ALIN TRANSMIGRATION

ALIN TRANSMIGRATION
09



Tandai typo✔️


Happy reading~


________________________


"HUAAAA SISTEM! KENAPA LO GAK BANGUNIN GUE SIH?!"teriak alin kalang kabut karena gadis itu telat berangkat ke sekolah untuk mos/pengenalan lingkungan sekolah.


"Sudah sedari tadi saya lakukan tuan tapi anda tidak bangun bangun"


"Ini semua juga salah anda sendiri karena semalam anda begadang hingga tidur di jam 4 pagi" lanjut sistem sinis saat mengingat tuannya ini keras kepala untuk disuruh tidur karena alin sibuk menonton drakor.


"Peralatan yang gue bikin kemaren mana?!"ujar alin frustasi.


"Bukannya anda menaruh di lemari tuan?"


Lalu secepat kilat alin berlari menuju lemari dan memakai peralatan mos yang telah ia buat kemarin.


Setelah selesai memakainya alin sempat berkaca terlebih dahulu untuk melihat penampilannya sekarang. Rambut kuncir dua diikat dengan pita berwarna merah, lalu papan nama yang tergantung di lehernya, dan serabutan tali rapiah yang terlilit di pinggang ramping gadis itu.


Alin meringis malu saat melihat penampilannya seperti orang gila. Mungkin itu hanya dari pandangan alin saja karena jika dari pandangan orang lain, alin terlihat seperti bocah sd yang menggiurkan eh ralat menggemaskan maksudnya.


...***...


Kini alin berdiri tepat didepan gerbang SMA AHS yang telah tertutup rapat.


"Pak, tolong bukain dong gerbangnya"ujar alin kepada satpam sekolah yang sedang menatapnya tanpa berkedip.


"Siswi baru ya neng?"tanya satpam tersebut setelah sadar.


"Iya pak"jawab alin.


Lalu satpam itu membukakan gerbangnya dan langsung saja alin berlari masuk setelah mengucapkan terimakasih kepada satpam yang sedang terbengong menatap dirinya.


Di lapangan terdapat segerombolan manusia yang berpenampilan sama seperti alin. Sepertinya mereka adalah manusia-manusia yang akan menjadi korban kekerasan dari sang kakak kelas.


"Karna yang cowok udah diabsen, sekarang kita giliran absen yang cewek ya"ujar seorang gadis yang sepertinya adalah anggota osis, kepada para peserta mos.


"Jawab!"sentak gadis tadi karena mereka hanya diam tanpa menanggapi ucapannya.


"Iya kak"jawab mereka serentak


"Nah kan bagus kalo gitu"ujarnya seraya tersenyum manis.


"Dita anindya putri"


"Hadir kak"gadis tadi yang diketahui bernama lira, berjalan perlahan kearah dita dengan tatapan menilai yang membuat dita menjadi risih.


"Kenapa pake sepatu putih?"tanya nya


"Maaf kak"jawab dita menunduk takut.


"Gue gak butuh maaf lo, yang gue butuh tu jawaban!"ujar lira sedikit meninggikan nadanya.


"Se-sepatu saya kotor kak dan sekarang lagi dicuci"ujar dita takut takut.


"Abis ngapain lo? Sampe sepatu lo kotor. Main lumpur lo?!"ujar lira dengan tajam.


"Hahahaha canda lumpur"tawa anggota osis.


"Lepasin itu sepatu dan lo gantung di leher lo"titah lira.


"Ta-tapi kak-


"Apa?! Mau ngebantah?!"sela lira menatap tajam dita.


"Wihhh ada yang berani ngebantah nih guys"timpal kenan wakil ketua osis.


"Maaf kak saya gak bermaksud"ujar dita panik.


"Enak nya diapain ya ni bocah?"ujar aiden sang ketua osis.


"Kunciin di wc aja udah"balas rina salah satu anggota osis.


"Jangan kak"ujar dita memohon.


Diam diam, semua peserta mos menatap takut kepada para anggota osis.


"Ck lama banget sih. Lanjutin aja napa lir?gue capek dari tadi berdiri mulu"ujar intan salah satu anggota osis yang mulai jengah melihat drama basi di depannya.


"Iya lir, udah kasian itu anaknya"ujar seorang gadis cantik dan imut dengan lembut.


"Oke karna princess nya AHS udah ngeluarin suara, mau gak mau harus gue turuti"ujar lira.


"Dan lo"lanjutnya seraya menunjuk dita yang masih menunduk takut.


"Jalan jongkok saat istirahat nanti sebagai pengganti hukuman yang tadi "ujarnya


"Siap kak"jawab dita sembari menghela nafas lega.


"Alincya Evalina"tidak ada yang menjawab panggilan dari gadis itu.


"Alincya Evalina"panggilnya lagi dengan nada sedikit tinggi sembari melihat sekeliling mencari gadis yang bernama tersebut.


