At Least I’M Free

At Least I’M Free
XXI



"Pakkk, dah banyak nih yang mau saya laporinnn. Gimana?? Saya tulis aja atau mending ketemuan langsung??"


Huga menatap pesan chat yang diterimanya itu sambil tersenyum. Ia sudah menduga kalau Lilya bisa dengan cepat memperoleh informasi. Potensi gadis itu memang tidak diragukan lagi, apalagi kalau soal 'membaca' orang.


Meski Huga ingin segera membalas chat itu dan mengajak Lilya bertemu untuk mendengarkan informasi apa saja yang sudah ia dapatkan, tapi masih ada satu hal penting lain yang harus terlebih dahulu Huga hadapi sekarang.


30 menit sudah berlalu, dan pria yang dalam satu hari ini sudah berkendara ke berbagai tempat itu telah membuang waktunya yang berharga dengan menunggu. Di kelilingi rak-rak buku cerita bercampur buku pelajaran dengan warna-warna cerah, Huga hanya bisa duduk diam di bangku pendek yang dibuat khusus agar anak-anak mudah menaikinya.


Kalau boleh jujur, tempat ini jauh lebih mengerikan dari pada TKP di malam hari. Alasannya? Tentu saja karena merokok di tempat ini sama dengan melakukan kejahatan moral.


"Ah maaf ya mas Huga, jadi lama nungguin..." tiba-tiba sebuah suara riang wanita terdengar bersamaan dengan datangnya sosoknya yang berbalut seragam batik guru di tubuhnya yang agak berisi.


"Tidak apa-apa. Lagi pula menjadi seorang guru sekolah dasar bukanlah pekerjaan mudah. Harusnya saya yang minta maaf karena datang mendadak tanpa pemberitahuan," terang Huga dengan sopan setelah berdiri dan menjabat tangan wanita itu.


Setelah bersalaman, wanita itu pun duduk di kursi seberang Huga. Jarak mereka hanya terhalang sebuah meja kecil.


"Yahh.... Aku ngerti lah, buat apa juga ngasih kabar? Kan anda detektif," timpal wanita itu dengan santai.


Memang, setelah Huga menemukan surat-surat itu ia langsung berangkat ke alamat pengirim yang tertera. Sekolah Dasar 3 jaraknya memang agak jauh dari pelabuhan, meski begitu ketika sampai ternyata kegiatan belajar mengajar masih berlangsung. Alhasil Huga di suruh menunggu di perpus oleh wanita yang diduga bernama Anggia itu.


"Terima kasih atas pengertiannya. Kalau begitu... saya akan langsung jelaskan saja keperluan saya di sini." Tanpa menunggu lagi Huga merogoh sesuatu dari dalam saku over coat-nya.


8 surat beramplop putih pun Huga jejerkan ke hadapan Anggia. "Apa pendapat kau perihal surat-surat ini?"


Anggia melipat tangan di dada sementara kepalanya menjorok kedepan mengamati surat itu satu persatu. Ia nampak terkejut ketika melihat alamat yang tertulis di amplop. "Menarik... boleh aku lihat isinya?"


"Silahkan," timpal Huga yang matanya masih tajam mengamati gerak-gerik Anggia.


Dengan tangan rampingnya wanita 30 tahunan itu membuka amplop dan menarik kertas di dalamnya. Dengan singkat ia membaca isinya sebelum kemudian beralih ke surat yang lain. Setelah sampai di surat terakhir, Anggian menjejerkan kertas itu secara berurutan lalu mengamatinya secara keseluruhan.


Sebuah senyuman tersungging di bibir merahnya.


"Wah-wah... mas Huga nemuin ini dari mana?" Tanya Anggia dengan mata masih terfokus ke tulisan di kertas-kertas itu.


"Dari tempat yang tidak terduga." Huga tersenyum simpul, enggan membeberkan.


"Pastinya," timpal Anggia sambil terkekeh seolah mengerti, "dan pendapatku soal surat-surat ini adalah 'menyebalkan'."


Entah mengapa Huga menangkap nada sarkas dari kalimat itu. Bahkan ekspresi Anggia lebih menunjukan kekaguman ketimbang terganggu.


"Baiklah, jadi surat-surat ini memang kau yang tulis?" Tanya Huga melanjutkan.


