ALIN TRANSMIGRATION

ALIN TRANSMIGRATION
16



Tandai typo✔️


Happy reading guys~


___________________________


Baru saja alin ingin melemparkan lampu tidur kearah pemuda itu namun terhenti saat dia mendengar dobrakan serta teriakan.


Sontak saja mereka berdua mengalihkan pandangannya kearah pintu yang kini terdapat mama serta papa nya dan yang teriak tadi adalah sang mama sedangkan papa nya hanya menampilkan wajah datar namun masih terlihat lembut dari tatapannya.


Alin melompat turun dari ranjangnya yang langsung dihadiahi delikan tajam oleh mereka semua.


"Alin! Jangan lompat lompat gitu nanti kamu jatuh gimana hah?"ujar sang mama, menatap garang alin yang hanya bisa menyengir.


"Alin kenapa teriak?"tanya aris lembut.


Sebenarnya kamar alin itu tidak kedap suara karna itu teriakan alin tadi sampai kebawah yang langsung membuat mereka semua panik. Namun yang menghampiri alin hanya kedua orang tuanya saja karna yang lain tidak diizinkan oleh aris.


"Itu pa! Dia mau culik alin"adu alin menatap tajam pemuda tadi yang kini hanya bisa menghela nafas lelah menghadapi tingkah ajaib dari gadis itu.


Sedangkan rindi hanya menahan tawa saat melihat wajah tertekan dari ponakannya itu.


"Dia itu abang alin sayang"ujar rindi seraya mengelus kepala alin.


"Abang? Bukannya abang alin cuma bang steven?"tanya alin bingung yang membuat mereka malah menahan gemas lantaran melihat ekspresi wajah gadis itu.


"Sejak kapan cuma steven yang jadi abang alin?"tanya pemuda tadi tidak terima saat alin hanya menganggap steven saja yang menjadi abangnya.


"Loh emangnya alin punya abang lagi mama?"tanya alin heran.


"Alin masih punya abang sepupu sayang"ujar rindi tersenyum gemas menatap putrinya.


"Anak dari papi aril sama mami tanti"lanjutnya dan diangguki oleh alin.


"Ohh"


"Terus kamu ngapain masuk kamar alin tanpa ijin?"tanya alin menatap kesal pemuda itu yang kini sedang menggaruk kepalanya.


"Sebenarnya abang penasaran sama kamu karna semalem abang gak ketemu sama kamu"jelasnya


"Dan panggil aku abang"lanjutnya


"Nama abang siapa?"tanya alin


"Nama abang it-


"Kita turun kebawah dulu yuk sayang"sela aris memotong ucapan keponakannya.


Sedangkan pemuda tadi hanya menatap kesal pamannya yang sekaligus menjabat sebagai papanya itu.


"Alin belum sarapan kan, kita kebawah dulu ya baru setelah itu bisa kenalan sama abang alin"timpal rindi


"Iya ma"


"Tapi sebelum itu alin mandi dulu terus langsung kebawah ya sayang, yang lain udah pada nunggu"lanjut rindi.


"Siap kanjeng ratu"jawab alin lalu terkekeh geli saat mendengar ucapannya.


Mereka yang melihat alin seperti itupun tidak kuasa menahan senyum.


...***...


Tak


Tak


Tak


Semua penghuni rumah yang sedang berada di meja makan itupun langsung mengalihkan pandangannya pada seorang gadis mungil yang baru saja menuruni tangga.


Sebagian dari mereka tersenyum seraya menyapa alin dan sebagiannya lagi hanya terdiam karna terlalu syok dengan kecantikan gadis itu.


"Siapa dia?" batin seseorang 1


"Cantik" batin seseorang 2


"Dia? Kenapa ada disini" batin seseorang 3


"Tu cewek kok mirip sama mama" batin seseorang 4


"Pagi sayangg"sapa adam seraya tersenyum lembut pada cucunya.


"Pagi opa"jawab alin sedikit gugup.


Aril yang tau jika keponakannya itu gugup pun menarik tangan alin dengan lembut lalu membawanya keatas pangkuannya.


Sedangkan alin hanya menampilkan wajah polos andalannya saja, namun berbeda dengan hatinya yang sedang menggerutu kesal.


"Kembalikan alin"ujar aris menatap tajam sang kakak yang hanya menatap santai dirinya.


"Tidak"ujar aril singkat.


