Ana Uhibbuka Fillah

Ana Uhibbuka Fillah
Bab 23 Sakit Hati




Helma kini sudah di dalam mobil bersama Hafiz. Melihat Hafiz di sampingnya tengah menyetir dia baru tahu kalau Pria itu ternyata bisa menyetir.


Mobil melaju menuju rumah Bu Sari. Mereka sepakat untuk pulang kesana. Dengan ini Dira juga akan numpang sementara di rumah Afifah sambil membantunya berjualan Donat.


Helma mengingat maharnya, dia tidak pernah memberatkan Hafiz tentang mahar kok. Tapi memang Hafiz sendiri yang bilang kalau dia akan memberikan yang terbaik. Yang terbaik maksudnya ini terlalu banyak bagi Helma.


Helma merasa Hafiz memang ingin dirinya tidak memikirkan hutangnya lagi.


Suasana dalam mobil itu agak canggung. Helma tidak tau harus memulai topik apa. Sebelumnya mereka hanya berbicara lewat chat, itu juga tentang diri masing-masing untuk lebih saling mengenal. Di Chat bahkan Hafiz yang lebih sering bertanya.


Helma membuka sebungkus permen dangan pelan lalu memakanya. Tiba-tiba sebuah tangan terulur, dia berkedip kemudian merogoh tas, dengan kaku meletakan sebungkus permen di telapak tangannya.


Hafiz terkekeh sampai gigi-giginya terlihat. Ketika matanya sedikit melirik kesamping dan menemukan wajah istrinya yang polos menatapnya dengan tidak mengerti, dia tertawa lagi.


"Yang saya minta tangan kamu"


"Oh.." Helma meletakkan tangannya di telapak tangan Hafiz dengan kaku.


Telapak tangannya yang dingin dan sedikit basah segera di diliputi oleh kehangatan.


Kehangatan itu menyebar ketubuh dan hatinya.


Hafiz sendiri tersenyum ketika mengenggam tangan kecil istrinya. Ini merupakan kontak fisik pertama mereka. Jari-jari Helma kecil ramping, itu tenggelam ketika Hafiz menggenggamnya.


"Acaranya sudah selesai kenapa ini masih berkeringat dingin?"


Helma tentu langsung merasa malu. Masa iya dia harus menjawab karena dia memang sangat gugup berhadapan dengan Hafiz.


Oke, Hafiz bukan tidak tahu. Dia jelas menyadari Helma sedang gugup. Dia pun mengangkat tangan dan membelai kepalanya.


"Kamu istri saya sekarang. Saya lebih senang jika kamu banyak bertanya atau bercerita dengan saya" Hafiz memberinya lirikan teduh dan lembut.


Helma mengangguk. Hafiz sudah mengatakan itu di chat. "Mm.. Kak, apa aku..boleh tetap bekerja?"


Hafiz diam tidak menjawab kali ini. Pria itu hanya membalas dengan mengangkat genggaman tangan mereka lalu mencium lembut tangan istrinya.


Helma lalu menyesali pertanyaan yang dia lontarkan. Jelas harusnya ini di bahas ketika mereka sudah dirumah. Kenapa dari sekian banyak pertanyaan yang dia ingin lontarkan malah pertanyaan seperti itu yang keluar.


Dia lalu ingat kata-kata Dira yang memperingatinya untuk jangan terlalu memakai sifat mandirinya! Dira juga menasehati kalau dia sudah sembuh jangan melakukan hal-hal sendirian seakan dia tidak tidak membutuhkan Hafiz. Dira bahkan mengajarkannya untuk bersikap manja lebih sering.


Ada alasanya kenapa Dira menekan Helma kata-kata seperti itu. Karena nyatanya Helma memang selalu melakukan hal-hal sendirian. Percaya atau tidak saat genteng kamarnya bocor Helma bahkan cuma meminjam tangga dari rumah warga, menolak bantuan mereka dan dia sendiri yang naik ke atap memperbaikinya.


Bahkan saat priode Helma yang masih belum bisa berdiri, dengan Dira dan Afifah sedang sibuk-sibuknya, saat itu Dira pulang malam hari dan menemukan Helma yang malah memilih mengesot menuruni tangga untuk ke dapur dari pada membangunkan Afifah yang sedang tidur di sampingnya untuk meminta bantuan.


....


Perjalanan mereka akhirnya hanya diisi dengan keheningan.


Begitu mereka sampai, Hafiz segera turun. Menurunkan kursi roda di bagasi mobil untuk di gunakan Helma.


"Aku.. ingin jalan, Mas" Helma mencoba mengambil inisiatif lebih dulu memilih panggilan yang cocok. Dia melihat wajah Hafiz untuk melihat ekspresinya dan dia mendapat senyuman yang sangat menawan dan memikat hati.


Jantungnya seketika berulah.


"Baik" Hafiz kembali memasuki kursi roda ke dalam bagasi.


Helma segera melingkarkan tangannya di lengan Hafiz. Dengan kaku gadis itu berdiri.


"Bagaimana jika Saya menggendong kamu?"


Helma ingin menggeleng, dia telah membaca artikel dan bertanya pada dokter tentang orang yang memiliki ginjal satu, mereka rentan mengalami cedera. Helma juga melirik kesamping, dia juga malu. Masih ada banyak tetangga bu Sari yang tentunya ikut pulang bersama.


"Saya mengerti.. "


Pada akhirnya Helma hanya di papah masuk. Yang lain tidak menganggu pasangan pengantin baru tersebut. Begitu masuk rumah bu Sari sudah penuh dengan barang-barang seserahan yang sudah di tiba duluan. Karena sebentar lagi akan masuk waktu Dzuhur, mereka langsung ke kamar untuk berganti pakaian.


