
"Tidak masuk akal..." Untuk beberapa saat Sarah hanya diam menunduk dengan tangan terlipat di dada. "Anda terlalu percaya diri sampai mau membuka kasus lama padahal kerjaan yang sekarang saja belum tentu terselesaikan."
Ting!
*Suara notif* terdengar dari dalam tote bag yang Huga bawa.
"Sebentar ya..." pria itu pun lekas mengambil ponsel dan menatap layarnya lekat. "Wah wah kebetulan sekali..." Perlahan senyumnya berseri.
"Saya baru saja dapat pesan dari seseorang yang punya sample barang bukti pelaku yang kalau cocok berarti kasus ini akan segera menemui titik akhir."
"A-apa?! Pelakunya sudah ketemu?" Pekik Sarah. Alih-alih senang, alisnya yang tertaut ke tengah malah membuatnya nampak khawatir.
Sementara itu Huga terdiam mengagumi kerja Lilya yang terbilang cukup cepat dan efektif itu.
"Baiklah... kalau begitu saya tidak akan menyita waktu anda lebih lama lagi." Perlahan Huga bangkit sambil menjinjing tote bag-nya. "Saya akan selalu menerima keikutsertaan anda sebagai saksi dalam pengungkapan kejahatan Ian. Kalau anda berubah pikiran, kabari saya ya."
Sarah termenung, masih mencerna kata-kata Huga sebelumnya. Pikirannya kalut dengan berbagai kemungkinan yang mulai menghantui.
Sementara itu Huga berlalu sambil mengetik pesan balasan untuk Lilya.
...* * *...
Musim hujan sudah mulai memasuki puncaknya. Terasa dari udara dingin dan awan mendung yang menghiasi langit mendung di atas SMK Tunas Nusa.
Meski begitu di dalam kelas 11 farmasi A semua murid nampak khidmat duduk di bangkunya masing-masing. Sebagaian dari mereka ada yang mencatat, sebagian lagi fokus memperhatikan bu Gita yang sedang menjelaskan materi persiapan yang akan muncul di ujian kenaikan kelas minggu depan nanti.
Di saat bersamaan, terlihat Lilya yang baru saja kembali dari acara bincang-bincangnya dengan Udo melongok sedikit dari pintu mengamati keadaan kelas.
Berbagai siasat mulai memenuhi otak gadis itu. Harus kah ia melenggang santai dengan alasan habis dari WC? Atau pura-pura dari UKS?
Namun, saat memikirkan alasan mana yang akan di pakainya, Lilya tersadar kalau guru yang sedang mengajar di dalam adalah bu Gita. Tentu batinnya terusik jika harus berbohong pada guru yang selama ini telah membantunya dari sejak awal ia masuk ke sini.
Setelah memantapkan hati gadis itu pun akhirnya memutuskan untuk mengendap-endap melewati pintu.
"Baik selanjutnya... hei, Lilya kamu kenapa baru masuk?!" Pekik Gita ketika menangkap basah gadis yang seketika mematung itu.
Masih dalam posisi diamnya, perlahan menoleh Lilya menoleh. "Eh?! Ada ibu, udah lama di situ?"
Celotehan sok polos gadis itu sontak membuat anak-anak kelas tergelak.
"Bener-bener ya kamu. Seminggu lagi ujian, ini masih aja maen-maen! Udah cepat duduk. Kasihan yang lain jadi terganggu." Gita memijat pelipis, ia tak pernah menyangka kalau murid baru yang terlihat pemalu di awal itu ternyata bisa cukup bermasalah di kemudian hari.
"Ok bu, makasih!" Saut Lilya yang dengan senang hati duduk di bangkunya yang berada paling depan dekat pintu.
Sementara Gita melanjutkan penjelasannya tantang senyawa Heterosiklik, Lilya mulai membuka ransel untuk mengambil buku catatannya. Saat mengorek-ngorek mencari bukunya, Lilya merasakan seseorang tengah mengawasinya dari belakang. Alhasil ia pun menoleh dan tatapannya pun bertemu dengan dia yang duduk di bangku tengah paling belakang, di antara murid-murid yang tengah fokus menatap ke papan tulis.
“Arvin…” batin Lilya mendapati cowok itu tengah menopang dagu sambil memperhatikannya.
Sambil tersenyum tipis, Arvin melambaikan tangannya tanda menyapa.
