ALIN TRANSMIGRATION

ALIN TRANSMIGRATION
25



Tandai typo✓


Happy reading~


___________________________


Setelah alin mengambil seragamnya, dia langsung pulang dan kini gadis itu masih berjalan di koridor sekolah dengan santai, sembari sibuk memainkan ponselnya.


Bruk


Karna terlalu fokus pada ponsel, alin tidak sengaja menabrak seseorang hingga gadis itu terjatuh.


"Aw"ringisnya saat merasakan bokongnya nyut nyutan.


Alin langsung mendongak dan berniat untuk memaki manusia yang tidak punya otak menabraknya.


Makian yang seharusnya ia lontarkan, harus ia telan setengah matang karna melihat seorang pria setengah paruh baya yang menggunakan jas formal menatapnya datar. Namun dari matanya, dia menatap alin syok. Syok?


Alin berdiri dan membersihkan celananya, setelah itu dia mengambil paper bag nya yang ikut terjatuh.


Kemudian gadis itu berjalan mendekati pria tadi yang masih terdiam seraya menatapnya dengan rindu? Apa ini? Alin tidak menghiraukan itu semua.


Dia hanya ingin meminta maaf dan pulang. Makian yang tadi, ia cancel karna tidak baik memaki yang lebih tua nanti bokongnya kurapan canda kurap.


"Maaf ya om saya gak sengaja"tidak ada respon dari ucapan alin. Pria itu hanya diam hingga membuat alin kesal.


Merasa tidak ada urusan lagi, alin pergi meninggalkan pria tersebut.


"Alinsya Caitlin"


Deg


Seketika langkah alin terhenti dengan tubuh yang menegang kaku.


Nama itu.


Kenapa ada yang menyebut nama aslinya di dunia ini?


Dengan jantung yang hampir terlepas dari tempatnya, alin berbalik dan menatap pria itu.


"Siapa"tanya alin menatap tajam lawan bicaranya.


Semua siswa telah memulai pelajaran karna jam istrirahat mereka telah selesai.


Jadi yang ada di koridor hanya mereka berdua dan semilir angin topan.


"Kau alinsya caitlin?"pria itu menatap alin dengan tatapan berharap.


"Saya tidak kenal dengan nama itu"jawab alin.


Mungkin pria ini adalah musuhnya didunia nyata. Secara kan dulunya dia cantik, jadi mungkin saja ada om om yang kepincut dengan kecantikannya lalu terobsesi padanya dan teleportasi kesini demi dirinya.


Ck memikirkan itu saja membuat alin bergidik ngeri.


"Tidak waras" batin sistem menatap miris alin.


"Tidak mungkin"sanggah pria itu


"Kau pasti adalah dia"lanjutnya dengan yakin


"Om ngigo?"alin menatap malas.


Lalu gadis itu beranjak pergi meninggalkan pria itu namun dengan cepat tangannya ditahan oleh pria tersebut.


Tanpa berkata apa apa, pria itu menarik alin entah kemana.


Sedangkan alin hanya diam. Sejujurnya dia juga penasaran, siapa pria ini? Kenapa bisa mengenalnya?


...***...


Di AHS.


Kini inti the blue sedang berkumpul di rooftop karna membolos.


"Alin mana? Udah 4 hari dia gak sekolah"tanya kenan pada steven yang sedang menghisap rokoknya.


Semua orang juga ikut menatap steven meminta penjelasan dari pemuda itu.


"Gak tau"jawab steven santai dan meneruskan kegiatan merokoknya.


Mereka mengernyit bingung saat mendengar jawaban steven yang seperti tidak peduli dengan alin. Lalu mereka beralih menatap justin yang hanya menampilkan wajah datar.


"Dimana alin?"tanya dion pada justin.


"Mati kali"jawab justin singkat, lalu memainkan ponselnya tanpa tau jika tatapan semua orang telah menajam.


"Sebenarnya kalian tu kenapa sih? Ada masalah lagi sama alin?"tanya liam heran.


Sebesar apa masalah mereka dengan alin? Bahkan steven saja terlihat acuh tak acuh pada gadis itu.


