
Begitu pulang, Dira mulai jujur kalau sebenarnya dia telah menceritakan kesulitan Helma pada Risa.
Dira juga jujur kalau dia telah menceritakan kenapa Helma mengalami Trauma, itu dilakukan untuk menarik simpatik ibu satu anak itu. Alasan kenapa Dira berani ember, karena dia yakin ibu satu anak itu tidak akan membocorkanya pada orang lain atau memandang rendah Temanya ini.
Helma yang mendengarnya menjadi malu, haruskah Dira memberi tahu orang lain?
Risa tersenyum ketika Helma memberi tatapan padanya.
"Kak Uki, lebih baik hutang sama Umma dari pada Rentenir jahat itukan?" Ucap Ziva, ingin membuat Helma nyaman.
"Gapapakan kalau tante bantu?" Tanya Risa lembut.
Helma menatap wajah Ayu itu, dari dulu setiap Risa belanja dia supermarket, Helma sering mencuri pandang wajah Risa yang menurutnya menyenangkan ketika di pandang.
"Terimakasih Tan—
"Enggak,enggak. Panggil Umi Risa saja yah " Potong Risa "Kalian juga, jangan panggil tante panggil Umi saja" Risa menatap Dira dan Afifah.
Dira semakin menyukai ibu satu anak itu, mengangguk dengan senyum yang lebar.
"Tapi—"
Dira langsung membungkuk dan mengatupkan kedua tangannya, menatap Helma dengan tatapan memelas.
"Tolong Hel, jangan buat gue emosi dengan sifat gak enakan Lo!"
Helma menghela nafas berat. Sebenarnya dia itu sudah mengajukan pinjaman pada pemilik supermarket sebesar 50 juta. Sepertinya dia akan membatalkannya nanti.
Tepat ketika Helma juga sudah setuju, datang Tiga orang lelaki berbadan kekar.
Helma ketakutan, tapi dia sebisa mungkin dia menahan rasa takut dan gemetarnya.
"Dih, hidung mereka tuh kayaknya tajem banget yah, tau banget bau Duit!" Grutu Dira, Gadis itu maju kedepan menjadi pelindung untuk semua orang.
Jangan berpikir kalau pria-pria kekar itu bisa bela diri dan kuat. Kenyataannya tidak, karena ketiganya sudah pernah babak belur di tangan Dira, Si Pemegang sabuk Hitam.
"Mau Apa Kalian!" Tanya Dira yang tidak takut sama sekali.
Pria yang memimpin di paling depan tertawa meremehkan. "Kami hanya ingin Menawarkan pekerjaan pada teman miskinmu itu.. "
Dira memicing ketika Pria itu menyuruh anak buahnya maju dan menyerahkan map. Sial!!Pria Jelek ini tidak membawa anak buah yang sama seperti satu bulan yang lalu!
Menyadari kedua orang yang mengikuti Bos Rentenir itu bukan orang yang sama seperti satu bulan yang lalu, Dira merubah ekspresi galaknya menjadi datar.
Melihat sikap Arogan dan tatapan tajam kedua Pria di belakang Bos itu, Dira bisa menebak kalau keduanya pasti tau cara bertarung.
Sial
"Hei Helma Hutangmu yang tersisah 80 juta berserta bunganya akan lunas, jika menandatangani surat kontrak ini" Ucap Bos rentenir itu.
Helma memang baru membayar hutangnya sebesar 20 juta, itu juga memakai uang tabungannya yang di kumpulkan sejak lulus SMA dan di tambah dengan bantuan dari Bu Sari, Dira dan Afifah.
Dari awal Dira memang sudah memiliki Firasat tidak baik kalau Helma terlalu lama berurusan dengan para rentenir ini, jadi ketika dia mengambil Map, Dira tidak ingin repot-repot membacanya.
"Tidak! Kami akan membayar Lunas Hutangnya Hari Ini!" Jawab Dira langsung.
Tawa terdengar memenuhi lantai dua kosan itu. "Membayar Lunas?"
Nada bicara yang terdengar sangat merendahkan itu benar-benar membuat kuping Dira panas.
Dira langsung melayangkan kepalan tangannya di depan wajah Pria jelek itu, seketika tawa itu berhenti di gantikan wajah garang Pria itu menatap Dira.
Kepalan tangan Dira Se-Inci lagi akan benar-benar mengenai wajah Pria itu.
Dira menarik tangannya, dia tidak bisa membuat masalah karena tidak tau seberapa kuat Pria yang ada di belakang Pak Dorso—Sang Bos Rentenir.
