
Dira dengan cepat di tangani oleh dokter Klinik. Dokter mengatakan tidak ada yang serius. Setengah jam kemudian Dira sadar dari pingsannya. Dia sadar saat Mang Sino dan Rangga sudah pulang.
Saat Ini Dira sudah terlihat bertenaga begitu Afifah selesai memberinya makan dan minum. Kemudian Afifah menyuguhkan Obat untuk di minum Dira.
"Baru kali ini yah, kamu teh jatuh sakit. Biasanya fisik kamu kaya kuda" Komentar Afifah.
Dira sedang tidak mau berdebat dan menambah pusing kepalanya. Dia melirik Helma yang sedang membaca buku Tajwid. "Hel, lo beneran nerima pinangan Hafiz?" Tanya Dira serius.
Helma menoleh, mengangguk pelan. "Minggu depan... Acara lamaran" Hatinya sekarang sudah tidak ragu lagi.
Dira yang tengah bersandar meneggakkan tubuhnya. "Serius? Kok Cepet banget!!"
"Lebih cepet lebih baik, Dira" Ujar Afifah.
"Yah emang si.. Tapi tau gak pas gue pulang tetangga rumah gue tuh anaknya ada yang mondok di Pondok Pesantren milik keluarganya si Hafiz. Gue sempet nanya sama dia tentang Hafiz, dan lo mau tau apa.. Dia bilang kalau Hafiz ternyata idola disana, banyak yang suka sama dia. Tapi banyak yang mengharapkan Hafiz berjodoh dengan salah murid emas pesantren itu!" Dira berpikir sebentar untuk mengingat namanya.
"Ah, iya! namanya Anisah Rosland. Pas Smp dia menjadi Juara 1 Tahfidz Qur'an internasional di arab saudi, dia murid ke banggaan di sana. Gimana kalau nanti Lo bakalan di banding-bandingin sama dia? Atau lebih parahnya lo di buli sama anak pesantren sana?"
Dira mengungkapkan kegelisahannya.
Helma terdiam, dia satu juz saja belum hafal, Tajwid masih belajar, semuanya dia masih proses belajar. Sama sekali tidak bisa di bandingkan dengan wanita benama Anisah.
Afifah menabok Dira. "Terus kenapa kalau si Anisah itu murid kebanggaan? Hafiz milihnya Helma bukan Anisah. Kamu mah terlalu mengkhawatirkan apa yang belum tentu terjadi. Dengan kamu berkata kaya gini cuma bikin Helma bimbang lagi, Dira"
Dira melirik Afifah sinis. "Lu udah berani main tangan yah Feh sama gue!"
Afifah yang sudah sering melihat sifat ganas Dira, seketika takut setelah dilirik sinis seperti itu. "Y-yah itu t-tadi Refleks.. "
"Jadi gimana, Hel?" Dira kembali bertanya.
Afifah repleks mengangkat tangan lagi, namun kali ini berhenti di udara. Afifah berkata. "Kamu tuh, apa-apaan si Dira. Maksud kamu mau nyuruh Helma buat batalin, begitu?!" Afifah tidak terima.
Dira mendelik. "Jauhin tangan Lo!"
Afifah tidak berani memprovokasi lagi, karena kalau Dira sampai membalas itu akan jauh lebih sakit.
"Maksud gue tuh, emang gak bisa di pertimbangin lagi?" Lanjut Dira.
"Apanya yang harus di pertimbangkan?" Bu Sari masuk dengan membawa pisang goreng di nampan kecil.
"Hafiz itu sudah termaksud suami idaman untuk ukuran wanita muda kayak kalian. Apa yang kurang dari Hafiz? Dia ganteng, Sholeh, anaknya sopan banget. Hafiz itu sosok suami yang pasti sangat perhatian pada istrinya" Bu Sari mendudukan diri di pinggir kasur.
"Ibu udah gak jodoh-jodohin anak kesayangan ibu sama Helma lagi?" Tanya Dira.
"Kalau di banding anak ibu, yah Hafiz lebih baik sih" Jawab Bu Sari.
"Jadi, minggu depan beneran acara lamaran?"
"Iyah, ibu udah bilangin tetangga juga buat bantuin masak nanti" Jawab Bu Sari
Dira menatap Helma
...****...
