
Setelah urusan dengan Rentenir selesai, Helma menghela nafas, dan berkali-kali berterimakasih pada Risa dan Hasan.
"Duh neng Helma teh kebiasaan pisan, terimakasih sampai berkali-kali melulu. Neng Dira juga, Mamang gak nyangka loh kalau neng teh bisa nangis juga" Mang Sino mulai mencairkan suasana dengan menggoda Helma dan Dira.
Dira menahan keinginanya untuk memelototi Mang Sino. "Saya gak nangis loh yah Mang Sino, nih lihat!" Dira membuka matanya lebar-lebar, menolak mengakui kalau tadi diam-diam matanya berair dan setitik air mata sempat terjatuh. Dira merasa sangat lega dan terharu melihat Helma akhirnya terlepas dari Hutangnya dengan Pak Dorso.
"Duh Neng Dira lucu tau, pengen Mang Sin jadiin mantu beneran bawaannya"
Sudut mulut Dira berkedut, kalau Mang Sino terus membahas itu rasanya dia seperti menelan lalat lagi! Kenapa juga Pria berumur ini menanggapinya dengan serius?.
"Mang Sin, terus terang aja tipe Pria saya itu yang masih perjaka" Dira memilih berterus terang, berharap Mang Sin tidak lagi mengharapkannya sebagai menantu.
"Ehh, anak Mamang juga masih perjaka kok neng"
Dira menatap Mang Sino dengan raut putus asa. Mana ada yang status duda terus udah punya anak masih perjaka?
"Sudah mau adzan Dzuhur. Kalau Mang Sino serius, nanti saja di bicarakannya, sebaiknya kita pergi ke masjid terdekat" Tegur Hasan, memang 2 menit lagi itu sudah akan masuk waktu Dzuhur.
Dira mengerjab, dia ingin Protes, lagi pula apa yang harus di bicarakan coba?
"Ayo Neng Dira. Sokk, yang cewek-cewek semua sama Mang Sin" Mang Sino sudah membuka pintu Mobil lebar-lebar.
"Ada mushola gak jauh dari sini" Ucap Helma
"Iya, mending kita ke musholah yang ada di belakang kosan!" Tambah Dira.
Pada akhirnya mereka bersama-sama pergi ke mushola.
***
Helma selesai berwudhu dengan dibantu Afifah, Keluar lebih dulu dari tempat pengambilan Wudhu wanita, ia sedikit menyeka air di wajahnya dengan Kain Hitam yang kebetulan dia bawa-bawa.
Hafiz yang disebelah baru keluar, secara tidak sengaja melihat pemandangan itu langsung memalingkan wajahnya. Gadis itu pasti tidak tau apa yang tengah ia gunakan. Hafiz memilih berjalan masuk ke musholah.
Pada saat ini Helma benar-benar belum menyadari kalau kain Hitam itu adalah sorban Ar Rabbani.
Karena Adzanpun sudah selesai berkumandang, Helma menggerakkan Kursi Rodanya untuk naik ke atas melalui tanjakan turunan. Helma terlalu sibuk menggerakkan kursi rodanya dia bahkan tidak tau siapa yang baru saja lewat.
"Saya Bantu.." Ucap Hafiz, Lelaki itu mendorong kursi roda Helma untuk sampai ke atas.
Kebetulan pemandangan itu di lihat Risa, Ziva dan Dira yang baru selesai mengambil Wudhu.
"Terimakasih.. " Balas Helma, dia berpikir orang di belakangnya akan berhenti begitu membantunya menanjak. Namun, orang di belakangnya terus mendorong kursi rodanya sampai masuk ke dalam musholah Area wanita.
"Sudah, Saya pamit"
Orang itu berjalan ke depan, Helma hanya melihat postur tubuh Pria yang membantunya dari belakang. Pria itu menyingkap Sekat Gordeng yang pembatasi area wanita dan Pria, lalu menghilang.
Selesai Sholat, Hasan membawa Istri dan Anaknya pulang. Ziva awalnya menolak, tapi ketika Sang Abi berkata Helma butuh istirahat dan melihat wajah Helma yang juga nampak kelelahan, gadis kecil itu akhirnya mau dibajak pulang.
Apa yang di alami Helma hari ini memang cukup berat, dan dia ingin istirahat. Untunglah Ziva nurut.
Dira dan Afifah mengantar kepergian mereka.
......................
