
Di suatu tempat yang tak jauh dari SMA Tunas Nusa, awan kelabu menggulung di atas bangunan stadion futsal yang dimasuki Arvin. Aroma karet khas dari lapangan menyambut bersamaan dengan gema suara orang-orang yang serius bertanding menggiring bola menuju gawang lawan.
Sambil memasukkan kedua tangan ke saku celana, Arvin mulai mengedarkan pandangan ke tiap sudut lapang dan bangku penonton. Akan sangat menakjubkan kalau Ersya dan Renaldi ada si ini, meski Arvin tahu hal semacam itu tidak mungkin terjadi.
"Istirahat bentar yak!"
Teralihkan oleh teriakkan itu, Arvin mendapati seorang lelaki berpakaian jersey lengkap tengah berlari ke luar lapang dan duduk di bangku penonton. Orang itu meraih handuk sport dari dalam tas dan menggosokkannya ke kepala.
Arvin memperhatikannya dalam diam, ia mengenalnya. Terakhir melihat wajah orang itu adalah ketika video Lilya yang ribut di kantin tersebar di kalangan siswa. Orang itu adalah teman karib Renaldi yang dalam rekaman nampak berusaha keras memahan tawa.
Jauh sebelum itu juga Arvin cukup akrab dengannya. Dia pernah menjadi pasien yang dirawat Sarah, ibunya Arvin.
Meski merasa canggung, Arvin pun memutuskan untuk menghampiri dengan harapan kalau orang itu masih mengingatnya.
"Wah, masih suka maen?" Ujar Arvin ketika tiba dihadapannya. "Zidan, emang kakinya gak sakit?"
Mendengar namanya disebut, lelaki bernama Zidan itu pun langsung menyingkirkan handuk yang menghalangi pandangannya.
Saat melihat Arvin ia langsung menyipitkan mata seakan sedang meneliti dan mengingat-ingat identitas sosok di hadapannya itu.
"Ar... vin?" Tebak Zidan yang beberapa detik kemudian langsung bersorak. "Weh! Dah berapa lama ya? Setahun? Kemana aja lu?"
"Baru juga enam bulan." Arvin mengoreksi dengan sopan.
"Serius? Perasaan turnamen terakhir dah lama, haha! Eh, duduk-duduk jangan berdiri terus, pegel!
Arvin menurut dan duduk di sampingnya. "Ngomong-ngomong apa kabar nih?" Dengan kentara ia melirik kaki Zidan yang tengah diluruskan.
"Oh, ini?" Zidan menggerakkan kaki kanannya. "Ya kan cuman maen santai. Emang gak bisa lama sih, dikit-dikit harus istirahat, tapi masih bisa kasih angka lah!" Zidan tersenyum lebar sambil mengacungkan jempol.
Arvin tersenyum menanggapi reaksi sok positif itu. Tanpa membaca micro ekspresinya pun Arvin paham, karena bagaimana pun juga ia ada di sana ketika kaki Zidan cedera parah di turnamen antar sekolah lalu.
Meski tidak mengancam jiwa, cederanya itu membuat Zidan tidak bisa ikut turnamen lagi. Bahkan hingga sekarang pun efek sampingnya masih terasa.
"Oh ya, tumben dateng ke sini, mau maen juga?" Tanya Zidan riang lalu menenggak air mineralnya.
Arvin membungkuk, menopang dagu dengan sebelah tanggan, memperhatikan orang-orang yang sedang bermain di lapangan. "Sebenernya lagi nyari Ersya, kali aja dia ikut nontonin pacarnya maen, tapi kayaknya Renaldi juga gak ada ya?"
"Uhuk!! Ukhuk!"
Zidan langsung memuntahkan sisa air di mulutnya dan terbatuk sambil menepuk-nepuk dada.
Melihat reaksi itu, Arvin tersenyum tipis. "Santai dong minumnya..."
"Haha! Iyaiya apaan dah gua pake keselek segala! Hah- uhuk!!" Terlihat jelas Zidan berusaha keras menutupi ekspresi kagetnya. "Eh, emang dia kenapa sampe harus dicariin?"
Tentu saja Arvin tidak akan melepas kesempatan ini, karena semakin cemas dan paniknya seseorang, kemampuan berfikir serta pengambilan keputusannya pun makin tidak matang. Alhasil, informasi pun bisa tanpa sadar terselip dengan mudah.
"Walinya yang suruh, dari pihak sekolah juga bilang kalau Ersya gak masuk kelas." Selagi bicara, mata Arvin sigap memperhatikan gerak-gerik Zidan. "Kalau masih gak ketemu mau lapor polisi katanya."
"Woah serius amat haha! Paling dia lagi sama Renaldi, kan? Dah coba ke rumahnya?" Zidan menggaruk lehernya yang jelas tidak gatal sebelum akhirnya menyilang pergelangan tangan di perut.