"Alin kabur kan"ujar rey yang membuat mereka semua menatapnya.


Justin dan steven menatap rey dengan tatapan sedikit tidak percaya. Kenapa pemuda itu bisa tau? Pertanyaan itulah yang muncul diotak mereka.


Sedangkan rey tersenyum miring saat menyadari tatapan tajam dari justin dan steven.


Ayolahh jangan lupa, dia adalah wakil ketua the blue. Namanya dipilih menjadi wakil bukan karna goncangan seperti arisan, tetapi karna bakatnya dan kecerdasannya lah dia dipilih.


"Alin kabur?"beo aiden sedikit tidak percaya.


Lalu pemuda itu menatap steven meminta penjelasan.


"Hm" steven bergumam malas, membenarkan ucapan rey.


"Kenapa alin kabur?! LO APAIN DIA JUSTIN?!"ujar dion lalu menarik kerah baju justin hingga pemuda itu berdiri dan menatapnya tajam.


"Kenapa jadi gue?"tanya nya heran.


"Lo benci sama alin kan?! Karna itu lo buat dia kabur dari mansion lo! Kalo lo gak mau alin tinggal serumah sama lo! Anter aja dia kerumah gue bangsat! Gue masih bisa jagain dia!!"ujar dion emosi.


Justin menepis kasar tangan dion dari kerah bajunya.


"Cari aja dia dan ambil gih! Gue gak butuh tu cewek ******!"sarkas justin.


Bugh


Karna kepalang emosi, kenan memukul justin hingga membuat kepala pemuda itu tertoleh.


"Jangan pernah hina alin dengan mulut kotor lo itu"desis kenan tajam.


"Kenapa kalian malah belain dia sih?! Dikasih apaan sama tu cewek hah?!"


Justin tidak habis pikir dengan perilaku temannya ini. Padahal mereka baru saja bertemu dengan alin dan sekarang langsung membela gadis itu mati matian di depannya.


Apakah alin memakai pelet?


"Karna dia lebih berharga dari lo"sahut liam tidak berdosa.


"Sialan"umpat justin kesal.


Sedangkan steven hanya menatap mereka datar.


Drama yang cukup membuatnya muak. Bahkan setelah gadis itu pergi saja, hidupnya tidak jauh dari drama.


...***...


Ceklek


Suara pintu yang terkunci mengalihkan perhatian alin kepada pria setengah paruh baya itu.


Sekarang alin berada disebuah ruangan yang cukup membuatnya nyaman.


"Kenapa dikunci?"tanya alin namun tidak dijawab oleh pria itu karna dia masih menatap lekat alin.


Sungguh! Dia benar benar merindukan gadis ini. Walaupun dengan wajah yang berbeda, tapi dia sangat yakin jika gadis didepannya ini adalah alin. Alinsya Caitlin.


"Alin"ujar pria itu menatap sendu alin.


"Sebenarnya anda siapa"tanya alin dengan wajah datar.


Sepertinya saat ini dia sedang tidak ingin bermain main.


Sedangkan pria itu sempat tertegun karna melihat tatapan datar dari gadis itu yang ditujukan untuknya. Baru kali ini dia merasakan sesak yang amat dalam.


"Ini papa sayang"ujarnya yang malah membuat alin tertawa.


"Hahaha"


"Sudah cukup leluconnya"alin menghentikan tawanya dan menatap pria itu dingin.


"Ini bukan lelucon alin"ujarnya


"Aku adalah papa mu"lanjutnya menatap rindu alin.


"Oke oke. Jika anda memang benar papa saya, siapa nama mu tuan?"ujar alin.


"Mau main main sama gue? Ck ngopi dulu sana. Orang bapak gue aja jokowi" batin alin malas.


"Alex Jefferson Caitlin"


Deg


Alin terpaku. Tubuhnya seolah tidak bisa digerakkan saat mendengar nama papa aslinya.


Gadis itu menatap tidak percaya pada pria didepannya yang malah tersenyum lembut padanya.


Senyuman itulah yang membuat mata alin memanas.


"Aku tidak percaya"ujar alin bergetar.


Tidak mungkin jika papa nya juga ikut terlempar kesini.


