Ana Uhibbuka Fillah

Ana Uhibbuka Fillah
Bab 22 Akad



"Saya terima nikah dan kawinya Helmalia Yuki binti almarhum Suryadi Zuri dengan mas kawin— 50 gram logam mulia, 22,21 gram set perhiasan emas, 0,260 gram karat berlian, dan uang tunai 50 juta tersebut di bayar tunai!"


"SAAAHHH"


Suara Ziva selaku mak Jomblang mengalahkan suara semua para tamu yang juga menjawab.


"Astagfirullahalazim.. " Umi Risa menyebut, matanya memberi peringatan pada sang putri. Namun tangannya terangkat seraya ikut mendoakan pengantin yang baru saja mengucapkan ijab kobul.


Ziva yang sedang memegang camera candid hanya tersenyum lebar.


Helma di belakang sekat juga mengangkat tangannya yang dingin.


Ketika sesi doa itu sudah selesai Helma kemudian di panggil. Dira mendorong kursi rodanya menuju Hafiz. Saat ini Helma merasakan makan permen. Dia merasakan detak jantungnya kembali berdegup kencang lagi.


Ketika pandangan mereka saling bertemu, itu adalah pertama kalinya dia bertatapan langsung dengan Hafiz. Pria itu benar-benar menatapnya sekarang! Tatapan itu seakan menguncinya, Helma hanyut dalam tatapan itu.


"KHEEMM!" Dira berdehem keras untuk mengingatkan temanya yang tiba-tiba seperti wanita yang mabuk cinta.


Helma berkedip, dia kemudian sadar kalau Hafiz mengulurkan tangan. Segera dia mengambilnya dan mencium tangan Hafiz.


Tindakkannya membuat penghulu diam-diam tersenhum geli.


Di tempat Ziva malah tanpa malu-malu terkekeh sampai kedengeran semua orang.


Hafiz tiba-tiba berdiri dan meletakan tangan di atas kepala Helma. Dia membungkuk untuk berbisik di telinga Helma.


"Biarkan saya mendoakan kamu dulu" Hafiz lalu mengangkat tangan dan berdoa.


Ziva yang melihat Kakak sepupunya sudah menegakkan tubuh sebelum kena jepretanya mendesah. Dia ingin berseru 'Kak Al bisa gak ulangi lagi bisik-bisiknya?'


Dira yang melihat itu hatinya senang, sepertinya Hafiz memang orang yang tepat buat Helma.


Setelah berdoa baru keduannya menandatangani buku nikah.


****


Acara itu berlangsung dari jam setengah sembilan sampai jam 11 siang saja. Abah Zakaria tak mengijinkan pesta pernikahan yang terlalu banyak buang-buang waktu. Kita ini hidup di dunia akan mati, akan kembali Hanya Membawa Amal. Untuk apa membuang waktu banyak untuk pesta pernikahan yang bersifat duniawi?


Jadi acara pernikahan Helma memang sesingkat itu. Acaranya diisi dengan sesi foto bersama keluarga dan para sahabat lalu makam bersama. Dari pihak Hafiz tidak ada yang menunggu tamu lebih banyak untuk datang.


Saat ini mereka bersiap untuk kembali. Bu Sari dan keluarga Hafiz tengah berbincang.


Dira menatap kedalam mesjid yang tadinya di dekor dengan sangat cantik itu semuanya sedang di rombak. Acaranya benar-benar hanya berjalan 2 jam setengah! Benar-benar hanya akad tidak ada pesta. Kalau ini terjadi di kampungnya para tetangga mungkin akan berjulid dan berkata jika keluarga mempelai Pria Sangat pelit.


Tapi ketika Dira mengingat mas kawin Helma,


itu bisa di jadikan untuk menutup mulut para tetangga yang suka berjulid. Mas kawin temannya itu kalau di hitung mungkin 200 jutaan, atau mungkin lebih!


Braakk..


Karena terus menengok kebelakang Dira tidak sengaja menabrak seseorang. Dia masih berdiri tegak sementara orang yang di tabraknya sudah jatuh ketanah.


"Huhuhu, Ayah...!!" Ica menangis keras setelah terkejut beberapa detik. Dia patuh menunggu sambil memakan ice cream, tapi seseorang menambraknya dari belakang. Dia sampai jatuh tengkurap dengan Ice cream berceceran di tanah.


"Eh? Maaf, maaf, dek. Ya ampunn!!" Dira merasa bersalah dan buru-buru mendirikanya lagi.


"Kamu gak apa-apa kan?" Tanya Dira berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan si anak. Alis Dira mengernyit ketika melihat wajah si anak.


Ica menangis, menolak untuk menjawab pertanyaan orang dewasa di depannya.


Rangga segera menghampiri begitu mendengar suara putrinya menangis. Dia langsung meraihnya kepelukannya.


Dira sekarang ingat siapa anak itu. Ia tersenyum canggung ingin meminta maaf, namun gadis kecil itu mendahuluinya.


