
Happy reading~
_________________________
"Suit aja deh suit"ujar kevin jengah melihat perdebatan mereka berdua.
"Ayo, gunting batu kertas"ujar axel menyetujui saran dari kevin.
"Gunting batu kertas"ujar axel dan gevan bersamaan.
"Gue yang menang"seru axel.
"Lo curang. Ulang ulang"ujar gevan tidak terima saat axel menang darinya.
"Apaan enak aja lo"axel mendelik kesal.
"Gue gunting lo kertas. Ya menang gue lah gob*ok"lanjutnya.
"Ta-
"Apa? Apa?"tantang axel ketika gevan ingin protes.
Gevan menghela nafas berat sembari menatap kesal axel yang kini sedang tersenyum remeh kepada nya.
"Ayo lin kita pergi"ujar axel seraya menarik lembut tangan alin namun langsung ditepis oleh sang empu.
Sontak saja axel menatap alin dengan dahi yang mengerut bingung.
"Mau kemana kak?"tanya alin
"Kita mau ke markas"jawab rendi
"Ayo"ajak andre menggenggam tangan alin namun lagi lagi ditepis oleh gadis itu.
"Alin gak mau"ujar alin
"Alin mau ikut sama kakak?"tanya gevan senang karena alin tidak ingin ikut dengan musuh bebuyutannya itu.
"Yaudah ayo"lanjutnya sembari menarik lembut tangan alin.
"Lepasin kak, alin gak mau"ujar alin melepaskan tangannya yang berada dalam genggaman pemuda itu.
"Kenapa?"tanya nya heran
"Alin takut diculik. Kata abang, alin gak boleh ikut sama orang yang baru di kenal. Nanti katanya alin bakalan diculik, terus terus nanti alin gak dikasih makan sama gak dikasih coklat. Alin gak mau diculik, nanti alin jadi kurus"ujar alin polos.
Sedangkan mereka yang mendengar penuturan alin itu pun sontak melongo. Culik? Apakah wajah mereka seperti penculik?
"Astaga ya kagak begitu juga bocil"ujar rendi gemas dengan ucapan polos yang hampir menyerempet bodoh dari gadis itu.
"Hey emang siapa yang mau culik alin hm?"tanya andra dengan lembut sembari mengangkat wajah gadis itu agar mendongak menatap dirinya.
"Kalian"jawabnya polos
Mereka semua serentak menepuk jidat.
"Tadi alin bilang gak ada rumah kan?"tanya aldi dan diangguki oleh gadis itu.
"Nah sekarang, kami mau ajak alin ke markas. Biar alin punya tempat tinggal"tambah kevin.
"Emang alin mau tidur dijalan?"lanjutnya.
Alin menggelengkan kepalanya cepat. Dengan segera andra menahannya.
"Jangan gitu, nanti pusing kepalanya"ujar andra seraya memegang kepala alin. Alin hanya menganggukkan kepalanya saja sebagai respon dari ucapan andra.
"Buset gue dimanjain banget ini mah"batin alin kagum
"Sekarang alin mau ikut sama kami?"tanya axel
"Tapi kalian beneran bukan penculik kan?"alin menatap menyelidik mereka.
"Bukan"jawab mereka serentak.
"Lebih baik anda ikut mereka saja tuan" ujar sistem tiba tiba mengagetkan alin. Dengan segara gadis itu mengubah raut wajahnya menjadi polos kembali dan untungnya tidak ada yang menyadari.
"Ngapain lo datang? Kenapa gak ngilang aja sekalian" batin alin masih kesal karena dengan tidak berperikemanusiaan nya sang sistem malah meninggalkannya begitu saja bersama dengan anjing gila itu.
"Maaf tuan, tadi saya ada sedikit urusan" balas sistem merasa bersalah.
"Cih. Gue gak akan nerima saran lo karna gue masih ngambek sama lo tem"
"Ta-
"Alin hey!"alin langsung menatap linglung kearah mereka.
"Ah?"
"Kenapa melamun?"tanya andre
"Alin gak ngelamun kok, alin lagi mikir"jawabnya
"Jadi?"tanya rendi menanti keputusan gadis itu. Dia berharap sih alin akan tinggal di markas mereka, karena dengan begitu dia bisa melihat alin setiap hari.
"Alin mau"inti aodra yang mendengar itu pun menghela nafas lega sedangkan inti alaska hanya bisa mendengus kesal.
"Tuan saya memang aneh" batin sistem miris. Karena tadi alin bilang tidak ingin mengikuti saran dari sistem, tapi gadis itu malah menerima ajakan mereka. Aneh bukan?wajar, kan dia mantan dari rsj canda rsj.
