tawa yang lainnya.


Lilya berdecak, lalu menatap Udo yang langsung mematung dengan mata terbelalak enggan mempercayai penglihatannya sendiri. Bagaimana tidak, lebih dari siapa pun di muka bumi ini, ia paling tidak mau kalau Lilya yang datang ke sini.


"Oi Udo! Mau sampe kapan lo di situ?" Tanya Lilya dengan nada ketus.


Udo makin terpojok, kini ia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.


"Eh? Eneng temennya Udo?" Tanya Fajar setengah terkejut.


Perhatian Lilya kembali teralihkan. Reaksi menyebalkan dari orang-orang di hadapannya itu membuatnya kesal.


"Padahal tadinya mau ngobrol baik-baik." Lilya menghela nafas penuh sesal. "Yah bodo amat lah, mumpung udah ke sini juga."


Lilya berjalan menghampiri Fajar seolah sengaja mengumpankan dirinya. "Yang tadi pagi ngasih kerjaan, namanya Renaldi sama Ersya bukan?"


"Wah, kalau itu rahasia perusahaan. Kalau eneng mau tau, bayar dulu." Mata Fajar tidak bisa tidak melihat ke arah dada gadis di hadapannya.


"Ini aja bayarannya gimana?" Tanya Lilya santai.


Fajar mulai cengengesan, tentu saja ia tidak akan menolaknya, dengan senang hati ia mulai menjulurkan tangannya hendak meraih tubuh gadis di hadapannya itu. Namun, belum juga sampai, Lilya langsung memasang kuda kuda dan mengarahkan kepalan tangannya tepat ke bagian intim pria itu.


Bukk!


“Aargghh!!”


Sambil memegangi bagian yang dipukul, tubuh Fajar terhuyung ke belakang hingga menabrak tembok.


Perlu beberapa saat hingga orang-orang yang menyaksikan itu sadar dengan apa yang telah terjadi. Teriak kesakitan Fajar bergema mengisi ruangan orang-orang bisu.


Sementara tubuh Udo mulai bergetar karena ketakutannya menjadi kenyataan, perlahan kedua rekan si preman bergerak bangkit seakan baru berhasil memproses apa yang terjadi.


“W-woi! Apa-apaan ini?!


Lilya berbalik menghadap mereka. Sadar akan situasi yang kian memanas, gadis itu malah tergelak dan tersenyum bangga sambil melipat kedua tangan di dada.


"Bapak-bapak sekalian, kenalin saya ini cewek yang udah patahin kakinya Anton!"


"C-ceweknya Udo?!" Tunjuk Fajar dari belakang, mulai terduduk tak berdaya.


Lilya menyeringai dan menatap Udo jahil, mengetahui dengan pasti kalau jawabannya akan menentukan nasib cowok itu kedepannya. "Yup, ceweknya Udo."


Kaki Udo seketika terasa lemas, ia berjongkok dan menjambak rambutnya sendiri enggan menyaksikan kekacauan yang akan pecah beberapa saat kemudian.