Mereka yang masih belum tau dengan alin pun hanya mengernyitkan dahinya bingung.


Siapa gadis ini? Kenapa papi dan papa mereka memperebutkannya.


Tidak tahan dengan rasa penasaran, seorang pemuda langsung menanyakan apa yang sedari tadi ada di otaknya.


"Siapa dia pi?"tanya pemuda berambut dark blue menatap bingung papinya.


"Biar mama aja yang kenalin"sahut rindi dengan antusias.


"Dia ini alin, adik kalian dan anak mama sama papa"lanjut rindi tersenyum manis yang malah membuat mereka bertambah bingung.


Bukannya abel adalah anak mereka? Lalu kenapa tiba tiba mereka berdua mempunyai seorang putri lagi. Apakah gadis itu diadopsi? Itulah isi pikiran mereka.


Sedangkan abel hanya terdiam, namun tidak dengan hatinya yang sedang cemas.


"Gak mungkin" batin abel menepis pikiran buruknya.


"Mama adopsi?"tanya seorang pemuda yang memakai pakaian kantor sembari menatap alin lekat hingga membuat gadis itu menjadi risih.


Bagaimana tidak risih? Dari awal alin tiba sampai sekarang, pemuda itu terus saja menatapnya. Ingin rasanya alin mencongkel mata pemuda itu lalu membuangnya ke selokan agar bisa dimakan oleh kepiting.


Karna kepalang kesal, alin pun menatap balik pemuda itu lekat. Alin berniat ingin membuat lelaki didepannya ini menurunkan pandangannya. Namun niat alin sepertinya tidak akan terjadi. Karna, bukannya menurunkan pandangan, pemuda itu malah tersenyum smrik padanya.


"Tu cowok napa sih?"batin alin heran sekaligus kesal.


"Sakit jiwa?"lanjutnya


"Dia cya" ujar rindi tersenyum tipis.


Mereka yang tadinya bingung langsung menegang saat mendengar ucapan rindi. Bahkan pemuda yang sempat menatap lekat alin itu pun langsung menoleh pada rindi dengan tatapan err aneh?


"Cya? Alin? Mereka orang yang sama?" Batin abel tidak percaya.


"Aargghh kenapa dia harus kembali. Kenapa dia gak mati aja siala*" abel mengepalkan kedua tangannya dengan kuat hingga kukunya memutih.


"Gue gak akan biarin lo rebut apa yang memang seharusnya jadi milik gue. Gak peduli lo cya atau alin, karna kalian berdua gak akan bisa nyingkirin gue dari keluarga anderson" lanjutnya tersenyum miring


"C-cya"ujar sendu pemuda berambut coklat gelap menatap rumit alin yang hanya menampilkan wajah polos.


Pemuda yang berpakaian khas kantor tadi langsung menghampiri alin dengan raut wajah datar namun tidak dipungkiri matanya sedikit berembun.


Lalu pemuda itu berjongkok guna menyamakan posisinya dengan alin yang masih diatas pangkuan aril.


"Kenapa lagi ni cowok" batin alin bingung


Pemuda itu membelai pipi alin dengan tatapan rindu.


Sedangkan alin yang diperlakukan seperti itupun menjadi merinding. Ingin sekali alin menendang kepala laki-laki ini karna dengan beraninya dia menggendong alin lalu dipindahkan keatas pangkuannya.


Aril yang melihat itupun tentu saja tidak terima namun belum sempat dia memukul kepala putranya, pinggang pria itu lebih dulu dicubit oleh sang istri yang kini telah menatapnya tajam. Dan yah, aril tidak bisa apa apa jika istrinya telah menatapnya tajam seperti itu.


"Em alin mau turun"ujar alin canggung. Gimana gak canggung coba kalo ni cowok ngeliatin alin terus, mana lagi posisinya deket banget, bahkan deru nafas cowok itu aja terasa. Untungnya nafas ni cowok gak bau.


Pemuda tersebut tidak menghiraukan ucapan alin, dia malah memeluk tubuh alin dengan erat yang dapat membuat alin tersentak kaget.


"Akhirnya kamu kembali sayang"ujar pemuda itu dengan lirih.


"Maaf"lanjutnya seraya mencium kening alin yang masih terdiam.


Mereka semua yang melihat itupun tersenyum haru sekaligus bahagia karna princess mereka kini benar benar kembali lagi pada mereka.


