ALIN TRANSMIGRATION

ALIN TRANSMIGRATION
21



Tandai typo✔️


Happy reading~


_________________________


Siang telah berganti menjadi malam, dan alin masih tertidur pulas di kasurnya.


Tidak lama dari itu, kelopak mata yang tadinya tertutup kini telah terbuka menampilkan bola mata hitam yang membuat siapa saja terpesona jika menatapnya.


Alin merenggangkan ototnya agar tidak kaku. Lalu gadis itu beranjak duduk dan melamun, itulah aktifitas alin setelah bangun tidur.


Setelah nyawanya terkumpul semua, alin pergi menuju dapur karna dia lapar.


Tidak ada keluarganya yang lain, entah kemana mereka.


"Mereka kemana tem?"


"Mereka semua ke bandara tuan, karna ingin menjemput seseorang. Tadinya mereka ingin mengajak anda tapi tidak jadi karna anda sedang tidur, mereka tidak tega membangunkan anda" jelas sistem.


"Jadi gue sendirian?"


"Tidak tuan, abel dan rafa abang pertama anda juga tidak ikut ke bandara"


"Ohh"


Alin berjalan menuju kompor karna dia ingin memasak makanan sejuta umat yaitu mie instan hehe.


Tidak lama, hanya 4 menit makanan alin telah selesai. Lalu gadis itu berjalan ke meja makan dan menyantap makanannya dengan hikmat.


Hingga suara tarikan kursi didepannya dapat menghentikan acara makannya.


Alin mendongak menatap abel yang sedang duduk di depannya dengan senyuman lebar. Alin yang melihat itu sedikit ngeri.


"Gue ngeri liat tu bibir nanti robek, terus cosplay jadi joker kan serem" batin alin meringis.


"Kak abel mau makan?"tawar alin pada abel.


"Gak"jawabnya.


Alin tidak ambil pusing, dia kembali melanjutkan aktifitasnya yang sempat tertunda tadi.


"Alin"alin mendongak menatap abel yang tadi memanggilnya.


"Kenapa harus pulang kesini lagi?"tanya abel yang malah membuat alin bingung.


Tidak ada lagi senyuman manis yang ditampilkan oleh abel, yang ada hanyalah wajah datar dan tatapan benci yang ditujukan pada alin.


"Maksudnya gimana kak?"tanya alin tidak mengerti.


"Berhenti panggil gue kakak! Gue bukan kakak lo!!"sentak abel menatap tajam alin.


"Oh? Dah lepas topengnya?" Batin alin menyeringai tipis.


"Rafa mana tem?"


"Pemuda itu sedang ke minimarket tuan"


"Terus alin harus panggil apa? Tante?"ujar alin dengan wajah polosnya yang malah membuat abel naik pitam.


Abel berdiri dari bangkunya dengan kasar. Kemudian gadis itu menutup matanya sejenak dan membukanya lagi dengan seringaian yang terlihat diwajahnya.


"Lo gak inget kejadian itu?"tanya abel dengan senyuman miring.


"Kejadian? Kejadian apa?"tanya alin tidak mengerti sekaligus penasaran.


Sebenarnya kejadian apa yang abel maksud. Apakah ini ada sangkut pautnya dengan kebencian justin yang selalu ditujukan untuknya?


Abel berjalan mendekati alin yang masih duduk dibangku nya. Lalu dia menarik kasar alin hingga gadis itu berdiri.


"Seorang pembunuh gak seharusnya disini"ujar abel menatap rendah alin yang kini terdiam.


"Lo belum puas udah bunuh kakak kandung lo sendiri"lanjutnya.


Deg


Pembunuh? Membunuh?? Apakah cya yang asli adalah seorang pembunuh?


"Itu tidak benar tuan" ujar sistem menyadarkan alin agar tidak salah paham.


"Terus?"


"Nanti akan saya jelaskan. Lebih baik anda ikuti saja permainan abel tuan"


"Oke"


"Gue bukan pembunuh"ujar alin datar dan menatap dingin abel.


Sedangkan abel, sedikit tertegun saat melihat tatapan dingin dari gadis itu.


"Kalo bukan pembunuh, terus apa? Penjahat?"abel terkekeh sinis.


"Lo amnesia kan?"tanya abel.


Alin hanya diam sembari mendengar semua ocehan abel.


