At Least I’M Free

At Least I’M Free
XXX



Dalam hening Lilya menatap jauh menembus manik gelap Ersya yang gelap, berharap menemukan kebenaran yang tersembunyi di dalamnya.


"Kalau emang temenan, ya tinggal bilang aja kali. Ngapain lo mikir lama-lama kek gitu?" Lilya tersenyum simpul. "Berarti emang bukan cuman temenan ya..."


"E-eh? Iya kita temen... A-aku cuman kaget soalnya tiba-tiba ditanyain itu." Menundukan pandangan, Ersya terlihat tak nyaman.


Seakan menikmati, Lilya terkekeh sambil terus menatap rendah gadis di hadapannya itu. Ia tahu pada akhinya jawabannya harus ia cari sendiri. Baik Arvin atau pun Ersya, mereka berdua sama-sama menyembunyikan sesuatu.


"Btw, keren banget lo menang lomba essay sebanyak ini. Jadi penasaran deh pengen baca." Lilya menunjuk salah satu sertifikat yang dipajang di dinding.


"I-itu ada di internet kok. Nanti a-aku kirim link websitenya..." sambil meremas bungkus pembalut ditangan, Ersya nampak berusaha keras bersikap senormal mungkin.


"Eh, kalo dilihat-lihat temanya pada mirip-mirip ya. Micro expression... Umm... apaan tuh? Jelasin dong, gue gak ngerti beginian," bujuk Lilya yang jelas-jelas hanya sedang mengetes.


Dan benar saja, Ersya nampak kewalahan menjawab. "J-jadi... i-itu..."


Tentu saja Lilya sudah menduganya. Bagaimana bisa seseorang yang memenangkan lomba tingkat nasional lupa dengan ide tulisannya sendiri?


Pasti karena dia tidak benar-benar menulis essay tersebut. Lalu siapa yang menulisnya kalau bukan Ersya? Lilya hanya punya satu kandidat, seorang teman yang senang meneliti ekspresi manusia, siapa lagi kalau bukan Arvin. Namun, pertanyaan terbesarnya adalah kenapa cowok itu rela membantu Ersya sampai segitunya, sementara ia bisa saja memenangkan lomba-lomba itu untuk dirinya sendiri?


Tidak ada hal yang lebih mengganggu Lilya dari sebuah pertanyaan yang tidak ada jawabannya. Meski bukan urusannya, tapi rasa sesak selalu menyerang tak kala ia memikirkan hubungan Arvin dan Ersya yang sebenarnya.


"Oi! Kalian lagi ngapain?" Pekik Udo yang baru menaiki tangga lalu berlari kecil menghampiri kamar Ersya. "Udah siap tuh seblak."


Lilya menghela nafas panjang, "…yaudah ayok."


Ketika hendak berlalu, Ersya buru-buru menahan tangan Lilya. "Lia, i-ini katanya mau ganti...?


Melihat pembalut di tangan Ersya, Lilya pun menepuk jidat. Bagaimana bisa ia lupa dengan skenarionya sendiri?


"Eh iya lupa. Bentar do, gue masih ada urusan." Lilya mengambil pembalut itu dan mengacungkannya di hadapan Udo yang langsung mengernyit. "WCnya sebelah mana, Sya?"


"Itu, di pintu sebelah kiri..." Ujar Ersya sambil menunjuk ke luar.


Lilya menepuk pundak Udo sebelum berlalu ke arah pintu yang ditunjuk.


"Oi Lia, besok jadi kan bantu cairin uang bansos gue ke sekolah?" Tiba-tiva Udo bertanya sambil setengah berteriak.


Lilya yang sudah setengah jalan pun hanya mengacungkan jempol sebagai jawaban. Meski terlihat acuh, sebenarnya Lilya sangat menantikan hal itu. Bagaimana pun juga, ia harus menbuat Udo mau bekerja sama dengannya. Karena bisa saja cowok tengil itu mengetahui kebenaran dari hubungan misterius antara Arvin dan Lilya.


...* * *...


Esoknya. Di ruang tata Usaha SMK Tunas Nusa.


"Pak! Saya tuh udah gak makan tiga hari! Lihat nih ampe dipukul rentenir gara-gara keseringan ngutang. Bapak gak punya rasa empati apa?!"


Dengan penuh keyakinan Udo menceritakan penderitaannya. Mungkin kebohongannya terlihat kentara, tetapi bagian 'dipukul rentenir' itu memang sungguhan.


Pak Danu terlihat skeptis, tetapi ketika mengamati wajah Udo yang benar-benar babak belur, sepertinya ia jadi sedikit percaya. Namun, percaya saja belum cukup.


"Loh kok gitu? Itu kan hak saya, harusnya saya yang putusin uangnya mau dipakai bayar SPP atau enggak!" Protes Udo tak terima.


