
Tandai typo✓
Happy reading~
___________________________
Kini alin telah berada di kelasnya 11 ips 2. Alin lah yang meminta pada papa nya agar langsung naik ke kelas 11. Dan sekarang gadis itu lagi sibuk dengan ponselnya tanpa memperdulikan ocehan teman sebangkunya dan tatapan kagum dari teman sekelasnya.
Ips 2 saat ini sedang jamkos.
"Alin alin"panggil teman sebangkunya yang berpenampilan culun.
Gadis culun yang sempat alin bantu dari bully-an tadi adalah teman sebangkunya saat ini.
Alin hanya menoleh sebentar lalu kembali fokus pada ponselnya. Dan itu membuat gadis culun tersebut menjadi sedikit kesal. Namun tidak apa, dia tidak akan menyerah untuk menjadikan alin sebagai temannya.
"Alin"panggilnya lagi.
"Hm"sontak saja gadis itu tersenyum senang saat alin meresponnya. Ya walaupun hanya dengan gumaman, itu lebih baik baginya.
"Makasih ya untuk tadi"ujar gadis culun itu dan alin hanya mengangguk.
Dia lagi malas untuk berbicara.
"Kenalin, nama aku Eca Putri Ryanti"ujar eca sembari menyodorkan tangannya, berharap agar alin menerimanya.
"Panggil aja alin"alin menerima jabatan tangan eca dengan senyuman tipis.
"Oke! Sekarang lo resmi jadi sahabat gue!!"seru eca sembari merangkul bahu alin. Seruan eca membuat mereka semua bertepuk tangan dan disertai sorakan.
Sedangkan alin mengernyitkan dahinya bingung dengan sikap eca yang tiba tiba menjadi seperti ini.
"Jangan heran, karna inilah sifat asli eca"ujar ahmad, ketua kelas.
"Lo pura pura jadi culun?"tanya alin tidak percaya pada eca.
"Iya"
"Kenapa?"tanya alin bingung.
"Karna gabut"jawab santai eca yang malah membuat alin melongo.
"Hahaha lo lucu banget sih"eca menatap gemas alin yang masih melongo.
"Gue jadi culun karna mau cari sahabat yang bener bener tulus kayak lo"lanjutnya yang membuat alin mengangguk paham.
"Lo semua tau?"tanya alin pada teman sekelasnya.
"Iya, eca pura pura jadi culun itu cuma diluar kelas aja lin"jawab sinta mewakili.
"Waw"alin menatap kagum mereka semua.
"Udah saatnya lo ganti penampilan cupu lo ca"ujar lia dan diangguki oleh eca.
Eca melepaskan kacamata bulatnya dan membersihkan wajahnya dengan tisu basah. Wajah yang tadinya hitam kusam kini telah berganti dengan wajah putih mulus tanpa noda sedikitpun dan itu membuat alin menganga kagum. Sungguh cantik.
"Biasa aja kali ngeliatnya. Gue tau gue cantik"ujar eca menatap angkuh alin.
"Cih najis"balas alin sinis sembari memukul kepala eca yang sontak membuat sang empu mendelik tajam.
"Gue ke wc bentar"alin berdiri dari duduknya.
"Mau ditemenin gak"tawar caca yang ikut berdiri dari bangkunya.
"Gak usah"jawab alin lalu pergi keluar kelas.
Kringgg waktunya istirahat
"ALIN! NANTI TEMUAN DIKANTIN AJA!"teriak caca
"YOI"Balas alin yang memang belum jauh dari kelasnya.
...***...
Setelah menuntaskan hajatnya, alin menuju wastafel dan mencuci tangannya sembari menatap pantulan wajahnya yang berada di cermin.
"Tem, lo kok jarang ngasih gue misi lagi?" Tanya alin dalam hati.
"Karna anda harus fokus untuk menyelesaikan misi utama tuan" alin mengangguk paham.
"Liat status gue dong, gila udah berapa lama gak gue cek"
"Baik tuan"
Permintaan diproses...
...BIODATA...
...Nama : Alincya Evalina Caitlin...
