
HAPPY READING
.
.
"gue janji setelah masalah ini selesai, gue nggak bakal usik kehidupan lo lagi, janji"
Daffa Arya Ghossan
.
.
.
"astaga Daffa aku nya lupa, bentar nya ini lagi meluncur, okee 5 menit lagi tungguin aku" ucap panik dia dari sebrang telpon
ya memang kami sudah membuat rencana untuk ketemuan di taman sebagai kencan pertama kita
"oke" jawab gue singkat lalu mematikan telpon menunggu nya datang
5 jam
6 jam
7 jam
selama itu gue nungguin dia tapi tak kunjung datang sambil membawa sebucket bunga mawar untuk gue berikan kedia
"Vania kemana ya? apa dia tersesat lagi? nggak mungkin kan gue udah kasih lokasi nya" gumam gue sambil mengotak atik handphone gue barangkali ada notifikasi dari dia, tapi nihil tidak ada satu pun pesan atau pun telpon dari dia
gue semakin panik di buat nya, gue udah pesan sebanyak 50 kali, telpon juga 50 kali tapi tidak ada satu pun yang di balas
waktu semakin berjalan hingga hari mulai sedikit gelap dan dengan terpaksa gue meninggalkan taman itu menujuh rumah nya, mungkin saja dia lupa ya kan? pikir gue waktu itu mencoba poitif thinking
tapi saat gue ingin membuka pintu mobil gue, handphone milik gue bergetar menandahkan ada telpon
gue kira itu dari dia tapi nyata nya itu dari nomor tak di kenal yang entah milik siapa, karena menurut gue penting akhir nya gue memutuskan untuk mengakat nya
"halo" ucap suara perempuan dari sebrang sana
"iya halo"
"saya tidak tau anda siapa tapi yang jelas nomer anda yang hanya ada di telpon nona Oktavania Lucy sekarang beliau sedang di rawat di rumah sakit JL mawar no 5 dengan keadaan yang di nyata kan koma" ucap perempuan itu dengan lebar
mendengar itu gue langsung mematikan handphone gue dan mulai menancapkan gas dengan kecepatan penuh membiarkan diri gue di sumpahi banyak kendaraan karena gue bawa mobil terlalu ugal ugalan
"Oktavania Lucy di mana!" ucap gue pada perawat yang berlalu lalang
"oh pasien atas nama Oktavania Lucy mari ikut saya" ucap perawat itu membawa gue menujuh ruang bertuliskan ICU yang telah tertutup rapat mungkin karena Vania masih di rawat di sana
setelah mengantarkan gue perawat tersebut langsung pergi sedangkan gue duduk di kursi besi yang telah di siapkan di sana sambil memikir kan keadaan Vania
gue yang bodoh karena membiarkan Vania pergi sendirian tanpa di anter! gue emang gak becus jaga gadis gue!
jika kalian bertanya di mana kedua orang tua Vania? dia sejak kecil sudah di tinggal kedua orang tua nya dan semenjak kecil Vania diasuh oleh panti asuhan
setelah dia sudah beranjak SMP gue mengangkat nya menjadi sketaris pribadi gue di perusahan milik gue, ya gue udah jadi CEO di sana menggantikan Daddy gue yang pensiun
5 jam berlalu
akhirnya pintu ICU itu terbuka menampilkan dokter dan beberapa perawat dengan keringat yang bercucuran langsung saja gue menghampiri dokter itu
"dok bagaimana?"
"maaf, apa anda keluarga pasien?"
"bukan tapi saya kekasih nya" jawab gue enteng membuat dokter itu terkejut tapi hanya sekilas
"pasien mengalami kecelakan hebat hingga menggakibatkan tulang kepala nya retak, saya belum memastika apakah pasien mengalami gagar otak atau amnesia dan di tambah lagi pasien mengeluarkan banyak darah jadi dapat di pastikan pasien koma panjang atau meninggal tapi untuk sekarang pasien di nyatakan koma, saya pamit undur diri" jelas dokter itu panjang lalu mulai pamit untuk pergi beserta beberapa perawat yang mengikuti nya di belakang
setelah mendengar itu gue buru buru melihat keadaan nya
dan terlihat lah pujaan hati gue yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit beserta alat alat medis yang melekat di tubuh nya
perlahan gue menghampiri nya dan menatap nya sedih
tes tes
tak terasa bulir bulir bening mengalir deras di pipi gue
"vania bangun please" lirih gue dengan air mata yang terus saja mengalir
BERSAMBUNG
VANIA😢
LIKE, KOMEN, KASIH RANTING 5, VOTE DAN TAMBAH KAN FAVORIT👈 JANGAN LUPA😟
SEE YOU NEXT CHAPTER😉
BABAY~