"Karna gue baik hati, gue akan dengan senang hati menjelaskan alasan justin yang benci sama lo"


"Lo itu pembunuh alin! Lo udah bunuh kakak perempuan lo sendiri!"ujar abel menatap alin tajam.


"Gimana cara gue bunuh dia?"tanya alin datar.


"Oh? Ternyata lo beneran amnesia ya"ujar abel tersenyum sinis


"Lo yang ngedorong andin ke jalan raya!"


"Kenapa gue dorong dia?"tanya alin


"Ya karna iri lah emang apa lagi"jawab abel.


"Bukannya itu semua rencana lo abel?"alin menyeringai tipis saat melihat tubuh abel menegang.


"Hahahaha"tiba tiba saja abel tertawa.


"Gila"alin menatap abel miris.


"Lo bener! Gue lah yang bunuh andin karna dia udah berani menentang perintah gue!"


"Sedangkan untuk lo alin, sepertinya lo harus nyusul kakak lo itu"lanjut abel bersmrik.


"Hah?! Apa lo mau bunuh gue juga?"ucap alin kaget.


Kemudian gadis itu tertawa dan menatap abel miris.


"Emangnya lo bisa?"tanya alin menantang abel yang kini telah mengepalkan tangannya.


"Lo ngeremehin gue?"


Srek


Abel menarik rambut alin dengan kuat hingga gadis itu mendongak


"Kayaknya lo salah milih orang"bisiknya.


Sedangkan alin masih menatap santai abel, bahkan gadis itu tersenyum remeh pada abel.


"Lo gak ngerasain sakit?"tanya abel heran. Padahal jambakannya cukup kuat.


"Lo lemah *****"desis alin. Lalu menyentak tangan abel dengan kasar dan langsung menjambak rambut abel.


"ARGHHH"teriak abel saat merasakan sakit dibagian kepalanya. Ini benar benar sakit!


"Ini baru bener"ujar alin tersenyum manis.


Duk


Duk


Alin membenturkan kepala abel di meja makan.


"AAARGHHH LEPASIN GUE ****** SI*LAN!!"


Alin mendorong abel sampai wanita itu tersungkur dibawah kakinya.


"Kak abel? Kak abel kenapa?"tanya alin dengan panik dia berjongkok dan berusaha membantunya untuk berdiri.


"Kakak gak papa? Ada yang sakit?"tanya alin masih dengan wajah panik.


Abel yang melihat itupun tidak terima karna dari yang ia lihat, alin sedang mengejeknya. Terbukti dengan seringaian gadis itu.


Abel bangun dan menarik kasar rambut alin hingga gadis itu berdiri.


Plak!


Brugh


"ALIN!"


"ABEL!!"


Deg


Abel terdiam kaku saat melihat semua keluarganya berdiri di depannya dengan tatapan tajam dan tidak percaya diarahkan padanya.


Lalu dia melihat alin yang tersungkur akibat tamparannya. Abel mengepalkan tangannya saat melihat alin tersenyum miring padanya.


Jadi ini adalah rencana gadis itu? Cukup licik.


Mereka berlari kearah kedua gadis itu.


Lalu seorang pria langsung memeluk alin erat seraya membantunya berdiri tanpa melepaskan pelukannya.


"Kamu gak papa baby?"tanya pria itu menatap khawatir alin.


Sedangkan alin hanya terdiam, karna dia memang tidak mengenali pria tampan didepannya ini.


Alin menjauh dari pria itu dan beralih memeluk mamanya.


"Alin gak papa sayang?"tanya rindi menelisik tubuh alin.


"Alin gak papa ma"jawab alin dengan mata yang telah berkaca kaca.


Pria tadi hanya bisa mengepalkan tangannya guna menyalurkan amarahnya karna alin menjauhinya.


"Apa yang terjadi abel?"tanya adam menatap tajam abel yang kini telah menunduk.


"Abel..abel gak salah opa"abel mendongak menatap mereka semua.


"Alin yang duluan jambak abel terus hiks dia benturin kepala abel dimeja hiks"ujar abel seraya menangis.


"Apa benar alin?"tanya aris dengan lembut.


"Itu gak bener pa"alin menggelengkan kepalanya.


"Kak abel tadi jatuh, terus alin mau bantuin kak abel tapi kak abel malah nampar alin"alin menatap sendu abel yang kini telah memerah menahan umpatan untuk gadis licik itu.


"GAK USAH BOHONG!!"bentak abel.


