Ana Uhibbuka Fillah

Ana Uhibbuka Fillah
Bab 12 Kain Hitam?



Segera setelah Laila dan Nilam menjadi panik dan mengikuti langkah dokter, Helma menyuruh Dira menyusul mereka.


"Ibuu.... Ibu kenapa Ayah..."


Begitu sampai mereka di sambut oleh tangisan seorang anak berusia 4 tahun dan suara Monitor Holter yang terdengar nyaring.


Mata Helma menatap sosok wanita yang terbaring di ranjang.


"Tolong semuanya keluar dulu!"


Suster yang membantu menangani kondisi kritis pasien mengusir semua orang untuk keluar.


Udara di sekitar mendadak menjadi dingin dan terasa menghimpit. Suasana menjadi tegang, mereka sekeluarga saling berpelukkan.


Dira yang melihat itu juga bisa merasakan ketegangan. Dia menatap Helma yang diam.


Helma menatap pintu yang tertutup rapat tersebut dengan perasaan campur aduk. Ibu yang 7 tahun lamanya tidak di lihatnya lagi, kini tengah kritis.


Dira berlutut di lantai, tepat di samping kursi roda Helma, dia menepuk pundaknya. Namun ketika melihat Afifah yang melakukan hal yang sama, Dira mendelik ke arah temannya itu. Menyadari suasananya tidak tepat untuk mengomel Dira memilih diam.


15 menit kemudian dokter keluar, dengan gelengan kepala pelan dari sang dokter, segera tangisan mereka langsung pecah.


Laila dan Nilam segera menyusul Ayah mereka masuk kedalam.


Tanpa di suruh Dira segera mendorong kursi roda Helma menyusul mereka.


Ziva ingin ikut masuk, tapi Hafiz mencegahnya.


Di dalam suara tangisan semakin pecahberbeda.


Helma menatap tubuh kaku ibunya yang ada di atas ranjang. Wajah yang 7 tahun terakhir ini tidak pernah dia libat lagi. Kalau satu tahun lalu dia rela ikut dengan Laila dan Nilam, akankah semuanya berbeda?


Secara kebetulan apa yang pikiran Helma sama dengan yang di pikirkan Laila, wanita itu berbalik dan memukuli Helma.


"Kenapa? Kenapa baru sekarang Lo mau donorin ginjal!! kenapa gak dari dulu!!"


Dira yang melihat itu naik pitam, dengan kasar dia menarik tubuh Laila yang mengguncang-guncangkan bahu Helma dengan kasar.


Laila jatuh tersungkur dengan menyedihkan, tangisannya semakin menjadi. Dira ingin memaki, tapi melihat situasinya dia menahan lidah tajamnya.


Nilam segera memeluk kakaknya dan menenangkannya.


"Pergi!!" Bima Berbicara dengan suara serak, namun terdengar dingin.


Helma menatap punggung pria yang merupakan Ayah tirinya.


Bima berbalik menatap Helma dengan tajam. "Apa kamu Tuli, hah?!! Keberadaan kamu sudah tidak ada gunanya lagi disini!! Jadi, pergi dari sini!!"


Helma dan Dira tercengang oleh kata-kata kasar dan tajam itu. Sementara tanpa di duga Afifah yang di kuasai Api Amarah maju dan tanpa segan menampar orang tua itu dengan ganas.


"Jangan keterlaluan ya Om!!" Hardik Afifah, setelah berkata gadis itupun menjadi terkejut dengan tindakkannya sendiri, tanpa sadar dia malah melihat tangannya sendiri. Sepertinya berteman dengan Dira membuatnya ketularan sifat bar-bar teman satunya itu.


Tamparan yang membuat Pria setengah baya itu terpaku, namun tamparan itu membuatnya segera sadar dan menyesali ucapanya barusan. Ingatannya langsung kembali ketika istrinya mendengar percakapannya dengan ibunya mengenai Helma yang akan mendonorkan Ginjal. Hani saat itu langsung marah dan berakhir memegangi dadanya yang mendadak sesak.


"Selama ini kamu bahkan tidak ingin aku mencarinya dan membawanya ke rumah, tapi kamu malah tega memintanya untuk mendonorkan ginjalnya padaku? Mas, apa kamu masih memiliki rasa malu? Aku, bahkan tidak tau bagaimana dia menjalani kehidupannya selama ini.. "


Bima memejamkan matanya ketika kalimat istrinya itu muncul dalam benaknya


"Pergilah... " Bima berucap dengan lemah. Pria setengah baya itu memeluk putranya yang terus-terusan menangis.