Sikap menutup diri itu lagi-lagi membuat Arvin tersenyum. "Udah. Di sana juga gak ada. Kayaknya dari pagi mereka pergi bareng. Oh ya, Renaldi sekolah gak? Lu kan sekelas ama dia."
Meski sudah tahu jawabannya, Arvin tetap menanyakan pertanyaan itu untuk melihat reaksi yang akan ditunjukan lawan bicaranya.
"Emang gak masuk kelas sih... d-di rumahnya juga gak ada ya? Wah, mereka kemana? Aneh banget, haha..." Zidan menyeka keringat di keningnya dengan ujung handuk. Berbeda dari sebelumnya, kali ini keringat dingin lah yang ia usap.
"Agak berlebihan gak sih kalo itu..." jawab Zidan yang entah kenapa terdengar lebih lesu.
"Kalo ke tempat yang agak jauh di kota ini, hmm... kalo hutan lindung sih gak mungkin dimasukin, kalo pelabuhan? Mungkin gak?"
Alis dan mata Zidan naik secara bersamaan ketika mendengar kata 'pelabuhan'. Meski hanya hanya sesaat, Arvin bisa melihatnya dengan jelas.
Arvin menundukkan pandangan menahan tawa. Manusia benar-benar mahluk yang unik, bahkan ketika mereka menyembunyikan sesuatu, tubuhnya masih berusaha berkata jujur. Itu lah kenapa ia sangat suka mengamati mikro ekspresi dan bahasa tubuh orang. Terkadang, mereka terlalu menghibur untuk dilewatkan.
"Kok bisa mikir ke situ? Bukannya lebih lumrah kalo nge-date ke mall atau cafe?" Ada kepanikan dalam suara Zidan, seolah terburu-buru hendak meluruskan sesuatu.
"Justru karena di cafe atau mall mereka gak ada, gua jadi kepikiran tempat lain." Arvin menegakkan tubuh lalu menyender sambil memasukkan kembali tangannya ke saku. "Mungkin mereka emang lagi maen kucing-kucingan. Di pelabuhan kan ada banyak gudang gak kepake, cocok lah buat tempat sembunyi, ya kan?”
"Emang mereka ngapain sih sampe harus sembunyi kek gitu?!" Tanpa sadar suara Zidan meninggi. Garis wajahnya nampak mengeras. Meski sedikit kaget, Arvin senang karena untuk pertama kalinya Zidan mengutarakan apa yang dia rasakan. Dari situ pula Arvin bisa menarik kesimpulan.
Sepertinya, Renaldi memang memberi tahu Zidan kemana ia dan Ersya pergi tanpa menjelaskan alasannya. Itu cukup masuk akal mengingat alasannya mungkin berhubungan dengan kasus pembunuhan itu. Tentu saja bagi Zidan yang merupakan sahabat karibnya, hal itu cukup mengesalkan.
"Hoy! Maen lagi ga?" Teriak teman setimnya dari lapang.
Seakan tersadarkan, Zidan mengerjapkan mata lalu mendongkak ke lapang. "Ntar!" Sahutnya lalu tersenyum canggung ke arah Arvin. "Sorry vin, gua beneran gak tahu di mana Renaldi atau Ersya..."
Arvin mengangguk lalu bangkit dan menjulurkan tangannya. "Sebenernya tujuan gua ke sini bukan buat nyari Ersya doang."
"Apa dong?" Zidan meraih tangan Arvin dengan bingung.
"Mau kasih saran." Arvin tersenyum cerah. "Nyiksa diri juga ada batasnya loh, bukan cuman soal kaki, tapi pertemanan juga. Nanti... kalo ada polisi datengin lu, jawab aja apa adanya ya, jangan kek tadi."
Zidan langsung melepaskan genggamannya. "M-maksudnya apa tuh...?"
"Buat orang yang baru beres olahraga, tangan lu dingin ya," ujar Arvin dengan tenang tanpa niatan menjelaskan lebih lanjut. "Kalo gitu gua pamit mau lanjut nyari."
Setelah melambaikan tangan, Arvin pun berbalik santai menuju pintu keluar. Meski perasaannya terganggu, Zidan hanya termenung dan membiarkannya pergi.
Ketika sampai di luar Arvin merogoh HPnya hendak mengabari Lilya. Namun, baru saja hendak memencet tombol panggil, sebuah notifikasi telepon mengambil alih layarnya.
Melihat nama yang terpampang Arvin pun mengernyit.
Beep!
"Hallo, Udo?"
Terdengar suara dentuman dan hentakkan dari seberang sambungan. Butuh beberapa saat hingga si penelepon angkat suara.
"Vin... t-tolongin!"
"Tolongin apa? Ngomong yang jela-"
"Lia Vin! Tolongin!"
Wajah Arvin berubah serius. “Do lu di mana? Lia kenapa?”
Terdengar lagi suara benturan dan barang rusak.
“D-dia…”