
Pada Akhirnya Helma tetap berangkat kerumah sakit.
Dengan Ziva yang menawarkan diri mengantarnya sambil menangis, mereka berangkat menggunakan Grab yang di pesankan Hafiz.
Tadi pagi mobil Hafiz belum di panaskan, Ziva yang tidak sabaran menyeret Hafiz untuk menaiki taksi saja. Jadi saat mereka berangkat ke kosan Helma itu menggunakan taksi Online.
Di dalam mobil Helma menyandarkan kepalanya di bahu Dira. "Iraa.. aku masih punya satu ginjal lagi untuk bertahan hidup kok, lagian kan masih harus menjalani pemeriksaan cocok atau tidaknya"
"Tapi Lo kan anak kandungnya, udah pasti cocok.." Dira mengusap air mata sialannya yang terus menetes, "Bu Sari belum Lo kasih tau kan?"
"Sudah.. " Helma gak berbohong karena ketika dia membuat keputusan, dia langsung menelpon bu Sari yang ada di luar kota.
Dira menyedot ingusnya yang hampir menetes, masa bodo dengan orang-orang yang ada di mobil ini, dia juga tidak lagi peduli citranya di depan Hafiz.
"Ibu Sari bahkan gak bisa buat lo berubah pikiran?"
Helma tersenyum, walaupun status Bu Sari adalah ibu angkat Helma, tapi selama ini dia gak pernah minta atau menuntut apapun dari Bu Sari. Helma selalu berusaha sendiri jika dia menginginkan sesuatu. Mungkin itu juga yang membuat Bu Sari merasa gak berhak buat menghentikan Helma. Lebih lagi, ini menyangkut ibu kandung Helma sendiri.
"Dulu itu aku ingat wajah penuh penyesalan Ibu sebelum ninggalin aku di jalan. Kamu tau Iraa, sejak aku berjuang menghidupi diri sendiri aku jadi semakin mengerti bahwa tidak mudah menjadi kedua orang tuaku.."
Kehidupannya dulu serba kekurangan, Ayahnya hanya seorang buruh, ibunya memang tidak gampang lelah. Kadang mereka juga sampai tidak bisa makan nasi berhari-hari.
Hati Hafiz berdesir mendengar menuturan gadis penuh pengertian yang duduk di kursi belakang. Pandangannya jauh ke depan, Hafiz memikirkan Mimpinya semalam.
"Sebenarnya ketika ibu Hani resmi menjadi ibu sambung kami, dia sebenarnya ingin mencari kamu dan mengajak kamu tinggal bersama. Tapi, Kami dan Ayah melarangnya..." Laila yang duduk di kursi paling belakang bercerita lagi.
Dira mencibik sebelum berkata dengan galak "Diam! Atau gue robek tuh mulut!!" Menurut Dira Laila hanya ingin membuat Helma tersentuh, dan membuat Helma merasa yang di lakukannya sudah benar.
"Iraa... Katanya udah mau berubah?" Helma tenang, dia tau walau kadang sadis dan bermulut tajam, Dira masih memiliki sisi lembut.
"Gak jadi! Gue bakalan beneran berubah kalau Lo batalin niat lo buat donorin ginjal!"
Helma tersenyum, dia tau Dira tidak serius dengan perkataanya.
Pada akhirnya perjalanan menuju rumah sakit hanya diisi dengan suara Helma yang memberi pengertian pada Dira.
......................
Rumah sakit tempat ibunya di rawat tidaklah jauh, itu sering di lewati oleh Helma ketika dia pergi ke tempat kerja sampingannya.
Begitu sampai Laila dan Nilam memimpin jalan, sedangankan Ziva yang sedari tadi tidak bersuara, diam-diam mengikuti di paling belakang bersama Hafiz.
Ziva juga ingin mencegah Helma, tapi melihat Helma yang terus memberi pengertian pada Dira membuat gadis kecil itu malah murung. Di tambah begitu turun dari mobil Helma mengelus kepala Ziva seraya tersenyum. Senyuman itu seakan meminta Ziva untuk menghargai keputusan Helma.
Ziva ingin menangis lagi tapi dia menahanya, Gadis kecil itu berencana menangis sambil mengadukan semuanya nanti begitu Sang Abi dan Uminya datang. Sebelumnya Ziva sudah mengirim pesan lewat ponsel Hafiz untuk menyuruh orang tuanya datang kerumah sakit.
Tepat ketika mereka semua memasuki pintu masuk, suara ambulan terdengar memasuki area rumah sakit dan langsung menuju ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD).
