
Sesungguhnya ayahku adalah lentera ku, dan ibuku adalah pelitaku. Tapi,kini lentera yg selama ini menerangi gelap nya hidupku.
Telah redup, tampa menyishakan sedikit cahaya. Yang tersisa hanyalah luka, luka yg membekas. Ayah...rasanya hidup terasa hampa, tampa dirimu.
BAB 3: Teringat masa lalu yg kelam
ZAHRAH:
Malam itu begitu dingin, dinginnya terasa seperti menusuk ke tulang. Hujan turun begitu deras nya, hingga jika seseorang berteriak kita tak akan bisa mendengar suara teriakan nya.
Petir dan kilat menyambar nyambar, ibunda Zahrah menyuruh Zahrah menutup semua jendela rapat rapat. Zahrah duduk di sofa depan tv,dengan di temani secangkir cokelat panas yg dia letakkan di atas meja.
Di tengah derasnya hujan, zahrah lebih memilih untuk membaca novel menarik yg bergenre horor. Suara tangisan tiba-tiba, terdengar di telinga Zahrah.
Ternyata di samping jendela ibunda Zahrah menangis tampa henti,air mata terus berlinang di pipinya tampa berhenti sedikit pun.
Bagi zahrah derasnya hujan malam itu, tak bisa mengalahkan derasnya air mata ibunda nya yg sedang mengalir.
Zahrah lupa, malam itu adalah malam yg sama ketika terakhir ia dan bunda nya melihat sosok suami dan seorang ayah untuknya.
Malam itu mengingatkan nya kembali, tentang tragedi yang terjadi 2 tahun yg lalu. Iyaa...ayah zahrah meninggal dunia 2 tahun yg lalu, saat mengantarkan Zahrah ke sebuah tokoh buku yg jauh dari rumahnya.
Di balik sosok zahrah yg ceria, tersimpan banyak rasa sakit dan air mata. Memang benar, laki-laki menggunakan logika dan perempuan menggunakan perasaan.
Meski sulit melepas ayahnya, tapi zahrah tetap belajar untuk mengikhlaskan nya. Zahrah mendekati ibunda nya, dan mencoba untuk menenangkannya.
Zahrah menghapus air mata ibunda nya,dengan tulus juga sedih." Zahrah....bunda dan ayah, memberimu nama Fatimah az-zahrah bukan tampa alasan. Karena itu bunda mau...jika tidak bisa seperti Fatimah az-zahrah, cukup kamu memiliki akhlak yg baik dan yg mencintai agama mu lebih dari cintamu kepada kekasih mu. Jadikan Fatimah az-zahrah sebagai pedoman hidup mu, yg mencintai agama dengan setulus hatinya dan membela agamanya dengan seluruh jiwa raga nya" ucap ibunda nya.
Meski di dalam hati Zahrah masih ragu, tapi zahrah tak akan membiarkan harapan orang tuanya bagaikan harapan kosong yg tak berujung.
Zahrah akan berusaha untuk lebih keras lagi, agar bisa membahagiankan orang tuanya. Ia tidak mau jatuh pada lubang yg sama lagi, ia tdk mau membuat kesalahan yang sama lagi.
Karena kesalahan itu tak bisa dia tebus, meski ingin menebusnya. Ia selalu di hantu ii oleh rasa bersalah, setiap kali mengingat wajah ayahnya.
Karena rasa bersalah nya adalah, ketika ia tdk bisa membahagiakan ayahnya sebelum ayahnya berpulang ke rahmatullah.
Seribu kata maaf, selalu ia ucapkan ketika berkunjung ke makam ayahnya. Hanya saja itu sia sia, karena penyesalan tak pernah datang di awal penyesalan selalu datang di akhir.
Sesungguhnya ayahku adalah lentera ku, dan ibuku adalah pelitaku. Tapi, kini lentera yg selama ini menerangi gelap nya hidupku. Telah redup, tampa menyishakan sedikit cahaya. Yang tersisa hanyalah luka, luka yg membekas.
Ayah. . . Rasanya hidup terasa hampa, tampa dirimu.
"Entah mengapa, dia terlalu cepat mengambil mu. Padahal, aku belum siap kehilangan mu. Ayah. . . "Ucap Zahrah dalam hatinya.