
Sebelum Dzuhur Ziva dan ibunya pulang, Dira tersenyum senang dengan mata berkaca-kaca ketika mengantar mereka pulang. Walau tidak di janjikan tapi Risa mempertimbangkannya, mereka akan di kabari kalau Ayah Ziva mengijinkan.
"Ra, ra! tuh, itu yang namanya Suhaa bukan?"
Afifah menghentikan Dira ketika mereka akan kembali ke kamar Helma. Dira berbalik, netranya tertuju pada seorang wanita berpakaian serba hitam, dari ujung kepala hingga kaki yang terlihat hanyalah sepasang mata cerah dengan bulu mata lebat yang panjang, kini sepasang mata itu menatap kearah mereka.
Suhaa berjalan menaiki tangga, matanya yang indah menyipit menjadi bulat sabit ketika menghampiri dua teman Helma.
Dira speechless hanya dengan melihat sepasang mata itu, tanpa di lihat rupanya sudah pasti sangat cantik.
"Assalamu'alaikum, Dira.. Afifah.. " Sapa Suhaa seraya tersenyum di balik cadarnya
"Lah, dia kenal kita Ra!!" Afifah menyenggol lengan Dira.
Dira menahan diri untuk tidak berkata kasar. "Wa'alaikumsalam, Suhaa ya?"
Suhaa mengangguk kecil. "Kamar Helma sebelah mana?"
"Sebelah sini Kak" Afifah menjawab dengan cepat.
Saat mereka masuk Helma sudah bangun, gadis itu jelas senang begitu melihat Suhaa, baginya sekarang Suhaa merupakan gurunya. Dia telah di ajarkan banyak hal oleh Suhaa.
"Assalamu'alaikum" Suhaa tersenyum di balik cadarnya, dia selalu senang melihat gadis manis yang 3 tahun lebih muda darinya.
"Wa'alaikumsalam.. Kak Suhaa, duduk dulu!" Helma langsung mempersilakan, mulutnya bergerak mengucapkan kata 'Kursi' tanpa suara sambil melihat kearah Dira.
"Gak perlu, lihat sudah akan memasuki waktu Dzuhur" Suhaa menyadarinya, jarinya yang halus menunjuk kearah Jam dinding.
Suhaa tersenyum melihat ketika sahabat itu kompak melihat jam dinding yang sudah usang di dinding sebelah ranjang.
"Maaf banget yah Kak, Aku ngerepotin" Ucap Helma
"Gapapa, aku malah seneng kalau kamu terus mau belajar" Suhaa menatap Dira dan Afifah bergantian "Aku bawa mukena tiga, kamu sama Afifah apa mau yah ikut berjamaah?"
Dira yang ditanya seperti itu gugup seketika, dia jarang sekali sholat!
Bacaan dalam shalat saja dia sering lupa.
Dengan malu Dira mengakui. "Aku jarang sholat.. Terus bacaan sholat banyak yang aku lupa .. "
Suhaa tersenyum. "Tapi bisa baca Al-fatihah?"
Dira mengangguk kaku. "Bisa"
"Gapapa, kalau belum bisa semuanya nanti aku ajarin, mau kan?"
Dira mengangguk cepat. "Mau"
Sebelum Suhaa beralih menatap Afifah, gadis itu sudah lebih dulu menjawab
"Aku.. ikut juga"
"Ya Sudah, nanti kita Sholat berjama'ah aku yang akan jadi imamnya" Suhaa berkata seraya membuka tasnya, mengeluarkan tiga mukena, satu baskom alumunium berukuran sedang dan juga botol semprotan yang sudah di isi oleh air.
"Sekarang kita bantuin Helma berwudhu dulu" Suhaa meletakan baskom alumunium di pangkuan Helma, lalu berkata "Kamu berwudhu tetap pakai air"
"Loh, bukanya Tayamum ya? Soalnya kata dokter belum boleh kena Air kakinya" Dira langsung bertanya dengan kebingungan, tujuan Helma memanggil Suhaa itu untuk minta di ajarkan cara bertayamum.
Suhaa tersenyum dan menjelaskan.