"ALINCYA EVALINA"teriak lira


"SAYA KAK hosh"jawab alin yang baru saja datang dengan nafas yang telah diujung dunia.


Sontak saja mereka menahan nafas saat melihat alin. Baru kali ini mereka melihat gadis secantik itu apalagi dengan tampilan mos seperti sekarang malah menambah kesan gemas pada gadis itu.


"Ehem"lira berdehem guna menyadarkan dari kegiatan terpesona nya.


"Lo Alincya Evalina?"tanya lira memastikan.


"Iya kak"jawab alin setelah berhasil mengatur nafasnya.


Lira berjalan mendekati alin dengan tatapan menilai sedangkan alin hanya menampilkan raut wajah polos yang membuat gadis itu tidak tega untuk memarahi alin.


"Kenapa telat?"ujar lira menatap tajam alin agar gadis imut itu takut. Namun bukannya takut, alin malah tersenyum polos pada lira.


"Alin telat bangun kak hehe"jawan alin


"Ngapain aja sampe bisa telat bangun?"sentak lira yang sedang berusaha menjadi profesional.


"Alin nonton drakor kak, drama nya bangus banget jadi alin gak sadar kalo udah mau pagi"ujar alin dengan tatapan binar yang malah membuat mereka menepuk jidat karna kepolosan gadis itu yang tidak tau tempat.


Lira menghela nafas berat.


"Gantiin gue"ujar lira menyerah kepada anggota nya.


"Gue aja"ujar mereka bersamaan sedangkan lira melongo saat melihat teman temannya itu pada antusias.


"Ck lo aja deh den"lira berdecak kesal. Lalu gadis itu menyuruh aiden untuk mengurus alin. Sepertinya dia tidak akan tega jika berlaku kasar pada gadis imut itu jadi lebih baik lira saja yang mundur dan menyerahkannya kepada yang lain.


"Gue ikut dong"ujar kenan mengikuti aiden yang telah berjalan menghampiri alin.


Setelah aiden berhenti tepat didepan alin, pemuda itu menatap alin dari atas hingga kebawah yang sukses membangkitkan jiwa julid alin.


"Cih sok kecakepan" batin alin julid


Lalu gadis itu meniru aiden dengan menatap pemuda itu dari atas hingga bawah sedangkan aiden yang melihat itupun tersenyum miring.


"Menarik" batin aiden


"Ck kenapa malah tatap tatapan sih"ujar kenan kesal.


"Diem deh lo ganggu aja"jawab aiden sinis.


"Alincya Evalina"ujar aiden sembari mengangkat papan nama yang tergantung dileher gadis itu.


"Emang kenapa kak?"tanya balik alin dengan raut wajah bingung.


"Kenapa ni bocah gemesin banget sih" batin kenan sedikit kesal


"Ini terlalu imut"jawab aiden santai lalu merobeknya. Sedangkan alin yang melihat foto nya dirobek pun mendelik tidak terima.


"Ihh kenapa dirobek kak"ujar alin tidak terima.


"Ya serah dia dong. Dia kan ketos disini sedangkan lo cuma siswi baru"ujar sinis kenan yang masih bersikap profesional layaknya seorang kakak kelas yang kejam.


"Tapi kan alin susah buatnya masa dirobek gitu aja"ujar alin menatap kesal mereka yang malah terlihat menggemaskan.


"Butuh perjuangan tau gak buat itu dan kakak dengan santainya robek foto alin"lanjutnya dengan mata yang telah berkaca kaca.


Alin memang benar guys. Membuat itu butuh perjuangan dan keringat, karna papan nama itu adalah yang ke 23, sebab sebelumnya papan nama yang alin buat banyak yang salah. Dan lagi, itu foto yang ke 30 kalinya karena foto sebelumnya tidak ada yang bagus. Jadi wajar saja alin kesal.


Lantaran terlalu kesal hingga membuat gadis itu ingin menangis sekarang. Entahlah moodnya hari ini sedang tidak stabil, mungkin sebentar lagi dia akan kedatangan matahari.


Sedangkan mereka yang melihat alin seperti ingin nangis itupun seketika menjadi gelagapan.


"Eh eh degem jangan nangis dong"ujar kenan gelagapan.


"Duhh jadi mau gimana?"ujar aiden


"Alin gak mau tau hiks tempelin lagi foto nya hiks"pecah sudah tangisan gadis itu. Alin merengek sembari menghentakkan kakinya kesal.


"Ck kenapa lo berdua malah nangisin nih bocil sih"ujar lira sinis.


"Mana ada"ujar mereka berdua serentak tidak terima.


"Tempelin aja deh tu foto, liat tu anaknya udah nangis sesegukan"ujar rina tidak tega.


Lalu dengan segera aiden menempelkan kembali foto yang sempat ia robek tadi ketempat asalnya.


"Seharusnya kamu gak usah nangis. Lagian cuma foto kenapa sampe di tangisin?"ujar seorang gadis imut namun lebih imut alin.


