ALIN TRANSMIGRATION

ALIN TRANSMIGRATION
03



Tandai typo ✔️


Happy reading~


___________________


Alin menghentikan langkahnya saat melihat sesuatu yang menarik perhatiannya.


"Eh ada pohon mangga"ujarnya sembari menghampiri pohon tersebut.


"Ambil gak ya"lanjutnya ragu seraya menelan ludahnya saat melihat mangga yang tergantung indah dipohon nya.


"Gak usah ah kan dosa"ujarnya lalu gadis itu memanjat pohon mangga tersebut dengan lihai.


"Katanya dosa tapi ujung ujungnya masih juga di embat"gumam sistem yang tidak terdengar oleh alin.


Setelah alin menyelesaikan acara permalingan nya, gadis itu pun melompat turun dari pohon itu dengan beberapa mangga yang ada di kedua tangannya..


"Enak banget nihh kayak nya"ujarnya menatap binar sang mangga.


Lalu gadis itu membuka tas nya berniat untuk menyimpan mangga itu ke dalamnya, namun belum sempat alin memasukkan mangga tersebut malah terdengar suara yang paling ia benci.


Guk


Alin terdiam.


"I-itu apa?"ujarnya terbata bata


Guk


Dengan perlahan alin menoleh ke belakangnya dan sontak saja tubuhnya menjadi membeku seketika kala melihat hewan yang ia benci sekaligus takuti.


"H-halo njing hehe"sapa nya seraya terkekeh canggung karena sedari tadi hewan itu terus saja menatap alin sampai jantung gadis itu menjadi jedag jedug. Bukan karna jatuh cinta loh pemirsa melainkan takut.


Guk guk


"A-apa? Oh lo mau nih mangga?"tanya nya sambil menunjukkan mangga tadi.


Guk


"Ambil aja nih"lalu gadis itu melemparkan satu buah mangga kepada sang anjing.


Duk


Anjing itu terdiam begitupun dengan alin saat mangga yang alin lempar tadi malah mengenai kepala anjing itu.


Guk!


"Maaf njing gue kagak sengaja sumpah"ujar alin panik seraya berjalan mundur saat anjing itu berjalan mendekatinya dengan tatapan tajamnya.


Guk guk guk


"HUAAAAAAA"alin berlari seraya berteriak histeris kala sang anjing mengejarnya.


Alin sedikit mempunyai trauma terhadap seekor anjing karena waktu dia masih kecil, dia pernah dikejar anjing bahkan dia sempat digigit dibagian kakinya karena dengan gabut nya si alin menarik ekor si anjing dan anjing yang tidak terima itu pun langsung mengejarnya dan mengigit nya lantaran ia terlalu gemas dengan tingkah bodoh gadis itu.


Guk guk guk


"MAAF NJING MAAF! GUE GAK SENGAJA! BUSET DAH BAPERAN AMAT LO JADI ANJING"teriak alin yang menjadi kesal sendiri karena menurutnya anjing itu terlalu baper. Kan dia gak sengaja, emang dasar si anjingnya aja yang caper.


Seakan akan mengerti perkataan alin, anjing itupun menambah kecepatannya dalam mengejar alin.


Guk! Guk!


"BERCANDA WOI BERCANDA HUAAAAA"teriak alin kalang kabut saat melihat anjing itu mempercepat larinya.


"Sistem lo dimana tolongin gue"ujar alin


Sistem off


"Sistem ba*ingan"ujar alin kesal. Rasanya ia ingin menangis saja sekarang. Bayang bayang ketika ia digigit oleh anjing di kehidupan sebelumnya kini berputar di otak nya.


"Setelah ini kayaknya gue harus jadi atlet lari biar gue gak kalah dari anjing s*alan itu" batin alin


"HUS HUS SANA!! JANGAN GIGIT GUE NJING, UDAH CUKUP NENEK MOYANG LO AJA YANG GIGIT GUE. GUE GAK AKAN SANGGUP KALO DIGIGIT LAGI"


"LO PIKIR ENAK APA DIGIGIT?! MANA LO GAK PERNAH SIKAT GIGI LAGI, NANTI KALO GUE RABIES LO MAU TANGGUNG JAWAB HAH?!"cerocos alin


GUK! GUK


"TOLONGGGG"tidak ada cara lain lagi selain berteriak minta tolong. Malu? Tentu saja, tapi yang dipikirkan gadis itu sekarang adalah nyawanya. Bodoamat tentang malu, orang cantik mau apa aja pun tetap cantik.