Danu menggeleng. "Emang kalau uangnya sudah kamu kantongi, kamu bakal bayar SPP? Saya rasa tidak."


"Bapak sok tahu itu namanya!"


Melihat Udo yang hilang kesabarannya, Lilya yang sedari tadi menyimak sambil memutar-mutar HPnya di samping Udo pun mulai turun tangan.


"Gini loh pak, bayar SPP sama diterimanya uang bantuan oleh murid kan dua hal beda. Bapak gak bisa seenaknya memutuskan kegunaan uang itu untuk apa,” ujar Lilya dengan sesopan mungkin.


Meski begitu, Danu tetap terlihat sebal dan berdecak. "Percuma kamu bawa temen, do. Uang kamu tetap akan saya bayarkan SPP, lagi pula ini juga demi kebaikan kamu."


"Kebaikan dia atau kebaikan sekolah?" Lilya menahan tangan Udo agar dia tetap diam, sementara Lilya mengambil alih. "Gara-gara kasus kebakaran dan meninggalnya pak Ian, sekolah ini dituntut banyak orang tua murid dan media, kan? Faktanya kalian memang lalai dalam keamanan, bahkan CCTV saja tidak bekerja. Akibatnya apa? Kepercayaan masyarakat dan yayasan menipis, begitu juga dengan saluran dana yang di dapat."


Lilya menatap Danu lekat. "Lalu rumor pun berlanjut menjadi dugaan kalau dana itu disalahgunakan oknum tertentu untuk memperkaya dirinya sendiri. Karena itu kualitas sekolah jadi menurun."


Danu tak berkutik. Bagaimana pun juga, perkataan Lilya memang terdengar masuk akal. "K-kamu ini bicara apa... itu cuman hayalanmu saja-"


"Melihat bapak yang semena-mena menyalurkan dana bantuan Udo... sepertinya asumsi orang-orang terbukti benar." Lilya melipat tangan di dada lalu menyender ke punggung kursi sambil tersenyum.


"Tentu saja tidak! Mana mungkin hal seperti itu terjadi di sekolah ini!" Elak pria 50 tahunan itu enggan percaya.


Brak!


"Kalau gitu mana hak saya?!" Pekik Udo sambil menggebrak meja di hadapannya.


Lilya tersentak, bagitu pun Danu dan beberapa petugas yang sedang bekerja disekitar mereka.


Memanfaatkan momen intens itu, dengan santai Lilya pun meraih HPnya di meja lalu memutar rekaman suara yang memuat seluruh perdebatan selama ini.


Danu terbelalak, sementara keringat dingin mulai mengucur dari pelipis keriputnya. "Apa...?"


"Menurut Lampiran I menteri pendidikan bab VIII tentang pengawasan, pemeriksaan, dan sanksi, tindakan bapak itu termasuk penyalahgunaan, loh. Karena bagaimana pun juga, uang dari pemerintah harus sampai dulu ke tangan siswa yang membutuhkan." Lilya tersenyum simpul. "Sebenarnya yang jadi masalah itu kalau media sampai tahu... dan ada penyelidikan lanjutan. Pertama kasus kematian guru, lalu sekarang dugaan korupsi. Menurut bapak yayasan bakal diem aja?”


Tentu saja Danu tahu apa yang sedang Lilya coba lakukan. ‘Kalau rekaman itu sampai tersebar, sekolah terancam akan ditutup. Maka dari itu pak Danu tidak punya pilihan lain selain menyerahkan uang bantuan Udo sebagai ganti penghapusan rekaman suara itu.’ Singkatnya Lilya ingin Danu yang mengajukan kesepakatan terlebih dulu. Gadis itu telah berhasil menyeret Danu ke dalam situasi yang tidak bisa ia hindari.


Tak bisa berkata apa-apa lagi, Danu pun beralih menatap Udo yang hanya tersenyum penuh kemenangan. Pada akhinya, dengan pasrah ia mengikuti alur yang sudah dipersiapkan Lilya.


Ia pun membuka dokumen data siswa penerima bantuan dan mulai mencatat sesuatu.


"T-tolong hapus rekaman itu. Sungguh saya tidak ada niatan untuk melakukan kejahatan. Saya hanya ingin membantu sekolah ini melewati masa-masa sulitnya," ucap Danu setelah memasukkan sejumlah uang ke dalam amplop, dan menyerahkannya ke Udo.


Dalam hati Lilya sedikit merasa bersalah. Ia tahu kalau pak Danu tidak mungkin berniat buruk, dan asumsinya soal korupsi di sekolah ini hanyalah cerita bohong yang ia karang. Meski begitu, Lilya tidak punya pilihan karena skenario ini juga penting untuk mengikat Udo supaya mau bekerja sama dengannya.


Pada akhirnya Lilya tidak menyesal.