Alin mengalihkan pandangannya kepada gadis tersebut dan membaca name tag nya.


"Abel Clarisa Anderson?" Batin alin mengingat ingat


"Oh protagonis huh?"lanjutnya tersenyum smrik tanpa diketahui orang lain.


"Ma-maf kak, tadi alin cuma reflek karena kakak ketos ini langsung robek foto alin"ujar alin menunduk takut.


"Kalo mau dirobek lagi gak papa kok kak"lanjutnya


"Udahlah biarin aja, lagian itu cuma foto"ujar aiden meleraikan.


"Loh kok gitu sih? Robek lagi aja foto nya ai biar dia bisa disiplin gak ngelakuin kesalahannya lagi"ujar abel sedikit tidak terima.


"Udahlah bel, lo gak kasihan sama tu bocil"ujar lira


"Aku kasihan lir tapi ada waktunya"jawab abel lalu merobek foto alin hingga hancur dan membuangnya di tempat sampah.


Mereka yang melihat itupun sontak membelalakkan matanya terkejut karena yang mereka tau, abel adalah gadis yang lemah lembut dan paling gak tega sama orang lain. Tapi kenapa hari ini sepertinya gadis itu sedikit terlihat marah?


"Sekarang kamu lepas sepatu kamu dan gantung di leher"titah abel yang lagi lagi membuat mereka terkejut.


"Tapi kak lantai nya panas"ujar alin.


"Itu karena kesalahan kamu sendiri memakai sepatu warna pink"ujar abel.


"Bel itu gak terlalu kejam? Gue aja tahan ganti hukuman anak tadi"ujar lira


"Itu udah konsekuensi lira. Ini juga hukuman dia karena udah berani perintah ketos"ujar abel.


"Gue gak papa kok. Udah, dipake aja sepatunya dan lain kali jangan diulangi lagi"ujar aiden


"Iya kak"jawab alin tersenyum manis yang dapat membuat mereka terpana seketika.


"Gak bisa gitu dong ai"kekeh abel


"Sekarang lakuin perintah tadi"ujar abel


"Mau di lepasin sepatunya?"lanjutnya karena melihat tidak ada pergerakan dari alin.


Lalu abel berjongkok dan melepas paksa sepatu alin yang menyebabkan gadis itu hampir saja terjatuh jika saja kenan tidak cepat menangkapnya.


"Abel lo apa apaan sih?!"sentak aiden seraya menarik abel berdiri.


"Kenapa ai? Aku cuma jalanin tugas aku aja, kenapa kamu marah?"ujar abel


"Tapi gak gini juga caranya bel"ujar intan.


"Lo kasar tau gak"ujar kenan yang sedang memeluk alin guna menenangkan gadis itu. Apanya yang ditenangkan? Ck kenan sekalian mau cari kesempatan guys.


"****** ni cowok" batin alin kesal pada kenan yang menekan kepalanya ke dada bidang pemuda itu.


"Kak-


"Sstt udah gak usah takut, ada gue disini"sela kenan memotong ucapan alin.


"Kak alin pengap"ujar alin dengan cepat.


"Eh maaf"ujar kenan setelah melepaskan pelukannya dan diangguki oleh alin.


"Sekarang udah main peluk pelukan aja ya?"tanya abel pada alin.


"Gak gitu kak-


"Kamu disini masih siswi baru jadi jangan terlalu caper sama cowok"sela abel. Sedangkan alin menundukkan kepalanya.


"Alin gak caper kak"cicitnya.


"Lo kok jadi gini sih bel? Gue yang meluk alin bukan alin yang caper sama gue"ujar kenan tidak habis pikir.


Sedangkan abel terdiam dengan tangan yang mengepal tanpa terlihat oleh orang lain selain alin. Diam diam gadis itu menyeringai.


"Kenapa mereka semua jadi belain anak baru ini"batin abel kesal


"Ppb hm?"batin alin menyeringai


"Kita liat aja nanti, lebih polos lo atau lebih polos gue Abel Clarisa Anderson" lanjutnya


...***...


Kini mereka semua sedang berada di satu kelas yang cukup besar dan di dampingi oleh sang ketua osis sedangkan anggota osis yang lain telah pergi entah kemana.


"Minta perhatiannya sebentar"ujar aiden sembari bertepuk tangan guna mengambil perhatian mereka yang sedang sibuk masing masing.


"Sekarang saya kasih kalian misi"ujarnya setelah suasana dikelas tersebut telah menjadi sunyi.


"Misi apa kak?"tanya penasaran dari seorang pemuda.


"Misinya adalah kalian harus minta tanda tangan serta nama dari kakak kelas yang lain dan mereka semua berhak ngasih kalian tantangan yang harus kalian jalani"


"Minimal berapa orang kak?"tanya alin


"Minimal 50 orang sedangkan untuk anggota osis, wajib semua anggota"jawab aiden


"Sampe sini paham?"tanya nya


"PAHAM KAK"jawab mereka serentak.


________________________________


Bersambung...