
"Kak Diraa!!"
Ziva datang dengan tergesah-gesah. "Iva bawa kabar baik" Wajah kecil itu berseri-seri.
Dira yang melihat Ziva menjadi bersemangat.
"Apa, Apa?" nadanya bicaranya seperti mendesak Ziva untuk memberitahunya kabar baik.
"Ya udah Gue mau berangkat kerja dulu, Nitip neng Helma ya Dira" Jeno berpesan sebelum beranjak pergi.
"Iyaa" Dira membalas dan melirik Jeno sekilas, sebelum atensinya sepenuhnya jatuh pada Ziva, tapi kemudian Dira celingukan mencari sosok Risa.
"Kamu sendirian?"
Ziva menggeleng "Sama Kak Al, nah itu Kak Al"
Hafiz baru menapaki lantai dua. Di belakang pria itu ada dua orang wanita yang secara kebetulan memang akan ke lantai atas.
Dahi Dira mengernyit heran, melihat dua sosok wanita Asing yang di persilakan Hafiz untuk jalan lebih dulu.
Hafiz tidak mengenal siapa mereka, tapi dia sebagai lelaki mempersilakan mereka jalan lebih dulu.
Keduanya melempar senyum senang di perlakukan seperti itu oleh Hafiz yang Tampan. Hafiz sama sekali tidak mendongak lelaki itu tetap menunduk.
Ekspresi wajah Dira menjadi dingin begitu mengenali siapa dua wanita itu.
"Mau Apa Kalian kesini!!" Hardik Dira, menatap keduanya tajam
Laila yang melihat penampilan Dira langsung menutup mulutnya menahan tawa. "Hahaha,, Gak nyangka Dira yang tomboy bisa sholat juga?"
Dira tersenyum sinis, tanpa basa-basi dia menyingkap mukena ke belakang, dan menggulung pinggang rok bawahan mukena tinggi-tinggi. "Hadepin gue dulu!"
Dira yakin mereka datang untuk niat lain!
Tepat saat Dira menyelesaikan kalimatnya, pintu kamar Helma terbuka. Wanita bernama Laila dan Nilam langsung menerobos Dira begitu saja dan menghampiri Helma.
Helma keluar dengan Afifah yang mendorong kursi rodanya.
Keduanya tertegun melihat penampilan Helma yang sekarang berubah. Laila dan Nilam juga agak kebingungan melihat kondisi Helma yang duduk di kursi roda. Dini hari ketika mereka menelpon meminta bantuan pada Helma, Helma sama sekali tidak mengatakan apapun tentang kondisinya.
"Ayo Hel! kita harus kerumah sakit" Desak Laila.
Dengan kalimat itu sudah cukup membuat emosi Dira sampai ke ubun-ubun. Dira masih menyempatkan diri meletakan bubur Ayam di pojokan, biar bagaimanapun dia adalah gadis yang sangat menghargai makanan.
Setelahnya, Dira langsung maju dan menarik kasar kerah baju belakang Laila. Akibatnya Laila terhuyung kebelakang, tubuhnya setengah terlempar melewati pagar pembatas, tapi untungnya Nilam dengan cepat menarik kakaknya.
"Iraaa!!" Helma berteriak kaget, tadi itu hampir saja Laila jatuh.
"Apaan maksud Lo Anjir!!" Dira menatap sengit Laila, sama sekali gak peduli bahkan jika Laila sampai beneran terjun kebawah.
Kedua Saudara tiri Helma yang biadap ini benar-benar tidak tahu malu! Setahun lalu mereka tiba-tiba datang pada Helma memberi tahu kabar ibu kandung Helma yang sudah menikah lagi dan memberitahu identitas mereka yang merupakan adik tiri Helma. Mereka dengan ramah mencoba untuk mendekati Helma, namun ujung-ujungnya mengungkapkan niat untuk meminta bantuan. Dan bantuan yang di maksud adalah mendonorkan ginjal untuk ibu kandung Helma yang mengalami gagal ginjal.
Dira jelas tidak setuju, waktu itu Dira mengancam mereka dengan ancaman akan membunuh mereka, bahkan dia tidak tanggung-tanggung menyayat tangannya sendiri untuk membuat Laila dan Nilam takut.
Ancaman Dira itu benar-benar Ampuh! karena keduanya tidak lagi menunjukkan batang hidungnya. Tapi sekarang...
"Iraa...." Panggil Helma.
Dira langsung beralih menatap Helma dengan wajah merah padam. "Kapan?! Kapan mereka maksa lo lagi Hel!!"