"Kamu adalah anakku. Anak dari Alex Jefferson Caitlin dan Arin Veronica Caitlin"ujar alex meyakinkan putrinya.


"Kamu mempunyai nama asli bukan? Nama asli mu yaitu Alinsya Caitlin" alin menggelengkan kepalanya dengan air mata yang terus saja mengalir deras.


"Masih belum percaya? Oke, sebelumnya kita berdua sempat berdebat dan setelah itu kamu menusuk jantung mu sendiri dengan belati menggunakan tangan papa"jelas alex dengan mata yang telah berkaca kaca.


"Apa kamu masih belum percaya alin?"tanya alex sendu.


"Tidak masalah, papa akan menjelaskan semuanya sampai kamu perca-


Belum sempat alex menyelesaikan ucapannya, alin menubruk tubuhnya dengan pelukan yang sangat ia rindukan dari gadis ini.


"Papa hiks aku percaya hiks aku percaya"lirih alin sembari mengeratkan pelukannya.


Dia tida menyangka jika di kehidupan keduanya, ia akan bertemu dengan alex lagi. Sungguh! Dia benar benar senang sekaligus terharu karna sekarang dia tidak sendirian lagi.


Alex langsung membalas pelukan putrinya dengan tak kalah eratnya dan menangis dipundak alin.


Dia bersyukur, sangat bersyukur karna masih diberi kesempatan untuk bertemu dengan putrinya ini.


"Maafin papa sayang hiks maaf"alex menangis. Dan ini adalah tangisan ketiganya setelah melihat alin yang berlumuran dan melihat jenazah alin yang telah dikuburkan.


Ya. Tubuh alin di dunia nyata telah meninggal dan menyebabkan alex depresi karna merasa bersalah. Dia selalu menyalahkan dirinya untuk kematian alin.


Karna terlarut dalam kesedihannya, alex pun bunuh diri dengan cara terjun dari balkon kamarnya yang berada dilantai tiga.


Dan entah kenapa, dia malah terbangun di tubuh seorang pria yang seumuran dengannya. Alex sempat menyalahkan tuhan karna dia tidak dipertemukan dengan putrinya. Namun sekarang dia malah bersyukur pada tuhan karna ia masih diberikan kesempatan untuk bertemu dengan alin.


Alex melepaskan pelukannya dan mencium kening alin berulang ulang kali guna menyalurkan rasa rindunya pada gadis ini.


Alin masih menangis sesegukan.


"Sstt udah ya, jangan nangis sayang"alex menghapus air mata alin dengan lembut.


"Papa udah disini"masih dengan air maya yang mengalir, alex tersenyum lembut pada alin.


Alex menarik alin kedalam pelukannya dan mengecup pucuk kepala putrinya dengan sayang.


Setelah tenang, akhirnya mereka berdua duduk disofa tanpa melepaskan pelukannya. Alin tidak ingin melepaskan pelukan papanya, dia ingin bermanja dengan sang papa.


Rindu? Sangat! Alin sangat merindukan papa nya, walaupun pria itu tidak mengakuinya sebagai anaknya namun putri mana yang tega membenci cinta pertamanya.


Alex adalah cinta pertama bagi alin dan hanya dia lah yang alin percaya di dunia ini. Sebelumnya alin tidak mempercayai siapa pun didunia fiksi ini namun sekarang berbeda, papa nya telah datang. Papa aslinya telah bersamanya dan hanya dia lah yang alin percaya disini.


"Papa kenapa bisa disini? Dan kenapa papa bisa tau kalo ini alin? Kan wajahnya beda"pertanyaan pertama yang alin keluarkan sontak mendapat ciuman gemas dari sang papa.


"Papa tau itu kamu karna naluri seorang ayah"lirihnya


Memang benar. Saat alex melihat alin, jantungnya berdetak sangat cepat. Dia melihat bayang bayang alin dari tubuh gadis itu dan dengan sengaja ia menyebutkan nama asli alin untuk memastikan apa dugaannya adalah benar.


Alex tersenyum senang saat melihat gadis itu menghentikan langkahnya setelah dia menyebutkan nama putrinya. Dia menjadi yakin, jika gadis itu adalah putrinya.