...Umur : 16 Tahun...
...Peran : Figuran...
...Kecantikan : 40%...
...Keimutan : 40%...
...Daya tarik : 40%...
...Kepintaran : 50%...
...Kelicikan : 40%...
...Kesehatan : 20%...
...Keahlian : Multitalenta...
...Poin : 4.190...
...Hadiah : 1. Pewangi tubuh vanila permanen ✓...
...2. Uang 500 juta (Di Atm) ✓...
...3. Awet muda selamanya ✓...
"Keahlian gue kok berubah?"
"Seperti yang sudah saya bilang di awal, keahlian memang akan berganti jika sudah waktunya tuan"
"Ohh. Sekarang gak ada misi?"
"Tidak ada tuan"
"Okelah"
Selesai dengan urusan mencuci tangannya, alin keluar dari toilet dan langsung tersentak kaget saat melihat 3 pemuda berdiri di depannya dengan senyuman manis yang terpampang jelas di wajah tampan mereka.
"Hai"sapa mereka sembari tersenyum manis pada alin yang sedang menatap mereka heran.
"Kenapa?"tanya alin heran dan sedikit malas menanggapi mereka.
"Lo inget kami?"tanya salah satu pemuda itu.
"Kalian cowok gak punya otak yang cuma bisa diem aja pas liat pembullyan tadi kan"jawab alin yang membuat mereka terdiam malu.
Mereka bertiga adalah pemuda yang alin temui di parkiran saat kejadian pembullyan risa dkk tadi.
"Iya"jawab salah satu pemuda lainnya meringis malu.
"Ada apa?"tanya alin
"Kita mau kenalan sama lo"ujar pemuda tadi antusias, begitupun dengan kedua temannya yang lain.
Alin menaikkan sebelah alisnya.
"Kenalin gue agas cowok terganteng seantero SHS"ujar pemuda berambut biru gelap dengan lesung pipi dikedua pipinya sembari mengedipkan sebelah matanya.
"Gue erga salam kenal"ujar pemuda yang bermata coklat terang sembari tersenyum manis pada alin hingga menampilkan ginsulnya.
"Dan gue saga"ujar pemuda berwajah baby face seraya menyugar rambut hitamnya.
"Gue alin"ujar alin dan mendapatkan anggukan dari mereka.
"Gak ada yang lain kan? Gue duluan"lanjutnya lalu pergi meninggalkan mereka dan dengan cepat 3 pemuda tersebut mengejar alin hingga menyamakan langkah mereka dengan gadis itu.
"Mau gak jadi teman gue"tanya agas disela sela jalannya yang membuat alin menghentikan langkahnya.
Alin mengernyitkan dahinya.
"Jadi temen hidup"lanjutnya seraya tersenyum genit pada alin yang telah menatapnya sinis.
"Dih playboy murahan aja sok lo"ujar alin pedas.
Lalu gadis itu melanjutkan jalannya meninggalkan agas yang terdiam menahan nyeri dihatinya. Sedangkan kedua temannya langsung menyusul alin.
"Baru kali ini gue ngerasain sakit tapi tak berdarah"gumam agas.
"Lah bidadari gue pergi"lanjutnya. Lalu berlari menyusul alin
"Alin"panggil saga disela sela jalan mereka.
"Apa"alin menoleh pada saga
"Mau kemana"tanya pemuda itu
"Kantin"jawab alin tanpa mengalihkan perhatiannya dari pemuda tersebut.
Alin sempat terpesona saat melihat wajah saga yang terkesan lebih imut dari pada tampan. Ya namanya juga baby face. Alin bego -_-
"Kenapa?"tanya saga heran saat melihat alin yang menatapnya intens, kan dia malu.
Sedangkan erga hanya mendengus sinis.
"Lo ganteng banget dah"ceplos alin yang sukses membuat wajah pemuda itu memerah.
Alin yang melihat itu tersenyum gemas. Apa pemuda ini sedang salting? Oh astaga! Kenapa sangat lucu. Jadi pengen peluk kan.