Anggia mengedikan bahu, tidak menjawab. Sikap ambigunya berlanjut dengan tangannya yang merogoh saku dan menaruh uang kertas juga sebuah pulpen di atas meja. Tak berhenti di situ, dengan santai ia mulai menuliskan sesuatu di uang kertas itu dan menunjukannya ke Huga.


"Sangat identik," komentar Huga sembari membandingkan tulisan itu dengan yang tertulis di surat, "lalu apa tujuanmu mengirimkan surat-surat ini tiap tahun? Jangan bilang kau tidak mengerti cara kerja handphon."


Anggia tergelak. "Tidak-tidak, mas Huga gak ngerti. Surat kan media penyampaian perasaan yang romantis. Bahkan di jaman ini pun orang-orang masih menggunakannya kok."


"Begitu ya." Huga tersenyum simpul. "Kau punya cara unik untuk menyampaikan perasaan romantis ya. Awalnya saya kira itu semua surat ancaman loh..."


Anggia menautkan tangan dengan siku menopang ke meja. Ia nampak hendak membeberkan sesuatu, tetapi bibirnya malah tersenyum jahil. "Gak salah sih\~”


"Saya sebenarnya punya beberapa asumsi, tapi setelah bertemu dengan kau secara langsung, saya sadar betapa congkaknya pemikiran saya." Huga menyender ke punggung kursi sambil membalas tatapan jahil wanita di hadapannya. "Jadi apa yang terjadi 8 tahun yang lalu, hingga Ian Kurniawan dikeluarkan dari sini dan bercerai dengan istrinya? Lalu bagaimana dengan kau? Orang yang mengenal korban di masa lalu, pernah satu tempat kerja dengannya, tahu alamat pribadi korban setelah dia bercerai, bahkan mengiriminya sepucuk surat selama 8 tahun terakhir.”


“Menurutmu?” Tantang Anggia.


“Perselingkuhan memang pengalihan paling efektif di kasus ini. Tapi, kalau memang itu penyebabnya kenapa Ian tidak menikah lagi saja dengan wanita selingkuhannya itu? Jawabannya sederhana, karena wanita itu tidak pernah benar-benar ada. Atau setidaknya cinta korban tidak pernah benar-benar ada bagi wanita itu.” Huga mengakhiri penjelasannya dan menyondongkan badan menatap Anggia yang senyumannya mulai memudar.


“Kamu kira aku pelakunya kan?” Tanya Anggia setengah berbisik.


“Kau akan sangat cocok memegang peran itu. Tapi tidak, dalam tragedi ini kau adalah kunci dari kebenaran yang selama ini saya cari.” Huga menegakan kembali tubuhnya dan tersenyum. “Apa yang terjadi 8 tahun lalu, Anggia?”


Menggeleng lemah, Anggia menyenderkan tubuh ke punggung kursi. “Itulah kenapa aku tadi bilang surat-surat itu menyebalkan.”


“Silahkan, tidak usah terburu-buru,” ujar Huga sambil menaruh sebungkus rokok dan pemantik api, lalu mendorongnya ke hadapan Anggia.


“Tahu dari mana aku suka ngerokok?” Tanya Anggia.


“Mudahnya, koneksi batin antar perokok.” Huga tersenyum simpul.


“Bisa-bisa aku kena masalah gara-gara ini,” dengus Anggia meski tetap menerimanya dan menyalakan sebatang rokok “Oh ya, mas Huga engga ikutan?”


Huga mengeluarkan dan membuka sebuah kotak besi yang didalamnya sudah banyak abu dan sisa batang rokok yang telah pendek. Lagi-lagi ia menyodornya ke hadapan Anggia.


“Seperti yang kau bilang. Bisa-bisa saya kena masalah. Jadi, tidak terima kasih,” tolak Huga dengan sopan.


Anggia menatap tidak percaya. “Dasar iblis.”


Untuk beberapa saat mereka hanya diam. Dalam hening Anggia terus menikmati rokoknya, membiarkan asap mengembara melewati rak dan sela-sela buku.


“Ian, Ian… dah mati pun masih aja bikin masalah…” Anggia membuang abu rokoknya ke kotak besi. Ia menatap Huga dan tersenyum. “Mulai dari sini, pekerjaanmu bakal jadi lebih seru.”


Huga tersenyum penuh kemenangan. “Ceritakanlah.”