At Least I’M Free

At Least I’M Free
XXXVI



Seperti biasa rumah minimalis itu terasa sepi dan senyap ketika mereka memasukinya. Mungkin karena interior padat dan minimnya pencahayaan, semua nampak seperti bayang-bayang yang menyatu dalam kegelapan.


"Nyokap lo masih kerja, vin?" Tanya Lilya berbasa basi sambil membuka sepatunya.


"Iya." Sementara itu Arvin mulai menaiki tangga yang menghadap ke pintu masuk.


Setelah menaruh sepatunya di rak, Lilya pun segera ikut menaiki tangga. Sejujurnya ia belum pernah naik ke lantai 2. Selama ini hanya dapur dan ruang tengah saja tempat ia biasa berkunjung untuk sekedar mengobrol santai dengan Sarah atau Arvin. Selain karena tidak ada alasan, sang pemilik rumah pun tidak pernah mengajaknya mengunjungi ruangan lain di rumah ini.


Setelah tiba di ujung tangga, mereka langsung disambut koridor panjang yang di kedua sisinya terdapat pintu-pintu layaknya hotel. Sementara Arvin terus berjalan dengan santai, Lilya masih terdiam mengamati.


Meski dari luar terlihat minimalis dan modern, harus Lilya akui kalau bagian dalam rumah ini lebih antik dan jadul.


Lilya mengusap pegangan tangga di sampingnya kemudian menatap debu yang tertempel di jemarinya.


"Kenapa lu?" Tanya Arvin sambil sibuk membuka kunci ruangan paling ujung.


Lilya menggeleng. "Tahu lah kebiasaan gue kalo dateng ke tempat baru." Lilya hendak menghampiri Arvin ketika matanya menangkap satu pintu yang sedikit terbuka di samping kanannya.


"Ini ruangan apa vin?" Lilya mendorong pintu itu hingga setengahnya terbuka dan terkejut mendapati sebuah ruangan bersih serba putih yang hanya berisikan kasur matras dan jam dinding tergantung di tembok sebrangnya.


"Kamar gua." Arvin berbalik, dan ikut melihat kedalam ruangan itu. "Kenapa?"


Lilya melohok. "Yang bener aja, kek begini lo sebut kamar? Ada kasur doang?"


"Ya kan buat tidur. Lu kenapa sih?" Ujar Arvin seolah-olah Lilya lah satu-satunya orang yang aneh di sini.


Lilya menggeleng tak percaya. "Maksud gue, barang-barang yang laen mana? Lemari baju, buku? Ditaruh terpisah gitu?"


"Yup. Lemari gue sama ibu ada di ruangan pakaian." Dengan santai Arvin menunjuk salah satu pintu di sebelah kiri. "Nah kalo buku... di situ." Arvin menunjuk pintu yang baru saja ia buka kuncinya.


Lilya terdiam masih memproses.


"Udah ayo, mo foto buku catetan kan?" Arvin kembali berlalu menuju pintu di ujung lorong dan masuk ke dalamnya.


Meski masih banyak pertanyaan di benak Lilya, untuk sekarang gadis itu lebih memilih mengabaikannya dulu dan ikut pergi menuju ruangan yang dituju Arvin.


"Vin itu sisa ruangan yang laen dipake apa...?" Pertanyaan Lilya tergantung ketika tiba di ambang pintu.


Lagi-lagi ia terkejut.


Sangat berbanding jauh dengan ruangan sebelumnya yang lenggang dan kosong, tempat ini malah penuh sesak dengan rak-rak buku di sekeliling ruangan menutupi dinding hingga ke langit-langit. Lilya perlahan melangkah dengan pandangan beredar mengamati sekitar.


Buk!


Sesuatu menghalangi kakinya hingga Lilya tersandung. Gadis itu pun menunduk dan mendapati kardus-rardus berserakan di lantai.


"Apaan nih?" Lilya berjongkok lalu menilik isi kardus di hadapannya.


"Buku." Jawab Arvin singkat. Satu-satunya bagian yang kosong dari ruangan ini hanyalah meja belajar di tengah ruangan yang sedang duduki Arvin.


"Dulu ini tempat kerja bokap. Dia emang suka tempat kek gini." Arvin menunduk dan mulai membuka lemari kecil di bawah meja, tempat ia menaruh semua buku catatannya.


Lilya masih terkagum untuk berkomentar. Ia mengambil salah satu buku tebal di kardus dan mengamatinya lekat. Itu adalah buku cerita klasik anak-anak yang nampaknya sudah sangat tua dan lapuk.


"K-keren banget kek perpus..." Lilya mendongkak, matanya tak bisa berhenti di satu titik dan terus mengamati segala sudut yang ada. "Tahu gini kan gue bisa pinjem."


"Emang lu suka baca?" Sindir Arvin setengah tergelak. Ia hapal betul kalau Lilya bukan tipe orang yang rela menghabiskan waktunya dengan hanya duduk menyecap tulisan.


"Ya kan dari pada gabut," timpal Lilya yang kembali bangkit setelah menaruh kembali buku di tangannya ke dalam kardus.


