Ana Uhibbuka Fillah

Ana Uhibbuka Fillah
Bab 21 Gugup Sampai Berkeringat Dingin



Helma keluar dari ruangan dokter yang selama ini menangani perawatannya. Kakinya sudah jauh lebih baik, dan sudah bisa di jalankan walau masih terasa sedikit sakit kalau kelamaan.


Setelah lamaran itu Helma semakin merasa hari berlalu sangat cepat. Tau-tau sudah hari H-1. Waktu 3 mempersiapkan semuanya memang terlalu cepat dan terkesan buru-buru, namun keluarga besar Hafiz benar-benar menyelesaikan semuanya. Memang, pernikahannya nanti hanya berjalan sampai setengah hari. Tidak seperti kebanyakan orang yang dari pagi buta hingga malam.


Helma sedikit merenung, hari pernikahannya esok, kedua orang tuanya sudah meninggal, Helma sama sekali tidak memiliki wali nasab yang akan mendampinginya esok. Helma hanya bisa mengandalkan wali Hakim dari pengadilan Agama esok.


Setelah melakukan perawatan Helma berencana berziarah ke makam Ayah dan ibunya.


"Kak, seriusan besok bakal nikah sama Abang Hafiz yah?" Bayu bertanya lagi, seakan kabar itu tidak benar.


"Bayu!" Tegur Abizar pada adiknya.


"Iss Cuman nanya aku Bang!" Bayu cemberut.


Abizar menyerahkan obat-obatan yang sudah dia tebus. "Dokter bilang kamu gak perlu balik lagi. Nanti cukup minum obat sama latihan jalan dirumah—"


"Iya saya juga sudah mendengarnya tadi! Anda tidak perlu mengulangi lagi!" Sela Dira. beberapa kali berinteraksi dengan Abizar Dira jadi tau sifat Pria itu yang ternyata cerewet.


Abizar hanya melirik Dira, tidak mendebatnya.


"Terimakasih untuk semuanya Kak" Ujar Helma. "Saya Harap kakak datang esok"


"Tentu, Hafiz juga teman saya" Jawab Abizar.


Abizar melihat jam, Pria itu memutuskan pamit lebih dulu. Helma tidak menghentikannya. Dia masih harus bertemu Suha lebih dulu.


Helma baru tau ketika Mang Sino bercerita tentang wanita yang sempat Risa jodohkan dengan Hafiz. Suhaa merupakan wanita itu. Lebih tepatnya mereka baru mengetahuinya pastinya ketika Helma mengirimi undangan yang sama dengan yang ibu Ziva berikan pada Suhaa.


Ting


📩 Kak Suhaa : Assalamu'alaikum, Maaf hel sayang, aku gak bisa dateng ke rumah sakit, mendadak ustadzahku ingin aku kerumahnya. Maaf yaa.. besok pasti aku akan dateng pagi-pagi bandung.


"Kenapa, gak jadi?" Tanya Dira.


Helma mengangguk.


"Ya udah kita ke makam aja langsung"


Dira tanpa membuang waktu langsung mendorong kursi roda Helma menuju lif.


Begitu sampai bawah, Mang Sin sudah menunggu.


Setelah membantu Helma masuk mobil, Dira segera berkata. "Mang Sin, biar aku yang nyetir!" Dira langsung membuka pintu pengemudi.


"Eh, Si Enon teh kalau di bilanginya! Gak, kali ini mamang gak mau nganggur!!


"Mang, udah deh. Gak capek berdebat sama saya mulu?" Dira tidak mau mengalah.


Helma melihat ini merasa mulia sakit kepala lagi. Selama dia bolak-balik bandung-jakarta selalu seperti ini. Dira dan Mang Sino akan berdebat tentang siapa yang akan menyetir.


Dira yang tidak tega melihat Mang Sino pulang pergi membawa mobil. Sementara Mang Sino yang terlihat tidak keberatan sama sekali, malah seneng dan tidak ingin di gantikan.


"Yaudah, kita balikin keputusannya lagi sama Neng Helma kalau gitu!" Ujar Mang Sin


Keduanya melihat Helma yang sudah duduk di dalam mobil. Helma yang di tatap tidak bisa untuk tidak menghela nafas. Akhirnya harus dia yang melerai. "Mang Sin untuk ke makam. Pulang ke bandung biarkan Dira yang menyetir lagi. Mang Sin cukup duduk aja, aku mau nanya banyak hal di perjalan pulang"


Pada akhirnya sesuai dengan pengaturan Helma lagi.


