
Lilya baru saja keluar lift menuju basement parkiran ketika pesan dari Arvin masuk. Di tenggah sepi yang memekakkan, gadis itu hanya menatap layar HPnya tanpa ada niatan membukanya. Meski begitu, setengah dari isi pesan itu terlihat dari notifikasi,
"Lia, besok anak-anak mo ada acara masak-masak di rumah Ersya..."
Tanpa niatan menjawab, dengan acuh Lilya mematikan HPnya hingga beberapa detik kemudian bunyi notifikasi kembali terdengar.
"Nih bocah maunya apa sih?!" Dengan jengah Lilya hendak mematikan HPnya ketika terlihat bahwa nama pengirim pesan itu berbeda dari sebelumnya.
"Pak Huga...?" Gumam Lilya sambil buru-buru membuka pesan itu.
"Saya akan sangat senang mendengar informasi yang sudah kau kumpulkan. Kalau ada waktu besok kita ketemuan di cafe Hiraeth pukul 1 siang saja, bagaimana?"
Suasana hati Lilya seketika berubah cerah. Pada awalnya ia mengira kalau Huga mengabaikan chatnya karena tak ada jawban, tapi sekarang sudah tidak masalah. Dengan cepat Lilya mengetikkan jawaban setuju dan memencet tombol kirim.
...* * *...
*Siang itu nampak Huga dengan pakaian casual* berjalan menyusuri jalan di pinggiran mall yang cukup sesak dengan orang-orang yang hendak menghibur diri di akhir pekan. Meski niat hati tidak ingin menarik perhatian, tetapi kemeja panjang hitam yang dikenakan pria 38 tahun itu begitu pas melekat ditubuhnya sehingga otot di upper body-nya nampak terbentuk dibalik helaian kain kemejanya.
Beberapa orang terutama wanita muda lekat menatap Huga ketika berpapasan, bahkan ada yang hampir menabrak orang di depannya.
Sambil tetap berjalan santai acuh dengan yang terjadi di sekitar, Huga memeriksa arloji silver yang melingkar dipergelangan tangan kanannya. 12.34, ia sengaja datang setengah jam lebih awal dari waktu janjian karena sudah kebiasaan. Meski begitu...
"Loh? Kok pak Huga udah ke sini?" Dengan bingung Lilya berdiri dari kursinya di bagian luar cafe. "Jam satu kan masih 25 menit lagi?"
Huga tersenyum ramah sambil menarik kursi di hadapan Lilya lalu mendudukinya. "Harusnya itu pertanyaan saya. Sedang apa kau di sini? Kan waktu bertemunya pukul 1?"
"Yah itu sih..." Gadis yang hanya mengenakan kaos oblong dan celana jeans itu terlihat berusaha keras menutupi kekikukkannya. Sebab, nyatanya ia sudah datang bahkan sebelum cafe ini buka. Itu semua dilakukan dalam usahanya menghindari Arvin dan acara masak-masaknya di rumah Ersya. Karena jarak rumah mereka yang tergolong dekat, bukan tidak mungkin Arvin akan datang ke rumah Lilya dan memaksanya ikut.
"Udahlah, gak penting itu. Oh ya, kenapa milih tempat di cafe ini sih? Rame gini emang gak apa-apa ngebahas kasus?" Tanya Lilya yang seperti biasa payah dalam mengalihkan topik pembicaraan.
"Justru bakal lebih mencurigakan kalau kita ngobrol di tempat sepi," jelas Huga santai, lalu mengangkat tangan memanggil pelayan untuk memesan.
"Eh iya juga yak. Udah nanti kena tuduhan ngelanggar aturan kerahasiaan kasus, pak Huga juga bakal dituduh mesum," kekeh Lilya tanpa merasa bersalah. "Aneh juga ya lihat pak Huga gak pake coat panjangnya."
Huga ingin menimpali, tetapi seorang pelayan cafe sudah datang menghampiri.
"Silahkan, mau pesan apa?" Tanya wanita muda yang seperti sedang magang itu. Ia menyodorkan buku menu kehadapan mereka.
"Aku mau Ice Matcha Cream aja satu!" ujar Lilya dengan penuh semangat.
Dengan cepat mbak pelayan itu mencatat pesana Lilya lalu beralih menatap Huga dengan rona merah bersemu di pipinya. "Kalau papihnya mau pesan apa?"
Mendengar itu seketika Lilya menutup mulutnya dengan kedua tangan menahan tawa.
"Espresso," ujar Huga singkat sambil memberi senyuman manis.
Nampak jelas mbak pelayan itu mencatat pesanan Huga dengan gerakan tangan yang gugup. "B-baik, satu Ice Matcha Cream dan Espresso ya. Mohon ditunggu sebentar."
Setelah mbak pelayan itu pergi, barulah tawa Lilya pecah.
Seakan tidak terganggu, dengan santai Huga merogoh rokok dan pemantik api dari saku celananya. Ia menunggu Lilya berhenti tertawa sambil menikmati sebatang rokok.
"Lain kali pake aja coatnya pak. Percuma, pake baju gini malah kek tebar pesona." Akhirnya Lilya berhenti tertawa sambil mengusap ujung matanya yang berair.