Para pemuda yang sedang berkelahi itupun sontak berhenti saat mendengar teriakan seorang gadis yang terdengar lucu.


Mereka semua mengalihkan perhatian kepada gadis cantik namun terkesan imut itu yang sedang berlari kearah mereka. Mereka semua terdiam saat melihat kecantikan alin, jujur saja baru kali ini mereka melihat gadis secantik alin.


Salah satu dari mereka tersadar.


"Eh kenapa cantik?"tanya nya kepada alin sedangkan teman temannya yang mendengar itu pun hanya memutar bola mata malas.


"ANJING!!"jawab alin ngegas sembari terus berlari melewati mereka.


"Buset biasa aja kali gak usah ngumpat"timpal teman pemuda tadi yang sedikit tidak terima saat alin mengumpati temannya. Padahal kan bukan yak wkwk.


"Iy-


"ANJING!"ujar seorang pemuda seraya memukul kepala pemuda yang sempat bertanya kepada alin tadi.


"Aw. Maksud lo apa hah?!"ujar pemuda itu tidak terima saat musuhnya mengumpati dirinya bahkan memukul kepala nya.


"ANJING BE*O ANJING!"balasnya seraya berlari dan diikuti teman temannya. Kini yang tersisa hanyalah pemuda itu saja.


"Kenapa mereka ngatain gue anjing? Padahal gue gak burik burik amat dah"ujarnya heran.


Guk guk


Pemuda itu langsung menoleh kebelakang nya saat mendengar suara yang mirip dengan kembaran nya dan sontak saja dia membulatkan matanya saat melihat seekor anjing yang besar kini sedang berlari kearahnya.


"AAAAAAAAAA ANJING WOY ANJING LARI!!"teriaknya sembari berlari kencang bahkan pemuda itu melewati mereka semua yang sedang menatapnya cengo.


"HUAAA BANGKAI TOLONGIN ALIN"teriak alin memanggil nama abang nya yaitu kaisar dengan mata yang telah berkaca kaca.


Dua pemuda itu tidak mengatakan apa apa, mereka hanya mengangkat alin dan fokus berlari untuk menghindar dari anjing gila itu.


Sedangkan alin hanya diam saja dan menerimanya dengan lapang dada karena dia juga sudah lelah. Entah sudah berapa kali dia berlari hari ini dan itu telah mencapai rekor tertinggi dalam kehidupan alin karena gadis itu memang paling malas jika berolahraga.


Sepertinya alin telah sadar jika olahraga itu penting dan berguna, contohnya seperti sekarang. Dia menyesal, kenapa dia tidak pernah kepikiran untuk menjadi atlet lari saja? Agar tidak menjadi beban seperti ini.


Sebenarnya alin tidak ingin menjadi beban namun beban lah yang terus saja melekat pada dirinya, jadi dia tidak bisa apa-apa selain menerimanya dengan sukarela.


...***...


Kini mereka semua sedang berada di rumah kosong, tepatnya di teras rumah tersebut. Sedangkan anjing tadi masih diluar pagar yang sempat mereka kunci agar anjing itu tidak masuk.


"Hampir aja"ujar salah satu pemuda disana sembari menatap anjing yang masih diluar pagar.


Guk guk


"Apa lo anjing?! Sini lo kalo berani! Dasar anjing! Udah anjing tetep anjing!"ucap pemuda lainnya menatap sinis sang anjing.


Bugh


"Aduh"ringis pemuda tadi saat merasakan sakit di kepalanya karena sebuah sandal mendarat tepat dikepalanya.


"Sok sok an banget congor lo"ujar sinis dari musuh pemuda tadi setelah melemparkan sandal nya.


"Serah gue dong! Congor congor gue! Mau apa lo?!"jawabnya mendelik tajam.


"Lo-


Ucapan pemuda itu terhenti saat tiba tiba saja hujan turun dengan derasnya.


"Yahh hujan"ujar pemuda tadi, sebut saja rendi


"Bersyukur lo"ujar sinis musuhnya tadi yang bernama aldi sedangkan rendi hanya memutar bola matanya malas.


"Hiks"mereka semua terdiam saat mendengar isakan tersebut dan langsung saja mereka menatap seorang gadis yang sedang berjongkok sembari memeluk kakinya dan menelusupkan wajahnya disana.


"Sst tu cewek kenapa?"bisik andre temannya rendi kepada musuhnya.


