Ana Uhibbuka Fillah

Ana Uhibbuka Fillah
Bab 8 Meminta Bantuan



Setelah di bawa muter-muter oleh supir taksi yang katanya baru hari pertama mulai bekerja, Ziva dan ibunya akhirnya sampai di depan gerbang kosan Helma.


Mereka sampai ketika Hafiz dan Abizar sudah pergi dari 15 menit yang lalu.


Gadis kecil itu segera turun dari taksi "Iva duluan Umma!"


"Pelan-pelan sayang" Risa segera membayar, baru kemudian turun. "Ya Allah, Arsyifa!" Jantung Risa Hampir melompat melihat putrinya tersandung, terhuyung-huyung ke depan hampir jatuh. Untungnya Ziva masih bisa menyeimbangkan tubuhnya.


Risa segera menghampiri, memegang lengan putrinya erat-erat agar tidak berlarian lagi.


"Kamu tuh kalau di nasehati yang nurut kenapa Nak.." Risa merapikan kerudung dan gamis yang di pakai Putrinya.


Ziva merasakan jantungnya berdebar-debar, tadi itu hampir saja! Ketika dia melihat wajah cemas ibunya Ziva segera merasa bersalah. "Iya Umma.. Maafin Ivaa"


Dari Lantai atas Dira dan Afifah melihat kejadian itu dengan jelas, Dira segera memuji Ziva. "Nah, tuh liat bocah kecil lebih hebat dari Lu Ipeh! Udah kesandung aja masih punya keseimbangan kuat, masa Lu kalah sama anak kecil?"


Afifah cemberut, Dira memang paling bisa melukai hati nuraninya! Namun biar begitu Afifah tahu di balik kata-katanya, Dira sebenarnya sedang menasehati untuk menyuruhnya lebih hati-hati. Apa lagi tadi dia jatuh di lihat oleh dua Pria Tampan.


Kalau di tanya malu atau tidak? Jelas Afifah malu setengah mati! Apa lagi sebenarnya Afifah sudah Salting lebih dulu lantaran sebelumnya— dia, Abizar serta Hafiz berpas-pasan saat di pintu masuk, dan ketika akan menaiki tangga Abizar mengehentikannya lalu bilang kalau masih ada tanah yang menempel di pipinya.


Dengan di tambah Adegan jatuh, bagaimana tidak bertambah malu?


"Udah jangan ngelamun, kita sambut dulu tamu terhormatnya Helma!"


Dira menarik Afifah untuk menyapa ibu dan anak Shalihah itu, mereka segera menuruni anak tangga.


Sebelumnya ketika ibu dan anak itu di bawa muter-muter oleh supir taksi, Ziva menyuruh ibunya menelpon nomor Helma yang memang ziva sendiri hapal, meminta kirimkan lokasi tempat tinggalnya.


"Assalamu'alaikum tante.. " Dira mencoba tersenyum, walau sebenarnya dia mulai merasa agak malu dengan pakaiannya yang sangat berbanding terbalik dengan ibu dan anak di depannya. Helma benar, bagaimana dia bisa pergi kerumah Suhaa dengan gaya pakaian seperti ini.


"Wa'alaikumsalam..." Risa tanpa ragu balas tersenyum.


Dira yang melihat itu menjadi nyaman. Memang benar, orang yang berilmu serta ber-Akhlak tidak akan merendahkan orang lain atau menggunakan matanya untuk melihat penampilanya dari ujung kepala hingga kaki.


Sebelum mengulurkan tangan, Dira mengusap tangannya ke ujung pakaian lebih dulu. Baru ketika dia akan mengangkat tangan memperkenalkan diri, Afifah lebih dulu bergerak.


"Kenalin tante Saya Afifah temenya Helma"


Dira menatap sengit Afifah.


Ziva paling tidak sabaran, menyambut uluran tangan Afifah, dengan satu tarikan nafas gadis itu berkata. "Aku panggil aja Iva, kalau Umma namanya Risa. Kalau kakak namanya Kak Afifah pasti yang di sebelah Kak Dira. Sekarang udah saling kenalkan jadi ayo anterin Iva ke kamar Kak Yuki!!"


Dengan begitu Ziva menarik tangan Sang ibu menaiki anak tangga. Lagian dia sudah bertanya pada Helma siapa nama-nama temen dekatnya. Ziva sebenarnya belum pernah main kesini, jadi tidak tau di mana kamar Helma. Tadi di telepon Helma cuma bilang tinggal di lantai dua.


Risa hanya memberi senyuman untuk meminta pengertian Dira dan Afifah.


