
Hari berganti hari, Helma tengah tiduran sambil membaca buku fiqih wanita di atas ranjang, dengan Afifah yang sedang membuat donat di bawah. Seisi lantai itu sudah terisi dengan alat-alat membuat Kue berserta donat yang sudah jadi.
"Kamu teh, kayak pengecut banget tahu Hel. Aku tuh ngeliat kalau kamu itu tertarik sebenarnya sama Hafiz" Ujar Afifah.
"Yah.. "
Afifah seketika mematikan alat Mixernya, menghentikan kegiatannya membuat adonan. "Barusan kamu mengakuinya?"
"Iyaa.. "Jawab Helma, dia menyerah. Tidak tau doa apa yang lelaki itu panjatkan pada Sang pencipta. Tiga hari ini, tidak tidur malam atau siang bahkan saat dia sedang dalam keadaan sadar seperti saat ini, wajah Hafiz selalu muncul. Seperti terus meneror Helma.
"Ya Allah.. " Helma membanting buku pinjaman itu kesamping. kepalanya menengadah keatas.
"Kenapa Hel?" Afifah yang melihat wajah Frustasi Helma kebingungan.
Sesulit apapun temannya itu mengalami ujian hidup, tidak pernah sampai terlihat se-frustasi ini.
Helma merubah posisinya menjadi duduk. "Ifah, sehabis antar pesanan pelanggan kamu kita ke Bandung!"
"Hah?" Afifah Loading sesaat, kemudian langsung terkejut "Kamu mau nyusulin Hafiz?" kemudian Afifah melihat wajah Helma yang seperti orang hampir menangis.
"Dia gak ngirimin pesan lagi sejak ngabarin udah sampai bandung"
"Astagfirullah, Hel. Kamu teh namanya udah suka sama Hafiz!" Afifah malah menabok paha temennya itu. "Udah, diterima aja Pinangannya"
Helma sontak meringis sakit. "Aku mau kerumah Bu Sari, Ifah. Kamu cepetan selesain, udah mau Adzan Dzuhur juga. Nanti Habis Ashar kita berangkat"
Afifah menatap lekat temannya itu, hanya menemukan kegigihan dari seorang Helma. Afifah pun hanya mengangguk pasrah.
...****...
Pada akhirnya Helma beneran menyeret Afifah ke bandung. Afifah pikir mereka akan menyewa Grab, namun teman super irit serta mandirinya itu mengajaknya untuk naik kereta Api Ekonomi! Yang mana membutuhkan waktu 3 setengah jam perjalanan untuk mencapai kota bandung. Lebih lama, dibandingkan mereka lewat jalur Tol dengan menyewa Grab yang hanya membutuhkan waktu 2 jam .
Jam setengah delapan malam mereka sampai di stasiun kota bandung. Afifah mendorong kursi roda Helma keluar dari Stasiun KAI Bandung. Perjalanan mereka masih panjang untuk sampai ke Desa Banjaran
"Kita naik bus nih Hel? Kalau tadi kita naik kereta di gerbong khusus penumpang Disabilitas, kali ini bus umum. Kamu yakin gak masalah kalau jadi pusat perhatian?"
"Enggak, biarin aja mereka liatin. Aku udah pake cadar ini, jadi aman"
Afifah terkekeh, kebetulan dia juga masa bodo dengan tatapan orang-orang.
....
Mereka sampai di rumah ibu kandung Bu Sari yang ada di Banjaran selama hampir sejam.
Bu Sari yang sudah menunggu di depan rumah dengan sangat cemas segera berlari begitu melihat seluet anak angkatnya.
"Ya Allah, Helma.. Kenapa baru mengabari ibu pas udah naik bus ke banjaran?!"
Bu Sari memeluknya dengan begitu erat.
"Kalau ngabarin lebih awal, ibu kan bisa nyuruh Anggi buat minjem mobil tetangga buat jemput kamu" Ujar Bu Sari.
Helma hanya tersenyum, dia memang sengaja karena ia tidak ingin merepotkan wanita baik hati ini.
Afifah yang melihat Anggi mendekat segera menghampiri dan menyerahkan tas Helma "Kamu kan lelaki yah, Tolongin! Pundak aku kananku kayak mati rasa"
Anggi tidak menolak, lelaki itu juga menawarkan diri untuk membawa tas milik Afifah.