Huga menghembuskan asap dari mulutnya ke atas. "Kalau sudah selesai ketawnya, ayo kita langsung bahas informasi yang sudah kamu dapat."
"Ok ok." Lilya menegakkan tubuh dan merubah ekspresinya jadi serius. "Di berita katanya mobil korban udah ketemu kan? Dan ada serat pakaian si pelaku tertinggal di kursi kemudi?"
"Saya kira tidak perlu lagi mengkonfirmasi kebenaran berita yang sudah pasti akurat. Kau bisa langsung ke intinya saja," terang Huga.
"Kalau gitu bisa kasih tahu lebih detail soal serat itu? Kalau asumsi saya benar, ini bakalan jadi petunjuk penting."
Untuk beberapa saat Huga diam sambil tersenyum menanggapi ucapan Lilya yang menjebak itu. Ia tahu betul apa yang sedang dilakukan gadis di hadapannya itu. Pada dasarnya satu-satunya orang yang seharusnya memberikan informasi adalah Lilya, tetapi gadis itu malah memancing Huga kedalam pertukaran informasi tidak langsung yang terkesan menguntungkan. Padahal niat sebenarnya terbalik, justru Lilya lah yang hendak mengulik informasi yang pihak kepolisian sembunyikan dari publik.
"Beberapa hari tidak bertemu, kau malah makin berani ya..." Huga mematikan rokoknya ke asbak, lalu menautkan kedua tangannya diatas siku dan tersenyum. "Itu serat woll. Kemungkinan jatuh dari jaket atau sweater pelaku."
Dan seperti dugaan Huga, Lilya sebenarnya tidak benar-benar yakin dengan ucapan sebelumnya. Terlihat gadis itu termenung, sebelum akhirnya meraih HPnya.
"Jaket," ujar Lilya seperti sedang meyakinkan dirinya sendiri. Ia kemudian menunjukan layar HP ke hadapan Huga. "Lebih tepatnya jaket shearling."
Huga menyondongkan tubuh, memperhatikan layar HP Lilya yang menunjukan sebuah video di mana Eesya dan pacarnya Renaldi sedang bertengkar di belakang kios kantin sekolah. Di sana terlihat jelas kalau Renaldi sedang mengenakan jaket shearling berwarna coklat, dengan bagian dalam jaket yang terbuat dari woll berwarna cream.
"Cuman sekali saya bertemu dengan keponakan pemilik yayasan ini. Itu pun untuk memastikan alibi Ersya yang bilang sedang menonton bioskop dengan pacarnya ketika pembunuhan itu terjadi memang valid.” Dengan santai Huga menyender ke punggung kursi sambil menatap Lilya puas. "Dan tentu saja dia tidak pakai jaket itu ketika bertemu dengan saya."
"Berarti emang si Renaldi yang bawa mobil korban?!" Pekik Lilya terlalu heboh hingga beberapa orang di meja terdekat menoleh ke arahnya. Menyadari hal itu, Lilya buru-buru menutup mulut dan menyatukan kedua tangan, minta maaf sambil cengengesan.
"Ya... belum tentu juga. Kita masih perlu mencocokannya di lab, tapi bisa juga si pelaku dan Renaldi kebetulan memiliki jaket serupa,” tutur Huga dengan santai.
"Loh, kok gak kayak pak Huga yang biasanya ya?" Lilya melipat tangan di dada sambil menatap Huga penuh kritik. "Jelas-jelas itu gak mungkin. Jaket shearling bukan jaket murah yang bisa dibeli semua orang. Renaldi kan keponakan pemilik yayasan sekolah, jadi wajar kalau selera dia berlebihan untuk ukuran anak sekolahan. Tapi untuk murid lain yang bukan dari keluarga sekaya dia? Rasaya tidak mungkin.”
"Tapi tetap saja saya butuh sample jaketnya untuk dicocokan di lab.... Kau punya saran?"
Lilya terkekeh. "Dari pada itu, kenapa gak langsung kasih perintah 'Lilya tolong ambil jaket Renaldi' aja?"
Huga tersenyum cerah. "Karena saya tidak punya wewenang untuk mengatakan itu. Semua tindakan yang kau lakukan, harus berdasarkan keputusan kau sendiri. Kalau tidak... saya yang bakal kena masalah."
"Pesanannya..." mbak pelayan tadi kini menghampiri meja dengan membawa nampan berisi pesanan yang tadi tercatat.
“Dasar licik… pak Huga ini benar-benar tidak peduli kepada saya sedikit pun ya…?” Dengan nada menyedihkan Lilya dan ekspresi nelangsa, Lilya memeluk perutnya. “Setidaknya tanggung jawab kek!”
Penampilan apik penuh keambiguan itu sukses membuat otak si mbak pelayan traveling sesaat, hingga akhirnya menatap Huga dengan tatapan ‘what the f***?!’
Menyadari situasinya sedang terancam, Huga menghela nafas berat.
“Percayalah mbak, asumsi mbak itu salah…” Tutur Huga yang meski sedikit kesal, ia juga kagum dengan kemampuan Lilya memanipulasi keadaan.