"Dan sebenarnya papa bunuh diri karna depresi setelah kematian kamu"alin terdiam. Ternyata tubuhnya telah meninggal, dan sepertinya dia tidak bisa kembali ke dunia nyata.


Alin tersenyum miris dalam diam nya.


"Tapi bukannya ke alam baka, papa malah masuk ke tubuh pria ini"lanjut alex menyadarkan lamunan alin.


Alin mengernyitkan dahinya. Jadi papa nya juga bertransmigrasi seperti dirinya?


"Sistem"


"Akan saya jelaskan tuan, papa anda mati bunuh diri, dan karna sistem pusat kami kasihan dengannya, jadi papa anda dimasukkan kesini juga tapi bedanya dia tidak mempunyai sistem seperti anda tuan" jelas sistem yang tau isi pikiran tuannya.


"Ohh oke gue paham"


"Makasih sistem, sampein juga terimakasih gue ke sistem pusat lo" ujar alin tulus.


"Sama sama tuan, saya akan menyampaikan terimakasih anda pada sistem pusat"


"Alin"panggil alex menyadarkan putrinya yang terlihat sedang melamun.


"Apa?"alin menatap linglung alex


"Alin kenapa sayang? Ada yang gak nyaman?"tanya alex sedikit khawatir.


"Gak papa kok pa"


"Terus gimana kelanjutannya? Papa udah tau identitas tubuh yang papa tempati sekarang?"tanya alin kembali ke topik awal.


"Udah"


"Tubuh ini namanya sama persis seperti papa, bahkan marganya saja sama. Entah itu kebetulan atau bukan"ujar alex seraya mengelus kepala alin yang sedang bersender di dadanya.


Alin mengangguk paham.


"Oh iya alin, ada satu rahasia yang baru saja papa ketahui dari pria ini"ujar alex yang membuat alin melepaskan pelukannya dengan tatapan bingung.


"Rahasia apa?"tanya nya


"Dia punya putri kandung tapi malah dijadikan alat demi membalaskan dendam kematian istrinya"alin hanya diam menunggu ucapan selanjutnya dari alex.


"Istrinya mati karna dibunuh oleh musuh bisnisnya dan karna dendam dengan mereka, dia rela menukar putrinya yang masih bayi menjadi anak mereka. Sedangkan bayi dari musuhnya itu dia buang ke panti asuhan" lanjut alex seraya menggenggam tangan mungil alin.


"Papa tau nama putrinya?"tanya alin yang langsung mendapatkan anggukan dari sang papa.


"Namanya Alincya Evalina Anderson"alin membeku ditempat saat mendengar namanya. Ah lebih tepatnya nama pemilik tubuh yang alin tempati.


"Dia anak kandung papa?"tanya alin memastikan


"Tepatnya, anak dari tubuh yang papa tempati sekarang"jawab alex sedikit tidak terima.


Anaknya hanyalah alin seorang dan tidak akan ada lagi sampai kapanpun.


"Itu nama alin yang sekarang pa"ucapan alin sontak membuat alex terdiam.


"Kamu tidak apa apa sayang? Mereka melakukan apa saja sama alin? Apa mereka memukul mu? Biar papa yang menghabisi keluarga itu!" Ujar alex beruntun, dengan panik dia mengecek keadaan tubuh putrinya.


Siapa yang tidak panik jika putrinya ini dijadikan alat balas dendam seseorang dan tinggal bersama musuhnya yang kapan saja bisa menghabisinya.


"Alin gak papa pah"ujar alin menenangkan alex.


"Cuma waktu kecil, alin yang asli menderita karna mereka semua menyiksanya"lanjut alin sedih.


Walaupun bukan alin yang mengalami kekerasan dari mereka tapi dia juga merasakan bagaimana rasa sakit hatinya cya. Bahkan sampai gadis itu meninggal saja dia tidak bisa mendapatkan kasih sayang dari keluarganya yang sial nya bukan keluarga aslinya.


Alex hanya diam dan menarik alin kedalam dekapannya.