Hari yang di tunggu tiba.


Pondok pesantren Tarbiyah Islamiyah sudah heboh sejak tersiar kabar Hafiz yang telah melamar seorang wanita. Yang putri merasa sakit hati sedangkan Pria penasaran dengan sosok wanita yang di pilih oleh Guru mereka.


Begitu acara pernikahan itu tiba, walau saling mengatakan hati mereka terluka yang putri tetap membantu Ummi Halimah menyiapkan seserahan dan mengangkut seserahan ke dalam mobil.


Ketika satu persatu mobil keluarga calon pengantin Pria pergi. Para santri Putri menatapnya kepergian mobil mereka dengan sedih.


Lain hal dengan di kediaman Bu Sari. Saat Ini Helma bahkan masih duduk di depan meja rias. Dira terus memberi komentar dan saran, ntah itu masalah warna foundation, bentuk alis, eyeshadow pada mata dan juga lipstik.


"Lipstiknya ombre lagi mbak! kemerahan itu!"


"Astagfirullah, Dira kamu teh yah!! Si Hafiz sama keluarganya udah mau sampai!! keterlaluan kamu yah!!" Afifah masuk ke kamar dengan Dres Pastelnya. Tidak habis pikir dengan temannya ini yang masih saja mengkritik ini dan itu.


Dira menjawab dengan sinis. "Bentar lagi selesai!"


"Sudah Mba. Aku juga akan pakai cadar. Dira kamu gak mungkin buat keluarga besar Hafiz menunggu kan?"


Dira berdecak, dia memang tidak akan membiarkan itu. Bagaimanapun mendapat kesan baik juga penting. "Bentar!!" Dira mengobrak ambrik isi tas sang perias yang super sabar sedari tadi meladeni sosok Dira.


"Buka mulut, Hel!" Dira akhirnya turun tangan. Bagi Dira yang memiliki pengalaman merias saat masih SMP, tukang Rias yang Afifah bawa belum begitu mahir, walau katanya si tukang rias ini sudah terkenal di kampung Afifah.


Helma hanya pasrah dia sendiri dari tadi sibuk menenangkan jantungnya yang berdetak tidak normal.


"Sudah, cepetan Ifeh!! bantuin Mbaknya pakein gaunnya Helma!"


"Kamu tau gak yang bikin nambah lama, Dira" Afifah mengomel.


Dira hanya berdecak kesal namun tak menanggapi. Dira segera menepuk tangan Helma ketika akan memasukkan permen lagi ke dalam mulutnya.


"Udah deh, Hel. Lipstik lu tuh bisa pudar nanti"


Helma menurut, untuk tidak lagi memasukkan permen kedalam mulutnya.


Pada akhirnya dengan segala keribetan itu Helma selesai bersiap 15 menit kemudian.


Bu Sari dan para tetangga lainya menunggu dengan cemas. Khawatir mereka akan membuat calon pengantin Pria menunggu lama. Helma keluar dengan gaun putih pengantinya. Kebetulan begitu Helma keluar, Aidah yang kejebak macet di jalan baru sampai. Namun belum sempat mereka saling sapa, para tetangga sudah membawa Helma masuk kedalam mobil.


Acaranya sebenarnya di adakan di Mesjid Alun Alun kota Banjaran, tak terlalu jauh dari tempat Tinggal Bu Sari. Itu permintaan Hafiz, Pria itu tidak ingin calon istrinya terlalu lelah kalau terlalu jauh.


Begitu akan sampai Helma memakai Handshock, memasukan permen lagi ke dalam mulut diam-diam di balik cadarnya. Kebetulan Dira sedang tidak memperhatikan. Helma begitu gugup sampai rasanya berkeringat dingin.


Mobil yang di kendarai oleh Anggi itu akhirnya terpakir di halaman mesjid. Dira segera turun dari mobil membantu Helma turun. Mereka sudah membuat calon keluarga Helma menunggu hampir 20 menitan.


"Kak Ukiiii!!!"


Yang selalu mendoakan dan menjodoh-jodohkan Hafiz dan Helma—Ziva, tentu orang yang terlihat sangat bersemangat hari ini. Ziva dengan gamis putihnya berlari menghampiri Helma. Gadis kecil itu mendapat tugas membawa pengantin ke ruang tunggu.


.


.


.


Tbc