
💛HAPPY READING💛
Hanya terdengar suara detingan sendok, dan garpu yang saling beradu. Gadis dengan setelan baju rumahan ditubuhnya kini nampak mengigit bibirnya bingung, dia harus mengatakan apa kepada kedua orang tuanya?
"Kenapa tidak dimakan, Arika? Apa masakan Mommy tidak enak?" Arika tersentak sekilas.
"Enak kok." Jawab Arika kikuk.
"Lekas lah makan lalu tidurlah, besok pagi sekali kamu sekolah."
"Emm Dad, Mom..." Panggil Arika sembari mengigit bibir bawahnya pelan.
"Ya?" Jawab Daddynya begitu juga dengan Mommy Arika yang nampak memasang baik-baik telinganya.
"Arika diskor." Lirih Arika yang nyaris tak terdengar.
Citra mengerutkan keningnya bingung, "Kamu bilang apa, sayang?"
"Arika diskor Mom." Jawab Arika ragu-ragu.
"Kenapa? Kamu melakukan kesalahan apa?"
"Sekolah mana? Biar Daddy yang urus sekolahan itu."
"Jangan Dad! Karena sebenernya Arika lah yang bandel."
"Kamu melakukan pelanggaran berat apa, nak?" Arika gelagapan mendengar pertanyaan lembut dari Mommynya itu.
"Arika menghilangkan sesuatu dilab komputer." Alibi Arika, tak mungkin kan jika ia mencoba jujur? yang ada dirinya malah dianggap gila lagi oleh keluarganya, dan Arika tak mau hal itu terjadi.
"Mudah, itu bisa diurus dengan uang."
"Tak hanya itu! Arika menganggu teman, Arika tidur saat pelajaran dimulai, dan terakhir Arika bolos saat pelajaran berlangsung." Kedua orang tua Arika membulatkan matanya sempurna bahkan Alvian sempat tersedak makanannya.
"Daddy kira kamu putri Daddy yang tak akan melakukan hal buruk semacam itu!"
"Mommy kecewa padamu, nak! Mommy sudah mengajarkanmu pentingnya berperilaku sopan! Tapi sekarang apa?"
Arika hanya diam sembari menundukkan kepalanya dalam-dalam, sudah biasa dirinya berada dilingkungan ini. Lingkungan dimana dirinya dipaksa rajin serta menurut semua ucapan kedua orang tuanya.
Kali ini Arika akan bertindak sedikit keras kepada kedua orang tuanya itu yang kini nampak menatapnya tajam, perlahan kepala Arika terangkat keatas. Gadis itu balik menatap tajam kedua orang tuanya.
"Mommy gak mau kamu kena masalah lagi yang nantinya bisa menurunkan semua nilai kamu! Mommy mau kamu selalu peringkat pertama!"
"Aku sudah capek, Mom. Aku gak peduli lagi." Balas Arika tenang, kedua orang tuanya terkejut melihat perubahan putri tunggalnya itu.
"Arika!" Alvian berseru dengan nada tegasnya, "Maksud kamu apa, hm?"
Arika menoleh menatap Daddynya yang kini sudah mengeluarkan aura tegasnya, "Aku bosen jadi anak ambis. Aku bosen ngejar nilai. Aku bosen sendirian dikelas. Aku bosen gak punya temen. Aku pengen sekolah yang normal Mom, Dad."
"Berani sekali kamu menentang keputusan kita! Kami adalah orang tua kamu Ar-"
Arika memotong ucapan Daddynya itu "Aku tau Mommy sama Daddy pengen yang terbaik buat aku. Tapi kalau gini Mommy sama Daddy sama aja nyiksa aku tau nggak? Selama ini aku diem, aku nurut, tapi sekarang aku capek. Aku pengen hidup seperti kemauan aku Mom, Dad."
Brakk.
Alvian mengebrak meja didepannya dengan perasaan marah, lelaki paru baya itu bangkit berdiri dari duduknya seraya menghampiri putri tunggalnya.
Plakk.
Arika nampak memegangi pipinya yang serasa terbakar, dirinya terkejut dengan sikap Daddynya ini. Sungguh seumur hidupnya baru kali ini dirinya ditampar dengan Daddynya.
