
"Sebelumnya Nisa meminta maaf. Nisa hanya ingin meringankan perasaan yang terus Nisa pendam, Abah. Demi Allah, Nisa juga gak berharap mendapat respon dari Kak Hafiz" Ujar wanita bernama lengkap Anisah Rosland.
Selepas tadarusan, saat santri-santri sedang bersiap akan ke kantin untuk sarapan, Anisah memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya pada Hafiz secara langsung. Namun, karena tidak sengaja di dengar oleh Ustadz Zakaria, mereka pun langsung di panggil.
Anisah merupakan wanita cerdas, berbakat, dan wanita yang shalihah. Sangat tepat kalau dia pilih menjadi seorang istri. Memilih seorang wanita untuk di jadikan istri, tidak bisa sembarangan. Madrasah pertama untuk seorang anak kelak adalah ibunya. Dimana ibulah sebagai sosok pertama yang akan menanamkan norma – norma kebaikan sekaligus menjadi telada dalam bersikap. Ibu merupakan seorang figur yang akan menjadi contoh Bagi anak – anaknya.
Mendengar bahwa Anisah menyatakan perasaannya pada Hafiz. Ustadz Zakaria tidak bisa tidak bahagia. Anisah merupakan murid kebanggaan di Pesantren 'Tarbiyah Islamiyah' milik keluarga Hafiz. Saat masih SMP dia berhasil meraih juara 1 Tahfidz Qur'an internasional di arab saudi.
"Bagaimana, nak?" Tanya Abah Zakaria.
Sejak lama abah Zakaria memang memiliki pemikiran untuk menjodohkan Hafiz dengan Anisah. Namun, dia lebih membiarkan Hafiz memilih calonya sendiri. Dia percaya sepenuhnya dengan pilihan putranya. Namun sekarang, sangat sayang jika sosok Anisah di sia-siakan.
Hafiz yang duduk di sebelah Sang Ayah terdiam lama. Melihat wajah Sang Ayah yang sangat berharap itu, hatinya berdenyut sakit.
"Astagfirullah... Abaah!!" Halimah buru-buru melangkahkan kakinya memasuki Aula tempat para santri putri tadarusan.
Halimah langsung menuju Aula begitu mendengar Anisa di panggil oleh suaminya. Apa lagi setelah mengetahui alasan murid kebanggaan dan teladan para junior di pesantren Tarbiyah Islamiyah itu di panggil.
"Abah.. Ingat, Hafiz sedang menunggu jawaban gadis bernama Helma!" Wanita berumur 40 tahunan itu duduk di sebelah Anisa.
"Anisa sudah Abah beritahu.. " Jawab Abah Zakaria.
"Ya, Allah...Terus Abah udah menanyakan lebih dulu pendapat Hafiz?"
Abah Zakaria beralih menatap putranya, "Ini Abah baru akan menanyakannya Ummi"
Halimah menggeleng. "Gak, Abah! Hentikan, jangan membuat Anisa semakin berharap. Abah gak merhatiin tindakkan Hafiz yang lebih banyak menyediri, tadarusan, dzikir, keluar-keluar paling pas ngajar, beli makanan atau makan saja. Abah gak liat usahanya yang lagi ngedeketin Sang Pencipta untuk mengabulkan keinginanya?"
Ustadz Zakaria kini menatap mata putranya. Ada riak dalam mata Hafiz yang biasa tenang.
Anisah menunduk. Sepertinya dia salah mengambil moment. Sebelumnya dia sama sekali tidak tahu tentang ini sama sekali.
"Abah, Helma sudah menerima pinangan Iz. Minggu depan Iz berencana melamarnya" Jawab Hafiz, jelas dan mantap.
"Alhamdulillah" Halimah lebih dulu mengucap Syukur. Melihat suaminya yang masih saja menatap putra mereka, Halimah menabok pelan lengan Sang suami.
"Sudah... Kita juga sudah mendengar bagaimana sifat gadis bernama Helma. InsyaAllah, tidak akan mengecewakan Abah"
"Baiklah, Maafkan Abah Iz. Nisa maafkan Abah"
Nisa tetap tersenyum, walau hatinya tidak bisa di pungkiri merasa sakit.
...****...
Dira turun dari Bus Travel dengan tergesa-gesa. Mulutnya berdecak saat dia masih harus naik bis Transportasi umum untuk menuju kecamatan banjaran.