"JAGA NADA BICARAMU ABEL!"rindi membentak balik abel yang telah terdiam.


"Ma"abel menatap tidak percaya pada rindi, karna ini pertama kalinya rindi membentaknya.


Rindi melengos kan wajahnya, enggan menatap abel. Dia kecewa dengan sikap kasar dari gadis itu.


"Kita liat cctv aja"saran justin menatap alin dengan tatapan yang sulit diartikan.


Abel yang mendengar itupun tersenyum senang. Karna sebentar lagi, alin lah yang akan disalahi oleh mereka. Cctv di mansion ini tidak ada penyadap suara, jadi ucapan mereka berdua tadi tidak akan terdengar.


Adam membuka ponselnya begitupun dengan yang lain.


Pria yang memeluk alin tadi langsung mengeraskan rahangnya saat melihat rekaman itu.


Rindi menatap abel kecewa.


Plak


Abel memegang pipinya yang telah ditampar oleh aris.


"Pa-


"Diam"desis aris tajam.


"Lihat baik baik"aris menunjukan rekaman cctv yang menampakan dirinya terjatuh dibawa kaki alin dan alin yang akan membatunya namun langsung ia tampar. Setelah itu tidak ada lagi.


Bagaimana bisa? Abel langsung menatap alin yang sedang menyeringai tipis padanya.


Alin memang meminta bantuan sistem untuk menyabotase cctv tersebut.


"Ini udah disabotase pa!"sentak abel.


"JANGAN MENYENTAK KU ABEL!"bentak aris menatap murka abel.


"Pa-


"Sekarang masuk ke kamar!"titah aris


"Gak. Abel gak salah pa! Yang salah itu alin!"


"Rafa"ujar adam.


Lalu rafa menarik kasar tangan abel dan membawanya menuju kamar gadis itu.


"Lepasin bang!"abel berontak agar terlepas dari rafa namun itu sia sia karna tenaganya yang kalah dengan pemuda ini.


"Diam"desis rafa dingin.


"Bang-


"GUE BILANG DIAM ABEL!"bentak rafa sembari mendorong abel masuk dalam kamarnya.


"Abang bentak abel?"lirihnya.


"Itu karna kesalahan lo sendiri! Berani banget lo nampar adik gue"rafa menatap murka abel yang kini telah menangis.


"Aku juga adik abang hiks"


"Tadinya iya tapi sekarang gak!"ujar rafa


Lalu pemuda berjalan mendekati abel dan mencengkram rahang abel. Tidak kuat, abel hanya terkejut saja saat melihat perilaku kasar rafa padanya.


"Lo harus tau batasan lo abel"desisnya tajam.


"Jangan lupa status lo dirumah ini"


"Lo cuma anak yang mama gue pungut! Dan sekarang lo mau nyakitin alin? Putri kandung keluarga anderson?"


"Jangan mimpi"lanjutnya sembari menghempaskan wajah abel.


"Gue peringati sama lo! Jangan pernah berani nyakitin alin lagi! Kalo gak, gue gak akan segan nyakitin lo abel!"ujar rafa tegas.


Kemudian pemuda itu pergi dari kamar abel dan meninggalkan gadis itu.


"AARGHHHH ALIN GUE BENCI SAMA LO!!"raung abel.


...***...


"Jelasin tem"titah alin yang telah berada dikamar nya karna disuruh oleh sang papa.


"Pemilik tubuh yang bernama cya itu bukanlah seorang pembunuh tuan, dia difitnah oleh abel sehingga keluarga anderson membenci alin karna mereka lebih percaya pada tuduhan abel. Lalu cya diusir dari kediaman ini saat dia berumur 7 tahun"


"Umur 7 tahun diusir? Gila"ujar alin tidak habis pikir.


Anak yang masih berumur 7 tahun yang seharusnya sibuk bermain dengan teman temannya malah diusir dari rumahnya sendiri.


Alin tidak bisa membayangkan betapa susahnya cya hidup disaat umurnya yang masih sangat kecil.


"Te-


Prang


Ucapan alin terhenti saat dia mendengar suara pecahan kaca dari lantai bawah.


Karna penasaran, alin keluar dari kamarnya dan menuju pembatas lantai dua dan melihat kebawah. Tepatnya menatap semua keluarganya yang sedang berdebat dengan seorang pria tampan yang sempat memeluknya tadi.


"tidak akan pernah ku biarkan kau membawanya leon"desis aris menatap murka leon.