"Syarat bertayamum untuk orang yang sakit itu—Apabila dia tidak mampu terkena air akan merasa kedinginan, menggigil atau dia yang memiliki luka yang memang sangat parah lalu lukanya akan semakin parah jika dia terkena air, maka merekalah yang lebih di anjurkan untuk bertayamum"
Sambil meletakan kain di bawah kaki kiri Helma, Suhaa melanjutkan "Dalam kondisi Helma lebih Afdal pakai air, nanti bagian balutannya cukup di usap saja tidak perlu sampai basah"
"Ouh, jadi seperti itu..." Dira mengangguk-angguk
"Baskom ini untuk menampung Air, kain juga, biar ga basar kasurnya" Suhaa menjelaskan ketika Dira dan Afifah melihat benda-benda yang dia bawa.
Pada akhirnya Dira dan Afifh hanya memperhatikan Suhaa membantu Achel berwudhu, caranya sama seperti berwhudu pada umumnya. Dan Dira lega karena setidaknya urutan berwudhu Helma yang di bantu Suhaa sama dengan apa yang selama ini dia praktek-kan.
Malu dong kalau sampai cara berwudhu saja dia salah.
Setelah membantu Helma, Suhaa, Dira dan Afifah bersiap mengambil wudhu.
Helma sendiri mengintip sekali lagi buku tata cara sholat dengan posisi duduk. Dia sebelumnya sudah mempelajari ini di rumah tapi untuk memastikan dia tidak akan salah gerakkan Helma membaca sekali lagi.
Setelah selesai bersiap, mereka pun menunaikan Shalat dengan Suhaa sebagai Imam.
......................
Esoknya Helma bangun dengan wajah segar, tangannya terus memutar tasbih, berzikir dari habis subuh hingga langit menjadi terang.
"Iraa bangun!!"
"Hmm" Dira yang masih mengenakan mukena duduk dengan wajah lesu, disampingnya ada Afifah yang masih mendengkur halus.
"Apa? Lu mau ke kamar mandi?" Tanya Dira, matanya masih setengah terpejam. Dira masih sangat mengantuk karena semalam dia mendadak menjelma menjadi ibu yang mengurus dua anak yang sedang sakit.
"Ada Tamu, bukain pintu!"
Dira baru menyadari kalau ada orang yang dari tadi mengetuk pintu Helma. Dengan malas dia berjalan menuju pintu.
"MasyaAllah, duh neng Dira? kirain siapa!"
Dira melototi Pria yang menjadi salah satu penghuni di lantai satu
"Apa Lo Zeni! jangan caper ya Lo! Gue kasih yau Helma itu udah punya calon suami, jadi buang jauh-jauh harapan Lo itu!"
"Yee,, gue tau lo bohong kan. Udah minggir gue mau lihat Helma!"
Pria bernama asli Jeno Ray berusaha menyingkirkan tubuh Dira. Dira jelas tambah kesal dia menarik tangan pria itu menjauh.
"Apaan si Lo! Gue mau lihat Helma!" Sungut Jeno lantaran dari semalam dia ingin melihat kondisi Helma tapi Dira selalu menghalangi.
Dira menarik nafas, "Gini ya temen gue itu bukan sakit fisik aja, tapi mentalnya juga kena. Dokter bilang kalau sebisa mungkin buat dia nyaman. Lo sadar dong penampilan banyak tato sama muka sangar lo emang buat dia gak takut?"
Jeno melihat pakaiannya sendiri. Kaos gambar tengkorak berdarah, celana sobek-sobek, rambutnya berwarna merah dan kuping, hidung di tindik. "Tapi kalau gue ganti sama pakaian rapi apa dia gak bakalan takut lagi?"
"Gak tau, Lo tau sendiri kalau dia ketemu lu selalu takut. Ditambah kemarin tuh dia baru aja hampir di jahatin sama orang yang pakaiannya sama kaya lo gini. Jadi mohon pengertiannya, oke!"
Dira baru akan berbalik tapi matanya tertuju pada kresek yang di pegang Jeno.
"Ini buat Helma kan?"
Jeno mengangguk dengan pasrah dia menyerahkan bubur ayam pada Dira. "Sampaikan ini dari gue"
"Oke, udah lu mending jalan kerja sana!"
Jeno mengangguk lesu. "Bilang juga kalau gue gak serem banget kok, jadi gak usah takut"
Dira mengangguk lagi.
"KAK DIRAA!!"
.
.
.
TBC