Ziva yang melihat rentetan kejadian ini kebingungan Awalnya, tapi ketika mendengar Nilam berkata Helma setuju mendonorkan ginjalnya gadis kecil itu mengernyit.
Hafiz dengan lembut menariknya menjauh, Ziva tidak menolak untuk menyingkir sebentar. Sang ibu pernah menasehati jangan pernah iku campur suatu masalah orang lain yang kalau dia belum mengerti pokok masalahnya.
Laila tidak berani bertingkah lagi, dia juga ikut berlutut di depan Helma "Tolong Helma beri pengertian pada Dira... Ibu beneran gak bisa bertahan lama lagi... Ibu butuh ginjal kamu"
Kedua kakak beradik itu bahkan menangis meminta belas kasihan. Tapi di mata Dira mereka benar-benar tidak tahu malu! Helma tidak pernah meminta uang pada mereka, bahkan mereka mencari keberadaan Helma hanya menginginkan ginjalnya. Ibu kandung Helma juga tidak pernah melihat Helma!
Dira seketika melihat Helma, tatapan mata mereka bertemu.
Semalam selain terbangun karena mimpi buruk, Helma juga mendapat telepon dari Laila setelah sekian lamanya, mereka menelpon tepat ketika Dira baru saja menyelam ke alam mimpi.
Laila mengabari kalau kondisi ibu kandungnya semakin buruk, dokter mengatakan harus segera melakukan operasi. Ayah tiri Helma yang bahkan tidak pernah di lihatnya menawarkan sejumlah uang.
"Yang di katakan mereka bohongkan Hel?" Dira benar-benar tidak mengharapkan Helma diam, dan menemukan tatapan teguh Helma.
"Ini juga demi membayar hutang Ayah kandungku Dira..." Helma sangat terharu memiliki Dira yang sangat peduli padanya.
Dira menatap nanar Helma, dia tidak mengerti kenapa Helma bahkan tidak membenci kedua orang tuanya, kenapa bahkan Helma masih harus berkorban?
Ziva yang dari tadi berusaha memahami situasinya langsung keluar begitu paham garis besar masalahnya.
"Gak perlu berkorban Kak Ukii, Abi Iva udah ijinin Umma buat bantu bayar hutang Kak Uki!" Ziva bahkan sekarang menatap sengit pada dua wanita yang sedang berlutut itu.
"Iva mau nanya deh, apa Ibu kandung Kak Uki pernah ngirimin uang? terus pernah nemuin kak Uki begitu dia tau Kak Uki ada disini?"
Nilam menangis berusaha menjelas "Ibu Hani itu pengen banget nemuin Kak Helma, tapi ibu lagi sakit, jadi kami melarangnya. Bu Hani bahkan menangis begitu tau putri kandungnya sudah tumbuh dewasa, Dia juga sangat menyesal telah menelantarkan Kak Helma.. "
Dira tertawa lucu, "Gak mungkin dia nyesel!"
Laila menjelaskan dengan putus asa "Selama ini kami yang melarangnya mencari keberadaan anak kandungnya, Dira! Ibu Hani beneran menyayangi Helma, saat sakit dia ingin bertemu Helma tapi kamilah yang melarangnya selama ini.. "
Dira menatap Helma yang diam memperhatikan Laila dan Nilam yang menangis. Dira beralih menatap Afifah yang sedari tadi tidak bersuara. Bukan, Dira baru menyadari jika Afifah mulai menjadi pendiam saat mereka akan sholat subuh bareng.
Tadi malam Afifahlah yang terbangun ketika Helma sedang berbicara dengan Laila di telepon. Afifah juga sempat protes, tapi dia juga tidak bisa membuat Helma berubah pikiran.
Helma menatap Dira lekat-lekat. Dia sudah mengambil keputusan.
"Iraa... Aku ikhlas.. kamu juga harus ikhlas. Aku tidak pernah membenci ibuku, dan Aku sepenuhnya percaya dengan ucapan mereka. Iraa tolong hargai keputusanku.."
Air mata Dira meluncur begitu saja, keputusan Helma membuat hatinya sakit.
Hafiz menatap gadis yang duduk di kursi roda, tidak mengira gadis yang Ziva jodoh-jodohkan dengannya memiliki hati yang begitu luas. Tatapan Hafiz jatuh pada Tote Bag abu-abu bergambar kelinci memakan wartel yang ada di pangkuan Helma.
Jantungnya berdebar-debar.
"Allahu akbar.. " Hafiz langsung memuji Sang pecipta berkali-kali.
.
.
.
Tbc