
..."Aku tidak mengenalmu, yang ku pinta pada Sang Pencipta juga bukan dirimu. Namun percayalah Helmalia, kau lah yang muncul di dalam mimpiku atas jawaban setiap istikharahku,,. Aku Hafiz, berniat ingin meminangmu. Apa kau bersedia?"...
Helma membaca surat yang sengaja di selipkan Hafiz dalam buku catatan biru yang Mang Sino serahkan padanya. Ketika menyerahkan buku itu, Mang Sin hanya bertanya untuk memastikan buku tersebut benar-benar miliknya.
Entah bagaimana buku miliknya ada di tangan Hafiz.
Empat hari telah berlalu dan dia belum menjawab pertanyaan Hafiz. Setiap malam dia melakukan apa yang di sarankan Risa, Yaitu sholat Istikharah. Namun, Helma tidak menemukan apapun.
Risa menasehatinya untuk memikirkan matang-matang niat baik Hafiz. Risa juga telah menyerahkan biodata Hafiz. Dimana disana telah menjelaskan kalau Hafiz merupakan seorang Guru di pondok pesantren milik keluarganya. Juga keterangan Hafiz hidup hanya dengan satu ginjal juga tertulis disana.
Siang itu Helma sendirian di dalam kosan. Di mulai dari dua hari terakhir Afifah mulai sibuk kerja dan sering menerima pesanan, Dira juga lebih sering dapat panggilan manggung. Helma melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 1 siang, lima belas menit lagi Pria bernama Abizar itu akan datang membawanya ke rumah sakit.
"Assalamu'alaikum, Kak Uki!!" Ziva dari luar berteriak memanggil. Belakangan Ziva memang sering main, gadis kecil itu selalu datang ketika jam-jam seperti ini.
"Wa'alaikumsalam" Helma segera membuka pintu.
"Kak Uki, Kak Al katanya mau bicara" Ziva menyerahkan ponsel Mang Sino pada Helma.
Helma menerimanya ragu-ragu.
"Assalamu'alaikum"
Begitu suara itu terdengar, jantungnya dengan tak terkendali berdegup lebih kencang.
"Wa'alaikumsalam" Jawab Helma setengah gugup. Ini adalah kali kedua mereka saling bicara, yang pertama itu di rumah Ziva.
"Helma, saya ingin memberitahu kalau sehabis ashar saya akan kembali ke bandung. Abah dan Umi meminta saya pulang"
Helma tidak tau harus menjawab apa. Dia juga tidak mengerti kenapa Hafiz memberi tahu kepulangannya.
Ada jeda cukup lama.
"Aku akan membawa Abah dan Umi mendatangi Bu Sari"
Helma tersentak dia sontak membuka mulut. "Saya—"
"Saya akan menunggu. Sampai kamu siap"
Ucapan itu tegas dan penuh keseriusan.
...----------------...
1 jam Helma menjalani perawatan. Mereka kini tengah duduk di Cafetaria, untuk membeli camilan.
"Helma, kamu dengar saya?" Abizar melambaikan tangan di depan wajah gadis di depannya.
Helma tersentak dari lamunanya, dia kemudian tersenyum canggung.
"Kenapa si, Kak? Kayak lagi banyak pikiran deh" Timpal anak lelaki berusia 10 tahun di sampingnya.
Ya, dia memang tidak berdua dengan Abizar. Dari hari pertama melakukan rawat jalan, Adik Abizar itu memang selalu ikut.
"Habiskan roti gandum dan susu almondnya, saya akan antar kamu pulang setelah ini" Ujar Abizar.
Helma mengangguk. Mulai melahap Roti Gandum dengan gigitan besar sampai pipinya pun mengembang.
Abizar mengalihkan pandangannya, ada getaran aneh dalam hatinya ketika melihatnya makan dengan pipi penuh begitu.
"Helmalia, kali ini tekad saya bahkan lebih kuat untuk mengkhitbah kamu"
Sementara Helma tak bisa menghentikan jantungnya yang berdegup lebih kencang lagi ketika Ucapan Hafiz ketika pamit pulang tadi terus memenuhi isi kepalanya tanpa bisa di cegah.
"Kak, udah mau waktu ashar. Apa gak sholat dulu di musholah rumah sakit?" Ajak Bayu, adik Abizar.
Abizar melirik jam tangannya, dia telah lupa waktu. "Kita Sholat dulu"
Akhirnya mereka memutuskan untuk Sholat dulu. Kebetulannya Helma bertemu dengan Suhaa.
"Kak Suhaa, kok masih ada di rumah sakit? bukanya Abi Hasyim udah pulang?"