Malamnya, Helma menerima jengukkan dari teman satu kosannya. Selain dia, Dira dan Afifah, penghuni kosan lantai bawah semuanya adalah laki-laki. Mereka semua bekerja. Berangkat jam 6 dan pulang hampir di waktu magrib. Itu kenapa kosan kadang selalu sepi.
Jeno memaksa Dira untuk jujur apa yang sebenarnya terjadi pada Helma. Tapi, Dira menolak menjelaskan. Helma tidak mau orang lain menggunjing Ayahnya yang sudah meninggal. Dia ingin yang terjadi tidak perlu di bahas lagi.
Pada akhirnya Jeno menyerah.
Dengan adanya Dira yang galak mereka tidak lama-lma bertamu. Jeno dan kedua temannya di usir, mereka tidak ada 5 menit bertamu.
Esoknya, Bu Sari dateng bersama dengan Anggi, wanita paruh baya itu langsung memeluk Helma dan menangis.
"Aku gapapa kok, Bu" Helma berulang kali menyakinkan, mengusap lembut punggung Bu Sari.
"Kamu ikut ibu ke bandung, ya?" Mohon Bu Sari dengan wajah memelas. Anak gadis yang di angkatnya ini terlalu mandiri, jadi Bu Sari sampai memasang raut wajah semohon mungkin.
Helma terdiam, berpikir sebentar untuk menemukan alasan yang tepat. Lagi pula Bu Sari di bandung merawat ibunya yang sudah tidak dapat bangun dari ranjang. Kalau dirinya ikut, itu pasti akan merepotkan bukan?
"Helma sebenarnya masih butuh rawat jalan, Bu" Dira yang baru keluar kamar menghampiri. "Dia masih harus melakukan terapi nantinya, terus orang yang menambraknya itu bersedia bertanggung jawab sampai Helma bisa jalan lagi. Dokter yang menangani kondisi Helma juga ada di rumah sakit yang ada di jakarta, jadi gak bisa di bawa ke Bandung"
Penjelasan Dira sudah cukup membantu Helma membuat alasan.
"Bu Sari tenang aja, ada Aku dan Afifah yang jagain Helma"
Dira melirik Anggi, Pria itu hanya diam namun matanya sesekali melirik kearah Helma. Dira diam-diam msncibik. Dia telah melihat status Whatsapp Anggi kalau pria itu telah di putusin oleh kekasihnya yang berselingkuh.
Hei, apakah sekarang Pria itu baru membuka mata dan mulai melirik Temanya?
Ugh, bahkan Pria yang membantu Helma mendorong kursi rodanya sewaktu di mushola, jauh lebih cocok dengan Helma. Siapa namanya? Ah, Dira tidak ingat.
"Jadi masih harus rawat jalan?" Tanya Bu Sari.
"Iya, Kata dokter lukanya cukup parah. Sayang banget Helma nolak buat rawat inap" Dira menyayangkan, padahal gratis.
Afifah keluar dengan menenteng Plastik berisi Donat. "Bu Sari, Kak Anggi.." Sapanya, sebelum beralih melihat Dira yang malah berpakaian seperti anak mental.
"Kita jadi Pergikan?"
Dira menggeleng "Enggak, gue ada panggilan manggung, Lu aja yang temenin Helma ke rumah Ziva"
Kemarin mereka mendapat undangan makan siang oleh Risa hari ini, Jadi Afifah sengaja meminta izin pada atasannya dengan alasan sakit.
"Kalian mau pergi? " Tanya Bu Sari.
Afifah mengangguk. "Iya, bu" Matanya melirik Dira protes.
"Kemana?"
"Kerumah orang yang udah bantuin Helma bayarin hutangnya" Jawab Dira.
"Oh, ibu ikut kalau gitu. Sekalian mao berterimakasih juga sama mereka"
Dira dan Afifah saling melirik. Dira menjawab "Ya udah ibu temenin aja bareng Afifah, kebetulan aku ada Job"
Afifah menatap Dira tak percaya, wajahnya langsung cemberut. Dia sudah relain gak masuk kerja, tapi Dira malah berangkat bekerja. Afifah tidak rela, dia menggait tangan Dira erat-erat
"Jangan bilang Kamu takut Mang Sino beneran jodohin kamu sama anaknya?" Ucap Afifah menyelidik.
"Gak mau tau kamu hari ini harus ikut!!"
"Dih, apaan si Feh! Lepasin gak?"
"Gak!!" Ucapan Afifah final.
Ekspresi Dira menjadi garang, menatap sosok Afifah yang pendiam dan kalem tapi sebenarnya sangat Pemaksa.
.
.
.
tbc