Alin membuyarkan pikirannya saat tangannya ditarik oleh erga.
"Kenapa?"tanya alin bingung.
"Kita ke rooftop aja, dikantin rami soalnya"ujar erga
"Tapi kan gue laper"
"Biar gue aja yang beliin nanti, lo tunggu di rooftop"sahut agas yang baru saja sampai.
Alin menghentikan langkahnya dan menatap mereka heran. Ada apa ini? Kenapa mereka memperlakukannya seperti majikan? Padahal kan dia baru kenal dengan mereka. Tapi yaudahlah, dari pada dia ngantri dikantin, mending setujui aja. Anggep aja dapet babu gratis.
"Boleh deh"ujar alin.
"Oke. Tapi setelah ini, lo harus jadi temen kita"ujar agas yang diangguki oleh erga dan saga.
"Lo pada punya apa? Otak aja gak punya sok sok an mau jadiin gue temen"ujar alin santai sembari bersedekap dada dan menatap remeh mereka yang kini telah terdiam menahan kesal karna mendengar ucapan gadis itu.
"Lo ngeselin juga ya ternyata"ujar agas sinis. Alin hanya tersenyum tipis.
"Gue punya satu syarat, dan setelah kalian selesain syarat yang gue kasih. Kita bakal temenan"ujar alin yang membuat mereka bingung.
"Syarat apa?"tanya erga penasaran.
Alin memberi kode agar mereka bertiga mendekat dan tentu saja dituruti oleh mereka yang telah penasaran.
"Gue mau kalian culik seseorang"bisik alin yang sontak saja membuat mereka melotot kaget.
"Lo gila?!"saga menatap tak percaya pada alin yang kini malah tersenyum santai.
Sepertinya memang ada yang salah pada otak gadis ini.
"Kenapa?"tanya agas menatap alin dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Karna gue pengen"jawab alin yang lagi lagi membuat mereka menganga tidak percaya.
"Kami gak bi-
"Kalian bisa"sela alin memotong ucapan erga.
"Masa cuma gini aja leader black moon gak bisa"cibir alin yang malah membuat mereka membeku.
Di detik berikutnya, agas langsung memojokkan alin dan mengurungnya dengan kedua tangannya.
Sedangkan alin hanya menatap mereka santai tanpa memperdulikan tatapan tajam dari mereka bertiga.
Kini mereka sedang ada di depan perpustakaan yang tidak terdapat seorang siswa pun karna perpus memang tidak pernah dikunjungi oleh mereka.
"Siapa lo sebenernya"desis agas menatap tajam alin yang masih menatap santai mereka.
"Gue yakin. Sebelum lo bertiga ngajuin pertemanan sama gue, pasti udah tau siapa gue kan"ujar alin sembari tersenyum tipis.
Mereka terdiam dengan tatapan yang sulit diartikan.
Tidak lama dari itu, mereka semua terkekeh.
"Sepertinya kau tau terlalu banyak nona Caitlin"ujar saga datar.
Alin hanya tersenyum simpul.
"Dan sepertinya kau cukup punya banyak waktu untuk menyelidiki ku tuan muda Harison"balas alin yang membuat saga membeku.
"Bukankah akan sedikit seru jika kita menjadi teman"ujar alin tersenyum manis seraya mengalungkan tangannya dileher agas yang terdiam menatapnya lekat.
Agas tersenyum manis dan menatap alin lembut.
"Kau benar benar membuatku penasaran tentangmu nona Caitlin"ujar agas sembari mengelus pipi alin.
"Lebih baik kau hilangkan saja rasa penasaranmu itu. Karna jika kau masih mempertahankannya mungkin saja nyawamu lah yang akan hilang"balas alin tersenyum manis seraya menyingkirkan tangan agas dan menjauh dari pemuda itu.
"Menarik" batin agas tersenyum miring.
"Gimana? Mau gak? Kalo gak mau yaudah"ujar alin lalu berbalik dan berniat untuk pergi.
"Tunggu dulu"panggil agas gelagapan.
Alin kembali menatap mereka.