Mereka pun masuk kedalam rumah sederhana itu.
Afifah lelah begitupun dengan Helma. Ingin langsung tidur namun Bu Sari mencegah keduanya dan menyuruh untuk makan malam lebih dulu. Karena saat di tanya mereka jujur melewatkan makan malam.
Afifah yang tenaganya lebih Eksra terkuras hari ini hanya pasrah ketika di tarik oleh Bu Sari ke meja makan. Melirik kesamping, melihat Helma yang menurut tetap menyuap nasi ke mulut.
"Jangan diem aja, Ifah!" Tegur Bu Sari.
"Iya, bu.. " Afifah akhirnya ikut mengambil Sate Jando dan nasi, kemudian memakanya.
Helma yang sedang menelan hanpir tersedak mendengar nama itu disebut.
"Hafiz? Kesini?" Helma bertanya, dia tidak bisa mengontrol suaranya yang bertanya kaget.
"Iya, Hafiz kadang memang kesini untuk mengobrol dengan ibu ataupun Anggi. Dia sering bertanya bagaimana kabar kamu" Jawab Bu Sari.
Helma merasa sesuatu menggelitik hatinya. Jadi selama ini Pria itu memilih bertanya pada bu sari? Apa karena sejak pesannya waktu itu tidak ia balas?
"Helma, ibu tidak memaksa. Namun, di banding dengan Anggi, Hafiz jauh lebih cocok untuk kamu" Terang Bu Sari.
Anggi hanya diam mendengarnya. Terakhir ketika dia bertengkar dengan ibunya soal ini dia langsung pergi ke bandung dan merawat neneknya lagi disini. Namun ketika sampai kondisi neneknya sudah tidak bisa bangun dari tempat tidur. Tetangga bilang Sang Nenek jatuh dari tangga.
Karena inilah Bu Sari pun menyusul anaknya.
Kali ini Helma tidak berkata apa-apa.
Bu Sari menganggap Helma masih bimbang, jadi dia pun tidak membahasnya lagi.
Pada akhirnya makan malam itu berlalu dengan cepat.
Ke Esokkan paginya, sehabis subuhan dan tadarusan Helma membuka ponsel dan mengirim pesan pada Risa.
Helma tidak mengharapkan Risa merespon dengan cepat. Ziva pernah cerita kalau Sang Ibu selalu menyiapkan sarapan, jadi Helma yakin ibu satu anak itu tengah memaksa
"Assalamu'alaikum" Jawab Helma.
"Alhamdulillah, kamu akhirnya memberikan keponakan tante lampu hijau. Hampir tiap malam dia menanyai kabar dari jawaban kamu"
Risa saking gembiranya langsung berbicara. Tapi sedetik kemudian dia ingat, dan langsung menjawab salam Helma barusan.
"Aku.. tidak tau apakah dia akan setuju dengan satu permintaanku itu" Cicit Helma. Dia telah mengirim biodatanya, ada satu permintaan yang dia tulis setelah menikah. Tidak tau Hafiz akan setuju atau tidak.
"Nanti Umi bantu bicarakan dengan Hafiz"
"Terimakasih, Umi"
Risa tersenyum lebar disemberang sana.
Setelah bertukar beberapa kata, dan memberitahu Risa kalau dia sedang di bandung, sambungan itu berakhir. Ibu satu anak itu harus menyiapkan sarapan untuk suaminya.
Afifah keluar dari kamar mandi tepat ketika Helma memutuskan sambungan telepon.
"Kamu udah kirim pesan?" Tanya Afifah.
Helma mengangguk, ntah kenapa dia sedikit berdebar. "Aku agak gugup, Fah"
Afifah melihat wajah Helma yang menjadi kaku. Dia hanya terkekeh tanpa banyak berkomentar.
"Kita keluar dulu! Aku bakal nyari sarapan dulu buat kita. " Afifah mendorong kursi roda Helma.
Ketika mereka berpas-pasan dengan Anggi yang baru keluar kamar. Anggi yang kelihatan baru saja mengakhiri panggilan, segara Pria itu mendekati keduanya.
"Helma, ini ada titipan dari Hafiz" Anggi menyerahkan sebuah tasbih putih gading yang sangat indah, ada tulisan Muhammad dan Allah di setiap butirnya.
Helma mengambilnya dengan linglung.
.
.
.
tbc