Masih ingat leon? Kalo lupa baca chap 13.


Leon, pria matang yang berusia 25 tahun itu adalah salah satu putra dari adam dan astrid. Lebih tepatnya putra angkat.


"Kenapa? Apa kau masih belum puas menyakitinya aris?"leon menatap remeh aris.


"Kau lebih percaya dengan anak pungut mu itu dari pada dengan putri kandungmu sendiri"aris terdiam. Dia tidak bisa membantah ucapan leon karna yang diucapkan oleh pria itu memang benar.


"Dan karna kebodohan kalian semua lah yang membuat putri satu satunya dari keluarga anderson menjadi menderita!!"leon menatap tajam mereka semua.


"Apakah kau senang karna bisa menampar putri mu sendiri?"leon menatap rindi yang kini telah menangis.


"Dan apakah kau puas karna bisa mencambuk putrimu sendiri tuan aris"aris menegang saat mendengar ucapan leon.


"Kau adalah pria bajingan yang tidak akan pernah bisa menjadi seorang ayah!!"


"Apa kau pernah berpikir tentang mental cya?? Kau mencambuknya bahkan mengeluarkan kata kata hina yang tak pantas kau ucapkan pada seorang anak kecil yang masih berumur 4 tahun!!" Ujar leon tidak habis pikir.


Sedangkan alin hanya diam dan menyimak pembicaraan mereka dengan tatapan datar.


"Sekarang aku akan membawa cya pergi bersama ku. Aku tidak akan membiarkan kejadian itu terulang lagi"lanjut leon lalu menaiki tangga menuju lantai dua.


Namun, baru saja dia menaiki anak tangga ketiga, pria itu berhenti saat melihat alin yang sedang berdiri diatas sembari menatapnya datar.


Deg


Mereka semua menegang bersamaan saat melihat keberadaan alin yang tidak jauh dari mereka.


"A-alin"ujar rindi terbata bata karna dia terlalu panik.


Dia takut alin akan mengingat semuanya dan pergi darinya. Rindi tidak ingin itu terjadi!


"Baby"panggil leon dengan lembut. Tapi yang ia dapatkan hanyalah tatapan datar dari gadis itu. Sungguh! Tatapan itu sangat menyakitkan baginya.


"Sayang"dengan buru buru aris menaiki tangga menghampiri alin dan langsung memeluk putrinya itu.


"Kamu kenapa disini hm?"tanya aris lembut sembari mengusap kepala alin dengan sayang.


Dia sangat takut saat ini. Dia takut alin akan ingat semuanya dan membenci dirinya.


"Sebenernya apa yang terjadi?"tanya alin dengan nada datar.


Aris melepaskan pelukannya dan menatap putrinya.


"Gak ada apa apa sayang"jawab aris


"Sekarang kamu ke kamar ya istirahat"lanjutnya.


"Sampai kapan kalian ingin menyembunyikannya?"alin menatap semua keluarganya.


"Gak ada yang kami sembunyikan swetie, kamu ke kamar kamu aja ya"ujar adam menghampiri alin.


"Ayok sama opa"ajak nya menarik lembut tangan alin.


"Aku udah inget semuanya"


Deg


Langkah adam terhenti saat mendengar ucapan yang paling tidak ingin dia dengarkan kini terucap dari mulut cucunya.


Begitupun dengan yang lain.


"Alin sayang"rindi menghampiri alin dengan buru buru dan memegang bahu putrinya.


"Kamu inget apa nak?"tanya rindi memastikan.


"Semuanya"jawab alin


"Semua penderitaan aku selama 3 tahun disini"lagi lagi mereka membeku.


"Alin"panggil aril dengan nada lirih.


"Ternyata yang kalian sembunyikan tentang ini?"


"Kalian semua lebih percaya sama tuduhan abel yang cuma anak pungut dikeluarga ini!" Alin menjauh dari rindi.


"Aku bukan pembunuh ma"lirih nya sembari menatap rindi sendu.


Entahlah, sekarang perasaannya sangat sesak saat mengingat bagaimana perilaku kasar mereka pada dirinya yang masih berusia 4 tahun.


Alin telah diberi ingatan oleh sistem karna itu dia mengingat semuanya.


Sungguh. Mereka semua iblis! Benar benar seorang iblis! Anak yang masih berumur 4 tahun disiksa dengan begitu kejamnya. Cambukan, pukulan, dan hinaan menjadi makanannya tiap hari.


