
Lilya melihat buku catatannya dengan tatapan kosong. Penjelasan materi yang sedang diterangkan guru di depan kelas bergaung semu seakan mereka berada di dimensi yang terpisah.
Kantung mata nampak jelas menggantung dibawah mata sayu yang perlahan mulai terpejam. Bisa dibilang malam tadi Lilya tidak tidur, dia terlalu sibuk mencari informasi soal anak angkat Kusumaningrum di internet. Meski telah berjam-jam berselancar dari satu artikel ke artikel lain, hasilnya nihil tak sebanding dengan usaha.
Semua publikasi hanya sebatas berita permukaan yang sudah Lilya ketahui. Situasi menyedihkan ini terjadi akibat kata-kata ambigu Huga kemarin.
"Sebenarnya alur penyelidikan sudah berubah. Mulai dari sini kau akan dibuat bingung dengan baik buruk dan nilai moral yang menyertainya. Definisi keadilan kau akan diuji."
Ketika ditanyai apa maksudnya, Huga malah berkilah akan menjelaskan semuanya jika hasil lab dari serat woll itu sudah keluar.
Lilya menyangga kepalanya yang menunduk dengan kedua tangan. Ia terlalu lelah untuk kesal. Rasa-rasanya lebih baik tidak tahu apa-apa dari pada digantung dengan informasi rancu seperti ini.
Berdiam diri dan menunggu bukanlah gayanya. Lama-lama ia bisa gila termakan rasa penasaran, karena itu Lilya akhirnya membuka mata, dan mengangkat sebelah tangannya.
Hal itu berhasil merebut perhatian semua orang terutama guru yang sedang mengajar.
"Pak maaf... saya kurang enak badan, apa boleh saya ke UKS?" Ungkap Lilya dengan suara parau.
Melihat wajah pucat dan mata merah gadis itu, guru itu pun mengangguk setuju. "Ya silahkan."
Perlahan Lilya bangkit, tetapi sebelum benar-benar hilang di balik pintu ia menoleh menatap Arvin yang juga sedang memperhatikannya. Segurat senyum terlukis dan Lilya pun berlalu ke luar.
Seakan mengerti, Arvin pun segera mengangkat sebelah tangannya. "Pak saya izin ke toilet sebentar."
"Ck, yasudah cepat." Guru itu nampak kesal karena telah diintrupsi saat mengajar lebih dari sekali. Meski begitu ia hanya mendecak dan melnjutkan kegiatannya dengan sikap acuh.
Dengan cepat Arvin beranjak, setengah berlari mengejar Lilya yang ternyata sedang berdiri menyender di tembok samping daun pintu menunggunya.
"Ayo." Lilya menarik tangan Arvin dan berjalan menjauh dari kelas. "Vin... Anter gue yak."
"Ke UKS? Kalo ga kuat mending pulang aja, gua yang bawa motor." Tawar Arvin sambil menghentikan langkahnya.
Lilya menoleh dan tersenyum. "Makasih perhatiannya, tapi gue sebenernya gapapa kok. Kurang... tidur doang."
"Ok, jadi sekarang lu ke UKS buat tidur?" Tanya Arvin dengan ragu.
Lilya menggeleng. "Ke kelasnya Ersya."
"Kok malah kelasnya Ersya?" Arvin mengernyi. "Jangan bilang lu mau mastiin langsung soal omongan gua kemaren?"
"Bukan sih."
"Ohh... lu ga tidur gegara sibuk nyari info soal itu ya? Emangnya informasi yang gua kasih kemarin segitu ga bisa dipercaya ya?" Arvin menatap Lilya intens seakan tak terima.
"Gue lagi males ributin itu sekarang...." Lilya menguap lebar. "Lo kalo ga percaya juga gapapa, intinya gue mau ke kelasnya Ersya sekarang."
Melihat Lilya yang hendak pergi Arvin pun menahan tangan gadis itu. "Lu ga tau kelasnya di mana kan? Makanya tadi nungguin gua ke luar."
"Nah itu tau, dah sekarang anterin gue." Lilya tersenyum jahil.
...* * *...
Tentu saja keadaan koridor sepi karena waktu masih menunjukan waktu pembelajaran. Kendati demikian Lilya dan Arvin tetap bergegas melewati kantin, lalu menaiki tangga menuju lantai 3 gedung sebelah timur sekolah hingga akhirnya mereka sampai ke tempat tujuan.
Di hadapan pintu kelas yang tertutup rapat Lilya menguap lebar sambil mendengarkan suara sayup seseorang yang sedang mengajar di dalam kelas. “Ini bener kelas 11 Tata Busana C?"
"Iya." Jawab Arvin yang berdiri tepat di sampingnya.
"Kelasnya Ersya kan?" Tanya Lilya lagi.
Arvin menghela nafas panjang. "Dah ya, biar gue aja yang ngomong."
Perlahan Arvin membuka pintu kelas dan menjulurkan kepalanya. "Permisi..."