Dira dan Afifah sama sekali tidak masalah, mereka bisa melihat raut wajah khawatir Ziva. Dira dan Afifah kompak menyebut pintu kamar paling ujung. Begitu membuka pintu mereka mendapati Helma yang malah tertidur.


Dira melongo, barusan ketika dia keluar bersama Afifah—Helma agak gugup ketika tau Ziva membawa ibunya. Dia bahkan sampai menyuruh Dira dan Afifah untuk mengeluarkan meja serta kursi belajarnya, lalu menyuruh Dira menggelar Karpet dan menyuruh Afifah membawa Blender miliknya siapa tau Ziva atau ibunya ingin minum jus.


Setelah kerepotan menyuruh temanya ini dan itu, sekarang gadis itu malah tidur! Dira menahan diri untuk tidak berteriak dan membangunkan Helma. Lagi pula bukanya dokter mengatakan temannya itu mengalami Trauma Psikis?


Risa menatap Dira meminta penjelasan.


Dira pun memberi tahu yang sebenarnya tentang kondisi kaki Helma, terutama kondisi mental Helma, wajahnya serius ketika membicarakan kondisi mental temanya itu.


Dokter mengatakan Helma memang mengalami Trauma Psikis, tapi setelah Dira menceritakan keseharian Helma, dokter mengatakan itu menjadi tidak terlalu serius. Karena Helma sendiri bisa mengatasinya, dan memang mentalnya itu cukup kuat.


"Jadi—duh, siapa tadi nama kamu?" Dira bertanya pada Ziva.


"Iva, panggil iva saja kak!"


"Iva kamu bantuin aku hibur Helma oke? Dia tuh tadi baru pulang nangis, malah sedih banget"


Ziva mengangguk dengan tegas.


"Kenapa bisa sampai mengalami trauma?" Tanya Risa yang merasa janggal.


Dira diam, membahas ini dia menjadi sedih. Di rumah sakit Abizar juga bertanya seperti ini, tapi Dira menolak untuk menjelaskan.


Awalnya Dira dan Afifah tidak tau kenapa teman mereka mengalami Trauma lagi. baru saat Abizar dan Hafiz pulang, Helma bercerita tentang kejadian dia yang hampir di tarik masuk ke dalam mobil oleh pria penagih hutang itu. Dira dan Afifah akhirnya mengerti kenapa Helma kembali mengalami Trauma.


Dulu demi menghibur Dira yang putus asa karena gak juga dapet kerjaan, Helma bercerita kalau dia pernah hampir menjadi korban pemerkosaan guru SMP nya, dan dia tetap optimis dan semangat.


Melihat wajah Risa yang Ayu dan penuh dengan senyum lembut, Dira pun menceritakan masalah Ayah Helma yang brengsek menurutnya. Hutang yang di tinggalkan bukanlah jumlah kecil, itu berjumlah 100 juta! belum lagi bunganya sekarang menjadi 30 juta!


Untuk pekerja dengan gaji tidak besar seperti mereka jelas itu jumlah yang sangat besar.


Tanpa sadar matanya dengan cepat memerah, Dira tidak ingin menangis tapi tidak bisa menahan air matanya yang bahkan sekarang sudah menetes.


Risa tertegun, sementara Ziva bertambah kenceng nangisnya. Namun orang yang tengah di tangisi nasibnya oleh mereka sama sekali tidak terganggu.


"Maaf Dira boleh saya bertanya.. Apa— sebelumnya Helma pernah mengalami hal serupa?"


Dira tidak kaget ketika mendengar pertanyaan ini, karena tidak mungkin hanya hampir di culik Helma sampai mengalami Trauma Psikis. Dan tanpa di ketahui siapapun dia juga sengaja menceritakan semua yang telah di alami Helma, khususnya Helma yang mengalami Trauma Psikologi. Semua ini untuk memancing ibu sholehah itu mengajukan pertanyaan seperti ini.


Dira bermaksud meminta bantuan pada mereka, setidaknya biar teman mereka berhutangnya pada keluarga Ziva. Awalnya Dira sebenarnya ingin menceritakannya pada Suhaa yang kata Helma wanita baik hati. Namun, setelah melihat Risa yang berwajah Ayu dan sangat ramah, Dira mengganti targetnya.


Dira tidak salah dalam memilih target, karena setelahnya Ziva langsung memohon pada ibunya.


"Umma Iva mau bantu Kak Helma! Kita bantu yah?"


Afifah melirik kearah Dira yang tengah mengulum bibir ke dalam, jelas teman bar-barnya itu tengah menahan senyum gembira. Walau tau apa yang telah di lakukan Dira dan yakin Dira belum membicarakan ini pada Helma, namun Afifah sepenuhnya mendukung tindakan Dira.


.


.


.


TBC