"Tante itu jahat, Ayah. Ica sudah bediri diam, Ica patuh menunggu ayah, tapi dia masih menabrak Ica. Dia tidak memiliki mata!"


"Aku memiliki mata, ini, lihat!" Dira membalas dengan menunjuk kearah matanya sendiri. Tanpa sadar dia mencondongkan tubuh untuk menunjukkan sepasang matanya pada gadis kecil itu.


"Ica itu di pinggir bukan di tengah jalan. kenapa tante tidak lihat Ica kalau memang memiliki mata?"


Dira meringis dalam hati. Memang dia sepenuhnya salah disini, tapi kenapa anak ini harus memiliki lidah yang sangat fasih?


"Sudah, Ica anak baik. Harus apa kalau seseorang sudah meminta maaf?" Rangga mengusap kepala sang anak.


"Maafkan. Tapi.. tante itu terlihat tidak tulus meminta maafnya, Ayah. Tante itu juga berjalan mundur, itu tidak menghargai tuhan yang sudah menciptain dia dengan keadaan baik "


Dira merasa seperti di tampar di tempat. Dia dikritik oleh seorang anak berusia 3 tahun! Haruskah dia menangis dulu baru meminta maaf?. Melihat bahwa Ica hanya anak beusia 3 tahun Dira tidak ingin berdebat. Dira mengubah mimik wajahnya dan suaranya agar terdengar semenyesal mungkin.


"Maaf Ica.. kakak beneran sangat bersalah..Tolong kamu maafkan kakak... Soal ice cream kakak akan membelikan yang baru untuk kamu"


Itu berhasil, Ica mengusapnya air matanya. Matanya yang masih berkaca-kaca itu memandang Dira.


"Sudah.. Anak Ayah tidak boleh menyimpan dendam. Sebaiknya kita obati kaki Ica dulu, ice creamnya nanti Ayah belikan lagi, oke?"


Ica segera menggeleng. "Ica mau ketulusan, Ica mau tante yang obatin"


Dira baru menyadari kalau ada noda tanah di gamis pastelnya, dan gamis itu sedikit agak basah di bagian lutut. Ya Ampun, itu pasti berdarah.


Rangga baru akan memberi putrinya pengertian lagi. Namun Dira segera menyetujuinya.


"Ya! ayo segera obati lukamu!"


...


Sementara Dira tertahan oleh Ica, Helma berpamitan pada Aidah. Mereka berpelukan.


"Senang melihat kamu yang ternyata berjodoh dengan Hafiz" Aidah membuka ponsel lalu memperlihatkanya pada Helma. Dia telah mengabadikan momen dimana Hafiz membungkuk dan berbisik pada Helma.


"Ini sepertinya satu-satunya momen yang di lewatkan Ziva. Aku akan mengirimnya ke kamu" Aidah mengirimnya ke nomor Helma.


Helma melihat foto itu dia lalu teringat sebelum Hafiz pergi tadi Pria itu dengan lembut mengusap kepalanya, menyuruhnya menunggu disini. Helma merasa pipinya memanas.


Afifah datang setelah membereskan semua barangnya, tadi dia sibuk di prasmanan, setelah sesi foto dia mendadak menjelma jadi tukang ice cream.


"Hel, ini kamu teh pulang ke rumah bu sari?"


Helma mengangguk. "Dira mana?"


"Lagi di tahan sama calon anaknya" Afifah teterkeh, dia tadi melihat Dira yang sepertinya di kerjain sama putrinya Rangga.


"Calon anak siapa?" Aidah bertanya.


"Hehe.. itu anaknya Pak Rangga, cucunya Pak Sino"


"Masih mengobrol?" Umi Halimah datang bersama Abah Zakaria.


Aidah menyapa dengan senyuman. "Abah, Umi"


Umi Halimah melihat kearah Aidah. "MasyaAllah, Gak nyangka kalian ternyata sahabatan"


"Kak Suhaa merupakan guru Helma, Umi" Helma memberitahu.


"Kamu tidak memperkenalkannya pada Abah?" Abah Zakaria berbicara.


Helma melihat wajah Ayah Hafiz yang kurang bersahabat itu. Dengan tergagap dia berkata "Y-yah, Abah. Kenalin ini Kak Suhaa. Selama ini Helma belajar ilmu agama darinya"


Halima menyikut lengan suaminya. "Umi sama Abah akan balik ke pesantren. Kamu nanti boleh pulang kerumah umi hari ini atau besok juga terserah, yang penting kabarin dulu. Biar nanti umi masakin makanan buat kamu dulu"


Helma tersenyum, dia meraih tangan Umi Halimah dan menciumnya. "Umi sama abah, hati-hati di jalan.."


Ketika Helma akan mengambil tangan Abah Zakaria, dia agak takut. Wajah Ayah Hafiz ini selalu datar. Tidak pernah tersenyum ketika melihatnya.


.


.


.


TBC