Itu semua karna mereka lebih percaya tuduhan abel, dia bilang jika alin lah yang membunuh andin dengan mendorongnya ke jalan raya.


Padahal itu tidaklah benar, yang mendorong andin bukanlah alin tapi abel. Abel kecil saat itu sedang bertengkar dengan andin karna memperebutkan sebuah bola. Abel yang terlanjur marah, langsung mendorong andin ke jalan raya tepat dengan kedatangan sebuah truk yang melaju dengan kencang.


Saat itu mereka sedang berada ditaman bermain dengan justin. Justin memang bersama mereka, tapi dia pergi membeli eskrim sesuai dengan permintaan ketiga gadis kecil itu.


Karna panik, abel kecil langsung menuduh alin kecil yang saat itu sedang menangis sembari memeluk sang kakak yang sudah tidak bernyawa. Dan dengan bodohnya mereka semua malah mempercayai ucapan abel.


Sejak itulah kehidupan alin tepatnya kehidupan cya mulai berubah. Mereka yang selalu menyayanginya, memanjakannya dan menjaganya layaknya seorang putri kerajaan malah berubah menjadi tirani kejam. Jika mood mereka rusak, maka cya lah yang akan menjadi tempat pelampiasan bagi mereka.


Mereka semua berubah menjadi kasar dan kejam. Bahkan mereka hampir saja membunuh cya dengan cara menenggelamkan gadis kecil itu di kolam berenang sendirian. Untungnya saat itu dia langsung diselamatkan oleh para bodyguard yang memang bertugas dimansion.


Puncaknya, saat cya berumur 7 tahun dia diusir dari mansion anderson karna tidak sengaja menjatuhkan abel dari tangga. Padahal yang sebenarnya bukan begitu, abel terjatuh sendiri akibat tersandung dan dengan teganya dia malah menuduh cya yang saat itu sedang berdiri ditangga.


Dan lagi lagi mereka semua mempercayainya.


"Iya sayang, alin bukan pembunuh. Maafin mama nak"ucap rindi dengan nada getar menahan isakannya.


"Kenapa baru sekarang? Waktu alin dicambuk sama papa, mama dimana?"mata alin sekarang telah berkaca kaca.


Dia benar benar tidak habis pikir dengan keluarga ini. Bisa bisanya mereka menyiksa anak kecil yang berumur 4 tahun! Walaupun bukan alin yang merasakan tapi dia juga merasakan bagaimana perasaan cya selama ini. Dan itu benar benar membuatnya marah pada mereka.


"Waktu opa tenggelemin alin mama ngapain saat itu?"alin menatap rindi dengan tatapan terluka  yang malah membuat mereka sesak.


"Alin-


"YANG KALIAN LAKUIN SAAT ITU CUMA DIAM! CUMA DIAM!! BAHKAN DENGAN TEGANYA KALIAN PERGI NINGGALIN AKU YANG LAGI BERJUANG UNTUK BERTAHAN HIDUP!!"teriak alin memotong ucapan adam.


"Sayang hiks mama minta maaf nak"tangis rindi seraya berjalan menghampiri alin yang kini juga telah mengeluarkan air matanya.


Alin langsung mundur saat rindi mendekatinya.


"Apa kalian masih bisa dianggap sebagai manusia?"lirihnya


"ANAK YANG MASIH BERUMUR 4 TAHUN KALIAN SIKSA!! CAMBUKAN! PUKULAN! DAN MAKIAN!! KALIAN LONTARIN GITU AJA SAMA ANAK KECIL YANG MASIH BELUM NGERTI KENAPA KELUARGA INI MENYIKSANYA!!"


"Alin papa minta maaf sayang"ujar aris. Sungguh dia tidak kuat saat mendengar semua keluh kesah putrinya saat ini dan itu karna dirinya lah.


"Sini sayang"ajak aris seraya menyodorkan tangannya dan berharap jika alin akan memegang tangannya. Namun itu semua sia sia saat dia melihat alin menggelengkan kepalanya.


"Alin mau kami berbuat apa biar kami bisa nebus semua kesalahan kami sama kamu sayang"ujar adam.


"Biarin aku pergi"


"GAK!"teriak mereka semua tidak terima. Bahkan justin saja reflek berteriak saat gadis itu meminta untuk pergi.


_________________________________


Bersambung...


ramein komentar👇bro.


and see you~