"Ayo"ajak axel
"Eh?!"alin tersentak kaget saat tiba tiba saja gevan menggendongnya ala koala dan berjalan meninggalkan mereka semua yang sedang melongo mencerna kejadian tadi.
"GEVAN SI*LAN"teriak axel kesal karena pemuda itu mengambil kesempatan. Padahal kan dia ingin membonceng alin tapi manusia triplek itu malah terlebih dulu mengambil kesempatannya.
Dengan kesal dia berjalan menyusul gevan yang telah pergi dari rumah kosong tersebut.
"An*ing si bos, gercep amat tu orang"ujar aldi kesal lalu pergi meninggalkan mereka menyusul gevan dan diikuti yang lainnya.
...***...
Kini alin sedang berada dimotor gevan. Karena pemuda itu kekeh ingin mengantarnya. Alin sih setuju setuju saja, tadi mereka juga sempat berdebat ingin membonceng alin, namun dengan liciknya gevan melajukan motornya duluan meninggalkan mereka semua yang sedang berdebat. Jadilah dia dibonceng oleh gevan dan diikuti oleh anggotanya yang lain. Sedangkan inti aodra berada tepat disamping motor gevan.
Akibat terlalu lama diperjalanan, alin tertidur dimotor. Dengan gerakan cepat gevan menahan tangan alin yang melingkar di pinggangnya saat tangan gadis itu ingin terlepas.
Gevan menghentikan motornya dan diikuti yang lain.
Gevan ingin mengecek keadaan gadis itu, apakah dia benar benar tertidur. Bukannya apa, gevan khawatir nanti alin akan terjatuh jika dia lengah sedikit.
"Kenapa?"tanya axel heran yang berada disampingnya.
"Tidur"jawab gevan singkat sembari melirik kearah alin yang sedang tertidur pulas.
Sontak saja mereka menatap alin yang masih asik dengan dunia mimpinya.
Rendi turun dari motor dan melepaskan jaketnya lalu mengikatkan tubuh alin ke pinggang gevan agar gadis itu tidak terjatuh diperjalanan.
"Pegangin juga tangannya"ujar andra dan diangguki oleh gevan.
"Cabut"titah axel dan dituruti oleh mereka.
...***...
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mereka semua sampai di markas geng aodra.
Mewah. Satu kata yang tepat menggambarkan markas tersebut. Lebih tepatnya itu mansion 2 tingkat dan dijadikan oleh mereka sebagai markas aodra.
Dengan segera axel menggendong alin ala bridal style lalu dia meninggalkan mereka semua yang tercengo menatap dirinya.
"Axel bang*at"desis rendi kesal lalu pergi menyusul axel dan diikuti yang lainnya.
Namun belum sempat mereka menginjakkan kaki keruang tamu, anggota aodra mencegat mereka atau lebih tepatnya mencegat inti alaska dan menatap permusuhan kepada mereka.
"Ngapain lo pada kesini?!"sentak salah satu dari mereka.
"Kami gak mau cari ribut"balas aldi seraya memutar bola matanya malas.
Hey dia hanya ingin mengantar gadis imutnya itu bukan ingin membakar markas mereka.
"Biarin mereka masuk"ujar axel.
"Tapi bos-
Mereka hanya bisa menghela nafas pasrah saat axel memberikan tatapan tajamnya.
"Lah itu siapa?"tanya rino salah satu anggota aodra seraya menatap penasaran ke arah alin yang berada dalam gendongan axel.
Mereka semua yang mendengar ucapan rino itu pun langsung menatap alin.
Mereka baru sadar jika ada seorang gadis yang digendong oleh bos mereka, karena mereka tadi hanya fokus pada inti alaska saja, sebab itu mereka tidak memperhatikan sekitar.
Alin yang mendengar banyak suara pun terganggu dan menggeliat mencari posisi nyaman dalam gendongan axel.
"Sstt diem"bisik andre saat melihat alin yang sedikit terganggu.
"Mending lo bawa alin ke kamar atas aja deh"ujar kevin dengan pelan.
Axel mengangguk dan pergi meninggalkan mereka semua menuju kamar atas.
"Itu siapa vin?"tanya rino pada kevin.
"Nanti kalian kenalan sendiri aja, tunggu tu bocah bangun"jawab kevin lalu duduk di sofa yang berada diruang tamu seraya memakan cemilan.
"Mau kemana lo pada?"tanya andre saat melihat inti alaska ingin masuk ke dalam.
"Ya mau masuk lah"jawab andra menatap sinis kembarannya.
"Gak boleh! Mending lo pada pergi dari sini"ujar andre
"Kami nginep"ujar gevan santai sembari duduk tepat di depan kevin.
"Enak aja lo nginep nginep! Gak ada. Pergi sana"ujar rendi mendelik tidak terima.