Namun tidak dengan dua orang, salah satu dari mereka menatap benci alin dan yang satunya lagi menatap dingin.


Brak


Mereka semua terkejut saat seorang pemuda memukul meja makan dan menatap murka pada alin yang hanya menatapnya heran.


"Apa lagi ini" batin alin sedikit frustasi.


Terlalu banyak drama menurutnya.


"Justin"ujar adam dengan penekanan seraya menatap tajam cucunya yang tidak sopan itu.


Pemuda yang dipanggil justin tidak menghiraukan ucapan sang opa. Dia masih menatap tajam alin yang tidak tau apa apa.


"Jaga tatapan mu justin"peringat aris pada salah satu putranya.


"Kenapa"satu kalimat keluar dari mulut justin yang dapat membuat mereka bingung seketika.


"Kenapa dia kembali lagi!"lanjutnya menatap murka alin yang kini telah tertunduk.


"Apa maksudmu sayang? Dia adikmu"ujar rindi lembut.


"Gak! Dia bukan adik aku! Adik aku cuma abel dan dia bukan siapa siapa!"seru justin menatap rindi tidak terima.


Sedangkan abel tersenyum miring saat mendengar ucapan justin tanpa disadari oleh yang lain.


"Lo!"justin kembali mengalihkan perhatiannya pada alin sembari menunjuknya.


Alin hanya diam saja, dia tidak tau harus bagaimana sekarang. Apakah ia harus jungkir balik? Kayang? Atau terjun dari tangga? Ck ini sungguh membingungkan untuk alin dan pikiran itu telah mengotori otak mungilnya yang tidak seberapa ini.


"Ada tai dibalik tangan? Lalu kejang kejang hingga kejengkang" batin alin ngawur


Sistem hanya menatap miris tuannya.


"Kasihan sekali, mana masih muda" batin sistem miris.


"Kenapa lo diem? Bisu hah?!"justin menatap sinis alin


"Aku kak?"tanya alin polos seraya menunjuk dirinya sendiri.


"Cih gak sudi gue dipanggil kakak sama lo!"sentak justin menatap tajam alin yang hanya bisa menghela nafas sabar.


"Salah mulu" batin alin kesal


"Seharusnya kan gue gak salah, soalnya gue cewe. Masa cewe bisa salah" lanjutnya mencibir


"Terus alin manggilnya apa dong?"tanya alin bingung, membuat pemuda yang sedang memangkunya itu menahan senyum.


"Justin?"lanjut alin


"Gak usah sebut nama gue! Gue gak ngijinin lo!"balas justin menatap alin tidak suka.


Alin harus bagaimana sekarang? Ingin rasanya alin mencekek pemuda didepannya ini.


"Yaudah alin panggil dugong aja kalo gitu"ujar alin memutuskan yang malah membuat mereka menahan tawa apalagi melihat wajah serius milik gadis itu.


"Lo berani manggil gue gitu?!"ujar justin mendelik tajam.


Kenapa gadis ini semakin menyebalkan? Itu isi pikiran justin sekarang.


Sedangkan alin sedang asik menggerutu dalam hatinya.


"Contoh anak anjing! Mati aja sana lo beban!!" Alin berteriak kesal dalam batinnya.


"Serba salah" lanjutnya menghela nafas lelah


"LO SEHARUSNYA GAK USAH BALIK LAGI KESINI! LO GAK PUNYA MALU HAH?!"bentak justin, sukses membuat alin terjengkit kaget begitupun dengan mereka yang kini telah menatap pemuda itu tajam.


"KENAPA? LO GAK PUNYA UANG? IYA? KARNA ITU LO BALIK LAGI KESINI UNTUK PLOROTIN UANG KAMI?!"justin menatap murka alin yang telah bergetar ketakutan karna bentakan dari pemuda itu.


Alin juga tidak tau mengapa reaksi tubuhnya ini berlebihan. Mungkin memang bawaan dari tubuh yang ditempatinya.


"KALO LO GAK PUNYA UANG MENDING LO JADI ****** AJA SANA! ITU LEBIH BAIK DARI PADA LO BALIK KESINI YANG CUMA BISA JADI BENALU!!"


"LO GAK PANTES JADI BAGIAN KELUARGA INI!! KARNA LO ITU-


PLAK!


____________________________


Bersambung...


Gantung dulu ye wkwk


By by👋