
Helma mengulas senyum saat Dira melihatnya. Senyuman tanpa beban itu membuat tatapan tajam dan berapi-api Dira meredup.
"Gue itu lagi kerja, terus ini anak tiba-tiba naik ke atas panggung, udah mengacaukan penampilan gue di tambah ngamuk ngelempar gelas ke orang lain. Gue kena maki-maki di depan orang banyak, terus pas sampe kosan taunya gue di telepon sama Tim kalau mereka ngeluarin gue!"
Dira mulai menangis lagi, kariernya hancur. Kini dia kembali jadi pengangguran.
Tau disalahkan lagi oleh sang kakak, Aldi *******-***** tangannya. Menunduk dengan tubuh gemetar takut.
Helma dan Afifah saling melirik.
Aidah maju, wanita yang selalu membawa aura positif itu mendekati Dira. "Sudah, tidak baik terlalu terbawa emosi.. "
"Kamu menakuti adik kamu Iraa" Ujar Afifah.
Dira kembali diam, dia tau adiknya tidak salah apapun. Disini malah dialah yang terlalu implusif.
Helma mendekati ranjang. "Butuh pelukkan?"
Dira melihat itu mencibik lalu menjawab dengan galak. "Gak!"
Helma malah terkekeh. "Kita bakalan tunggu di luar. Ingat, harus semangat Dira Angraina!"
Dira hanya membuang muka. Dia selalu malu dengan amarahnya yang suka gak bisa ke kontrol kalau sudah berhadapan dengan Helma si penyabar.
Helma mengajak Aidah dan Afifah keluar terlebih dulu. Dira itu cuma butuh waktu sendirian untuk meredakan emosinya. Mereka meninggalkan Dira dan Adiknya di dalam.
Aidah menemukan jika disini Justru Helma yang paling dewasa.
"Tadi aku kesini, tapi kata Bu Juju kamu malah udah berangkat ke rumah sakit" Ucap Afifah begitu mereka keluar.
"Iya tadi bu Juju juga yang bantuin aku turun tangga" jawab Helma.
Afifah mendesah, dia sudah menyarankan Helma untuk bertukar kamar dengan Jeno tapi temannya itu tidak mau. Disarankan lagi juga pasti jawabannya tetap sama.
Ting
Suara pesan masuk, mengalihkan perhatian mereka.
"Saya baru sampai. Bagaimana dengan hasil pemeriksaan kamu? apa lebih baik?"
Helma menatap ponselnya dengan ekspresi kaget. Pria itu benar-benar memberi kabar ketika sudah sampai.
Afifah yang heran melihat reaksinya membungkuk membaca pesan dari nomor orang yang tidak di kenal.
"Dari Hafiz ya?" Tebak Afifah langsung. Walau Helma belum menamai nomor orang itu, namun Afifah sudah dapat menebaknya.
"I-iyah" Jawab Helma jujur.
"Hafiz? jadi nama lelaki yang ingin ngelamar kamu Hafiz?" Tanya Aidah.
Raut wajah Helma berubah agak tertekan, dia bingung harus membalas pesannya bagaimana. Kalau dia memberitahukan hasil pemeriksaannya, bukankah itu sama saja dia telah membuka pintu untuk Hafiz?
"Kak Aidah, menurut kakak bagaimana aku harus menanggapi ini?" Helma bingung,
Aidah tersenyum di balik cadarnya. "Tidak usah di jawab pesan itu jika kamu masih bimbang dengan keputusan kamu. Namun, juga jangan menolaknya dulu. Kamu harus yakinkan hati kamu dan harus terus meminta petunjuk Allah"
"Satu hal yang perlu kamu ingat. Jangan menolaknya karena kamu merasa terbebani dengan adanya hutang ayahmu, Helma. Kamu bisa membicarakan tentang—kamu tetap ingin bekerja mencari uang setelah menikah dengannya. Atau dia bersedia menanggungnya, itu juga tidak masalah. Kamu tidak perlu merasa terbebani, Helma"
Helma nampaknya mulai berpikir.
Saat sedang merenung, terdengar suara tangisan milik Aldi.
Afifah menghela nafas lega. 'Syukurlah mereka sudah baikkan'
****
Esoknya pagi-pagi Dira sudah bersiap akan mengantarkan Adiknya kembali ke bogor.
