Ana Uhibbuka Fillah

Ana Uhibbuka Fillah
Bab 15 Ajakan Menikah



Kedatangan Mereka di sambut hangat oleh Risa. Sikap Risa yang ramah dan hangat membuat mereka santai. Ibu Satu anak itu bahkan mengobrol akrab dengan Bu Sari begitu mengetahui dia merupakan ibu angkat Helma.


Bu Sari pun sangat berterimakasih karena Risa mau membantu Helma. Andai dia juga memiliki uang banyak sudah dari awal dia membantu Helma.


Sedangkan Ziva terlihat sangat gembira, sampai-sampai terus tersenyum menatap Helma.


Senyumnya yang terkesan misterius, membuat Afifah mengerutkan alis.


"Hei, kamu gak lagi kesurupan'kan?" Afifah bertanya, Dira menendang kaki Afifah dari kolong meja.


Ya, pada akhirnya Dira berhasil diseret Afifah, dan Dira saat ini sedang merasa dongkol dengan teman satunya ini. Bahkan tadi, Dira sudah naik Bis, tapi Afifah tanpa memperdulikan tatapan orang-orang menyeretnya seperti anak tiri.


"Gak kok kak, Iva tuh lagi seneng aja akhirnya kak Uki mau masuk ke rumah Iva. Dulu pas Iva tawarin selalu aja di tolak" Ziva menjawab, tapi gadis kecil itu tersenyum misterius.


"Kita Sholat dulu yah, sudah masuk waktu Dzuhur. Umi akan menyiapkan mukena, kalian bisa langsung pergi mengambil Wudhu" Risa bangkit, pamit sebentar pada Bu Sari.


Ziva yang masih tersenyum misterius, menuntun mereka.


Begitu selesai, mereka keruangan sholat, disana sudah ada Mang sino dan juga Hafiz yang tengah melaksanakan sholat sunnah qobliyah dzuhur.


Begitu salam, Mang Sino menengok untuk melihat Dira dan tersenyum.


Dira tak ambil pusing dengan sikap mereka yang kelihatan agak aneh hari ini.


Hafiz yang menjadi Imam tidak menoleh sedikitpun kebekang, Pria itu hanya menunggu Mang sino membaca iqomah baru berdiri.


Selesai sholat mereka makan, anehnya mang Sino dan Hafiz tidak ikut bergabung.


Dira yang penasaran bertanya, "Tante kenapa anak tante gak ikut bergabung?"


Risa tersenyum "Dia bukan anak Umi, tapi keponakan"


"Kenapa Kak? Ganteng ya?" Ujar Ziva, "Jangan tertarik yah, Kak Iz itu udah punya calon. Bentar lagi mau ngajak seseorang Ta'aruf-an"


"Siapa ceweknya?" Dira kepo.


"Nanti Kak Dira juga bakal tau" Ziva tersenyum dengan misterius lagi.


"Assalamu'alaikum, Neng Dira" Mang sino datang tepat ketika mereka hampir selesai makan, langsung duduk di kursi sebelah Dira yang kosong.


"Wa'alaikumsalam" Jawab Dira seadanya,


Mang Sino beralih ke Helma, dengan nada ramah pria itu bertanya. "Neng gelis, Mamang teh mau nanya, boleh?"


Helma mengangguk ringan, menatap Mang sino sambil mengunyah Ayam.


"Kira-kira neng Helma Target menikahnya itu umur berapa?"


Dira mengedip, apakah ini artinya Mang Sino mengganti targetnya? Apa Helma teman kesayangnya itu yang bakalan di jodohin sama anak Mang Sino yang seorang duda?


Helma bingung menjawab, kata menikah bahkan tidak pernah melintas dalam benaknya. "Mungkin di umur 25 tahun?" Jawab Helma yang sebenarnya dia melihat dari sudut pandang kehidupnya. Dia harus melunasi hutangnya pada keluarga Ziva, dan dia juga harus menabung dulu untuk acara pernikahannya.


"Gimana kalau di umur sekarang?" Ucap Mang sino.


Kali ini Dira tersedak saat minum. Dira ingin berbicara tapi melihat raut wajah Mang sino yang sangat serius, dia menjadi serius juga.


'Apa maksudnya ini? Benerankah?'


"Maaf Bu Sari, Apakah anda mengijinkan Helma menikah di umurnya sekarang?" Kali ini Risa bertanya.


Bu Sari yang di tanya seperti itu melihat Helma. Sedari dulu dia tidak pernah bisa mengatur Helma, gadis itu terlalu mandiri.