Hafiz membantunya duduk di pinggir ranjang.


Helma membuka cadarnya lalu membuka sleting gaunnya dengan lancar tanpa menyangkut. Dia menatap Hafiz sebelum menurunkan gaunnya, tidak ada tanda-tanda Hafiz akan meninggalkan ruangan.


"Mas, mau ke kamar mandi duluan?"


"Saya ingin lihat kamu buka pakaian" Hafiz terus terang, masih tetap berdiri di hadapan istrinya.


Raut muka Helma agak terkejut, dia mendongak menatap Hafiz. Begitu gaun ini terlepas itu akan memperlihatkan pakaiannya yang ketat. Dia hanya memakai mangset dan celana legging. Dengan ekspresi serius Helma berkata.


Pertanyaan yang konyol! Helma langsung diliputi rasa malu, tidak mengerti kenapa dia malah mengeluarkan kata seperti itu. Hafiz sudah sah menjadi suaminya, jadi sah-sah saja kalau Pria itu ingin melihat lekuk tubuhnya. Dia Segera menurunkan gaunnya begitu melihat Hafiz yang lagi-lagi terkekeh.


Helma berdiri dengan gaun yang sudah terlepas setengah. Kedua tangannya sudah bebas, dia tinggal melorotin gaunnya ke bawah. Saat ini pintu tiba-tiba di ketuk.


Tok, tok, tok!!


"Hel, Helma!!"


Suara itu Helma mengenalnya.


Di luar Dira dan Afifah yang baru sampai segera menghentikan Jeno yang terlambat datang di acara tadi.


"Woii!! ada lakinya di dalam!! Lo yang sopan dikit dong!!" Dira langsung menegur.


"Gila aja Lu!! Gue ini dari jakarta juah-jauh kesini mau menghentikan pernikahan Helma tapi malah kejebak macet. Lo kenapa juga baru ngasih tau gue H-1 kalau Helma mau nikah" Jeno langsung menyemprot Dira.


Dia yang sudah mengejar bertahun-tahun namun orang lain yang dapat. Rasanya tuh sakit banget.


"Gue ini udah ngejar dia bertahun-tahun. Tapi dia malah nikahnya sama orang lain. Hati gue pait banget tau gak!!" Ekspresi muka Jeno kelihatan sangat tertekan.


Dia berniat ingin menghentikan pernikaha, namun sepertinya tuhan tidak mengijinkan. Begitu sampai di lokasi itu sudah kosong, dia langsung menelpon Dira yang lagi di jalan untuk meminta alamat Helma. Jeno ingin melabrak suaminya!


Hafiz membuka pintu, dia langsung berhadapan dengan Jeno.


Begitu jeno melihat Hafiz dan menampilannya. Pria itu lemas seketika dan agak sempoyongan. Tangannya menunjuk Hafiz.


"Lo gak gentle, man!!"


"Haduh, jangan ribut disini Bang Jeno. Disini ada orang tua yang lagi sakit!" Afifah melerai.


"Ini urusan laki-laki Fah. Lo jangan ikut campur.!" Jeno menghadap kearah Hafiz lagi.


"Lo pasti penampilannya aja kan, slinya mah gak Alim. Gue tau tipe Helma emang laki-laki sholeh yang rajin ibadahnya. Gue nih lagi perbaikin diri Bro buat jadi laki-laki idaman dia!"


Helma yang mendengarnya di kamar agak khawatir. Ingin keluar tapi Hafiz memintanya untuk bersih-bersih diri, bentar lagi Dzuhur.


"Nama anda Jeno Andrian?"


Dira dan Afifah saling pandang.


"YAA!!" Jeno melotot pada Hafiz.


Hafiz melipat tangan di dada. "Helmalia sekarang adalah istri saya. Saya tidak mengijinkan anda untuk mengejarnya lagi"


Jeno menunjuk-nunjuk lagi Hafiz. "Man, lu gak berperasaan yah!! Gue udah ngejar si Helma bertahun-tahun, Bro! Lu memepet dia tanpa kenalan dulu sama gue! Gue gak terima! walau penampilan lu alim pake Jubbas gini, belom tentu hafal juz 30, kan? Gue walau penampilan gini, hapal juz 30, sama sudah Ya Sin!" Jeno menepuk dadanya dengan dramatis.


Hafiz malah tersenyum menanggapinya. "MasyaAllah"


Jeno yang mendengarnya kesal. "Jangan nyebut lu!"


Dira memutar matanya, Jeno ini tidak melihat nama Hafiz yang ada di undangan apa?. Jelas namanya saja di awali dengan Gus!!


Afifah merasa kasihan, dia maju untuk memberikan undangan lagi pada Jeno. Niatnya sangat baik. "Bang liat ini dulu, Biar gak tambah malu!" Cicit Afifah.


Jeno melihat tulisan yang di tunjuk Afifah. Nama Hafiz jelas berawalan dengan Gus.


seketika Jeno ingin menangis, jelas dia dan Hafiz lebih pantas Hafiz untuk jadi pedamping Helma!


"Jadi bukan tukang cetakan undangan yang salah cetak namanya?"


"Ya Gak Jeno!! Udah deh, Helma udah lebih 10 kali jelasin perasaanya sama lo!" a


Ucapan Dira langsung menusuk hati terdalam Jeno.


"Tega lu, Man!" Jeno pergi setelah mengatakan itu. Pergi dengan hati sakit dan kekalahan.


Bu Sari yang selesai berbincang dengan ara tetangga melihatnya keluar dengan mata yang berkaca-kaca.


.


.


.


Tbc