"Lo sebaiknya ijin aja untuk beberapa hari, feh! Lagian bayaran buat jaga tokoh bunga gak banyak'kan?"
Afifah mengangguk.
"Yaudah gue berangkat" Dira pamit pada kedua sahabatnya itu.
Saat dia baru membuka pintu, sebuah mobil tiba-tiba berhenti tak lama seorang Pria turun bersama seorang anak perempuan di gendongannya.
"Assalamu'alaikum"
Helma dan afifah kompak menjawab. "Wa'alaikumsalam"
Pria tinggi tegap dengan lengan otot besar dan berjenggot itu berdiri di hadapan mereka.
"Cari siapa, mas?"
"Saya cari dia" Rangga langsung berterus terang dan menghadap langsung pada Dira.
Aldi yang melihat sosok Rangga beringsut di belakang Dira dan kini mulai mengadu.
"D-dia yang ingin culik-culik Adi"
Dira yang mendengar itu menghela nafas, dia telah memahami kejadiannya, dan itu jelas kesalah pahaman.
Kemarin setelah baikkan, Dira bertanya bagaimana adiknya itu bisa sampai jakarta. Aldi jujur kalau dia kabur dari rumah, terus di jalan ketemu orang yang ingin menolongnya dan bilang ingin mengantarnya ke jakarta langsung menemui kakaknya. Namun saat di jalan tiba-tiba mobil Pria itu berhenti di dekat Rumah Sakit Jiwa. Aldi yang memang sudah bisa membaca sedikit, mengira dia akan di masukkan ke sana dan memilih kabur.
Ntah bagaimana nasib adiknya kalau tuhan tidak mempertemukan mereka berdua.
Rangga yang melihat sikap ketakutan Aldi menghela nafas.
"Perkenalkan noona, nama saya Rangga Arsan. Saya telah melihat video anda di sosmed dan saya meminta alamat anda pada teman Grup musik yang tampil bersama anda di Cafe xx. Sebelumnya, apakah anda keluarga dari Pria remaja di belakang anda?"
Dira mengangguk, dia tidak ingin ambil pusing lagi dengan videonya yang sudah menyebar. "Ya, apa anda yang menolong adik saya?"
"Oh, jadi anda kakaknya? Saya hanya sempat menolong adik anda. Mungkin dia tidak mempercayakan saya, jadi ketika saya tinggal sebentar ke minimarket Adik anda melarikan diri. Saya kesini hanya ingin memberikan barang milik adik anda yang tertinggal di dalam mobil saya" Rangga menyerahkan sebuah benda berbentuk kotak yang masih terbungkus rapi.
Aldi merebut benda itu lebih dulu. "I-ini punya Adi!"
"Yah, itu memang punya kamu yang tertinggal" Jawab Rangga.
Gadis kecil yang ada di pelukkannya, menggeliat. "Ayah, apa kita sudah sampai?" Tanyanya.
"Sudah, kamu mau sapa Kak Adi?"
Gadis berumur 3 tahun itu memutar tubuhnya, dia mengedipkan mata beberapa kali untuk memperjelas pandangannya yang buram. Wajah bangun tidurnya terlihat menggemaskan.
"Kak Adi..." Panggilnya, wajah kecilnya terlihat cemberut begitu dia ingat kalau kemarin dirinya di tinggalkan sendirian di dalam mobil. "Kak Adi ninggalin Ica sendirian di alam mobil kemarin!" Ujarnya lalu membuang muka.
Siapapun yang mendengar nada suaranya, sudah bisa menebak gadis kecil itu tengah kesal.
Aldi menunduk, matanya sesekali melirik gadis kecil yang sempat menangis ketika dia tinggalkan di dalam mobil sendirian.
Dira angkat bicara. "Terimakasih atas niat baik tuan yang ingin mengantar adik saya langsung ke saya, walau tidak kesampaian karena adik saya kabur. Terimakasih juga telah mengantarkan barang ini. Maaf telah merepotkan anda"
Dira dapat melihat jelas kalau Pria itu orang baik, dia juga tidak memandang rendah Adiknya yang memiliki kekurangan.
Rangga mengangguk. "Tidak masalah. Saya senang Adik anda baik-baik saja"
.
.
.
Tbc