"Siapa?" Tanya Helma bingung.
Aidah berbisik "Calon" dia lalu terkekeh melihat raut terkejut dari Helma.
"Kamu sendiri gimana sama cowok yang awal ngajak ta'aruf tapi pengennya langsung ngelamar aja itu? Apa udah ambil keputusan?"
"Siapa yang telah melamar kamu, Helma?" Tanya Abizar terkejut. Mulutnya langsung bertanya tanpa bisa di cegah.
"Yaah, serius nih? Kak Helma udah di lamar? Padahal Bayu mau aja jodohin kakak sama Abang"
"Jangan sebarangan! Sudah, pergi ambil wudhu!" Abizar menarik kerah belakang Sang Adik menjauh dari kedua wanita yang saling mengobrol. Tadinya dia ingin meminta seorang wanita secara acak untuk membantu Helma berwudhu, namun karena gadis itu bertemu orang yang dia kenal, Abizar rasa tidak perlu lagi.
Aidah tidak melanjutkan obrolan ketika Adzan sudah berkumandang. Dia membantu Helma untuk mengambil Wudhu.
Sejatinya mereka belum ada yang menyadari kalau mereka merupakan wanita yang telah di lepaskan dan wanita yang sedang di perjuangkan oleh Hafiz.
Afifah berlari menghampiri Helma begitu melihatnya turun dari mobil Abizar.
"Hel!!" Afifah membungkuk di depan Helma seraya mengatur nafas.
"Kenapa Ifah?" Tanya Aidah. Dia memutuskan untuk ikut mengantar Helma tadi.
"I-itu si Iraa lagi nangis kejer bangat!" Afifah menunjuk lantai dua kosan mereka.
"Kenapa emangnya?" Helma bertanya.
"Itu..." Afifah menggantung kalimatnya. Tidak mungkin dia menceritakannya di hadapan orang lain. "Kita.. masuk aja dulu" Afifah melirik Abizar.
"Saya juga akan pamit dulu. Helma kamu harus jaga makanan kamu sesuai anjuran dokter. Kalau ada yang kamu butuhkan silakan hubungi saya" Abizar tentu mengerti dengan tatapan Afifah, jadi dia pun memutuskan Pamit Pergi.
Helma langsung di gendong Oleh Afifah ketika menaiki tangga, dengan Aidah yang membantu menaikan kursi roda. Selalu seperti ini jika dia ingin atau harus pergi.
Afifah langsung masuk tanpa mengetuk pintu.
Helama terkejut mendapati Aldi—adik dari Dira ada di dalam. Anak berusia 14 tahun itu berdiri di samping lemari
"A-aldi cu-cuma k-angen ka-kak" Aldi nampak tidak berani mendekati Dira yang ada di ranjang. Dengan takut-takut anak lelaki itu melirik Helma dan lainnya.
Dira menjambak rambutnya Frustasi.
Dira diam, dia benar-benar ingin menampar wajah adik laki-lakinya ini.
Awalnya Dira kebingungan melihat keberadaan Adiknya yang seharusnya ada di bogor tiba-tiba ada di jakarta. Aldi bertingkah sangat senang,menangis dan memeluknya di awal, sebelum mengamuk saat melihat orang-orang mulai mengerumuninya.
Orang-orang banyak yang mengambil video dan memfotonya, terutama tingkah Aldi yang terlihat agak idiot dan bertingkah seperti anak berusia 5 tahun,
Aldi yang mengira kakaknya sedang di rundung orang-orang itu mengamuk, bahkan sempat melempar gelas ke para penonton.
Dira yang belum menyelesaikan penampilannya terpaksa menyeret adiknya ke kosan. Dijalan Dira masih menahan amarahnya. Namun begitu sampai di kosan dan mendapat pesan dari teman setimnya kalau mereka tidak bisa memakainya lagi. Video dia diseret turun dari panggung dan adiknya mengamuk itu menjadi viral.
Saat itulah Dira mengamuk, mengeluarkan segala makian dan memukul Adikknya yang menurutnya selalu membuat masalah dari dulu.
Dira sudah menghubungi orang tuanya, dan ternyata Aldi memang kabur dan sedang di cari. Namun kedua orang tuanya yang ada di bogor sengaja tidak memberi tahunya, karena tidak ingin dia khawatir.
Dira melirik kearah Helma, wanita hebat yang telah menjalani berbagai macam kehidupan. Kalau Dira tidak salah Helma juga pernah bercerita kalau dia pernah di buli sewaktu Smp.
Dira memejamkan matanya, merasa bersalah sekarang.
.
.
.
Tbc