Ana Uhibbuka Fillah

Ana Uhibbuka Fillah
Bab 7 Seperti Menelan Lalat Super Jumbo!



Ketika Dira menyeret Pria paruh baya itu masuk, Helma sedang mengusap ingusnya dan sudah berhenti menangis, Temenya itu tengah berbicara dengan seseorang lewat telepon.


"Kak Suhaa, bisa kesini?" Tanya Helma.


Dira melotot melihat itu, kata umpatan ingin sekali dia layangkan lagi. Tapi mengingat Helma malah menangis ketika di marahi, mau tak mau Dira menahan mulutnya. Dia lebih pusing memikirkan cara untuk mendiamkan Helma!


"Pak duduk aja disitu, tungguin! Siapa tau temen saya itu nangis lagi, nanti bapak yang hibur ya?"


Dira menawarkan kursi, sedangkan dia duduk di lantai dengan bersandar di dinding.


Pria paruh baya itu lantas kebingungan, bagaimana tugas itu diserahkan padanya begitu saja?


""Neng Gelis, kenapa menangis? kakinya sakit banget yah?" Pada akhirnya Pria paruh baya itu bertanya pada Helma yang sudah menurunkan ponsel.


Tadi dia mendengar Helma menangis, namun karena statusnya yang orang luar tidak berani langsung masuk karena belum di panggil.


Helma menatap Pria Paruh baya di depannya, dia seperti mengenalnya! Helma mengerjab berusaha mengingat dimana dia pernah bertemu. Otaknya sedang kusut, dia menjadi sedikit kesusahan mengingat.


"Duh, Neng tuh yahh. Memang wajah saya mah susah di inget! Udah banyak keriputan soalnya. Tapi harusnya masih kelihatan ganteng'kan, iyakan neng?"


Dira melongo ketika Orang Tua itu melirik ke arahnya, seperti meminta pendapatnya. Hiburan Orang Tua itu Agak Garing, tapi Dira tetap menimpali. "Iya masih ganteng!"


"Mang Sino bukan yah?" Tanya Helma.


"Alhamdulillah, udah inget saya Neng Helma. Saya juga sempet pangling sampai gak kenal awalnya, karena Neng Helma sekarang pakai hijab"


Helma akan membalas, tapi Dira berdiri dan lebih dulu bertanya. "Bentar Hel, Lu kenal sama bapak ini?"


"Iya, Mang Sino Orang yang ngasih tumpangan aku waktu malam senin kemarin"


"Ohhh" Dira mengangguk. "Makasih ya Pak, udah nolongin temen saya"


Mang Sino tersenyum, melambaikan tangan dengan nada bercanda dia berkata "Udah atuh neng, neng Helma udah berkali-kali ngucapin terimakasih ke saya juga. Santui aja, Anggep saya pria ganteng yang seumuran dengan kalian, jadi jangan terlalu sopanlah"


Dira terkekeh, menjadi suka dengan gaya Mang Sino yang lucu dan humoris, tangan Dira melayang kearah lengan Mang Sino, ingin menabok tapi kemudian dia teringat Mang Sin adalah orang tua, dengan begitu dia menjadi lebih keras terkekeh dan malah bertepuk tangan!


"Hahaha,, Ah si bapaknya Lucu deh, jadi pengen punya mertua kaya bapak"


Diem-diem Dira mengutuk kebiasaan buruknya ini yang suka menabok orang. Orang yang menjadi langganan tabokannya ini, tak lain tak bukan ialah Helma dan Afifah.


Tanpa di duga Mang Sino malah berbinar dengan serius Pria paruh baya itu bertanya.


"Serius Neng? Wahh kalau gitumah kebetulan! Saya punya anak lelaki yang lagi cari istri, tapi anak saya duda anak satu. Neng teh beneran mau?"


Sudut mulut Dira langsung berkedut, dia menjadi susah menutup mulut. Dira berusaha terkekeh dan menganggap itu hanya candaan Mang Sino. "Ah, bapaknya becanda aja, lagian mana mau anak bapak sama saya, penampilan saya aja kayak gini!"


"Loh, jangan merendah diri atuh neng.. Penampilan urakan belum tentu bukan orang baik kan? Eneng-nya pasti gadis baik-baik. Mamang sih sama sekali gak mandang rendah kok, anak Mamang juga bukan tipe Pria yang memandang rendah orang lain kok. Kalau serius nihh, Mamang telepon anak Mamang sekarang buat di kenalin"


Helma diam-diam menahan tawa melihat raut wajah Dira.


Dira merasa seperti menelan lalat super jumbo sekarang! Mulutnya hanya menutup dan terbuka berulang kali. Untungnya di saat dia mati kutu di buat Man Sino, suara langkah kaki tergesah-gesah mengalihkan perhatian mereka.


Tepat ketika mereka melirik kearah pintu, Afifah membuka pintu dan langsung tersandung. Gadis yang malang itu jatuh tengkurap dengan suara gedebuk yang sangat kencang.