Sepasang suami istri sudah sampai lebih dulu di ruang tunggu (IGD). Mereka yang awalnya memang akan ke lantai atas rumah sakit, di mana Hasyim—abi dari Aidah di rawat. Tapi mereka mendapat telepon dari pihak medis yang sama dengan rumah sakit yang mereka kunjungi, bahwa putra mereka mengalami kecelakaan.
.....
Menata hati dan pasrah kepada sang pecipta untuk akhir dari cintanya adalah hal yang sudah direncanakan gadis yang akrab di panggil Aidah oleh keluarga dan kerabatnya.
Namun, ketika dia mendapat kabar kalau Zain Mahendra mengalami kecelakaan Hatinya menjadi berantakan lagi. Aidah menatap mata Sang Abi ketika tangan kanannya memegang sendok dan akan menyuapi Sang Abi gemetar.
"Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun" Aidah langsung luruh ke lantai dan menutup matanya yang seketika langsung basah. "Allahu akbar.. "
Khodijah yang melihat putrinya tiba-tiba luruh ke lantai setelah menerima telepon, segera menghampiri. Wanita paruh baya berprangai lembut itu membantu putrinya berdiri lebih dulu. Pandangannya jatuh pada suaminya yang terdiam memperhatikan putri bungsunya.
Yang menelpon adalah pihak tenaga medis, namun suara pertama yang terdengar ialah milik Zain Mahendra yang meminta Maaf karena tidak dapat menepati janjinya untuk menemui kedua orang tua Aidah Pagi ini.
Lelaki yang memang Aidah tunggu kepulangannya dari mesir.
"Assalamu'alaikum.. "
"Wa'alaikumsalam.. " Khodijah menoleh kearah pintu yang terbuka, Farhan berdiri dengan seorang Pria berumur 40 tahunan di belakangnya.
Farhan mempersilakan Ayah dari Zain Mahendra masuk.
Brian Mahendra langsung menghadap Ayah dari Aidah. "Maaf sebelumnya Pak Hasyim, tapi saya kesini hanya ingin mengucapkan permintaan Maaf dari putra saya Zain yang tidak bisa menepati janjinya untuk menemui anda... Dia— berharap semoga anda masih memberinya kesempatan"
Ini artinya walau sekarat Zain tetap tidak ingin melepas wanita yang dicintainya begitu saja.
Bahkan di tengah ambang kesadarannya, putranya malah memintanya untuk menyampaikan permintaan maaf pada Ayah Aidah. Zain juga memohon untuk tidak menunda, jadi dengan hati yang sangat berat Brian Mahendra meninggalkan istrinya yang tengah bersedih menuju lantai atas.
Zain adalah lelaki yang terdidik menepati janjinya, dia sudah berjanji pada Aidah begitu sampai di jakarta dia akan langsung menemui Ayah dari Aidah. Tapi ketika dalam perjalanan menuju rumah sakit Pria itu mengalami kecelakaan, menyebabkannya sekarang masuk ke ruang Instalasi Gawat Darurat.
Sebagai seorang Ayah, Hasyim ikut merasa sakit melihat putri bungsunya yang kembali kacau dengan perasaannya sendiri.
"Idaa.. Pergilah.. "
Aidah mendongak menatap Sang Abi yang menatap sendu dirinya.
Helma dan rombongan kebetulan akan melewati ruangan itu, dan secara kebetulan bertemu Aidah yang terburu-buru mengikuti seorang pria di depannya.
"Lah itu si Suhaa'kan?"
Helma menoleh kebelakang, melihat mata Aidah yang berkaca-kaca dia jadi ingin menghampiri dan bertanya ada apa.
"Lo mau nyamperin? Sok, Ayo! sekalian batalin peran lo jadi super hero!" Seru Dira, dia beneran akan memutar kursi roda Helma untuk mengejar Suhaa.
Helma menepuk ringan tangan Dira.
Ziva yang melihat itu berlari kedepan dan langsung bertanya. "Kak ukii, kenal kak Aidah?"
"Kamu kenal?" Dira malah bertanya balik.
Ziva mengangguk antusias, "Kak Idaa itu—" Ziva menggantung kata-katanya, mata bulat gadis itu melirik Laila dan Nilam. Melihat keduanya, Ziva memilih tidak jadi bicara.
Di lorong itu tiba-tiba terdengar seruan dokter rumah sakit.
"Cepat!! Tolong Semua, Beri jalan!!"
Dokter yang memimpin jalan, segera berjalan cepat melewati rombongan Helma.
Laila dan Nilam menjadi panik ketika melihat dokter yang menangani ibu sambung mereka berjalan cepat menuju kamar ibu sambung mereka di rawat.
.
.
.
Tbc