"Kerasukan mungkin"jawab ragu andra kembaran dari andre sekaligus musuh geng nya. Entah kenapa mereka berdua bisa menjadi musuh antar geng.


"Ah yang bener lo ngab"ujar rendi takut seraya memeluk lengan aldi.


"Ck lepas"ujarnya jengah. Namun bukannya melepaskan, pemuda itu malah mengeratkan pelukannya.


"Hiks bangKai"tangis alin sembari menutup telinganya dengan kedua tangannya. Selalu seperti ini jika alin sedang mengalami takut.


Sebenarnya alin mempunyai trauma terhadap hujan karena waktu dia kecil, dia pernah di keluarkan dari mansion nya oleh sang papa lalu dikunci agar dia tidak bisa masuk kedalam dan kejadian itu sedang hujan. Karena itulah alin takut dengan hujan.


Mereka menghampiri alin yang masih sesegukan. Lalu salah satu dari mereka ikut berjongkok guna menyamakan posisinya dengan gadis itu.


"Kenapa hm?"tanya pemuda itu dengan lembut seraya mengelus kepala alin. Sebut saja namanya axel, seorang ketua dari geng aodra.


Alin mengangkat wajahnya saat merasakan elusan di kepalanya.


Sontak saja mereka semua menahan nafas saat melihat wajah alin yang semakin menggemaskan. Mata yang berkaca kaca, hidung memerah dan bibir yang mengerucut sedih.


"Alin hiks mau abang"ujarnya dengan tubuh yang bergetar ketakutan dan itu disadari oleh mereka semua.


"Takut hiks alin takut hiks"


"Alin hiks gak mau disini hiks"lanjutnya seraya memeluk kedua lututnya dan menenggelamkan wajahnya disana.


"Papa hiks maaf hiks jangan tinggalin alin"racaunya


"Alin hiks takut sendirian hiks"lanjutnya. Kini bayang bayang ketika dirinya sendirian diluar mansion nya dengan hujan lebat saat itu memenuhi pikirannya sekarang.


Alin memang sering seperti ini saat hujan tiba dan langsung ditenangkan oleh sang abang. Karena itulah pertama kali yang alin cari adalah abangnya.


Mereka semua hanya bisa diam saat mendengar racauan gadis itu.


Dengan segera gevan menghampiri alin lalu memeluknya dan mengelus kepalanya dengan lembut.


Gevan adalah ketua dari gengnya yang bernama alaska.


"Abangnya dimana?"tanya nya lembut sembari mengelus kepala alin.


Mereka semua yang melihat itupun sontak menganga tidak percaya. Karena yang mereka tau gevan adalah orang yang cuek dan acuh kepada siapa pun kecuali dengan keluarganya.


Dia tidak dingin, tapi lebih ke tidak peduli terhadap sekitarnya jadi wajar saja mereka terkejut saat melihat sikap gevan yang berubah drastis kepada gadis mungil itu.


"Abangnya gak ada hiks"jawab alin yang berada dalam pelukan pemuda tersebut.


Mereka yang mendengar ucapan alin itupun sontak tercengo. Tidak ada? Lalu kenapa gadis itu menangis dan memangil abangnya? Atau jangan jangan abangnya telah meninggal? Itulah pikiran mereka sekarang.


"Innalillahi wainnaillaihi rojiun"ujar mereka serentak hingga membuat alin yang berada dalam pelukan gevan itupun tersentak kaget. Wajar aja alin kaget, itu yang bersuara bukan 1 atau dua orang aja loh teman tapi 2 geng:(


Kini hujan telah berhenti karna itulah alin menjadi sedikit lebih tenang dari sebelumnya.


Alin langsung melepaskan pelukannya saat mendengar ucapan mereka.


"Ihh abang alin tu gak meninggal"ujarnya tidak terima dengan raut wajah cemberut.


Mereka yang melihat ekspresi alin itupun sontak memanglingkan wajah lantaran menahan gemas dan ada juga yang menggigit pipi dalamnya guna menyalurkan rasa gemas mereka terhadap gadis imut itu.


"Tapi bukannya l-kamu bilang abangnya gak ada?"tanya axel bingung seraya meralat kosa katanya.


Dia pikir alin adalah gadis yang polos dan lugu jadi tidak baik jika dia menggunakan bahasa gaul saat berbicara dengannya.


"Abang alin emang gak ada disini"ujar alin


"Tapi dia gak meninggal"lanjutnya dengan cepat saat melihat mereka yang ingin berbicara.


____________________


Bersambung...


Next gak?