
Tandai typo✔️
Happy Reading~
_______________________
"Kakak gak papa? Ada yang luka gak?"tanya alin setelah mereka berdua duduk.
"Gak"jawab pemuda itu dingin dan singkat.
"An*ir dingin banget nih orang" batin alin kesal, tanpa gadis itu sadari, pemuda tersebut sedang tersenyum tipis seraya menatap lembut alin.
"Nama"ujar pemuda tersebut.
"Hah"alin tercengo tidak mengerti, sedangkan pemuda itu mati matian menahan senyumnya agar tidak mengembang saat melihat wajah imut gadis itu.
"Nama lo"ujar pemuda tersebut.
"Ohh"alin mengangguk paham.
"Aku alincya evalina biasa dipanggil alin"lanjutnya sembari tersenyum manis.
Pemuda itu terdiam beberapa detik lantaran terpesona saat melihat senyuman gadis itu.
"Hm"dehem pemuda tersebut.
Lalu mereka berdua sama sama terdiam. Pemuda itu terdiam karna sedang memikirkan topik apa yang cocok untuk dibicarakan dengan gadis mungil itu.
Sedangkan alin terdiam karna sibuk membatin.
"Dasar cowok gila"
"Udara disini udah dingin malah tambah dingin lagi. Yang ada beku gue disini" batin alin kesal.
"Kakak gak mau kasih tau namanya gitu? Masa cuma alin"ujar alin yang mulai jengah dengan suasana sunyi saat ini.
"Adnan Adrian Mahendra"ujarnya
Alin seketika membeku ditempat saat mendengar nama pemuda itu.
"Oh ****"
"Gue udah berhasil kabur dari temen temennya loh, kenapa sekarang malah ketemu sama boss nya an*ir" batin alin histeris.
Kenapa alin mengatakan adnan adalah bos? Karena di novel aslinya, semua kejadian yang menimpa protagonis wanita adalah ide dari adnan. Adnan lah yang menghasut teman temannya untuk melecehkan protagonis wanita dan menyuruh mereka membunuhnya.
Sebenarnya adnan mencintai protagonis wanita bahkan pemuda itu sampai ke tahan obsesi. Sebab obsesi itulah yang menguasai pikirannya. Lebih baik dia menghilangkan orang yang tidak dapat ia miliki dari pada merelakannya pada orang lain, itulah prinsip seorang adnan.
Adnan tidak langsung membunuh abel yang berperan sebagai protagonis wanita. Dia menyiksanya terlebih dahulu, kejam bukan? Yang awalnya cinta malah menjadi bencana.
Namun belum sempat adnan membunuh abel, datanglah protagonis pria bersama dengan polisi. Lalu adnan dipenjara karena kasus penganiayaan dan pemerkosaan bersama teman temannya. Itulah akhir dari antagonis pria.
Adnan adalah tokoh yang paling alin benci, karena menurutnya pemuda itu terlalu kejam. Apalagi sampai melecehkan abel dan membuat wanita itu menjadi depresi.
Ya, abel mengalami depresi karena bayangan dirinya yang dilecehkan membuatnya bunuh diri. Sedangkan protagonis pria yang mengetahui jika pujaan hatinya itu telah meninggal, mentalnya pun terganggu dan keluarganya memutuskan untuk membawa pemuda itu ke rsj. Itulah ending dari novel yang alin tempati sekarang.
Sepertinya adnan baru saja kembali dari luar kota karna itulah alin tidak melihat pemuda ini saat bersama geng alaska.
"Novel ini masih berjalan sesuai alur kan tem?"
"Masih tuan"
"Kenapa?"tanya adnan heran karena melihat alin hanya melamun seraya menatap dirinya.
"Gak papa kak"jawab alin.
"Em kalo gitu alin pulang dulu ya kak takut kemaleman"lanjutnya lalu gadis itu beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan adnan yang mengernyitkan dahinya bingung.
"Bukannya ini udah mau pagi?"gumam nya heran
Lalu adnan berlari mengejar alin saat dia sadar ternyata gadis itu telah pergi. Adnan menahan tangan alin.
"Kenapa ya kak?"tanya alin sedikit gugup karena adnan hanya menatapnya intens tanpa mengeluarkan suaranya.
"Gue anter"ujar adnan setelah beberapa waktu terdiam. Dia juga sempat bingung, kenapa dirinya harus mengejar gadis ini? Dan kalimat itu hanya spontan dia ucapkan. Dia merasa sedikit khawatir jika meninggalkan gadis imut ini sendirian.
"Eh gak usah"ucap alin sedikit gelagapan.
"Ini udah mau pagi dan lo pulang sendiri?"adnan menatap dingin alin.
"Ayo"ajak adnan seraya menarik tangan alin.
"Kita naik apa?"tanya alin karena dia tidak melihat kendaraan milik pemuda ini.
"Motor"jawab adnan singkat. Lalu dia menaiki motor sport miliknya yang terparkir tidak jauh dari indojuni tadi.
"Naik"titah adnan dan langsung dituruti oleh alin. Entahlah, alin juga tidak tau kenapa dia bisa senurut ini pada adnan.
"Susah kak"ujarnya kesal karna tidak bisa menaiki motor tersebut lantaran badannya yang terlalu mungil.
Sedangkan adnan yang melihat wajah kesal gadis itu pun terkekeh lirih dibalik helm full face nya.
Adnan turun lalu tanpa aba-aba mengangkat tubuh alin hingga membuat gadis itu tersentak kaget karena belum siap.
"Kalo mau gendong tu ngomong ngomong dong"ujar alin sinis.