Dira berkata dengan ketus. "Kami memanggil pihak polisi sebagai saksi, sebaiknya kalian serahkan surat perjanjian hutangnya!"
Pria itu mendengus kasar "Hmpp!! Orang miskin seperti kalian berusaha menipuku?"
Dira menahan keinginannya untuk menendang Pria Jelek itu. Dia menunjuk wajah sendiri. "Orang miskin ini bahkan memiliki wajah lebih enak di pandang dari pada anda"
Dorso menjadi naik pitam. "Jangan main-main denganku ya bocah!! aku bisa membawamu dan temanmu itu untuk di jual!!"
Sial!
Dira mengumpat dalam hati, memang dasar mulutnya ini tidak bisa di kontrol! Tepat ketika dia akan melawan saat kedua lengannya di pegang, terdengar suara jepretan camera ponsel Helma yang nyaring.
Cekrek
"Berani anda menyakiti teman saya, saya akan tuntut Anda atas dasar Ancaman dan kekerasan!"
Dorso tertawa terpingkal-pingkal. "Tuntut? Hahaha.. Gadis manis, Ekspresi marahmu itu bahkan tidak bisa membuatku takut. Kau terlalu manis untuk menakut-nakuti orang"
Helma memutar rekaman suara berisi ancaman-ancaman Dorso selama ini. Pria itu memang sering mengancam akan menjual Helma jika dia telat membayar cicilan.
Helma bahkan telah merekam percakapan mereka saat di taman waktu itu. Dimana saat Dorso meminta Helma bertemu di taman untuk melakukan Transaksi Pembayaran Hutang.
Ketika rekaman itu di putar terdengar suara Dorso.
"Kemarilah, ambil Surat Bukti pembayaranmu ini"
"Lempar Saja.. "
"Gadis, bukankah tidak sopan jika aku melempar?"
Helma ragu untuk maju, namun karena dia harus mengambil Surat Bukti itu, dia pun maju perlahan. Saat surat sudah di tangannya, Dorso tiba-tiba menarik tangannya.
Helma berteriak.
"UDAH IKUT AJA!!"
"TIDAAK!! TOLOONNGGG!!"
Rekaman itu berakhir dengan suara umpatan Dorso, dan suara langkah kaki Helma yang berlari kencang.
Dorso tersenyum sinis, dia melengos melewati Dira, menghampiri gadis yang sekarang duduk di kursi roda. "Ternyata selama ini kau merekam setiap melakukan transaksi pembayaran"
Dorso mengangguk-angguk. Menilai Helma gadis yang cerdas dan sangat berhati-hati.
Afifah merentangkan tangan untuk menghalangi Pria itu mendekati Helma lebih dekat.
Helma menekan rasa takutnya, tanpa sadar tangannya meremas kain hitam yang ada di pangkuannya.
Risa yang diam-diam menghubungi suaminya sedari tadi, tidak lagi hanya diam "Sebentar, Pak! Maaf.. Bisa kita membicarakan ini dengan baik-baik?"
Dira membuka mulutnya ingin berkomentar— 'Tante berbicara baik-baik dengan mereka akan percuma!' Pada akhirnya Dira menelan kata-katanya, dia juga menahan keinginannya untuk menonjok dua pria yang memegang lengannya dengan begitu kuat.
Sialnya kosan sepi dan mereka semua adalah wanita, yang bisa bela diri hanya Dira seorang.
"Kami serius akan melunasi semua hutang gadis ini , Hari Ini Juga! Tolong tunggu sebentar, seseorang akan datang dan membawa uangnya"
Karena Hafiz di panggil menghadap Hasan, suaminya yang membawa uang itu pergi menemani.
Dorso meneliti penampilan Risa dari ujung kepala hingga kaki. Risa sontak terus beristighfar dalam hati begitu melihat kelakuan pria itu.
Untungnya tepat setelah itu, Hasan datang bersama Hafiz, Mang Sino serta seorang Jasa Hukum.
KeEmpatnya bergegas menaiki anak tangga ketika melihat Tiga orang Pria tengah mengintimidasi semua wanita di lantai atas.
Hasan setengah berlari menaiki tangga, di ikuti seorang Advokat , Hafiz dan Mang Sino di belakangnya.
Alasan kenapa Hasan menggunakan Jasa Advokat itu untuk mewakili, mendampingi dan membela Helma jika terjadi kecurangan.
Mata Hafiz tertuju pada tangan gemetaran yang tengah meremas Sorban hitam polos miliknya. Hatinya mulai tergerak lagi.
.
.
.
Tbc