"Kamu sudah keterlaluan! Sekarang Daddy minta Kamu segera ke kamar! Kamu dilarang keluar kamar kamu sebelum pikiran kamu sudah jerni kembali." Suara tegas itu menggema diseluruh penjuru rumah mewah tersebut hingga membuat Citra bangkit berdiri lalu menangkan suaminya itu.
"Wow! Pertempuran yang sangat memukau! Mau aku bantuin?" Tanya Nissa yang tiba-tiba datang. Arika tak menjawab, gadis itu justru bangkit berdiri lalu mulai menjauh dari sana.
"Anak nakal itu! Sepertinya membutuhkan sedikit pelajaran!"
"Tenang dulu suamiku."
"Cih, dasar orang tua." Nissa menatap malas ke arah dua orang didepannya ini lantas pergi dari sana.
Jika saja Arika menyetujui penawarannya tadi mungkin saja kedua sejoli itu sudah musnah sekarang juga.
🎈KASIH HADIAH DONG🎈
Blam.
Arika menutup perlahan pintu kamarnya. Tubuh gadis itu meluruh dibalik pintu kamarnya sendiri. Gadis indigo itu meringkuk memegang kedua kakinya yang dilipat didepan dada.
Perlahan cairan bening mengalir begitu saja Dari kelopak matanya tanpa diminta. Sudah tak dapat dibendung lagi, rasa sesak dirongga dadanya kini semakin menjadi. Isak tangis pilu terdengar dikamar kedap suara itu.
"Dasar cengeng." Lagi-lagi Nissa datang, setelah menembus tembok kamar Arika.
Arika tak menghiraukan ucapan Nissa, dia lagi tak mood untuk sekedar berdebat, "Hiks aku hanya ingin bebas hiks kenapa? Kenapa mereka kejam sekali, aku hiks hanya melakukan satu kesalahan tapi langsung berdampak besar baginya."
Nissa ikutan duduk disamping Arika yang masih meringkuk, ditepuknya perlahan bahu Arika yang nampak bergetar hebat, "Kau tau?" Lagi-lagi tak ada jawaban, "Menangis tidak menyelesaikan masalah." Arika mendongak mendengarkannya.
"Tapi hiks dengan menangis kita bisa merasakan rasa lega."
"Yeah, aku tau itu." Nissa menarik nafasnya panjang, "Jalan satu-satunya adalah, sekarang kau harus mencari tau kebenaran itu lalu kembali bersekolah disana dengan damai seperti sedia kala."
"Tapi bagaimana?"
"Kau tak sendiri, aku selalu ada disini." Nissa tersenyum, membuat Arika ikutan tersenyum. Percayalah senyum itu menular! Maka tersenyum lah agar orang yang berada disamping kalian ikut tersenyum.
"Apa kamu bersedia untuk berbagi tempat?"
Nissa cemberut mendengarkanya, "Cepet lah selesaikan tugasmu agar aku tak melihat lagi wajah mengerikan arwah itu." Arika tertawa pelan.
"Entah lah, mengapa akhir-akhir ini aku sering merasakan lemas? Sepetinya aku kurang tidur, mybe?" Ucap Arika lalu pergi dari sana, hendak tidur dikasur empuknya itu.
Nissa tersenyum kikuk mendengarkannya, itu semua adalah ulah Nissa.
Manusia, dan arwah sangat tak dianjurkan untuk saling berdekatan terlebih lagi berdekatan dengan arwah penuh kebencian seperti Nissa.
Semua arwah sangat membutuhkan energi manusia oleh karena itu arwah selalu menempel pada manusia guna memakan habis energinya begitu juga dengan Nissa.
Arwah biasa hanya menghisap sedikit energi manusia alhasil manusia hanya merasakan sedikit penat namun beda lagi dengan Nissa.
Nissa sangat memerlukan Arika untuk menyerap energinya begitu juga dengan Arika yang sangat memerlukan Nissa untuk bertahan diri, Ya bisa dikatakan hubungan mereka bersifat mutualisme yaitu saling membutuhkan satu sama lain.
"Ya, kau hanya kelelahan."
.
.
.
.
YO WATSUP ;> AKU UP NIH! MENEMANI MALAM PARA JONES:V CANDA:^
NEXT? LIKE SAMA KOMEN DULU DONG ;)