ARIKA

ARIKA
27



HAPPY READINGšŸ’›


"Nissa!"


"Kau tau? Nyaris saja kau dimakan! Apa yang kau pikirkan? Hingga tak memanggilku! Apa kau sudah berlagak sok kuat sekarang?" Tanya Nissa dengan emosi yang meledak-ledak. Ternyata benar firasatnya.


"Aku tak ber-"


"ARIKA?" Panggil seseorang laki-laki dari arah kejauhan, membuat Arika menyipitkan matanya guna melihat lebih jelas siapa orang itu. "Ternyata benar lo! Gue tadi denger suara teriakan cewek, dan itu lo?" Ucap laki-laki itu setelah sampai dihadapan Arika dengan nafas yang memburu.


Situasi disini kacau! Benar-benar kacau! Apa ini? Gilaa!


"Daniel?" Ucap Arika bingung, mengapa laki-laki ini bisa ada disini? Tengah malam begini!


"Kenapa lo bisa sampai sini?" Seharusnya Arika yang bertanya seperti itu!


"Kau pergi lah dengan laki-laki itu, soal rencanamu nanti saja! Biarkan aku mengurus ini." Suruh Nissa.


Daniel mengulurkan tangannya bermaksud menolong Arika tuk berdiri, dan diterima Arika.


"Emm, kita pergi yuk?" Ajak Arika mengahlikan topik pembicaraan.


"Ya, disini agak dingin ya?" Tanya Daniel mengusap tengkuk lehernya.


Itu merinding, jelaslah disini ada dua hantu dengan energi kuat. Batin Arika mengumpat tertahan.


Sepeninggalnya Arika, Nissa menatap datar hantu didepannya ini.


"Kau hanya makhluk lemah yang mempunyai energi kuat, bisa-bisanya hantu sepertimu jadi penguasa disini?" Ejek Nissa tersenyum miris.


"Aku mengumpulkan energi dengan kekuatanku sendiri! Tidak sepertimu, dasar parasit! Cepatlah reinkarnasi." Teriak hantu itu marah dengan aumannya yang membuat merinding.


Nissa terdiam mendengarkannya. Tangan gadis itu ia arahkan ke atas, dan seketika hantu tersebut melayang ke atas. Dicengkramnya semakin kuat hingga membuat hantu tersebut menjerit kesakitan lalu kemudian hancur menjadi kabut berwarna hitam.


Kabut itu terbang memasuki tubuh Nissa, "Ini lah sebabnya aku tidak suka menolong." Nissa menatap tangannya sendiri, "Reinkarnasi? Kau tau apa tentang hidupku." Gumam Nissa yang mendadak hilang bak ditelan angin.


Seketika suasana yang awalnya mencengkam kini menjadi sedikit damai.


ā™”KOMENā™”


"Jadi?"


Arika mengerutkan keningnya, "Apa?"


"Kenapa lo bisa disana? Mana tengah malam begini!"


"Kamu tau kan kalau aku diskor?" Daniel terkejut namun sedetik kemudian dia mengangguk pelan, "Dan kamu juga pasti tau kan tentang berita yang akhir-akhir ini sedang panas?" Lagi-lagi Daniel mengangguk, "Gara-gara berita itu semua Guru menyalahkanku."


"Jadi lo kesana berniat mengajak bicara hantu itu?" Tanya Daniel yang sudah paham betul dengan semuanya, walaupun dia tadi sempat terkejut dengan semua fakta ini.


"Ya seperti itu."


"Lo gak tau kalau tindakan lo ini berbahaya? Apalagi tadi gue merasa tuh sekolah udah gak beres lagi."


"Ya aku tau, tapi aku harus gimana lagi? Aku tak mau diskor terus Ayah akan memindahkan sekolahku lagi! Aku sudah nyaman dengan kalian semua, aku tak mau memulai dari awal lagi!"


Deg.


Blush.


Daniel memalingkan wajahnya ke samping, bisa-bisanya ia blushing dengan kalimat singkat itu!


"Aku tak tau lagi harus gimana?" Gadis itu melipat kedua tanganya seraya membenamkan wajahnya diatas lipatan tangannya, "Semua orang menyudutkan ku seolah semua ini adalah kesalahan ku padahal aku tak tau apa-apa." Lanjut Arika menatap langit malam dengan ditaburi banyak bintang.


Angin malam berhembus, menerpa tubuh gadis rapuh tersebut membuat sebagian anak rambut Arika menghalangi pengheliatan gadis itu. Tangan gadis itu terulur guna menyelipkan beberapa anak rambutnya kebelakang namun langsung ditahan Daniel.


"Lo gak sendiri, gue ada! Dan mungkin Daffa akan ikut membantu juga?" Ucap Daniel dengan senyum meyakinkan sambil menyelipkan beberapa helai rambut Arika ke belakang telinga gadis itu.


"Thanks." Ucap Arika membalas senyuman hangat Daniel.


Kedua sejoli itu nampak saling tatap satu sama lain, menyiratkan perasaan hangat yang entah sejak kapan hinggap ralat hanya Daniel yang merasakan seperti itu hingga membuat jantung lelaki tersebut berpacuh lebih cepat dari pada biasanya.


Arika mengerutkan keningnya bingung saat dirasa tangan Daniel tak kunjung lepas dari telinganya, "Nil? Daniel! Hey!"


"Ha?" Beo Daniel sembari mengedipkan matanya polos.


"Tanganmu?"


Cukup lama Daniel berfikir akhirnya cowok itu sadar juga, "Oh! Sorry..." Gugup Daniel yang hanya dibalas Kekehan dari Arika.


Be*o lo Nil. Batin Daniel mengumpat pelan. Bisa-bisanya dia ngebug disituasi seperti itu.


"Oh iya Rik, lo cewek pemberani yang pernah gue temui loh! Bisa-bisanya lo ke sekolah tengah malam begitu." Ucap Daniel mencoba merubah suasana.


Berani apanya? Tadi tuh nyawa aku udah kayak ditarik paksa tau! Untung aja tadi ada Nissa, kalau gak ada udah end aku disana. Batin Arika tersenyum kikuk seolah berkata 'iya, terimakasih.'


"Eh iya, kamu sendiri ngapain kesana? Ini kan tengah malem?"


"Gue? Gue ke sana rencananya mau ambil buku biologi gue yang ketinggalan diloker eh malah denger teriakan cewek, yaudah gue samperin."


Arika hanya membalasnya dengan mengangguk-anggukkan kepalanya saja, "Aku pertama kali liat kamu itu. Aku kira kamu orangnya gak asik! Eh ternyata perkiraan aku salah."


"Emang wajah gue terkesan galak ya?"


"Enggak, wajah kamu tuh kayak dingin-dingin gimana gitu sampai aku gak berani deketin."


Daniel tertawa mendengarkannya, "Memang gue berniat seperti itu ke lo tapi ada sesuatu yang ngedorong gue buat gak ngelakuin lo kayak gitu."


"Apa?" Tanya Arika seraya menatap Daniel bingung yang ditatap malah asik menatap bintang.


"Nanti juga lo tau..."


.


.


.


.


.


MAAP KU KELUPAAN UP INIšŸ™ LIKE! KOMEN! GRATIS KOK😊