"Apa ada yang berniat menseriuskan anak saya?" Bu Sari langsung bertanya.


Mang Sino mengangguk "Dia Pria yang menjadi Imam kita saat sholat dzuhur. Namanya Hafiz Alfarizi"


Dira dan Afifah sontak terkejut, keduanya melirik Helma yang juga sama terkejutnya.


Helma menatap Mang Sin yang berwajah serius itu. Maksudnya Pria yang menolongnya sekaligus Pria yang Ziva jodohkan dengannya itu?


Pada saat dia mengalami kecelakaan dan mengenali Mang Sino, Helma sempat bertanya pada Mang Sino— apakah Pria yang bersamanya dengan yang memberinya tumpangan malam itu adalah orang yang sama? Dan Mang Sin menjawab 'Ya'. Jadi, sekarang Helma tentu sudah mengetahuinya.


Karena sudah di bongkar, Ziva pun berseru senang. "Allah sangat cepat mengabulkan doa Iva, Kak uki mau ya?" Mata bulat yang bersinar terang itu menatap Helma penuh harap.


Helma mendadak menjadi patung, hatinya berdebar-debar, dan otaknya kosong. Dia lebih sering mendapat ungkapan cinta dari teman sekolahnya dulu, tapi selalu di tolak. Sekarang ada Pria yang mengajaknya Ta'aruf, yang artinya sudah pasti akan ke jenjang pernikahan'kan?


"Mang Sin, seriusan?" Dira menjadi ikutan serius.


Mang Sino malah terkekeh melihat ekspresi wajah Dira. "Aduh neng Dira beneran deh, mirip banget sama Almarhum istri saya"


Dira seketika menjadi kesal, dia tanya apa di jawab apa. Sementara Mang Sino hanya tersenyum. Candaan itu hanya sebentar karena Mang Sino kembali ke mode serius.


"Mang Sin, lagi bercandakan?" Afifah Yang biasanya diam bersuara. Dia merasa gak masuk akal karena di lihat Hafiz itu sangat cuek. Afifah mengangkat pandangannya, hanya Risa dan Dira yang tersenyum.


"Saya gak lagi bercanda Neng Ifeh, ini seriusan!" Jawab Mang Sino lagi, Pria itu beralih ke Helma, menunggu jawaban dengan sabar.


"Kak.. Uki.. " Cicit Ziva yang sebenarnya sangat menunggu jawaban Helma


"Aku.. belum siap menikah" Jawab Helma.


Seharusnya Pria yang mengajak wanita yang belum siap menikah untuk Ta'aruf, akan mundur bukan?


Mang Sin tampak merenung


"Helma, apa tidak ingin di pikirkan lebih dulu?" Risa bertanya lembut.


Dira yang sebenarnya sangat setuju segera berkata. "Apa alasannya karena hutang? atau Lo minder dengan keadaan lo Hel?"


Afifah yang sedari tadi diam menendang keras tulang kering Dira, gadis kalem itu memang hanya diam jika Dira melukai hati nuraninya. Tapi Afifah tidak terima kalau Dira sampai melukai hati Helma.


Helma menunduk, semua yang di katakan Dira tepat sasaran. "Aku.. masih punya tanggung jawab untuk melunasi hutang Ayahku pada keluarga Om Hasan. Aku tidak ingin nanti orang yang menjadi suamiku yang menanggungnya. Itu adalah hutang ayahku. Ditambah kondisiku, mungkin akan memakan 1 bulan lebih untuk sembuh. Bisakah dia melihat situasinya? Bukankah waktunya tidak tepat baginya untuk mengajak ta'aruf?


Helma mengeluarkan pendapatnya, semuanya pun terdiam. Siapa yang akan langsung menerima ajakan Ta'aruf itu kalau ada di posisinya?


Lagian, proses Ta'aruf itukan tidak boleh lama-lama.


Setelah di pikir lagi Dira menjadi mengerti, tapi bukankah dengan begitu beban temanya itu berkurang?


"Helma, Saya Bahkan Ingin Langsung Menikahi Kamu"


Suara itu jernih dan menyenangkan ketika terdengar ke gendang telinga.


Mang Sino menyengir ketika semua mata tertuju pada ponsel yang sedari tadi dia pegang. Hafiz meminta Mang Sin untuk melakukan sambungan telepon. Pria itu benar -benar ingin mendengar jawaban langsung dari Helma.


"Helma, Saya serius ingin menikahi kamu. Saya sangat berharap kamu menerimanya"


Helma terdiam. Apakah laki-laki itu beneran serius?