Tanpa membalas, Lilya langsung memutar kepala dan kembali sibuk mengambil catatan dari dalam tas. Kata-kata Udo masih terngiang di kepalanya, dan karena itu juga ia jadi ragu harus bersikap apa terhadap Arvin.
Mengabaikan kegusarannya, Lilya pun mulai fokus belajar. Hingga waktu pun berlalu dengan evaluasi materi dan penjelasan ujian praktek yang diberikan bu Gita untuk dijadikan tumpuan bagi para murid.
Tanpa terasa bel sekolah tanda pulang pun berbunyi.
Dengan semangat anak-anak 11 farmasi A berhamburan ke luar kelas sambil menenteng tasnya masing-masing. Meski Lilya juga sudah siap dengan ransel di punggung, ia terlihat bergeming masih diam dibangkunya sambil menatap layar HP.
"Dibales juga, hehe..." gumam Lilya ketika mendapati pesan balasan dari Huga itu.
"Lia," tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya.
Dari suaranya saja Lilya sudah tahu kalau itu adalah Arvin. Setelah mematikan layar HPnya, ia pun segera menoleh. "Kenapa vin?"
Sesaat Arvin hanya terdiam dan memperhatikan gadis di hadapannya itu.
"Lu takut sama gua?" Tanya Arvin pada akhirnya.
"Eh? Engga gue-" seketika Lilya teringat saat ia mengacuhkan cowok itu sebelumnya. "Oh. Terserah sih lo mau baca micro ekspresi gue kek gimana, tapi tadi itu gue lagi buru-buru keluarin catetan takut diomelin bu Gita."
"Gitu toh?" Sambil menghela nafas panjang, Arvin mengamati kelas yang sudah sepi melompong. "Lu gak bosen apa marahan sama gua?"
"Hmmm... gimana yaa..??" Lilya melipat tangan di dada dan menatap langit-langit seolah sedang berfikir. Sejujurnya dari awal pun ia bukannya marah, hanya saja sikap tertutup cowok itu saja yang membuatnya jengkel. Tapi karena sekarang keadaannya sudah lebih baik, Lilya tak punya alasan lagi untuk terus bersikap ketus kepadanya. Lalu soal cerita Udo... Lilya berencana untuk mengujinya sendiri.
"Bosen sih. Mo baikan?" Tawar Lilya sambil tersenyum.
"Dari kemaren kek." Arvin menjulurkan tangan dan mereka pun berjabat tangan.
Meski sudah 'berbaikan' tapi tetap saja interaksi di antara mereka masih terasa canggung. Lilya tak mau juga terlalu memaksakannya. Semua pasti akan kembali seperti semula seiring berjalannya waktu.
"Btw, lu pulang naik motor, kan?" Tanya Arvin sambil merogoh HP dari dalam saku celananya.
"Iya lah... napa? Mau nebeng lo?" Lilya jadi teringat ucapan Udo soal Arvin yang hanya memanfaatkan saja untuk tumpangan gratis.
Arvin menggeleng pelan. "Engga, cuman nanya. Ini gua lagi pesen ojol kok."
“Oh,” komentar Lilya singkat sambil berusaha keras menahan malu karena sudah berburuk sangka. Namun, saat itu sebuah ide tiba-tiba muncul di benaknya.
Selagi menunggu Huga, tidak ada salahnya kan ia mulai memastikan kebenaran di balik cerita Udo?
"Eh, udah-udah jangan pesen! Bareng gue aja, sekalian gue mau ke rumah lo juga.” Dengan sikap buru-buru Lilya pun bangkit.
"Hah? Mo ngapain?" Arvin mengernyit.
"Pinjem buku catetan lo. Boleh kan?" Ujar Lilya yang entah kenapa lebih terdengar seperti perintah.
"Ntar gue fotoin aja. Butuh mapel apa?"
"Semuanya."
"..."
Arvin menatap prihatin gadis yang tengah tersenyum polos di hadapannya itu.
"Lu sekolah ngapain aja sih?" Tanya Arvin tak percaya.
"Ga suka nuliss. Dah ayo, males kan lo fotoin semuanya satu-satu?” Tanpa menunggu jawaban Arvin, Lilya berlalu menuju pintu keluar.
"Kebiasaan nih anak..." gumam Arvin sambil menggeleng. Ia hampir lupa sifat semena-mena Lilya.
Meski menyebalkan, Arvin akui kalau ia juga merindukan rasa lelah karena telah tergerakan oleh tingkah laku gadis itu.