Dira segera mendorong kursi roda Helma, membawanya pergi dari keluarga yang sedang sangat emosional itu.


Begitu sampai di luar, Dira dan Afifah saling menatap. Helma hanya diam, sama sekali tidak menangis.


"Kak Ukii.. " Ziva menghampiri, mencoba memanggil.


Tapi pikiran Helma sedang tenggelam ke masa kecilnya, terutama tenggelam dalam ingatan tentang ibunya. Ibu yang begitu hangat ketika memeluknya, ibu yang penuh kasih dalam merawatnya , namun menjadi dingin ketika selesai bertengkar dengan sang ayah.


Setelah keduanya bertengkar mereka juga akan mengabaikanya.


Dira menarik Afifah untuk berdiri di depan Helma, menghalangi sepenuhnya pandangan Ziva dan Hafiz.


Dira berkata "Udah gak ada yang bisa ngeliat, nangis aja... "


Helma yang melihat kelakuan Dira yang pengertian menjadi emosional juga dan akhirnya menangis. Dia berkata dengan suara tercekat "Mereka—"


"Jangan di pikirin!" Potong Dira. Dira tau apa yang Helma pikirkan.


"Tapi Dira.. "


"Yang sudah berlalu apa perlu di sesali? Lo selalu menasehati gue untuk gak perlu menyesali apa yang sudah terjadi di masa lalu! Lagian ini bukan salah Lo Helma, wajar kalau tahun lalu Lo masih bimbang dengan permintaan Laila."


Helma berulang kali mengusap Air matanya, selain di depan Dira dan Afifah, dia tidak pernah menangis di depan orang lain.


Sebuah tangan mungil muncul di sela-sela tubuh Dira dan Afifah. Suara Ziva pun terdengar "Kak Ukii bisa pakai ini"


Ziva menyerahkan kain hitam untuk Helma.


Dira tanpa melihatnya lagi langsung mengambilnya dan membantu Helma mengelap wajahnya yang penuh air mata dengan kain itu.


"Udah Yah, Kalau Lo kayak gini terus nanti gue juga bakalan ikut nangis" Ucap Dira jujur. Karena sewaktu Helma di bentak dan di usir pergi oleh Ayah tirinya, Dira ingin memaki sambil menangis.


....


Siangnya langsung di adakan acara pemakaman, Bima membiarkan Helma mengikuti proses pemakaman. Lelaki setengah baya itu juga meminta maaf atas perkataan kasarnya.


Helma mengantar sampai ke tempat peristirahat terakhir.


'Aku sudah memafkan ibu..


Semoga ibu juga memaafkan aku..


Semoga Allah menampunimu..'


"Om, kita pamit duluan.. " Tanpa menunggu jawaban Dira memutar kursi roda Helma, berjalan meninggalkan Ayah dan anak yang masih terlihat enggan meninggalkan makam.


Begitu keluar dari area pemakaman, mereka sudah di tunggu Oleh Risa dan Ziva.


Risa menyambut dengan senyum hangat. Dia menjadi begitu menyukai Helma ketika Ziva selesai mengadukan semuanya tadi. Walau mungkin kurang ilmu Agama, Gadis itu baik dan berhati luas.


"Tante, saya berencana mengajak Helma pulang. Apakah tante mau mampir untuk ngeteh sebentar?" Dira memang tidak berniat melepaskan Risa, karena mereka belum memperjelas masalah pinjam uang!


Dira harus menebalkan wajah untuk mempertanyakan itu nanti.


Risa tersenyum, bagaimana dia tidak tau maksud Dira? "Saya juga tidak memiliki hal lain, dan memang berencana akan membicarakan suatu hal dengan Helma"


Dira malu sendiri ketika ibu satu anak itu menyadari maksudnya.


Pada akhirnya mereka kembali ke kosan.


Jika Ziva dan ibunya memilih mengikuti Helma, lain Halnya dengan Hafiz yang masih harus tertahan di rumah sakit itu.


Hafiz kini duduk berhadapan dengan orang Tua Aidah, dan juga Abi Hasan— Ayah Ziva.


"Aidah telah berkata jujur, dia tidak bisa menata hatinya" Hasyim berkata terus terang.


"Ya, saya juga akan mundur—" Hafiz melihat bagaimana kekalutan lewat pancaran mata Aidah ketika di lorong rumah sakut tadi.


Hasan menatap keponakannya, Hafiz yang sebenarnya sudah ingin menikah, namun belum menemukan calon yang cocok.


"Saya—dua hari ini memimpikan wanita lain"


.


.


.


TBC