Di dalam kelas itu suasananya langsung berubah senyap. Perhatian murid yang didominasi oleh perempuan itu pun jadi tertuju ke Arvin.
Arvin menunjukan sikap tenang dan mulai membuka suara. "Maaf, saya ada perlu dengan Ersya sebentar," Arvin lalu mengedarkan pandangan meperhatikan wajah-wajah di dalam kelas hingga akhirnya tersadar kalau orang yang dicarinya itu tidak ada di antara mereka.
"Ersya hari ini ga masuk, ijin ada acara keluarga."
BRAK!!
Tiba-tiba pintu terbanting, menampilkan Lilya dengan kedua tangan terulur ke depan seakan baru mengerahkan seluruh tenaganya untuk mendorong pintu.
"Gak mungkin banget! Selama ini dia selalu dianggap sebagai orang luar. Kalau pun emang ada acara keluarga pasti bakal ada pemberitaannya." Sanggah Lilya sementara semua orang terutama Arvin terbelalak kaget.
"M-maksudnya...?" Tanya guru itu kebingungan.
Dengan panik Arvin langsung berdiri di hadapan Lilya dan membalikan tubuh gadis itu. "Maaf sudah mengganggu kegiatan belajar mengajarnya, kami permisi dulu. Terima kasih."
Sembari terus mendorong Lilya, Arvin menoleh dan tersenyum malu, lalu segera menutup pintu kelas meninggalkan orang-orang dalam bingung.
"Kenapa buru-buru gitu sih? Gue kan masih pengen ngomong." Protes Lilya segera melepaskan diri.
Arvin memijat pelipisnya yang mendadak pening. "Lu tuh kurang tidur apa lagi mabok? Inget, yang tau soal keluarga Ersya itu cuman kita. Lu tadi hampir aja ngebacot soal itu."
Lilya menelengkan kepala dengan sikap polos. "Iya kah?"
Arvin penepuk jidatnya. "Gua anterin pulang ya, lu bener-bener perlu tidur."
"Oke! Kalo gitu ayok samperin ke rumahnya aja." ujar Lilya sambil mengacungkan kepalan tangan dan berlalu begitu saja. "Ersya masih tinggal di rumahnya yang gede itu kan?"
"Kok malah- nih harus banget ke sana sekarang?" Arvin buru-buru mengekori. "Ntar pulang sekolah aja napa."
"Gak bisa... pengen sekarang. Kalo ga mau ikut gpp, ntar tolong bilangin ke guru gue sakit jadi pulang duluan, ok?” ujar Lilya enteng.
Arvin menghela nafas lelah, ia nampak menimbang-nimbang sebelum akhirnya menjawab. "Mana bisa gua ngebiarin lu bawa motor sendiri. Yaudah deh gua anter."
Sambil terus melangkah, senyuman perlahan mengembang di wajah Lilya.
Setelah membuat alasan dan meminta surat ijin pulang, akhirnya mereka pun bergegas menuju rumah Ersya. Sayangnya, apa yang di dapati mereka di sana benar-benar di luar dugaan.
"Non Ersya tadi pagi beneran berangkat sekolah kok," ujar wanita tengah baya yang merupakan salah satu penjaga kediaman megah ini.
"Seriusan?"Arvin menyipitkan mata, sementara Lilya berusaha mengintip sela diantara badan wanita itu dengan gerbang yang dibuka sedikit.
"Iya. Dia dijemput nak Renaldi pakai mobil, emangnya ada apa ya?" Tanya wanita itu dengan kebingungan.
"Lia... dia ga boong," ujar Arvin seperti kecewa.
"Ah masa." Tanpa aba-aba Lilya mendekat dan langsung mencengkram kerah baju wanita itu. "Ersya kemana? Di sekolah kagak ada, dia sama Renaldi pergi kemana?"
"S-saya sudah bilang, tadi pagi nona pergi ke sekolah seperti biasanya. Saya tidak tahu kalau di sekolah juga dia tidak ada." Raut panik tergambar jelas di wajah penuh keriput halus wanita itu. "Sekarang saya harus apa... nona adalah tanggung jawab saya..."
Lilya melepaskan cengramannya lalu menoleh menatap Arvin. "Vin ke rumah Renaldi gih, check kali aja mereka di sana."
"Lah, terus lu?"
"Gue mau coba cari... HPnya pake gak aktif lagi.”Lilya kembali menatap tajam wanita di hadapannya. "Biasanya Ersya main ke mana?"
Wanita itu nampak gugup dan terbata. "I-itu ke..."
"Lia bentar dulu." Arvin mengalihkan perhatian Lilya. "Kalau di rumah Renaldi juga gaada, gimana?"
Lilya tergelak. "Ya bagus dong?"
"Kok bagus?" Arvin melihat Lilya tersenyum penuh kepuasan seakan telah mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Pilihannya cuman dua, antara beneran bolos atau… mereka tahu Huga udah pegang barang bukti yang bakal nyeret mereka.”