Dia lega karna yang mengalami itu bukan alin putrinya, tapi dia juga sedih saat mendengar cerita alin tentang cya. Anak sekecil itu sudah menerima bermacam macam penyiksaan. Sungguh keji.


Alex masih bersyukur karna dulu dia tidak pernah bermain kasar pada alin. Hanya satu yang ia sesali, menampar alin untuk pertama kalinya.


Dia bersumpah tidak akan pernah lagi menampar atau bahkan menyakiti putri kecilnya ini.


"Alin ngapain disini hm?"tanya alex mengalihkan topik agar tidak melow.


"Ngambil seragam"jawab alin yang masih nyaman dengan elusan sang papa.


"Alin sekolah disini?"tanya alex dan dijawab anggukan oleh sang empu.


"Bagus dong"ujar alex senang.


"Emang nya kenapa?"tanya alin bingung saat mendengar nada girang papa nya.


"Ini sekolah punya papa em maksudnya punya tubuh yang papa tempati"ujar alex.


Wahh kebetulan macam apa ini.


"Jadi ini ruangan pribadi papa?"tanya alin yang telah mengerti.


"Iya sayang"jawabnya gemas.


"Alin ikut papa pulang ya"pinta alex.


"Untuk saat ini belum bisa pa"alex melepaskan pelukannya dan menatap sendu alin.


"Alin belum maafin papa? Karna itu kamu gak mau tinggal sama papa?"ujarnya sendu.


Alin langsung menggeleng.


"Bukan gitu pa"


"Alin cuma gak mau mereka tau kalo alin udah sama papa"lanjutnya yang malah membuat alex heran.


"Loh emang nya kenapa? Papa bisa jagain kamu sayang. Kalo kamu gak tau, keluarga caitlin ini jauh diatas anderson dan karna itulah mereka membunuh istri alex yang asli dan menghancurkan salah satu perusahannya karna iri. Mereka ingin membuat pria ini menderita dengan kehilangan istrinya dan membuat perusahaannya gulung tikar"ujar panjang alex.


Alin hanya diam. Dia tidak tau ternyata keluarganya sekarang jauh lebih berpengaruh dari pada keluarga anderson.


Walaupun begitu, alin tidak ingin mengambil resiko. Keluarga anderson itu isinya perkumpulan para iblis dan setan. Dia takut mereka nekat dan melukai papa nya. Alin tidak ingin itu terjadi, dia tidak ingin kehilangan papa nya untuk kedua kalinya.


"Apa yang alin takuti sayang?"tanya alex yang paham dengan ketakutan alin.


"Alin takut mereka mencelakai papa?"tebak alex dan diangguki oleh alin.


"Alin tenang aja, papa bisa jaga diri papa sendiri. Kamu lupa siapa papa yang sebenarnya hm"ujar alex menenangkan alin.


Benar, papa nya tidaklah selemah itu sampai dia harus berpikiran seperti tadi. Ingatkan alin jika papa nya ini adalah ketua mafia di dunia nyatanya dulu.


"Jadi alin mau kan tinggal bareng papa lagi?"tanya alex dengan tatapan berharap agar gadis ini bisa tinggal bersamanya.


Alex ingin memperbaiki hubungannya dengan sang putri.


"Iya"akhirnya alin menyetujui permintaan alex.


Sedangkan pria setengah paruh baya itu langsung memeluk alin erat sembari menggoyangkan tubuh mereka ke kanan dan kiri.


"Makasih sayang makasih"


Alin tersenyum senang, akhirnya mimpinya menjadi kenyataan. Berbaikan dengan papa nya, bermanja dengannya dan berpelukan setiap saat. Alin sangat berharap momen seperti ini tidak akan pernah berakhir selama dia hidup.


"Pa, alin ada satu permintaan"ujar alin yang masih betah dalam pelukan sang papa.


"Apa sayang? Alin mau minta apa hm?"


"Jangan publish tentang identitas alin"ujar alin yang membuat alex bingung.


"Kenapa?"tanya nya


"Ya gak papa, alin cuma pengen punya temen yang bener bener tulus bukan mau hartanya alin doang"ujar alin yang mendapat anggukan alex.


"As you wish dear"


"Thank you dad"


___________________________


Bersambung...