Suara rintihan keras segera menyusul.


"Aduhhhh,, Ambuuu"


Bertepatan dengan itu Abizar dan Hafiz muncul di belakang.


Dira yang melihat temennya jatuh dan menjadi tontonan pria-pria ganteng itu segera berlari menolong.


"Lu gimana si, Ipehh! Udah tua masih aja kesandung!" Dira mengomel, segera membantu Afifah berdiri, mendudukinya di kursi belajar Helma.


"Ya Allah Neng, lain kali hati-hati Atuh. Nah, nah, jidatnya benjolkan tuh"


"Aduh kepalaku pusing Ira, kamu harus tanggung jawab nih! " Afifah menyalahkan Dira.


Pada saat Afifah ijin pulang pada pemilik tokoh bunga tempatnya bekerja dia sudah panik begitu mendapat kabar Helma kecelakaan. Tapi ketika di jalan Dira malah mengirim pesan kalau temen mereka itu mengalami gangguan mental!


Kalau orang lain jadi dirinya siapa yang tidak alan bertambah panik?


"Lahh Kok Jadi—" Dira tiba-tiba memikirkan adanya pria pria ganteng disitu, kalau dia berdebat dengan Afifah rasanya tidak Etis. "Iya, iya Maaf!"


Dira seakan lupa dengan kelakuannya di rumah sakit yang memaksa dokter untuk menyetujui Helma pulang. Dan tingkah lakunya yang kurang berakhlak itu sudah dilihat oleh duo Pria tersebut.


Salah satu Pria itu berdehem dan mengucap salam. Mereka yang ada di dalam kamar kompak membalas.


"Wa'alaikumsalam"


"Boleh Kami Masuk?"


"Silakan!" Jawab Dira cepat, seakan dialah pemilik kamar.


Setelah mendapat ijin, Abizar dan Hafiz melangkah masuk. Abizar ialah Orang yang telah menyerempet Helma.


Saat itu kebetulan mobil Hafiz berada di belakangnya. Awalnya dia yang sedang menunggu gadis pemilik buku di tangannya, namun kebetulan bertemu teman lamanya di halte bus, dan ia segera mendapat undangan bertamu ke rumahnya.


Hafiz tidak tau gadis pemilik buku catatan itu adalah Helma, wanita yang saat ini sedang bersandar di atas ranjang. Pria itu juga belum tahu jika wanita yang pernah dia beri tumpangan malam itu dengan karyawan wanita supermarket yang telah keponakannya jodoh-jodohkan dengannya adalah orang yang sama!


Saat ini yang Hafiz tau—wanita yang di serempet Abizar merupakan wanita yang sama dengan yang malam itu ia tolong.


Abizar menghampiri Dira, menyerahkan semua belanjaannya pada gadis itu. "Saya membelikan ini untuknya. Tolong kamu nembantu saya merawatnya"


Dengan senang Hati Dira menerima belanjaan yang berisi Sayuran dan buah-buah. Tidak, ada daging ayam dan daging sapi juga!!Senyum Dira mengembang lebar. Bisa irit duit kalau gini mah!


"Aduh Makasih banyak lohh!" Dengan begitu Dira buru-buru menuju kulkas, sama sekali tidak menjawab permintaan Abizar! Malah tanpa malu-malu segera memasukkan semuanya ke dalam kulkas.


Helma dan Afifah yang melihat kelakuan Dira kehilangan kata-kata. Rasanya ingin berkata—'Maaf semua Dira bukanlah teman kami!'


Abizar tidak mempersalahkannya, Pria itu beralih ke Helma "Dokter menyarankan setiap tiga hari sekali kamu harus balik kerumah sakit, jadi saya akan datang lagi setiap tiga hari sekali, pastikan kamu jangan terlalu banyak bergerak dulu"


Helma baru membuka mulut tapi Abizar buru-buru berkata dengan tegas.


"Saya gak menerima penolakkan!"


Abizar tahu Helma akan menolak, dalam penilaiannya Helma gadis yang agak keras kepala. Bagaimana tidak? Dokter menyarankan untuk tetap di rawat, tapi gadis itu tetap kekeh ingin pulang.


Sebagai Pria yang bertanggung jawab Abizar menentang keinginan Helma, tapi karena adanya Dira dan keberaniannya, dokter akhirnya mengijinkan.


Dokter mana yang tidak akan Frustasi ketika Dira terus-terusan mengikuti dan memaksa untuk memberi ijin pulang Helma.


Sebenarnya Helma hanya terus memikirkan biaya rumah sakit!. Biarbagaimanapun juga ini salahnya yang menyebrang sembarangan!


Helma pada akhirnya mengangguk pasrah.


Tadi itu dia cuma ingin mengucapkan terimakasih kok, Ga bermaksud menolak. Karena kalau di pikir lagi dia memang harus segera menyembuhkan kakinya.


Helma yang mandiri berpikir kalau ia harus segera mencari uang lagi.


.


.


.


Tbc