Arvin mengangkat setumpuk buku catatan ke atas meja. "Masalahnya kan lu ga pernah gabut."


Arvin mengangguk dan segera mengeluarkan HPnya.


Untuk beberapa saat mereka hanya fokus memfoto tiap halaman yang ada di buku catatan. Hingga akhirnya Lilya memulai rencananya,


"Lo sebenernya tahu kan gue suka ama lo," ujar Lilya tiba-tiba tanpa menghentikan kegiatan memfotonya. "Tapi meski pun dah tahu, lo tetep diem. Bener kali ya yang dibilang Udo, lo naksirnya sama Ersya."


Seketika Arvin terdiam dan perlahan melirik gadis itu. "Kenapa lu tiba-tiba bahas ini?"


"Bener ya?” Lilya menggulum senyum.


Suasana berubah canggung.


Lilya tahu betul kalau hubungannya dengan Arvin tidak akan sama lagi seperti dulu. Mungkin memang sudah sewajarnya masa-masa menyenangkan itu berakhir. Ia bersyukur karena telah melibatkan diri ke dalam kasus yang membuatnya berada di posisi sekarang.


"Gue cape maen rahasia-rahasiaan. Iya gue cuman anak pindahan kemaren sore yang ga ngerti apa-apa, tapi gue bukan si muka dua yang selalu ngalah demi nyenengin temen-temennya lagi. Jadi... sorry ya kalo gue dah nyusahin dan maksa lo buat jujur,” terang Lilya sambil menunduk.


"Lo salah..." Arvin menggeleng seperti menyesal. "Tadinya gua cuman mau ngehargain keputusannya Ersya. Tapi kayaknya... gua emang harus cerita."


Lilya mulai mengangkat wajah dan memperhatikan Arvin dengan seksama.


"Apa pendapat lu soal tempat tinggal Ersya?" Tanya Arvin.


Lilya sama sekali tidak mengerti, namun ia cukup sabar untuk mengikuti. "Mewah... tapi sepi?"


Arvin mengangguk. "Itu salah satu properti punya keluarga konglomerat Kusumaningrum. Kalo lu ga tau, mereka tuh keluarga pembisnis yang punya banyak skandal. Sekarang ini mereka lagi diambang kebangkrutan. Meski gitu mereka masih baik mau 'kasih' salah satu propertinya buat di tinggalin Ersya. Kenapa gua bilang cukup baik? Karena Ersya itu cuman anak angkat kepala keluarga Kusumaningrum."


"Seriusan?" Lilya melohok dan tertegun dengan banyaknya informasi yang ia dengar. "Bentar-bentar, lo tau dari mana?"


"Sama kek gua tahu soal alasan lu dulu pindah? Sisanya gua tanyain langsung ke Ersya." Terang Arvin. "Meski pun udah jadi anak angkat, nama belakang dia gak diganti, karena itu ga banyak orang tahu. Atau bisa dibilang cuma gua satu-satunya yang tahu. Gua cuman pengen hidup dia tenang, makanya gua jaga rahasianya ampe sekarang."


Hening.


Lilya menatap Arvin tajam berusaha memastikan kebenaran di balik ucapannya.


"Jadi maksudnya... sebagai satu-satunya orang yang tahu jati diri Ersya, lo rela tutup mulut demi ngejaga rahasianya? Bahkan kalau pun itu demi kepentingan penyelidikan kematian bokap lo?“


Arvin terdiam. Ia seperti ingin menjawab tapi tidak mau menjawab di saat yang bersamaan.


“Haa… emang bener ya lo segitu sukanya sama dia.” Lilya tergelak. “Terus soal lomba essay yang dimenangin Ersya, itu juga lo yang bantuan kah?”


Arvin hendak menjawab ketika tiba-tiba sebuah ringtone panggilan terdengar.


Lilya melihat layar HPnya, mendapati nama Huga tertera di sana. Tanpa berlama-lama Lilya langsung mengangkatnya.


“Hallo?”


“30 menit lagi kita ketemu di cafe dekat sekolah mu ya. Saya harus cepat-cepat menguji serat woll yang kamu dapat itu…”


“Ok siap.”


Telfon pun dimatikan. Meski Huga bilang ketemuannya 30 menit lagi, Lilya merasa sudah cukup menghabiskan waktu di sini.


“Yahh gue harus cabut nih… Tadi lo mau bilang apa?” Tanya Lilya dengan ceria.


“Yah soal essay… gua gaada hubungannya sama sekali.” Jawab Arvin entah kenapa terkesan asal.


Meski begitu Lilya tidak terlalu mempermasalahkannya toh ada hal lain yang jauh lebih penting untuk diselidiki sekarang.


“Yaudah kalo gitu, ntar gue mampir ke sini lagi yak buat foto.” Lilya melambaikan tangan sebelum berlari kecil meninggalkan Arvin yang terdiam dengan sebelah tangan di bawah meja memegangi beberapa lembar kertas bertuliskan draf essay ‘mikro ekspresi manusia dan kebenaran di baliknya’.