Berhari-hari telah berlalu, Helma melakukan terapi dengan rutin. Walau harus bolak-balik bandung-jakarta, namun Mang Sino yang di minta Hafiz mengantar Helma sama sekali tidak mengeluh. Malah Pria berumur itu senang mengajak mengobrol Dira yang memang selalu menemani Helma melakukan kontrol.
Sebenarnya ini sangat merepotkan Mang Sino, hanya saja dokter yang menanganinya memang ada di jakarta. Di tambah Abizar tidak mau melepas tanggung jawabnya. Lelaki itu bahkan menawarkan diri mengantar jemput.
Helma merasa jauh lebih baik pada kakinya, dia sudah bisa menggunakan alat bantu Kruk Aksilar.
Rumah Bu Sari pun menjadi ramai, dari pagi tetangga sudah berdatangan membantu Bu Sari memasak untuk tamu mereka yang akan datang. Bahkan kedua orang tua Afifah juga datang membantu. Menjelang malam, rumah baru agak sepian, yang tersisah hanya beberapa tetangga dan kedua orang tua Afifah.
"Ini teh beneran Helma? Yang waktu itu beberapa kali kamu ajak kesini? Udah gede, nambah gelis pisan. Saya beneran gak ngenalin loh Bu Ri... Kamu cuma ajak anak angkat kamu ini cuma beberapa kali aja kesini" Bu Lami selaku tetangga sebelah Bu Sari menatap Helma.
"Iyaa, Helma juga lebih betah tinggal di jakarta"
Bu Sari dan Bu Lami terus mengobrol tentang masa lalu. Sampai seseorang datang mengabari kalau tamu sudah datang. Bu Sari keluar untuk menyambut. Dira mendorong kursi roda Helma mengikuti di belakang
Begitu melihat pakaian mereka, Dira bersyukur karena dia malam ini mengenakan pakaian tertutup.
"KAK UKIIII!!!"
Suara Cempreng seorang anak perempuan memenuhi udara.
Begitu sampai Ziva langsung melompat turun dan berteriak ketika melihat Helma. Dengan gadis kecil itu berlari menghampiri.
"Kak Ukii... Iva kangen banget!!" Ziva ingin melemparkan diri kepelukan Helma, namun Dira segera menghentikannya.
"Ehhhh,,, Inget kakinya!"
"Dari sampingkan bisa!" Balas Ziva yang kemudian memeluk Helma dari samping.
Alis Ziva mengkerut kemudian, gadis itu menegakkan tubuhnya , dengan mata terbuka lebar dan ekspresi wajah cemas, Ziva bertanya.
"Kak Uki Lagi Serangan Jantung? Kok Jantungnya berdetak kenceng banget, sampai Iva denger jelas bangat ini"
Segera semua orang yang awalnya saling menyapa satu sama lain kini melihat kearah mereka.
Wajah Helma menjadi merah sepenuhnya, dia menjadi sangat malu.
Dira mendelik, beneran deh nih bocah. Ntah emang Ziva memang tidak tau arti dari jantung Helma yang berdebar kencang, atau gadis kecil itu sebenarnya tau artinya namun sengaja mempermalukan temanya ini.
"Kamu lagi sakit, nak?"
Seorang wanita datang dan bertanya. Wajah Ayu dan sangat teduh itu harusnya menenangkan jantung Helma. Namun wanita itu adalah ibu dari calonya! Dan Helma malah semakin gugup.
"Aku... h-hanya sedikit gugup, Umi. Aku Alhamdulillah, sehat-sehat saja"
Semua orang melihat ekspresi kaku Helma, dan ketika mereka kembali mengingat perkataan Ziva. Mereka tidak bisa untuk tidak terkekeh.
Dira menahan keinginanya menabok kepala temanya itu, kenapa juga harus di jawab jujur?
"Ya Ampun, Aku gak nyangka Hafiz nemuin cewek lucu kayak kamu" Aisyah kakak perempuan Hafiz berjalan mendekati Helma. "MasyaAllah, manis ternyata ya Umi"
Halimah tersenyum dan mengangguk kecil. Halimah terus menatap calon menantunya itu.
Helma semakin malu dengan tatapan intens ibu Hafiz.
Bu Sari mengajak yang perempuan untuk masuk sedangkan Anggi menangani para lelaki di teras yang sudah di gelar Ambal. Malam itu Anggi benar-benar berperan sebagai kakak untuk Helma.
.
.
.
Tbc