"Kami nginep disini karna mau mastiin si alin. Nanti lo pada macem macem lagi ama tu bocil, secara kan dia cewek sendiri disini"ujar aldi menjelaskan.
"Lo gak percaya sama kami?"tanya axel sinis, yang baru saja turun dari lantai atas setelah mengantarkan alin ke kamarnya.
"Gak"jawab santai gevan sembari merampas snack yang ada di tangan kevin. sedangkan axel hanya mendengus kesal.
"Eh gevan bang*at! Itukan punya gue!!"seru kevin tidak terima.
"Minta"balas gevan singkat.
"Sia*an"kevin menatap kesal pada gevan yang dengan santainya mengangkat kaki keatas meja dan memakan cemilan miliknya.
Belum satu jam mereka berada disana, tapi sudah membuat inti aodra menahan kesal. Apalagi mereka menginap disana, bisa bisa darah tinggi.
"Lo pada boleh nginep disini"ujar axel.
Baru saja kevin membatin, eh boss laknatnya ini malah seenaknya mengizinkan mereka menginap.
"Lo apa apaan sih xel"ujar kevin tidak terima begitu pun yang lainnya.
"Udahlah biarin aja. Lagi pun kalo mereka mau macem macem sama kita, ya kita gebuk aja rame rame"ujar axel santai sembari duduk disamping gevan dan merampas snack yang berada di tangan pemuda itu.
Gevan hanya bisa mendengus sinis.
"Wihh banyak makanan nih"ujar andra heboh seraya mengambil salah satu snack disana.
"Itu punya gue anj*ing!!"seru rendi tidak terima.
"Aelah bagi woy, jangan pelit pelit nanti kuburan lo gak elit"ujar andra sinis
"Ck nyebelin banget sih lo"ujar rendi kesal namun tidak dihiraukan oleh andra karena pemuda itu sibuk dengan makanannya.
...***...
Jam sudah menunjukkan pukul set 7 malam. Sedangkan gadis yang masih terlelap dalam tidurnya masih belum terusik juga walaupun sistem yang mati matian membangunkan majikan tidak tau dirinya itu.
"Tuan bangunlah, apakah anda mati suri" ujar sistem dengan nada malas karena sedari tadi tuannya ini tidak bangun bangun juga.
"Prank!! Hihihi"seru alin seraya cekikikan saat melihat sistem nya tertekan.
Sebenarnya alin sudah bangun dari tadi, tapi karena dia sedang gabut, jadinya alin mengerjai sang sistem dan itu berhasil.
"Tidak lucu!!" Seru sistem kesal.
"Lucu dong kalo menurut gue"balas alin
Sistem tidak menghiraukan ucapan tuannya karna terlanjur kesal.
"Dih gitu doang ngambek"cibir alin
"Wah udah malem aja, gue belum mandi ni"lanjutnya saat melihat jam yang berada diatas nakas.
"Tem minta baju dong"sistem hanya diam saja, dia gengsi teman. Kan dia lagi ngambek sama alin.
"Ck lo mah"ujar alin kesal. Lalu pergi keluar dari kamar dan menuju lantai bawah dengan muka bantal nya yang malah menambah kecantikannya.
Alin melihat segerombolan pemuda yang sedang asik berdebat disana dan ada juga yang sedang berebutan remote tv juga snack.
Sangking asik dengan kegiatan mereka, tidak ada satu pun yang menyadari kedatangan alin.
"Kak axel"panggil alin, yang dapat mengalihkan perhatian mereka semua tanpa terkecuali setelah mendengar suara yang begitu lembut di pendengaran mereka.
Sontak saja mereka semua terdiam saat melihat wajah alin yang begitu cantik dan menggemaskan. Anggota aodra tidak bisa melihat wajah gadis itu saat berada dalam gendongan axel karena tertutup oleh rambut nya.
Byur
Rino menyemburkan minumannya karena terlalu syok saat melihat kecantikan alin.
"Eh lo apa apaan sih?!!"teriak kesal riko salah satu anggota aodra, karena rino menyemburkan minumannya tepat didepan wajah pemuda itu.
Mereka semua kembali sadar saat mendengarkan teriakan dari riko dan langsung saja mereka tertawa saat melihat kondisi yang memprihatinkan dari pemuda itu.
"Eh maaf maaf rik gue gak sengaja"ujar rino
"Awas lo gue bales nanti"balas riko lalu pergi ke kamar mandi dengan perasaan dongkol.
"Vin disini ada kembang tujuh rupa gak?"tanya riko saat melewati kevin.
"Gak ada, emang buat apa?"tanya kevin penasaran.
"Buat ngilangin najis"jawab riko sembari berlari meninggalkan mereka yang telah tertawa karena melihat wajah muram milik rino.
"Riko"desis kesal rino.
________________________
Bersambung...