At Least I’M Free

At Least I’M Free
XXIII



Sejak mengenal Ian, Anggia selalu bertanya kepada dirinya sendiri tujuan dari setiap usahanya mendekati pria itu. Jadi rekan kerjanya? Teman? Atau bahkan perusak hubungan rumah tangganya?


Anggia sendiri tidak yakin.


Selagi ia bisa berada di dekat Ian, itu sudah lebih dari cukup. Begitu pun soal perasaannya, apakah itu kekaguman? Rasa suka? Atau bahkan cinta? Anggia juga tidak bisa memastikannya.


Namun, pada suatu hari di jam istirahat semuanya jadi jelas, sejelas gunung di tepi laut.


Pada awalnya Anggia didatangi murid laki-lakinya di kantor guru.


'Temanku ditindih, dia kesakitan," ujarnya dengan tatapan kosong dan tangan bergetar.


Respon pertama yang diberikan Anggia tentu saja menenangkannya. Sambil mengelus kepala muridnya itu, Anggia bertanya dengan lembut. "Oh ya? Kalian main apa emang sampai dia begitu?"


Tidak ada jawaban.


"Kamu sendiri gak kenapa-napa kan?"


Hening.


"Yaudah coba sini ibu periksa, temanmu itu ada di mana?"


Setelah mendengar itu, barulah si anak laki-laki merespon dan menuntun Anggia berjalan menuju tempat itu.


Suasana sekolah di kala istirahat memang sangat ramai. Anak-anak dengan riang bermain dan berlarian di lapang, meski ada juga beberapa murid yang memilih diam memakan bekal makan siangnya.


Masih mengikuti anak itu, Anggia mulai bertanya-tanya permainan macam apa yang membuat anak ini sampai seserius itu menanggapinya.


Melewati koridor ramai, lalu berbelok, dan suasana koridor pun berubah sepi. Anggia mengamati sekitar, ia hapal kalau koridor ini hanya mengarah ke satu tempat, yaitu perpustakaan.


Perasaan Anggia jadi aneh. Ia bertanya-tanya, permainan macam apa yang dimainkan anak-anak di perpustakaan?


Meski begitu Anggia tetap sabar dan mengikuti, hingga mereka tiba di depan pintu. Anak lelaki itu menunduk seperti enggan membuka pintu. Kedua tangannya pun tertaut gemetaran.


"Kamu kenapa nak? Temanmu ada di dalam kan?" Tanya Anggia berusaha menenangkan, meski tentu saja hasilnya sia-sia.


Pada akhirnya, meski dengan perasaan tidak enak Anggia pun memutar kenop pintu itu dan mendorongnya pelan. Di dalamnya sebuah siluet terlihat.


"Apa..."


Seketika Anggia membeku melihat pemandangan yang menyambutnya. Seakan kehilangan kendali atas tubuhnya, wanita itu mulai terkulai lemas jatuh ke lantai.


Bagaimana tidak, di hadapannya nampak pria yang sangat ia kagumi tengah 'menindih' seorang anak perempuan yang nampak sudah tidak sadarkan diri.


...* * *...


Kembali di masa sekarang, di hadapan Huga Anggia mengakui sosok sebenarnya dari korban pembunuhan naas yang kemungkinan besar terjadi akibat dosa besar yang telah diperbuatnya di masa lalu.


Untuk sesaat keheningan menguasai. Huga memberi waktu agar Anggia bisa lebih nyaman. Sementara itu Anggia menyalakan rokok ke 5 dan menyesapnya dalam. Meski sudah bertahun-tahun terlewat, insiden itu masih sering menghantuinya seakan baru terjadi kemarin.


"Bahkan di mimpi pun aku masih diteror kejadian itu." Anggia menghamburkan asap dari mulut dan hidungnya. "Rasa bersalah juga sering bikin aku mikir untuk mengakhiri hidup. Tapi aku gak bisa kabur gitu aja, dosa ini juga harus aku tanggung. Ngakak sih kalau mikir sejak hari itu juga aku jadi kecanduan rokok."


Huga yang biasanya memasang senyum pun kini menunjukan wajah datar dengan mata seperti sedang menatap ke sesuatu yang sangat jauh. "Jadi… semua itu terjadi di perpustakaan ini ya?"


Anggia mengangguk dan menunjuk dengan rokoknya ke arah tempat Huga duduk. "Di bawah situ."


"Kalau menurutmu semuanya selesai begitu saja, tentu mas Huga salah besar.” Anggia kembali menyesap rokoknya lalu bersiap bercerita lagi. "Yang aku lakuin setelah melihat kejadian itu tentu saja mengamankan murid-muridku dan melapor ke kepala sekolah. Sebelum aku tahu kalau itu juga keputusan yang keliru…. Masalahnya ada di keluarga si anak perempuan yang jadi korban. Hubungan mereka sangat rumit. Mas Huga tahu kan keluarga konglomerat Kusumaningrum?"


"Pengembang properti yang pernah tersandung masalah hutang?" Tanggap Huga.


"Yup, dan anak perempuan ini adalah anak angkat mereka." Kemarahan nampak jelas di wajah Anggia. "Meski statusnya 'anak angkat', dia itu sebenarnya cuman alat buat ngebeli simpati masyarakat. Bukan cuman gak dapet hak waris, nama Kusumaningrum pun gak secara legal tertulis di akta dan dokumen anak itu. Yahh mesiki pun, mungkin, secara finansial anak ini jadi lebih terjamin ketimbang saat dia masih tinggal di panti asuhan. Tapi tetap saja..."