"Dasar pendek"ejek adnan
"Apa?! Enak aja pendek! Alin gak pendek tapi kakak aja yang ketinggian!"seru alin menatap tajam adnan berniat menakut nakuti pemuda itu. Tapi bukannya takut, pemuda itu malah menahan senyum lantaran terlalu gemas dengan alin.
"Dasar titan huh"lanjutnya sembari bersedekap dada dan membuang mukanya.
"Hahaha"adnan tidak bisa menahan tawanya lagi karna melihat tingkah alin yang menurutnya lucu.
Sedangkan alin yang mendengar tawa adnan pun sontak menatap pemuda itu horor.
"Kok gue merinding ya denger dia ketawa. Kayak lagi dengerin zombie ketawa woi" batin alin meringis
"Kita jalan"ujar adnan singkat setelah kembali pada raut wajah yang semestinya dia tampakkan, dan alin hanya bisa mengangguk saja karena gadis itu masih terlalu syok dengan kejadian barusan.
...***...
Kini alin sedang berada diperjalanan bersama adnan tanpa tujuan. Gadis itu sedang ketar ketir sendiri karena memikirkan rumah yang dia maksud tadi.
"Duhh gue harus nunjukin yang mana nih kalo dia nanya" batin alin
"Dimana?"tanya adnan sedikit berteriak.
"Nah kan apa gue bilang"
"Asal tunjuk ajalah bodoamat"lanjutnya
"Itu kak, yang cat nya warna gold"jawab menunjuk salah satu rumah em..lebih tepatnya sebuah mansion yang terletak dipinggir jalan dan tidak jauh dari tempat mereka.
Adnan melajukan motornya menuju rumah yang dimaksud oleh gadis itu.
"Bisa turun?"tanya adnan setelah menghentikan motornya tepat didepan gerbang mansion itu.
"Bisa"jawab alin, lalu gadis itu turun dari motor dengan bantuan adnan.
Sekarang alin berdiri di depan mansion itu. Lalu alin menatap adnan yang masih berada diatas motor dengan kedua tangannya menumpu pada bagian depan motornya seraya menatap intens alin.
"Ehem"alin berdehem canggung.
"Kakak gak pulang? Ini udah mau pagi lo, mending kakak pulang aja nanti di cari orang rumah"ujar alin membujuk agar pemuda itu pergi dari hadapannya.
"Gue liat lo masuk dulu baru gue pergi"jawab adnan.
"Adnan ban*sat gue tandai muka lo" batin alin kesal.
Lalu gadis itu berjalan dengan perlahan kearah gerbang mansion tersebut dan terlihat seorang satpam yang sedang duduk sembari menyesap kopi.
Alin menolehkan kepalanya menatap adnan yang masih setia di tempatnya.
"Pak"panggil alin pelan namun tidak direspon oleh satpam tersebut, mungkin tidak kedengaran.
"Pak mamat"panggil alin sekali lagi namun masih tidak dihiraukan oleh pria paruh baya itu.
"PAK MAMAT"teriak alin yang sukses membuat satpam itu terjengkit kaget. Lalu dia menatap gadis yang kini malah cengengesan tanpa adanya rasa bersalah.
Satpam tersebut berjalan menghampiri alin.
"Ada-
"Bukain gerbang dong pak, alin mau masuk. Nanti ketauan mommy lagi"sela alin karena ia tau pertanyaan apa yang akan dilontarkan oleh satpam itu.
Sedangkan satpam tersebut mengernyitkan dahinya bingung. Siapa gadis ini? Kenapa dia menyuruhnya membuka gerbang? Atau dia orang gila? Tapi kenapa orang gila secantik ini. Itulah isi pikiran satpam tersebut.
"Sepertinya anda salah alamat nona"ujar satpam itu.
"Hahaha"alin tertawa garing
"Bapak bisa aja bercandaan nya"lanjutnya
"Ta-
"Pak please bantuin saya pak"bisik alin kepada satpam itu.
"Bantu? Bantu apa?"tanya satpam itu heran. Apa gadis ini tersesat jalan pulang?
"Itu"alin melirik adnan yang masih ditempatnya dan diikuti oleh satpam tersebut.
"Bapak liat cowok itu?"tanya alin dan diangguki oleh satpam itu.
"Dia itu mau culik saya pak"ujar alin. Sontak saja satpam tersebut membelalakkan matanya terkejut.
"Penculik?"beo nya dan diangguki oleh alin.
"Bentar, saya mau cari pak rt dulu"ujarnya
"Eh jangan pak jangan"cegah alin.
"Kenapa neng? Dia itu penculik dan harus dipenjara"ujar satpam bingung.
Alin memutar otaknya guna mencari jawaban yang tepat.
"Dia ngancem saya pak. Katanya kalo saya kasih tau sama orang-orang, saya bakalan diteror karna udah bohong sama dia"ujar alin dengan mata yang berkaca kaca.
"Keren sekali anda tuan" sistem menatap kagum alin.
"Saya udah terlanjur bilang sama dia kalo ini rumah saya pak. Jadi please bantuin saya untuk sementara sampe cowok itu pergi"lanjutnya.
"Baiklah nona saya akan membantu anda"lalu satpam itu membukakan gerbang untuk alin.
Sedangkan alin, akhirnya ia bisa bernafas lega.
Setelah gadis itu masuk, alin menatap adnan yang kini sedang menatapnya dengan rumit.
"Alin udah masuk kak. Kakak pulang aja"ujar alin ah lebih tepatnya mengusir pemuda itu.
Namun belum sempat adnan pergi, kini alin kedatangan sang tuan rumah yang sempat dipinjam oleh gadis itu.
"Siapa?"tanya seorang pemuda yang menatap penasaran alin.
"Mampus gue" batin alin ketar ketir
____________________
Bersambung...
See you~