Dira menyenderkan tubuh pegalnya pada tiang besi. Masih ada waktu setidaknya 10 menit sebelum bis datang.
"Ya Alllah, Beneran neng Dira! Kirain Mamang anak hilang dari mana. Si Enang kenapa mala malah senderan di tiang bukanya duduk di kursi"
Dira tidak mengharapkan ketika baru sampai bandung takdir malah langsung mempertemukannya dengan Mang Sino.
"Lagi pegel banget Mang, dari tadi duduk mulu" Dira tetap menjawab dengan sopan. Biar bagaimanapun Mang Sin adalah orang tua.
"Neng teh, mau kerumah Bu Sari yah?" Mang Sino beralih menatap ransel yang tergeletak di depan Dira begitu saja.
Dira hanya mengangguk.
"Ya udah, sok Ayu! Mamang anterin. Kursi belakang kosong kebetulan. Neng Dira bisa pakai buat rebahan"
Dira bersumpah akan memarahi Helma dan Afifah begitu sampai rumah bu Sari. Kenapa lah kedua temannya itu baru memberi kabar ketika Dira sudah 2 km lagi akan sampai ke kosan.
"Silakan Neng" Mang Sino mempersilakan Dira masuk.
Begitu mendekati mobil, Dira baru melihat jelas jika ada seorang Pria dan seorang anak kecil di pelukkannya. Duduk di tempat menyetir.
"Saya naik taksi aja deh, mang" Dira langsung berubah pikiran. Dira segera mengambil alih tasnya dari Mang Sino. Dia ingin kabur saja!.
Mang Sin enggan melepaskan Dira. "Ini mah serius neng. Neng Dira tuh mukanya udah pucet banget. Mamang gak bakalan jodoh-jodohin si Eneng sama anak Mamang lagi kok. Sudah, ayo masuk!" Pintu mobil itu di buka.
Dira ragu sejenak, sebelum memikirkan tubuhnya yang dia telah seret dari bogor menuju jakarta lalu langsung menuju bandung. Akhirnya Dira masuk ke dalam, tak lama disusul Mang Sino.
"Sok, neng tiduran aja"
"Gapapa nih Mang?" Dira melihat punggung Pria yang sama sekali gak menengok kebelakang. Tetap sibuk melihat ponsel, sambil mengelus rambut putrinya yang tidur di pelukkannya. "Nanti ada polisi gak mang?"
"Biasanya Mah Gak Ada Neng"
"Rebahan saja. Namun nanti hati-hati jangan sampai jatuh"
Akhirnya anak laki-laki Mang Sino itu berbicara.
Dira sempat merasa tak asing dengan suara itu. Namun karena rasa lelah mendera Dira memilih gak berpikir banyak dan memilih buat merebahkan tubuhnya. Tidak berselang lama rasa kantuk menyerang.
Dira tertidur bahkan sampai mereka sudah tiba. Bisa di lihat seberapa lelahnya dia.
Helma sudah menunggu di depan rumah bersama Bu Sari. Helma sudah siap mental menghadapi semprotan Dira. Melihat Dira yang juga tidak bergerak ketika di bangunkan, dia cemas.
"Haduh, padahal Mamang udah bangunin juha pas udah dikit lagi nyampe. Tapi neng Dira masih juga gak bangun"
Bu Sari mencoba mengecek langsung. Di pegang tangan saja sudah hangat. Bu sari segera mengecek keningnya.
"Dira, Dira?" Bu Sari memanggil menepuk-nepuk pipi Dira yang panas.
"Ya Allah, Kayaknya Dira mah Pingsan ini. Badanya juga panas banget"
Barulah semua orang panik.
"Astagfirullah.. Ayo, bawa masuk dulu bu" Mang Sin barulah berani menyentuh Dira.
Hukum Haram menyentuh wanita yang bukan Mahram menjadi boleh jika keadaan darurat seperti ini.
"Biar Rangga saja, Abi!" Rangga maju setelah menurunkan putrinya.
Gadis kecil bernama Raisa memilih menghampir Helma.
Rangga segera menggendong tubuh Dira. Pria itu segera memalingkan wajah ketika tak sengaja menatap wajah Dira yang pucat.
Bu Sari mengarahkan jalan menuju kamar yang di tempati Helma dan Afifah sebelumnya.
.
.
.
Tbc