"Ahh... saya mengerti. Tentu saja bagi Konglomerat yang telah berhasil memulihkan namanya dengan tindakan ‘rendah hati’ mengadopsi anak dari panti asuhan, pasti akan sangat 'merugikan' kalau sampai berita soal anak adopsinya itu dilecehkan oleh gurunya tersebar."


"Mereka juga bakal dicap buruk, lalai, dan tidak bertanggung jawab dalam menjaga anak itu, dan hanya kehancuran saja yang akan menanti mereka beserta bisnis-bisnisnya." Tambah Anggia. "Di sisi lain juga ada kepala sekolah yang punya pemikiran sama terbelakangnya. Dia takut disalahkan yayasan karena tidak mampu menjaga reputasi sekolah. Mas Huga pasti tahu dong apa yang bakal terjadi selanjutnya?”


"Kerjasama dalam penutupan kasus, penyelesaian secara kekeluargaan,” jawab Huga dengan tepat.


Anggia tergelak. "Mereka bahkan berusaha menyuap saksi bahkan si pelaku itu sendiri supaya enggak buka mulut ke pihak luar. Tentu saja aku menolak uang itu, lebih dari apa pun aku ingin memperjuangkan keadilan korban hingga akhir. Tapi..."


"Kau tidak punya power melawan orang-orang berkuasa itu sendirian. Pada akhirnya kau menanggung dosa yang sama berarnya dengan si pelaku." Dengan tenang, Huga menjabarkan apa yang sulit Anggia utarakan.


"Semua orang terpuaskan, bahagia dan lega. Terkecuali si gadis malang itu." Air mata mulai membasahi pipi Anggia. Ia menunduk dalam seakan sedang memikul dosa yang sangat besar di pundaknya.


"Dan yang paling diuntungkan dari semua itu adalah Ian." Huga tersenyum lirih. "Setelah lolos dari hukuman dengan jejak kriminal yang telah 'dibersihkan', dia bisa dengan mudah melanjutkan hidup seakan tidak terjadi apa-apa. Bahkan perceraiannya pun tidak berdampak baginya.”


"Mungkin sedari awal Ian tahu akan berakhir seperti ini, makanya dia memilih anak itu.” Dengan penuh emosi Anggia menjejalkan rokonya kedalam kotak besi.


"Lalu kenapa kau memilih surat dengan kata-kata ambigu untuk mengancamnya?" Tanya Huga.


Tanpa membalas tatapan Huga, Anggia menjawab, "karena dia pecinta sastra, kurira surat semacam itu bisa lebih berdampak?"


Huga menghela nafas panjang sebelum menyenderkan punggung ke kursi dan menunduk dalam. "Benar-benar informsi yang berguna. Anak itu... berarti sekarang usianya sudah 17 tahun? Apa kau punya informasi lain soal dia?"


"Tidak ada. Dari pada itu, kenapa kau tidak menaruh curiga kepadaku? Bukankah aku punya motif yang kuat untuk menghabisi Ian?"


"Kau benar." Huga tersenyum. "Tapi saat pembunuhan itu terjadi, kau sedang sibuk mengantar murid-murid yang ikut lomba marching band di alun-alun kan? Dan menurut kesaksian guru-guru lain, juga video dokumentasi yang sempat saya tonton, kau masih berada di sana bahkan setelah acara selesai malah harinya."


"Jadi selama menunggu aku tadi, anda..." Anggia nampak tertegun. Meski begitu matanya memancarkan persaan lega yang kentara.


"Setengah jam itu bukanlah waktu yang sebentar," timpal Huga sembari membereskan kotak besi yang telah penuh sampah dan abu rokok bekas Anggia.


"Mas Huga ini benar-benar seorang detektif ya," ujar Anggia yang nampak sudah baikan. "Terus soal kesaksianku ini, apakah aku akan baik-baik saja? Soalnya kalau pihak konglomerat itu sampai tahu…”


“Insidennya sudah lama, pelakunya sudah meninggal, buktinya sudah tidak ada. Tidak ada alasan bagi mereka untuk mengurusi kesaksianmu itu, dan kalau pun hal terburuk sampai terjadi… saya sendiri yang akan bertanggung jawab.” Huga melempar senyuman, dan setelah mengantongi semua barang-barangnya, ia pun bangkit. "Sekali lagi terima kasih atas informasinya."


"Yah... aku juga gak menyangka hari seperti ini akan datang. Aku kira semuanya harus aku tanggung sendirian sampai mati..."


Huga terdiam dan menatap Anggia yang menunduk lesu. "Yang terjadi di masa lalu itu bukan salah kau. Lagi pula Ian sendiri sudah mendapat ganjarannya sekarang. Berbahagialah."


Seketika Anggia tergelak. "Mana bisa berbahagia diatas kematian seseorang!"


"Dalam kasus ini sih sepertinya boleh-boleh saja." Huga tersenyum jahil. "Oh ya, setelah semuanya selesai, kapan-kapan, apa tidak apa-apa kalau saya ajak kau makan malam?"


"E-eh? Apaan? A-anda ngajak aku kencan?" Dengan wajah memerah Anggia nampak bersemangat.


Sementara itu Huga hanya tersenyum dan berlalu ke luar.