"Kita bakal lakuin apa yang lo mau"ujar agas dan diangguki oleh temannya yang lain.
"Tapi lo harus janji dulu. Setelah kami berhasil, lo harus jadi temen kami"ujar erga
"Gue janji"balas alin yang langsung membuat mereka tersenyum senang.
"Kenapa kalian ngebet banget pengen jadiin gue temen?"tanya alin heran.
"Mungkin sefrekuensi"jawab agas tersenyum smrik.
"Selamat tuan, anda berhasil membuat leader mafia ini menjadi rekan anda"
"Ho'oh biar mereka ajalah yang nyulik si anabel itu"
"Kenapa anda tidak melakukannya sendiri saja tuan?"
"Males" sistem menatap datar tuannya.
"Lo kirim aja fotonya"ujar erga dan diangguki oleh alin.
...***...
Malam harinya.
"Ma abel pergi ya"ujar abel yang baru saja turun tangga pada rindi.
"Mau kemana kamu?"tanya adam.
Kini semua anggota keluarga anderson sedang berkumpul diruang keluarga.
"Mau ketemuan sama temen opa"jawab abel
"Yaudah, pulangnya jangan kemaleman ya sayang"ujar rindi dan diangguki oleh abel.
Kemudian gadis itu pergi meninggalkan mereka yang terdiam dengan pikiran masing masing.
"Apakah alin telah ketemu?"tanya adam pada leon yang senantiasa menampilkan wajah datarnya.
"Belum"jawabnya singkat.
Adam mengepalkan tangannya.
"Cari gadis itu sampai dapat dan bunuh dia"titah adam.
"Hm"
...***...
Saat ini abel sedang berada disalah satu club terbesar di Jakarta. Dia telah mengganti pakaiannya dengan pakaian yang memperlihatkan aset tubuhnya.
Dentuman musik yang sangat khas dari tempat itu, ditambah dengan para pria lapar yang menatap buas abel. Perempuan itu masih santai dengan minumannya bahkan dia tidak memperdulikan tubuhnya yang telah diraba raba oleh pria hidung belang disana. Dia menikmatinya.
"Mau bermain cantik?"tawar seorang pria kekar pada abel yang tengah menikmati minumannya.
Abel menoleh dan terdiam sejenak karna pria didepannya ini terlihat tampan dan gagah, sesuai kriterianya.
"Tentu saja"jawab abel tersenyum manis seraya mengelus dada bidang pria itu dengan sensual.
"Tidak disini"ujar pria itu menggenggam tangan abel yang ada di dada nya.
"Lalu?"tanya abel bingung.
"Di apartemen ku"jawab pria itu.
"Baiklah"ujar abel.
Lalu mereka berdua pergi meninggalkan club itu dan menuju mobil pria tersebut.
Disepanjang jalan tidak ada yang memulai pembicaraan. Pria tadi hanya menampilkan wajah datarnya, sedangkan abel menatap kagum pada pria tersebut.
Hingga sebuah tangan yang mengelus pahanya dapat membuat pria itu tersentak kaget dan menatap abel yang kini sedang tersenyum menggoda.
"Kenapa tidak sekarang saja tuan"ujar abel dengan suara seksinya yang malah membuat pria tadi ingin memuntahkan isi perutnya.
"Sabarlah sebentar lagi kita akan sampai"ujar pria itu menahan tangan abel yang ingin beralih ke adiknya.
"Tapi aku sudah tidak sabar"balas abel lalu beranjak dari bangkunya dan ingin duduk dipangkuan pria tersebut.
Bugh
Belum sempat abel berada dipangkuan nya, pria itu langsung memukul tengkuk abel hingga membuat perempuan itu tidak sadarkan diri.
Akhirnya dia bisa bernafas lega saat melihat siluman jadi jadian itu pingsan.
"****** ini"desis pria itu menatap jijik abel
"Menjijikkan"lanjutnya.
Lalu pria itu mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Target sudah ditangan bos"
"Bawa ketempat eksekusi"
"Siap"
______________________
Bersambung...
Segini dulu jangan lupa vote and komen.
Bye~